Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Targetnya ... Lisa
Bab 10
“Ayo, teh,” ajak Cecep lagi.
Sepintas Lisa mengingat tokoh cecep dalam sinetron yang pernah ditonton saat kecil dulu. Meski yang ini versi lebih baik, tapi tetap tidak menarik di matanya.
“Hm, terima kasih tawarannya, tapi saya sudah ada janji bareng yang lain. Mungkin lain kali.”
“Wah, sayang sekali. Padahal saya bisa perlihatkan ke teh Lisa indahnya desa Singajaya.”
Lisa tersenyum terpaksa, tidak lagi berkomentar. Wahid seolah paham dengan gesture Lisa yang terlihat tidak nyaman.
“Pak Cecep, hayu kita jalan.”
“Lain kali jangan menolak ya teh, dijamin seru dan tidak akan menyesal.”
Lagi-lagi Lisa hanya bisa tersenyum miris.Kedua pria itu beserta ajudan pak kades akhirnya keluar dari ruangan dan meninggalkan puskes.
Asoka, Rama dan Yuli langsung menyusul ke dalam.
“Gimana, lis?”
“Kenapa sih?”
Tanya Yuli dan Rama serempak, sedangkan Asoka dengan raut wajah datar sudah menunjukan banyak tanya.
Lisa menghela nafas lalu menggeleng. “Nggak jelas, dia ngajak aku ke kampung sebelah. Katanya ada acara apa gitu sama mau ngajak keliling.”
“Kok, Lisa doang kenapa yang lain nggak,” cetus Yuli.
“Yaelah Jule, pake nanya. Udah jelas dia pengen nyosor sama Lisa. Kita bicarakan di basecamp aja. Ayo pulang!”
“Aku ….” Lisa menoleh pada Asoka.
“Ya udah, yang penting pulang. Sama yang ini mah gue percaya, sama yang tadi mah … ck. Ayo, balik,” ajak Rama pada Yuli.
“Lo mau kemana Sa?”
“Pulang,” seru Rama menarik tangan Yuli agar tidak ikut campur dengan Lisa dan Asoka.
Asoka menghela nafas, sempat khawatir dan bertanya-tanya ada masalah apa sampai si Cecep menahan Lisa. Meski sudah ada dugaan karena tertarik. Siapa juga yang tidak tertarik dengan Lisa.
Tubuh gadis ini tidak tinggi cenderung mungil, dengan wajah khas perempuan melayu dan rambut panjang. Memandangnya tidak akan membuat bosan. Sosoknya bisa dikatakan mungil menantang untuk mendekat dan mendekap. Kalau tersenyum dan tertawa lesung pipinya begitu manis dan menggoda.
“Aku ambil tas dulu,” seru Lisa.
Sudah memakai jaket dan membawa tasnya keluar dari gedung puskes. Sapri masih sibuk beberes agar besok pagi tidak terlalu banyak hal yang harus menjadi perhatian. Asoka sudah berada di atas motor milik A Ujang, entah imbalan apa yang didapat dengan mudahnya memberikan motornya untuk dipakai.
“Ayo, keburu hujan. Udah mendung.”
“Pegangan Lis, takut terbang kau,” teriak Beni padahal pria itu berada di garasi sedang menghidupkan mesin ambulance.
“Bang Beni benar, ayo pegangan.”
“Udah,” sahut Lisa.
Asoka berdecak lalu tangannya terulur ke belakang menarik tangan Lisa dan meletakan di pinggangnya.
“Pegangan ke aku bukan ke belakang. Udah ‘kan?”
“Iya, udah.”
“Kok, nggak kerasa.”
“Ish, dokter Oka!”
Asoka terkekeh lalu mulai melaju pelan mencari tempat makan, sekaligus tempat kencan.
***
Rama menyesap kopi hitamnya setelah mengepulkan asap vape. Bersandar pada tembok kamar menikmati sore. Suara TV menyiarkan berita menjadi backsound ditambah suara hujan.
Lisa dan Yuli menatap Rama sambil menikmati snack. Asoka baru saja keluar dari kamar dan ikut bergabung, duduk tidak jauh dari Rama. Sapri tentu saja sudah manteng di depan tv.
Beni duduk agak jauh, mengernyitkan dahi melihat Rama yang belum juga membuka suara. “Hei, kampr3t, kapan kau mau cerita. Kita udah nunggu dari tadi masih flash plus aja ngis4p rokokmu itu.”
“Tau ih, snack gue udah mau habis nggak dimulai juga,” keluh Yuli.
“Nggak jelas ih, Rama.” Lisa cemberut.
Rama memiliki informasi mengenai Cecep membuat penasaran.
“Yaelah, sabar dong. Penasaran amat, jangan bilang kalian terpesona sama si Cecep Surecep itu.”
“Dih, ogah.”
Lisa hendak melempar ponselnya karena kesal dengan kelakuan Rama.
“Woy, apaan tuh,” seru Rama menunjuk Lisa.
“Jangan begitu.” Asoka menengahi, tapi pandangannya tertuju pada Lisa yang cemberut karena kesal.
“Cepetan,” ujar Lisa pada Rama. “Biar aku bisa ancang-ancang kalau itu orang datang lagi.”
“Jadi, kata A Ujang dan yang lain ya. Informan yang sumbernya bisa dipercaya. Pak Kades itu duda dan terkenal suka main cewek. Bahkan sebelumnya, dia punya istri dua itu pun masih ada cemceman di kampung lain."
“Hah, serius? Sok ganteng banget sih.” Yuli bergidik sendiri mendengar penjelasan Rama.
“Sstt, jangan berisik, nggak enak didengar orang.” Beni mengingatkan agar Yuli dan Rama menahan bac0t mereka.
“Dan dari interaksi tadi, bisa kita simpulkan kalau dia suka sama lo.” Rama menunjuk Lisa.
“Ish, masa sih, kok aku jadi takut ya.” Lisa melipat kedua kaki dan memeluknya, masih dalam tatapan Asoka.
“Tenang aja-lah, kayak nggak punya temen. Yang penting jangan pernah mau diajak sama dia, apapun alasannya. Walaupun terpaksa pergi, jangan sendiri," tutur Rama menenangkan Lisa yang merinding mengingat tatapan Cecep siang tadi.
“Tenang aja mbak Lisa, nanti saya temenin deh.”
“Temenin kemana, Sapri?” tanya Rama dan Yuli malah terkekeh.
“Ya kemana aja, dari pada Mbak Lisa ketakutan.”
“Sama lo juga dia takut.”
“Tenang aja Lis, dia macam-macam ku lind4s pake ambulance.” Beni beranjak dan pamit ke kamar. Merasa tidak sehat, masih beradaptasi dengan cuaca di sana.
Rama dan Yuli akhirnya sibuk mabar game. Asoka beranjak menuju ruang tamu memberi kode dengan dagunya agar Lisa menyusul. Tidak lama Lisa pun beranjak.
“Awas ada cctv di sini,” seru Rama meski pandangan fokus dengan ponsel. “Mau paket express nggak dok, biar bisa halal malam ini juga.”
“Rama!!!”
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭