Update kalo ingat.
NOTE : CERITA INI BIKIN NGAKAK SALTO-SALTO
Sekuel Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
"Roseline, ku perintahkan kau untuk menjadi pacarku!" ucap Navier Alister.
Roseline yang baru saja menjadi sekertaris Tuan Muda Navier hanya terheran. Orang aneh dan idiot seperti Navier menyuruh untuk menjadi pacarnya.
"Tuan muda Navier yang tampan tapi somplak mengajakku berpacaran?" gumam Roseline.
Roseline mundur perlahan ketika Tuan Muda Navier mendekatinya, perlahan lahan semakin dekat, semakin dekat. "Ku tunggu jawabanmu malam ini," ucap Navier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Navier dan Ali ke diskotik
Seline menundukkan kepala, Navier langsung mengangkat dagunya. Navier lalu memencet hidung Seline lagi. Kali ini Seline hanya terdiam, ia tidak berani melawan jika tidak maka Navier akan memarahinya lagi. Navier mengibaskan tangannya pertanda menyuruh mereka berdua keluar dari ruangannya.
Navier segera berkemas untuk meeting bersama kliennya. Seline hanya menatap wajah Navier dibalik dinding kaca pemisah ruangannya, dia ingin sekali memaki Navier tetapi dia sadar hanya sekedar bawahan yang mudah untuk
dipecat.
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, mereka segera menuju ke tempat meeting yang berada di ballroom sebuah hotel. Seline juga ikut dibawanya untuk membantu mereka saat meeting berlangsung. Didalam mobil, mereka saling
memalingkan wajah dan melihat kaca mobil. Navier dan Seline duduk dibangku belakang sedangkan Ali menyetir mobil. Navier merasa bosan, ia mengambil ponselnya dan menelpon mamanya.
“Mama, nanti malam buatin kwetiau!” ucap Navier melalui panggilan telepon.
“Oke sayang.”
“Ma, Navi lagi perjalanan ke balroom hotel.”
“Hati-hati, sayang.”
“Udah gitu doang, mah? Cih... Tidak perhatian,” ucap Navier.
Seline yang mendengar Navier sedang menelpon mamanya merasa terkejut, Navier yang diperusahaan terkenal galak dan tegas ternyata anak mama. Seline sedikit menyunggingkan senyuman, jarang sekali pria hello kitty seperti Navier.
Sesampainya di balroom, ternyata sudah ramai orang yang datang. Mereka langsung menunduk hormat kepada Navier, mereka kagum dengan Navier yang sangat pandai seperti papanya. Meeting pun dimulai, mereka membahas
produk yang mereka akan merilisnya akhir bulan ini. Navier menjelaskan dengan bewibawa didepan para kliennya yang kemungkinan usianya seumuran papanya. Disana juga terdapat bule dan beberapa di negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea. Navier sudah pandai berbahasa Inggris karena dulunya dia bersekolah di
sekolah internasional yang mewajibkan muridnya untuk berbicara bahasa Inggris saat di lingkup sekolah.
Seline melirik di pojok ruangan itu terdapat sebuah piano, beberapa hari ini dia sudah tidak bermain piano karena sudah terlalu lelah bekerja dan melakukan pekerjaan rumah.
Satu jam kemudian,
Setelah meeting selesai kini tinggal menunggu persetujuan dari para kliennya dan kini mereka bisa menikmati makanan yang di sediakan pihak hotel. Suasana makan mereka terasa hampa karena tidak ada musik
mengaluni, Seline berdiri ia berjalan kearah piano dan duduk didepannya. Navier dari jauh memperhatikannya sampai ia mendengar lantunan indah dari jemari Seline yang memainkan piano.
Semua takjub dengan permainan Seline, begitu pun dengan Navier yang menatapnya dengan heran. Jantungnya berdetak dengan cepat saat melihat wajah Seline yang memainkan piano sambil tersenyum manis.
Dia orang atau bidadari? Batin Navier.
Navier memandang Seline tanpa berkedip, Ali seketika menyenggolnya. “Jika suka langsung tembak saja!” ucap Ali.
“Aku bahkan takut sakit hati,” jawab Navier yang sadar jika dia memang menyukai wanita yang 3 tahun lebih tua darinya itu.
“Jika tidak mau maka buat aku saja,” goda Ali.
“Sialan kau! Dia sudah kuincar sejak dia jadi mbak-mbak indomaret.”
Ali tersenyum, ia memang mengakui jika Navier berurusan tentang cinta maka tidak main-main. 15 menit kemudian, permainan piano Seline selesai. Semua orang disana bertepuk tangan dengan keras. Seline berdiri lalu
menundukkan badan pertanda memberi hormat. Dia berjalan menuju kursinya dan mulai menikmati makanannya.
Navier mendekati telinga Seline lalu membisikkan sesuatu. “Maukah kau jadi pacarku? Jangan jawab sekarang! Besok saja,” ucap Navier.
Navier lalu berdiri dan menuju kamar mandi, Seline menatapnya dengan heran. Seorang pria yang sering memakinya malah kini mengajaknya berpacaran. Semua ini membuatnya gila.
**
Malam hari,
Setelah bekerja seharian, kini Navier bisa pulang. Dia memakai jasnya lagi dan merapikan meja kerjanya. Dia memandang Seline yang sedang membereskan ruangannya sendiri. Navier tidak mau munafik jika memang dia
suka dengan Seline sejak pandangan pertama. Navier keluar dari ruangannya tetapi dia melewati Seline tanpa menyapanya. Dia keluar bersama Ali dibelakangnya.
“Navi, kau ingat klien kita yang berasal dari Jepang? Mereka mengajak kita makan malam,” ucap Ali.
“Kenapa mendadak? Jika ditolak juga tidak enak. Yasudah kita makan malam sebentar bersama mereka.”
Ali menganggukkan kepala, setelah keluar dari gedung mereka memasuki mobil lalu menuju alamat yang sudah dikirimkan oleh kliennya itu. Ali sepertinya sangat familiar dengan jalan itu dan benar saja tempat itu ternyata
sebuah tempat hiburan malam.
“Kenapa kita kesini, Al?” tanya Navier.
“Tuan Matsumoto mengirimkan alamat ini. Sudah , kita cek dulu saja!”
Navier dan Ali langsung masuk tempat itu, didalamnya terdapat suara riuh dari penghuninya. Mereka berjoget dan sebagian menikmati bersama wanita malamnya.
“Tuan, anda datang juga,” ucap pria Jepang itu. “Silahkan duduk! Sebelum saya pulang ke negara saya, saya ingin menikmati gadis cantik disini.”
Navier dan Ali saling berpandangan, pasalnya mereka baru pertama kali datang ketempat itu. Mereka ingin menolak tetapi tidak enak karena Tuan Matsumoto adalah klien terpentingnya. Navier dan Ali hanya terduduk disofa
sambil melihat gadis-gadis seksi berjoget menikmati alunan musik sedangkan Tuan Matsumoto sedang meminum arak dengan ditemani gadis sewaannya.
“Ali, kau jangan ngences!” ejek Navier.
“Ularmu amankan!”
Jam demi jam berlalu, suasana semakin larut malam dan semakin riuh. Para orang Jepang itu semakin terbuai dengan kenikmatan malam ini. Sedari tadi Ali dan Navier hanya meminum cola, mereka tidak berani meminum alkohol. Sedari tadi juga mereka didekati gadis-gadis cantik tetapi mereka menolak.
“Bagaimana, tempat ini sangat indah ‘kan? Kalian beruntung tinggal didekat sini dan bisa menikmati setiap malam yang indah ini,” ucap Tuan Matsumoto.
“Indah pala lu botak,” gumam Navier yang melihat kepala botak kinclong dari Tuan Matsumoto.
“Saya menikmatinya apalagi gadis-gadis disini sangat ramah,” sambung Tuan Matsumoto.
“Tetaplah dijalan setan! Setan memberkatimu,” gumam Navier sudah terlanjur kesal. Dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 2 dini hari.
Ali menyenggol Navier, ia ingin meminjam ponsel Navier karena ingin menelpon ayahnya dan tidak membuat cemas ayahnya jika dia pulang terlambat, ponselnya mati sedari tadi bahkan Ali mengira ini masih jam 10 malam.
“Ponselku ku matikan,” ucap Navier.
“Kenapa dimatikan?”
“Kau tau sendiri ‘kan jika papaku galak? Bisa-bisa digantungnya jika tahu aku berada disini,” ucap Navier.
“Lalu kita bagaimana ini? Mana sudah jam 10,” ucap Ali bingung.
“Ini sudah jam 2 pagi.”
Ali begitu terkejut, dia mengusap wajahnya secara kasar. Pasti ayahnya sedang khawatir menunggunya dirumah.
Disisi lain, Mauren mondar-mandir didepan ruang tamu. Dia sedari tadi tidak bisa tidur karena Navier belum pulang sampai sekarang. Dia lalu kembali ke kamarnya dan membangunkan sang suami.
“Oppa, bangun!” ucap Mauren.
Sean mengucek matanya dan berusaha untuk sadar dari tidurnya. “Kenapa?”
“Navi belum pulang sampai sekarang. Ponselnya juga mati. Oppa cepat cari Navi!” ucap Mauren.
Sean berdecak dan melihat jam dinding, ia bangun dari ranjangnya dan menelpon petugas penjaga kantor Young Group.
“Jadi Navi sudah pulang sedari jam 7 malam tadi? Oke, baiklah. Terima kasih,” ucap Sean.
Mauren memandangnya dengan penuh tanya, Sean langsung berganti pakaian dan langsung menuju apartemen Kim.
“Kau tidur saja, oren sayang! Biar aku yang mencari anak setan itu,” ucap Sean.
**
Sean mengetuk apartemen Kim, Kim langsung membukanya.
“Navi berada disini, Kim?” tanya Sean.
“Tidak ada, kak. Ali juga belum pulang.”
Ternyata Kim juga khawatir tentang Ali yang belum pulang. Dia pikir Ali bersama Sera tetapi saat dia
menelpon Sera, wanita itu tidak mengangkatnya.
“Kita cari dimana, kak?” tanya Kim.
“Mobil Navi ada GPSnya, kau lacak saja keberadaannya!”
Kim langsung membuka ponselnya dan mencari keberadaan mobil Navier, ia terkejut setengah mati, dia
tidak menyangka jika mereka berdua sedang berada di diskotik.
“Mereka berada di diskotik, kak.”
“Apa kau bilang?” ucap Sean sangat syok.
Awas kau, Navi! Siap-siap papa jadikan kau sarden.
navier panggil darsen = darman
navi dan darsen sama2 lucu...