NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membeli Mawar

Sejak semalam hingga pagi ini, Lisa belum juga melihat Elia keluar dari kamar. Biasanya, bahkan sebelum matahari terbit, wanita itu sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya.

Kini jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi.

Dave keluar dari kamar dengan penampilan rapi, siap berangkat kerja. Langkahnya terhenti ketika mendapati ruang makan kosong. Tak ada aroma masakan, tak ada suara peralatan dapur seperti biasanya.

“Lisa,” serunya.

“Iya, Tuan?”

“Elia belum keluar dari kamar?” tanya Dave.

“Belum, Tuan,” jawab Lisa hati-hati. “Biasanya Nyonya Elia sudah bangun lebih dulu dari saya untuk menyiapkan sarapan dan bekal Tuan.”

Dave terdiam. Pandangannya beralih ke arah kamar Elia. Pintu itu masih tertutup rapat, terkunci, dengan lampu yang mati.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Bukan marah, melainkan perasaan kosong bercampur penyesalan. Untuk pertama kalinya, rutinitas pagi yang selama ini ia anggap biasa terasa begitu berarti, justru ketika semuanya menghilang.

“Tapi Tuan tidak perlu khawatir, saya sudah menyiapkan sarapan untuk Tuan,” ucap Lisa sambil bergegas ke dapur.

Tak lama kemudian, ia kembali membawa satu mangkuk besar nasi goreng seafood. Menu yang selalu disajikan di rumah itu sebelum Elia datang.

“Baiklah,” ujar Dave pelan. “Daripada asam lambungku naik.”

Di kamar tadi, ia sudah lebih dulu meminum obat maag. Ini memang waktu yang tepat untuk makan.

Dave menuangkan nasi goreng itu ke piring dengan porsi secukupnya. Ia mulai menyantapnya dalam diam, sementara Lisa kembali ke dapur, membiarkannya makan dengan tenang.

"Rasanya jauh berbeda dengan buatan Elia" gumam Dave dalam hati.

Padahal ini bukan kali pertama ia menyantap masakan Lisa. Selama ini ia tak pernah mengeluh. Namun setelah terbiasa dengan masakan Elia. Rasa nasi goreng di hadapannya kini terasa biasa saja, bahkan cenderung hambar.

Sampai Dave selesai makan, Elia tak juga keluar dari kamar. Ia bangkit dari kursi, lalu melangkah ke arah pintu kamar Elia. Pintu itu diketuk, mencoba buka gagang tersebut namun terkunci.

“Elia, aku berangkat kerja dulu,” ucapnya dari luar.

Tak ada jawaban.

Beberapa detik ia berdiri, lalu memilih pergi. Tak lama, suara mobil meninggalkan halaman rumah.

Barulah setelah rumah benar-benar sunyi, Elia membuka pintu kamarnya. Ia berhenti di ambang pintu, menghirup samar wangi parfum Dave yang masih tertinggal dan membiarkan perih itu kembali menyusup ke dadanya.

Lisa yang tengah membereskan ruang makan melihat Elia akhirnya keluar dari kamar. Hatinya seketika lega. Sejak semalam, ia sempat khawatir Elia akan melakukan hal-hal yang tak diinginkan.

“Selamat pagi, Nyonya,” sapa Lisa dengan senyum ramah.

“Pagi, Lisa,” jawab Elia singkat sambil melangkah ke arah kulkas dan mengambil air dingin di dalamnya.

Di tempat lain, sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Dave tak kunjung tenang. Hatinya gelisah, terus tertuju pada Elia. Baru kali ini ia benar-benar merasakan penyesalan setelah memarahinya.

Dengan tangan yang terasa berat, Dave meraih ponselnya dan mencari nama Elia. Jemarinya sempat melayang di atas layar, namun niat itu ia urungkan. Ia menghela napas pelan.

“Aku cek CCTV saja,” gumamnya.

Perlahan, senyum tipis terbit di bibirnya saat layar menampilkan Elia yang sudah bangun dan tengah sarapan di meja makan. Hatinya sedikit lega. Namun seolah menyadari dirinya sedang dipantau, Elia tiba-tiba memalingkan wajah ke arah kamera CCTV.

“Elia, kau sudah bangun?” suara Dave terdengar dari speaker CCTV.

Elia spontan membalikkan badan dan menatap lurus ke arah kamera. Dari layar ponselnya, Dave melihat Elia melangkah semakin dekat, wajahnya dingin tanpa ekspresi.

Sesaat kemudian, layar monitor mendadak menghitam. Dave mengumpat pelan. Ia buru-buru berpindah ke kamera lain. Namun hasilnya sama.

“Sial,” gerutunya kesal. “Dia mematikan semua CCTV.”

Untuk pertama kalinya, Dave benar-benar merasa kehilangan kendali. Dan itu jauh lebih menyesakkan daripada kemarahan Elia semalam.

Lisa kini tengah menyiram tanaman di halaman belakang. Namun suara ponsel berdering membuatnya harus menunda kegiatan nya itu.

"Hallo, Tuan".

[Lisa, nyalakan kembali semua CCTV dirumah]

"Memangnya kenapa, Tuan?" Lisa heran karena belum mengerti kejadian yang sebenarnya.

[Tidak usah banyak tanya, cepat nyalakan kembali CCTV nya]

"I-iya, Tuan".

Lisa segera melepas selang panjang Itu ke tanah. Ia segera menjalankan perintah dari Dave. Sebelum menghubungi Lisa, ia juga sempat menghubungi Elia namun tidak ada jawaban.

"“Ya ampun, kenapa kabel CCTV-nya lepas?” gerutunya sambil meraih kabel itu, bersiap menyambungkannya kembali ke terminal. Namun langkahnya terhenti ketika Elia perlahan menurunkan lengan Lisa.

“Jangan,” ucap Elia pelan, namun tegas

.

“T-tapi, Nyonya…” Lisa tampak ragu.

“Biarkan saja, Lis. Aku tidak mau dia mengawasi ku lewat kamera CCTV,” ujarnya dengan suara tertahan.

Apa boleh buat, Lisa hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan Elia. Namun dering telepon kembali berbunyi, membuat tubuhnya menegang seketika.

Elia hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada Dave, agar ia bercermin pada ucapannya semalam. Jika pria itu tak ingin setiap gerak-geriknya diawasi, maka Elia pun berhak melakukan hal yang sama.

Dave terus mencoba menghubungi Lisa, namun tak satu pun panggilannya terjawab. Pelayan itu bahkan menonaktifkan ponselnya.

“Sial! Pasti Elia yang menyuruh Lisa mematikan ponsel dan mengabaikan semua telepon dariku,” geramnya.

Sesampainya di ruang kerja, Dave kembali mencoba menghubungi istrinya. Namun hasilnya tetap sama—tak ada jawaban dari Elia.

Dave: Elia, angkat teleponnya.

Elia: —

Dave: Aku tahu perkataanku semalam sudah menyakitimu. Aku minta maaf.

Elia: —

Dave: Aku tahu kau membaca pesanku, Elia.

Ponsel di tangan Elia kembali bergetar. Nama Dave tertera jelas di layar. Ia menatapnya beberapa detik, lalu menarik napas pelan sebelum akhirnya membalas.

Elia: Kau tahu aku membaca pesanmu, tapi kau tetap memilih menyakitiku semalam.

Ia berhenti sejenak, jarinya menggantung di atas layar.

Elia: Sekarang kau ingin aku bicara? Maaf, Dave. Aku sedang belajar melakukan apa yang kau minta—tidak ingin diawasi, tidak ingin diganggu.

Elia mematikan layar ponselnya. Wajahnya tetap tenang, namun dadanya terasa sesak. Bukan karena tak peduli, melainkan karena lelah.

Argh!” Dave mengumpat kesal lalu membanting ponselnya ke lantai.

Tepat saat itu, Nick baru saja tiba dan berdiri di ambang pintu.

“Kalau mau masuk, ketuk pintu dulu,” ucap Dave tajam.

“M-maaf, Tuan. Tadi saya sudah mengetuk pintu, mungkin Tuan tidak mendengarnya,” jelas Nick hati-hati.

“Ada apa?” tanya Dave dingin.

“Saya hanya ingin melaporkan, sekretaris baru kita sudah mulai bekerja sejak kemarin. Semua urusan yang sebelumnya dialihkan sudah saya sampaikan kepadanya.”

“Ya sudah. Kalau begitu, kembali ke ruangan mu.”

“Baik, Tuan. Permisi.”

Nick pun keluar. Namun langkahnya sempat terhenti sesaat. Dalam hatinya, ia heran tidak biasanya Dave begitu.

Apa dia sedang bertengkar dengan selingkuhannya? Nick segera menggeleng pelan. Lebih baik tidak berspekulasi. Diam adalah pilihan paling aman agar tak menjadi sasaran amarah bosnya sendiri.

Sejak kemarin, Lea telah melihat agenda Dave untuk hari ini. Di sana tercatat bahwa Dave akan bertemu dengan seorang klien dari Golden Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri.

Lea merapikan beberapa berkas penting yang akan dibawa untuk rapat nanti. Namun sebelumnya, ia harus mengkonfirmasikannya terlebih dahulu kepada Dave.

“Ayo, Lea. Kau pasti bisa. Ini bukan pertama kalinya kau bertemu dengan seorang pimpinan,” gumamnya dalam hati.

Dengan penuh percaya diri, Lea keluar dari ruangannya sambil membawa map berwarna kuning di tangan. Ia berjalan menuju lift dan segera naik ke lantai tempat ruangan Dave berada.

Pintu lift terbuka perlahan. Lea melangkah keluar dan berhenti di depan ruangan Dave. Ia menarik napas singkat sebelum mengetuk pintu.

“Masuk.”

Suara itu terdengar berat dan dingin.

Lea membuka pintu dan segera merasakan aura tegang memenuhi ruangan. Dave berdiri membelakangi meja kerjanya, kedua tangannya bertumpu di permukaan meja, seolah sedang menahan amarah. Beberapa berkas tampak berserakan, tidak seperti biasanya.

Kedua mata Lea membulat saat melihat sosok pria di hadapannya. "Astaga, bukankah ini suami Elia?" batinnya.

Selama beberapa detik, ia mematung. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa ia akan bekerja di bawah pimpinan seorang pria yang ternyata adalah suami sahabatnya sendiri.

“Hm.” Dehaman Dave membuyarkan lamunannya.

“Eh, maaf, Tuan,” ucap Lea gugup.

Dave hanya menatapnya dengan sorot mata dingin tanpa berkata apa-apa. Lea segera mendekat ke meja kerja Dave, berusaha menguasai diri. Dengan suara setenang mungkin, ia menyampaikan maksud kedatangannya.

“Permisi, Tuan. Saya Lea, sekretaris baru di perusahaan ini. Saya ingin mengonfirmasi kembali agenda hari ini. Tepat pukul sebelas siang, kita dijadwalkan bertemu dengan klien dari Golden Group di Hotel Luxury.”

Dave tetap diam. Tangannya sibuk menandatangani beberapa berkas yang sebelumnya dibawa oleh bawahannya. Keheningan itu membuat Lea menelan ludah. Ini adalah pertemuan kedua mereka sejak acara pernikahan Elia.

Dave akhirnya menutup pulpennya dan menyelipkannya kembali ke saku jas. “Tempat rapat sudah siap?” tanyanya datar.

“Sudah, Tuan,” jawab Lea cepat.

Ia menyerahkan map berisi berkas-berkas penting agar Dave dapat memeriksanya kembali. Dave membuka map itu, membaca sekilas beberapa lembar kertas, lalu mengangguk pelan.

“Baik. Persiapkan semuanya mulai sekarang. Satu jam sebelum pertemuan, kita harus sudah berangkat,” ujarnya tegas.

“Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi.”

Lea berbalik dan meninggalkan ruangan Dave, melangkah cepat kembali ke ruangannya. Jantungnya masih berdegup tak karuan. Pekerjaan ini jelas akan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh tepat. Lea, yang kembali ke ruangan Dave bersama Nick, tengah bersiap turun ke lobi.

Di dalam lift, suasana hening. Dave sempat mengeluarkan ponselnya, matanya menatap layar dengan fokus. Lea tak sengaja memperhatikan sesuatu. Kaca ponsel Dave retak di salah satu sudutnya.

Pintu lift terbuka tepat di lobi utama. Ketiganya keluar, sementara Nick berlari kecil ke arah mobil untuk membukakan pintu penumpang.

Mobil keluar dari halaman perusahaan, dengan para penjaga sigap membukakan palang pintu, sadar bahwa mobil bos besar akan melaju.

Selama perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka. Lea sibuk dengan tablet, menyusun jadwal untuk besok.

“Pemeriksaan rutin tahunan?” gumamnya pelan, tapi cukup terdengar oleh Dave dan Nick.

Nick berdeham sebelum akhirnya membuka suara. “Oh iya, Tuan. Besok tepat satu tahun perusahaan kita melakukan pemeriksaan rutin. Saya sudah menghubungi tim dokter beberapa hari sebelumnya.”

“Ya, atur saja seperti biasa,” jawab Dave datar.

Mobil berhenti saat lampu merah. Dave menoleh ke kiri dan melihat seorang anak kecil menjual bunga mawar kepada setiap mobil yang berhenti.

“Apa aku belikan saja ya untuk… Elia?” gumamnya, karena masih ada satu menit sebelum lampu berubah hijau.

“Buka kaca pintumu dan panggil anak penjual bunga itu,” titah Dave kepada Lea.

Lea segera menekan tombol kaca dan berseru memanggil anak itu. “Halo, Tuan. Apa Anda ingin membeli bunga?” tanya anak itu polos.

“Iya, aku mau semuanya,” jawab Dave singkat.

“Benarkah?” Anak itu tampak tidak percaya.

Dave segera mengeluarkan dua lembar uang senilai 2.000 baht. Pintu mobil dibuka, dan bunga-bunga itu dimasukkan.

“Harga satu bunganya hanya 50 baht, Tuan. Uangnya terlalu banyak,” ucap anak itu jujur.

“Tidak apa-apa, ambil saja untukmu,” jawab Dave.

“Terima kasih, Tuan,” kata anak itu sambil tersenyum.

Tepat saat lampu berubah hijau dan klakson mulai berbunyi, mobil Dave kembali melaju dengan sepuluh tangkai bunga mawar yang baru saja dibeli.

Di rumah sakit, Albert menangani pasien dengan beragam keluhan dan karakter. Banyak di antara mereka masih berusia muda, namun sudah bergulat dengan masalah kesehatan mental yang serius. Bahkan, beberapa pasien datang dalam kondisi genting setelah memiliki keinginan atau mencoba mengakhiri hidup mereka.

Sebagai seorang dokter, Albert berusaha tetap tenang dan empatik, memberikan penanganan yang tepat. Baik berupa terapi, pengobatan, maupun solusi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Tepat pukul 12 siang, Albert menutup sejenak praktiknya untuk beristirahat. Namun, saat ia melangkah keluar dari ruangan, terdengar ketukan di pintu. Seorang perawat muncul, membawa sebuah map di tangannya.

“Siang, Dok,” sapa perawat itu dengan ramah.

“Siang, Sus,” jawab Albert singkat.

“Dok, ini saya ingin menyampaikan bahwa besok pukul 9 pagi kita sudah harus berada di perusahaan Success Group untuk pemeriksaan rutin karyawan,” ujar perawat itu.

Albert menghela napas panjang. Dokter sebelumnya telah dipindahkan ke tempat lain, sehingga tanggung jawab ini kini jatuh padanya. Namun, alisnya segera mengerut saat menatap tanda tangan dan nama di dokumen itu.

“Astaga… Dave?” gumamnya pelan. Ia mungkin tidak terlalu hafal nama perusahaan, tapi nama Dave dan tandatangannya jelas dikenalnya.

Perawat itu menatapnya dengan heran. “Ada apa, Dok?”

Albert tersenyum tipis sambil menyerahkan kembali map tersebut. “Tidak apa-apa. Besok kita berangkat ke lokasi.”

“Baik, Dok. Kalau begitu saya permisi.” Perawat itu pun berlalu.

Albert keluar dari ruangan dan berjalan menuju kantin. Di sepanjang jalan, ia melihat dua rekannya keluar dari ruangan masing-masing.

“Hei,” sapa Erik ramah.

James hanya tersenyum getir, wajahnya seolah mengekspresikan keadaan hatinya. Albert menatapnya penuh pertanyaan, tapi Erik hanya mengangkat bahu, seolah mengatakan bahwa dia juga tidak tahu.

“Ayo, kita makan siang bersama,” ajak Albert.

Ketiganya pun berjalan menuju kantin, memesan menu masing-masing, lalu mencari tempat duduk.

“Wah, menu hari ini lezat,” komentar Erik sambil menyesap kuah sup hangat dari sendoknya.

“Kau benar, biasanya terasa hambar,” timpal Albert sambil menikmati kuah sup itu.

Hanya James yang tetap diam, fokus pada makanannya. Setelah selesai, mereka tetap duduk sebentar di kantin untuk berbincang sebelum kembali menjalankan tugas.

“James, kau baik-baik saja?” tanya Albert, tak tahan lagi untuk menanyakan hal itu sejak tadi.

“Aku baik-baik saja,” jawab James singkat.

“Kau jangan bohong, James. Kau kira kami berdua tidak bisa membaca mimik wajahmu itu?” celetuk Erik sambil mengupas pisang.

James menarik napas panjang. “Aku hanya sedang kesal pada diriku sendiri,” ungkapnya, membuat Albert dan Erik saling bertukar pandang.

“Kesal pada dirimu sendiri? Memangnya kenapa?” tanya Albert penasaran.

“Kemarin aku bertemu pasien yang pernah ku tangani. Kami mengobrol banyak, dan aku mengantarnya pulang. Tapi… aku lupa meminta nomor ponselnya,” kata James sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Erik dan Albert menepuk dahi mereka secara bersamaan. “Jadi hanya karena itu kau kesal?”

Albert tertawa kecil sambil menutup mulutnya. “Jadi, kau sedang naksir salah satu pasien yang pernah datang ke ruangmu. Tapi sayangnya… kau lupa meminta nomor ponselnya?”

James mengangguk lesu. Erik sampai tidak tahan menahan tawa melihat wajah temannya itu.

“Astaga… bagaimana bisa kau lupa meminta nomor teleponnya?” ucapnya sambil menepuk pelan bahu James.

“Wajahnya yang cantik membuatku jadi lupa bertukar nomor ponsel” ungkap James, membuat kedua temannya meledak tertawa.

“Kalian ini senang sekali tertawa di atas penderitaanku, ya?” ucap James sedikit kesal, meski senyumnya tetap terselip di wajahnya.

“Maaf, James. Aku hanya tidak menyangka kau kini dekat dengan seorang pasien,” ujar Erik sambil menahan tawa, mulutnya masih tersenyum lebar.

Albert mengangguk. “Kalau dia pernah kau tangani, kenapa tidak membuka rekam medisnya? Biasanya di situ tercatat data pribadi, termasuk nomor ponsel. Atau, setidaknya kau bisa cek di bagian pendaftaran.”

James tertegun mendengar ide Albert. “Ya ampun… kenapa aku tidak kepikiran tentang hal itu?”

“Itu karena kau sedang dibutakan oleh wajah cantiknya,” jawab Albert, dan James menimpali dengan nada komikal yang sama, membuat mereka terdengar kompak.

Reaksi mereka begitu serasi hingga beberapa perawat dan tenaga medis lain yang sedang makan siang di kantin tak bisa menahan diri untuk melirik ke arah meja mereka, setengah tersenyum, setengah penasaran dengan obrolan kedua dokter itu.

James berdecak melihat tingkah kedua teman nya “Astaga… kalian ini memang tidak pernah kehabisan bahan tertawa.”

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!