NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga sebuah percepatan

"Apa! Dua miliar lagi?!"

"Iya, Tuan Ares. Jika Anda ingin mempercepat pengalihan semua dana perusahaan Anderson Group Internasional, Anda harus menambah bajet dua miliar lagi," jelas Dirga dengan senyum miring di seberang telepon.

Ares mengusap wajahnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, kesal karena lagi-lagi ia harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi melancarkan rencananya.

"Jangan coba memeras saya, Pak Dirga," gumam Ares penuh emosi.

"Siapa yang ingin merampas Anda, Tuan? Ingat, kita ini kerja sama yang sangat berisiko. Saya bisa masuk penjara jika ketahuan oleh Nona Elina kalau membantu Anda," jawab Dirga dengan tenang, seolah tak terganggu oleh kemarahan Ares.

Ares menghela napas panjang dan berat. "Sisa berapa persen pekerjaan kamu?"

"Tiga puluh persen lagi, Tuan. Waktu selesai sekitar satu bulan. Tapi Anda ingin mempercepat, ya Anda harus membayar tim juga," jelas Dirga.

Ares terdiam beberapa detik. Matanya menatap kosong ke jendela ruang kerjanya, memandangi lampu-lampu kota yang terasa mengejek. Dua miliar lagi. Bukan jumlah kecil, bahkan untuknya. Namun semua ini sudah terlanjur berjalan terlalu jauh untuk dihentikan.

"Kalau saya setujui," ucap Ares akhirnya dengan suara rendah, "berapa lama kamu bisa memangkas waktunya?"

Dirga terdiam sejenak sebelum kembali bicara dengan nada rendah. "Sebenarnya kalau dana tambahan itu masuk malam ini, dua hari juga sudah cukup untuk merapikan semuanya."

Sudut bibir Ares terangkat tipis. "Pastikan tidak ada celah. Saya tidak mau satu kesalahan kecil pun menggagalkan rencana saya."

"Baik," jawab Dirga ringan. "Saya tunggu transferannya. Tanpa itu, sistem tidak akan saya sentuh sedikit pun."

Klik!

Sambungan terputus. Ares menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya gemetar, bukan karena ragu, melainkan karena campuran marah dan ambisi yang sudah tak terkendali. Ia berjalan mondar-mandir di ruangannya, lalu berhenti tepat di depan brankas kecil yang tersembunyi di balik lukisan dinding.

"Sedikit lagi," gumamnya lirih. "Setelah semua ini selesai, tak ada lagi yang berani meremehkanku."

Ia membuka brankas itu, menatap saldo di tablet khusus yang terhubung dengan beberapa rekening luar negeri. Angkanya memang besar, tapi terus terkikis demi rencana gila yang sedang ia bangun.

Dengan rahang mengeras, Ares kembali mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang.

"Restu," ucapnya begitu sambungan terangkat, "batalkan semua investasi jangka pendek. Cairkan hari ini juga."

"Tapi Pak, itu akan membuat kerugian—"

"Lakukan saja!" bentaknya. "Saya butuh dana sekarang."

Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban, lalu bersandar di kursinya dengan napas berat. Di sudut bibirnya terbit senyum tipis yang sarat ambisi.

"Tidak masalah jika tabunganku terkuras," bisiknya pada diri sendiri. "Sebentar lagi semua akan berbalik arah. Perusahaan itu, nama besar itu... semuanya akan jadi milikku."

♡♡

Amelia berdiri di depan jendela kamarnya, menatap tajam ke arah taman belakang. Dari balik kaca, ia melihat Bi Wati yang sedang membersihkan area taman dengan wajah lelah namun tetap tekun bekerja. Tangannya perlahan mengepal, amarahnya kembali membuncah mengingat bagaimana Elina selalu membela pembantu itu.

"Dasar pembantu tidak tahu diri. Apa dia lupa dengan ancamanku?" gumam Amelia dengan suara penuh kebencian.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja rias, lalu menghubungi seseorang.

"Jarwo..."

"Iya, Nyonya."

"Saya ada tugas untuk kamu." ucap Amelia dingin.

"Tugas apa, Nyonya?"

"Kamu buat perhitungan sama keluarga Bi Wati ," perintah Amelia tanpa ragu.

"Baik, Nyonya, siap laksanakan, jangan lupa—"

"Iya, kamu kerja yang baik dulu lalu saya akan transfer kamu," potong Amelia cepat sebelum lawan bicaranya menyelesaikan kalimat, lalu ia langsung mematikan telepon.

Amelia menyunggingkan senyum miring sambil kembali menatap ke arah taman. “Kamu akan tahu akibatnya jika berani dengan saya.”

“Mama…”

Amelia menoleh ketika mendengar suara suaminya. “Ada apa, Pah?”

“Kamu telepon siapa tadi?” tanya Arman sambil menghampirinya.

“Jarwo, Pah,” jawab Amelia singkat.

Arman mengerutkan kening. “Jarwo? Untuk apa?”

“Mama kasih dia kerjaan buat perhitungan sama keluarga Bi Wati di kampung,” jelas Amelia dengan nada datar. “Mama sangat kesal dengan dia, selalu dibela Elina. Karena Elina menjaga Wati, ya sudah, Mama kasih saja perhitungan sama keluarganya.”

Arman mengangguk perlahan. “Ide yang bagus, Mah. Papa juga kesal dengan tingkah pembantu sialan itu.”

Amelia tertawa pelan, merasa puas karena suaminya berada di pihaknya.

“Biar dia tahu diri,” gumamnya dingin.

Arman kembali melirik ke luar jendela, memperhatikan Bi Wati yang masih sibuk menyapu taman, sama sekali tidak menyadari rencana kejam yang sedang disusun untuk keluarganya. “Kamu yakin orang Jarwo itu bisa dipercaya?”

“Tenang saja, Pah. Jarwo bukan orang sembarangan. Dia itu preman yang ditakuti di kampung Bi Wati,” jawab Amelia santai, seolah semua ini hanyalah urusan sepele.

♡♡

“Woi, bangun kalian. Malam ini kita ada kerjaan,” ucap Jarwo sambil mengguncang tubuh temannya yang masih tertidur pulas di lantai kontrakan sempit itu.

Pintu salah satu kamar terbuka, Bagas keluar dengan mata masih setengah terpejam. “Kerjaan apa, Wo?” tanyanya sambil duduk di samping Jarwo, menguap lebar.

“Nyonya Amelia nyuruh kita kasih pelajaran ke keluarganya si Wati,” jawab Jarwo sambil menyalakan rokoknya, asap tipis mengepul memenuhi ruangan.

“Wati… Mbak Wati maksud lo, Wo?” tanya Bagas, kali ini dengan raut lebih waspada.

Jarwo mengangguk. “Kalau kita berhasil, kita bakal dapat duit gede.”

“Apa? Duit…?” Seketika salah satu temannya yang bernama Ucup langsung terbangun dari tidurnya begitu mendengar kata itu.

Bagas dan Jarwo hanya menatap malas ke arah Ucup yang masih setengah terbaring di lantai dengan mata tiba-tiba berbinar.

"Serius Wo? Kita bakal dapat duit?" tanya Ucup sambil langsung bangkit setengah duduk, rasa kantuknya seolah menguap begitu saja.

"Iya, tapi kita harus kasih perhitungan ke keluarga Mbak Wati," jelas Jarwo datar.

Mendengar itu, Ucap langsung berdiri penuh semangat. "Ya sudah, sekarang saja. Kita kasih perhitungan," ucapnya tanpa pikir panjang.

"Lo mau digebukin warga, hah?" kesal Bagas sambil melotot.

"Cup, ini masih sore. Nanti malam kita baru beraksi," kata Jarwo tegas, membuat Ucup akhirnya diam.

Malam pun tiba. Suasana kampung tampak sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan desir angin. Jarwo, Bagas dan Ucup kini sudah berada di sekitar rumah Bi Wati, bersembunyi di balik pepohonan dan pagar rumah warga.

"Sepertinya warga sudah tidur, Wo," bisik Bagas sambil mengamati sekitar dengan cemas.

Jarwo mengangguk pelan, lalu mulai melangkah, diikuti Bagas dan Ucup dengan hati-hati memastikan tidak ada yang memperhatikan.

“Kita buat halaman rumah Mbak Wati dan tokonya jadi berantakan. Kalau bisa, hancurkan apa saja,” perintah Jarwo lirih namun penuh ancaman.

Bagas dan Ucup kompak mengangguk.

“Sekarang kita berpencar,” ujar Jarwo sebelum mereka bergerak ke arah berbeda.

Saat mereka bertiga mulai menyusup ke sudut-sudut rumah itu, tiba-tiba—

Bugh! Bugh! Bugh!

1
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
yes ada yang baru
Nona Jmn: Jangan lupa mampir dan vote ya🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!