Sejak pertemuan pertama mereka, Nada sudah mulai memasang alaram tanda bahaya di hatinya. Kesalah pahaman terjadi ketika Nada di minta untuk menjadi dokter pribadi dari neneknya Arga, si tuan muda pemilik perkebunan teh di kota tempat Nada bertugas.
Pertemuan yang kerap terjadi, membuat Nada harus membentengi hatinya dari pesona si tuan muda, walaupun pada kenyataannya dia mulai tertarik dan jatuh cinta pada Arga.
Lalu bagaimana sikap Arga menghadapi kekerasan hati Nada, dan bagaimana cara dia meluluhkan hati dokter cantik kesayangan neneknya itu.
Ini karya pertama ku,
Mohon dukungannya ya reader 🥰
Makasih 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Menghindar
Sedikit informasi tentang imunisasi DPT
Imunisasi DPT diberikan pada anak untuk mencegah beberapa penyakit yang dianggap berbahaya bagi anak, yaitu Difteri,
Pertusis, dan Tetanus.
Difteri adalah penyakit infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan yang menyebabkan anak sulit makan dan bernafas.
Sedangkan Pertusis atau lebih dikenal dengan nama batuk rejan adalah penyakit infeksi bakteri yang menyerang pernafasan dan menyebabkan batuk parah.
Sementara Tetanus merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kekakuan otot parah, kelumpuhan dan kejang otot.
Imunisasi DPT diberikan sejak awal anak berusia 2 bulan sampai 6 tahun sebanyak 5 kali. Tiga pemberian pertama diberikan secara bertahap di tiap bulannya, dosis yang diberikan adalah 1 kali suntikan setiap jadwal imunisasi. Setelah itu 18 bulan dan 5 tahun. Setelahnya dianjurkan untuk Booster Tdap yaitu imunisasi ulang Tetanus, Difteri dan Pertusis tiap 10 tahun.
🌹🌹🌹
Nada mulai memeriksa suhu tubuh si kecil Dea dengan Termometer yang ditempelkan di ketiaknya, hasilnya 38 derajat celsius masuk dalam kategori demam rendah.
Nada lalu memberi saran Andini dengan cara menganjurkannya untuk sesering mungkin memberi lebih banyak ASI. Mengompres bekas suntikan dengan air dingin dan memakaikan pakaian yang tipis, bukan pakaian dengan bahan yang tebal.
"Tidak semua imunisasi menyebabkan demam. Tapi, untuk imunisasi DPT kemungkinan besar akan timbul demam. Tetap jaga suhu ruangan supaya tetap dingin ya Mba, supaya panasnya cepat turun." Jelas Nada kemudian.
"Bagaimana dengan kipas angin, Dok? Kami kan tidak punya pendingin ruangan, selain kipas angin yang biasa dipakai kebanyakan orang."
"Bisa, Mba. Kipas angin juga boleh, tapi jangan diarahkan langsung ke anak, dipantulkan saja ke arah dinding." Nada kemudian memberi termometer pada Andini supaya ia bisa memantau suhu tubuh bayi Dea sendiri.
"Ini Termometer Arteri Temporal atau Termometer Dahi namanya. Cara kerjanya dengan memindai infra merah yang keluar pada kepala bayi dan bisa digunakan pada bayi usia 3 bulan. Cukup ditempelkan di dahi maka suhunya akan keluar dengan sendirinya di layar."
"Makasih Dok." Andini menerima pemberian Nada dengan suka cita. Matanya terlihat berkaca-kaca, tidak ada kata yang dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini.
Andini benar-benar terharu dan sangat berterima kasih sekali dengan Nada yang begitu perhatian dengan keluarganya, terlebih si kecil Dea. Tak henti-hentinya ia mengucap terima kasih. Satu hal yang membuatnya semakin kagum pada Nada ialah, Nada tidak pernah mau dibayar sepeser pun saat memeriksa kesehatan anaknya. Justru Nada malah membawakan banyak bingkisan makanan dan perlengkapan bayi untuk Andini dan anaknya.
Tak terasa waktu berlalu, Nada dan Nisa pamit pulang. Kebetulan hari ini hari Minggu, Nada mengajak Nisa jalan-jalan melihat langsung perkebunan teh dan para pekerja disana saat sedang memetik daun teh.
🌹🌹🌹
Berada di perkebunan teh memang memberikan ketenangan yang luar biasa. Udaranya yang segar, suasana yang tenang dan nyaman cocok digunakan untuk menyendiri menjauhkan dari segala kepenatan setelah bekerja.
Perkebunan teh terletak di dataran tinggi, dengan suhu 16 sampai 26 derajat celsius dan ketinggian mencapai 1.550 mdpl (Meter di atas permukaan laut). Hamparan perkebunan teh terlihat seperti permadani hijau raksasa.
Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk para pemetik teh melakukan tugasnya. Dari jam 5 pagi sampai jam 9 pagi, setelah itu jam 10 sampai jam 12 siang. Memetik daun teh biasanya dilakukan 15 hari sekali sejak mulai tumbuh. Para pekerja biasa menggunakan topi caping, apron (celemek plastik) berbahan, dan keranjang. Daun teh yang dipetik hanya pucuk paling atas diikuti oleh 3 helai daun di bawahnya.
Sambil berjalan menyusuri perkebunan teh, Nada dikejutkan dengan suara seseorang yang berteriak memanggil namanya.
"Dokter Nada!" Nada mencari asal suara dan seketika senyumnya melebar melihat Rima yang berjalan cepat ke arahnya.
"Apa kabar, Rima? Sudah sehat ya? Alhamdulillah. Ibu gimana, sehat juga kan?"
"Alhamdulillah sehat, Dok." Rima mencium tangan Nada. "Makasih atas bantuan Dokter selama ini buat keluarga Rima, Dok." Rima memegang tangan Nada erat. Nada menepuk bahu Rima pelan, niatnya tulus membantu keluarga Rima.
Setelah pembicaraannya berdua dengan Arga waktu itu, mereka sepakat memberikan sumbangan berupa bahan makanan pokok dan sejumlah uang untuk membantu keluarga Rima.
"Iya, sama-sama Rima." Nada kemudian menyuruh Rima untuk kembali bekerja. "Sudah, balik sana. Nanti dicari sama bos Kamu."
"Iya, Dok. Rima pamit kerja lagi. Assalamualaikum." Rima berbalik dan berjalan menjauh kembali ke tempat kerjanya.
"Ayo Nisa, kita pulang. Sudah siang banget," katanya pada Nisa yang setia mengikutinya dari belakang.
"Siap Ka Nada," sahut Nisa cepat.
Nada mulai memacu Scoopy coklat kesayangannya dengan perlahan. Jalan setapak dan sedikit menanjak yang biasa dilewati warga membuatnya harus ekstra hati-hati. Karena ini musim hujan, banyak sekali terdapat lubang dengan genangan air. Saat sudah memasuki jalan besar, mereka berpapasan dengan sebuah mobil hitam yang tanpa sengaja mengenai genangan air membuat cipratan yang mengenai baju Nada.
"Aishh, kotor dah." Nada menghentikan laju motornya dan mengambil beberapa lembar tissue yang ada di dalam tasnya dan mulai membersihkan bajunya yang kotor. "Baju Nisa kotor nggak!" Tanya Nada pada Nisa yang langsung turun dari boncengan motor Nada.
"Nggak kena, Kak. Kan Nisa di belakang," jawab Nisa sambil tersenyum kecil melihat wajah kesal Nada.
"Mobil siapa sih? Nggak tahu apa kalau ini jalan banyak lubangnya." Nada bersungut kesal. "Pelan kan bisa! Nggak perlu harus ngebut gitu. Bikin orang kesal aja!"
"Sabar Kak, kali aja lagi ada keadaan darurat. Makanya buru-buru ngebut," sahut Nisa dengan senyum tertahan.
"Iya kali ya, hahaha." Nada akhirnya tertawa getir. "Tapi sepertinya Aku kenal deh mobil tadi," jawab Nada kemudian. Apa mungkin dia ya?
Dan benar dugaan Nada, Arga keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju tempat Nada berada. Jarak yang cukup jauh membuat Nada berkesempatan untuk menghindari pertemuannya dengan Arga. Segera dipacunya kembali motornya meninggalkan Arga yang berdiri terdiam menatap kepergiannya.
🌹🌹🌹
Happy reading all,
Aku sayyangg kalian semua 😘😘😘
Hai reader semua, ini akun baru Risfa penulis novel @ Cinta untuk Nada
@ Me Before You
@ I am Yours
@ Eight Years Larer
@ Bodyguard dan Presdir Bucin,
Akun NT Risfa yang lama dgn nama pena @Risfauzi gak bisa kebuka sejak kemarin sore. Foto profil aku pakai covel novel kelimaku.
Teeima kasih atas perhatiannya, love you all 🥰🥰
kenapa harus korea juga...??
💃💃💃💃💃💜💜💜💜💜💜
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️