Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: RUNTUHKAN KERAJAAN PALSU
Kamar berukuran sedang di rumah lama Ibu Hendrawan terasa pengap dan lembap. Bau minyak angin dan antiseptic menusuk hidung, beradu dengan aroma udara kusam dari pendingin ruangan yang jarang diservis.
Sony terbaring telentang di atas tempat tidur berseprai motif bunga pudar. Perban putih masih melilit tebal di bahu kanan, leher, hingga melingkar ke sebagian badannya. Setiap kali ia mencoba mengubah posisi duduk, rasa tertarik pada kulitnya yang melepuh langsung memicu nyeri hebat yang menyengat hingga ke tempurung kepala.
"Mas... minum dulu obat anti nyerinya," bujuk Ibu Hendrawan pelan seraya membawa segelas air hangat dan dua butir tablet.
"Nanti saja, Bu! Sony sedang pusing!" bentak Sony kasar. Wajahnya yang kusam dan tirus tampak sangat frustrasi.
Sejak keluar dari klinik usai pencabutan laporan di kepolisian, Sony terpaksa menumpang di rumah ibunya. Rumah mewahnya di Grand Residence sudah terkunci rapat atas nama Ranti. Dua mobil SUV yang biasa ia banggakan telah disita oleh juru sita pengadilan sebagai jaminan pembagian harta bersyarat.
Dengan tangan kirinya yang bebas dari balutan perban tebal, Sony meraih laptop lipat berwarna abu-abu yang tergeletak di samping bantal. Ia membukanya dengan susah payah, mengabaikan denyutan nyeri di bahunya.
"Mas, kata dokter jangan banyak gerak dulu. Bahumu itu bisa berdarah lagi kalau ketarik-tarik!" tegur ibunya prihatin, hendak meraih laptop tersebut.
"Sony mau cek surat elektronik perusahaan, Bu! Diamlah!" kibas Sony kesal.
Sony mengusap keningnya yang berkeringat dingin, lalu membuka aplikasi email kantor. Ia berharap ada kabar baik dari jajaran direksi atau kabar pengucuran dana segar dari para investor untuk menyelamatkan arus kas perusahaannya—PT Kurniawan Jaya Mandiri—yang membeku akibat perselisihan hukum ini.
Namun, begitu kotak masuk email terbuka, mata Sony membelalak lebar. Nafasnya seketika tercekat di tenggorokan.
Deretan email beruntun dengan subjek tebal berwarna merah membanjiri layar:
[PEMBERITAHUAN RESMI] Penarikan Investasi & Pembatalan Kerja Sama — PT Global Capital Indonesia [URGENT] Pengunduran Diri Massal Konsorsium Investor Pemegang Saham Seri B [SURAT EDARAN DIREKSI] Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB): Perubahan Nama Perusahaan & Restrukturisasi Total Kepemilikan Saham
Dengan jari gemetar, Sony membuka email pertama dari mitra investor utamanya.
"...Dengan mempertimbangkan skandal moral, kasus hukum, serta terbuktiny kesepakatan Perjanjian Pra-Nikah yang menetapkan bahwa 90 persen kepemilikan aset dan saham PT Kurniawan Jaya Mandiri secara sah dialihkan kepada Saudari Ranti Anindita, maka pihak kami menyatakan BANTAL dan menarik seluruh modal sebesar 12 Miliar Rupiah efektif per hari ini..."
Sony menelan ludah, tenggorokannya terasa kaku. Air mata kepanikan mulai menetes membasahi pipinya. Ia menggeser kursor ke email berikutnya—surat edaran internal dari sekretariat perusahaan.
"...Diberitahukan kepada seluruh jajaran Direksi dan Komisaris, bahwa berdasarkan Penetapan Pengadilan Agama dan Sertifikat Kepemilikan Saham Mayoritas (90%), Saudari Ranti Anindita resmi mengambil alih pimpinan tertinggi perusahaan. RUPSLB akan digelar esok hari untuk meresmikan pergantian nama perusahaan dari PT Kurniawan Jaya Mandiri menjadi PT Anindita Gemilang Utama. Saudara Sony Kurniawan resmi diberhentikan dari jabatan Direktur Utama..."
"Nggak... Nggak mungkin! Ini gila!" jerit Sony histeris.
Darahnya berdesir hebat. Perusahaan yang ia bangun selama enam tahun—yang selalu ia klaim sebagai hasil keringat dan kehebatannya sendiri—ternyata runtuh dalam sekejap mata. Selama ini, 90 persen saham perusahaan itu memang terdaftar atas nama Ranti sebagai garansi modal awal dari almarhum ayah Ranti. Sony hanya memegang 10 persen saham hibah yang kini nilainya tak lebih dari selembar kertas sampah.
Nama 'Kurniawan' dicabut. Jabatan Direktur Utama dicopot. Para investor lari karena tidak mau berurusan dengan pria berpenyakit moral yang sudah jatuh miskin.
"Ranti iblis! Kamu benar-benar iblis!" teriakan Sony menggema di dalam kamar.
Rasa amarah, malu, dan tak berdaya meledak hebat dalam dada Sony. Dengan sisa tenaga di tangan kirinya, Sony mengangkat laptop mahal itu tinggi-tinggi ke udara, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga ke arah dinding kamar.
PRANGGG!
Laptop itu menghantam tembok dengan keras, membuat layarnya retak seribu sebelum jatuh berkeping-keping di atas lantai keramik.
"Astagfirullahaladzim! Sony!" jerit Ibu Hendrawan histeris seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Benda-benda plastik dan pecahan komponen laptop berserakan di dekat kakinya.
"Kamu kenapa, Mas?! Kenapa laptopnya dibuang?!" tangis ibunya panik, berlari mendekati Sony yang kini terkulai lemas di atas kasur seraya memegangi bahunya yang mendadak meneteskan darah segar dari balik perban.
"Arghhh! Sakit... Bu, sakit!" ringis Sony mengerang kesakitan. Tarikan otot saat melempar laptop membuat jahitan dan jaringan kulitnya yang baru mengering kembali terbuka.
"Aduh, Mas! Perbanmu berdarah lagi! Jangan banyak tingkah dulu!" cemas ibunya seraya mengambil tisu dapur dan menepuk-nepuk perban di leher Sony yang mulai memerah. "Kenapa sih? Ada apa dengan kantor kamu?"
"Habis, Bu..." rintih Sony dengan suara parau dan mata merah basah oleh air mata. "Semua habis... Investor kabur semua. Saham Sony cuma tersisa 10 persen... Ranti memecat Sony dari perusahaan!"
Ibu Hendrawan menghentikan usapan tisunya, matanya membelalak tak percaya. "Apa?! Memecat kamu?! Tapi kan itu perusahaan kamu, Mas! Kamu yang tiap hari berangkat pagi pulang malam mengurus kantor itu!"
"Perusahaan itu atas nama modal Ranti, Bu!" bentak Sony frustrasi seraya memukul kasur. "Ranti pegang 90 persen saham! Besok... besok Ranti mau ganti nama perusahaan itu pakai nama dia sendiri! Nama Sony dibuang! Sony diusir dari kantor!"
"Ya Allah... Ranti tega sekali!" tangis Ibu Hendrawan pecah, meratapi nasib anaknya. "Kenapa dia jahat sekali sama kamu, Mas? Dia mau membuat kamu mengemis di jalanan?!"
"Jahat?!" Sony tertawa hampa di tengah rintihan sakitnya. "Sony yang tolol, Bu... Sony yang tolol karena percaya kalau Ranti bakal tetap diam seperti dulu... Sony pikir Ranti tidak bakal berani membongkar perjanjian pra-nikah itu..."
Sony memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan wajah Ranti yang dingin, tegas, dan penuh kemenangan mendadak terbayang jelas di benaknya. Dulu, Ranti adalah istri yang menyambutnya dengan senyuman hangat di depan pintu, menyeduhkan kopi, dan memijat bahunya yang lelah. Dulu, Ranti adalah wanita yang selalu menundukkan pandangan dan menurut pada setiap perkataannya.
Kini, wanita yang sama telah menjelma menjadi algojo yang mencabut seluruh kebanggaan, harta, status sosial, dan masa depannya sampai tak tersisa sedikit pun.
Ponsel Sony yang tergeletak di meja samping tempat tidur mendadak berdering nyaring.
Dengan napas tersengal-sengal dan tubuh berdarah, Sony mengulurkan tangan kirinya meraih ponsel itu. Di layarnya, tertera nama pemanggil: Raya.
Sony menggeser tombol hijau, meluapkan seluruh emosinya ke telinga wanita yang telah menyeretnya ke dalam jurang kehancuran ini.
"Mau apa kamu telepon-telepon lagi, Raya?!" bentak Sony kasar tanpa salam.
Suara tangisan Raya terdengar parau dan panik dari seberang telepon. "Mas... Mas Sony, tolongin aku... Pihak sekolah resmi mengeluarkan surat pemecatan buat aku hari ini... Bapak sama Ibu juga mau seret aku pulang ke kampung... Mas, janji kamu mana?! Kamu bilang mau sewain aku apartemen! Mau bayar biaya perawatan bekas luka bakar ini!"
"Apartemen jidatmu?!" teriak Sony murka. "Kamu tidak tahu diri ya?! Gara-gara kamu, aku kehilangan rumah, hilang mobil, dipecat dari perusahaanku sendiri! Aku sekarang cuma numpang di rumah ibuku dan tidak punya uang sepeser pun! Mau minta bayar pakai apa, HAH?!"
"Tapi Mas... kulitku rusak gara-gara kamu!" jerit Raya di seberang sana.
"Salahmu sendiri kenapa mau diajak tidur di rumahku!" semprot Sony penuh kebencian sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon secara sepihak dan melempar ponselnya ke atas kasur.
"Mas... sudah, Mas... jangan teriak-teriak lagi, nanti lukanya makin parah," panggil ibunya penuh rasa iba seraya mengusap kening anaknya yang berpeluh dingin.
Sony menatap langit-langit kamar yang kusam dengan pandangan kosong. Nyeri di tubuhnya tak seberapa dibanding rasa hancur yang meremukkan egonya sebagai seorang laki-laki. Ia telah kehilangan segalanya—harta, jabatan, kehormatan, dan keluarga.
Di balik dinding kamar yang dingin itu, Sony Kurniawan akhirnya meratapi nasibnya sendiri dalam penyesalan yang terlambat, sementara di luar sana, Ranti sedang bersiap melangkah memasuki gedung pencakar langitnya untuk memimpin kerajaan barunya.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.