Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi menjelang, Kinan dan Bella masih berada di hotel. Mereka berdua sudah meminta orang mengawasi villa itu. Kalau Bima sudah datang kesana, orang itu akan menghubungi Bella dan yang lain.
Sedangkan Bima, pria itu juga masih istirahat di hotelnya. Pagi ini dia juga sudah melakukan panggilan video meeting dengan klien. Urusannya sebenarnya sangat banyak, bisa di bilang sangat sibuk. Tapi, tetap saja setiap tahunnya dia akan selalu menyempatkan waktu untuk merayakan ulang tahun Agnes.
Kisah Agnes dan Bima di mulai 10 tahun yang lalu. Ketika itu mereka sekolah di tempat yang sama. Salah satu SMA yang sangat terkenal di kota ini. Keduanya dinobatkan menjadi putra dan putri favorit di sekolah itu. Karena memang Bima sangat tampan dan Agnes sangat baik.
Hingga hubungan itu menjadi semakin dekat. Bima suka sifat Agnes yang begitu lembut dan sangat sabar. Setidaknya itulah yang diperlihatkan oleh Agnes di depan Bima. Ayahnya Agnes juga ternyata adalah salah satu karyawan di perusahaan ayah Bima, Dirgantara grup.
Hingga suatu ketika, saat Bima di ajak orang tuanya ke pabrik mereka. Ada orang jahat yang berniat mencelakai Bima, karena mengetahui Bima adalah anak dari pemilik Dirgantara grup, para penjahat itu menculiknya untuk meminta tebusan.
Saat itulah ayahnya Agnes dan juga Agnes bertaruh nyawa menyelamatkan Bima. Ayah Agnes sampai tertembak, untuk menahan tembakan yang para penjahat itu tujukan pada Bima. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi lebih dekat. Mereka berpacaran, dan Bima berjanji akan selalu melindungi Agnes selamanya.
Sayangnya, meski sudah melakukan pengorbanan sebanyak itu. Keluarga Dirgantara tak pernah menerima Agnes. Karena ternyata, penyelidikan kasus yang sudah lama berlalu itu menguak sebuah rahasia, kalau para penculik itu salah satunya adalah adik sepupu ayah Agnes. Bima yang sudah sangat percaya pada Agnes, malah menentang keluarganya. Hubungan mereka cukup rumit setelah itu. Meski tidak buruk, tapi juga tidak terlalu baik.
'Suara ponsel berdering
Bima mengangkat panggilan telah itu.
"Halo..."
[Bima, kamu masih kerja ya? penerbangan dari sana 10 jam, kalau tidak berangkat sekarang...]
"Aku akan berangkat sekarang. Jangan khawatir! aku akan sampai telat waktu, nanti malam jam 7. Aku pasti sudah berada di villa"
[Baiklah, oh ya Bima. Ada beberapa teman yang ingin ikut merayakan ulang tahun ku. Mereka para gadis yang tinggal di area villa juga. Apa aku boleh mengajak mereka nanti malam?]
Bima terdiam sejenak. Tapi pikirnya, orang-orang yang ada di negara ini juga tidak mungkin mengenalnya.
"Baiklah, ajak saja!"
[Kamu memang yang terbaik Bima, aku akan selalu menunggu mu]
"Iya"
[Dan istrimu, dia tidak marah kan...?]
"Agnes, aku akan berangkat sekarang! aku tutup dulu ya"
[Em, baiklah. Sampai jumpa nanti malam]
"Hemm"
Bima mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
Sementara di villa, ternyata Agnes bahkan sudah bersama dengan tiga wanita yang selama tiga tahun ini menjadi temannya di Dubai.
"Dia akan datang?" tanya salah satunya. Wanita dengan hidung yang sangat mancung, keturunan Kazakhstan.
"Tentu saja pacar Agnes akan datang! dia kan sangat mencintai Agnes. Lihat saja, villa dan segala kemewahan yang dimiliki Agnes ini. Kalau dia tidak benar-benar mencintai Agnes, mana mungkin memberikan semua ini!" kata wanita yang rambutnya keriting seperti mie.
"Tapi tadi itu kamu cukup berani, Agnes. Kenapa kamu sampai bertanya tentang istrinya padanya?" tanya satu lagi yang tentengannya tas branded nomor satu limited edition.
"Takut apa? dia bahkan menikahi wanita itu untuk melindungi ku. Dua tahun lagi, wanita itu juga akan diceraikan oleh Bima. Dan Bima akan menikahi ku!" kata Agnes dengan penuh percaya diri.
Wanita dengan rambut keriting itu mengangguk setuju. Sedangkan yang punya tas mahal, tampaknya dia agak bergidik ngeri.
"Aduh, kalian jangan bicara seperti ini kalau sedang main ke villa ku ya. Ibuku sangat tidak suka obrolan seperti ini, ibuku paling kesal pada wanita yang menjadi orang ketiga"
Wanita yang berambut keriting segera menepuk bahu wanita yang membawa tas mahal itu.
"Sayang, mana ada di sini orang ketiga. Agnes dan pacarnya sudah kenal 10 tahun. Sedangkan wanita itu menikah dengan pacarnya Agnes selama tiga tahun. Sekarang siapa yang bisa di sebut orang ketiga?"
Agnes mengangguk setuju.
"Dimana-mana, yang tidak dicintai itu adalah orang ketiganya. Aku dan Bima saling mencintai, lagian sebentar lagi istrinya itu juga akan dibuang. Takut apa?" sombong Agnes.
Ketiganya tertawa, hanya yang membawa tas branded itu saja yang menghela nafas panjang. Mungkin dia sekarang baru sadar, kalau dia sudah salah circle.
Sudah sore, Bella terus bolak-balik di balkon kamar hotelnya. Dia terus memandangi layar ponselnya.
"Lama sekali, bukankah pria brengsekk itu sudah sampai di sini sejak semalam. Dia bahkan tidak mengunjungi wanita tidak tahu malu itu barang sekalipun. Masa sih?" Gumam Bella tak percaya.
Tapi, orang yang dia bayar memang mengatakan kalau Bima tak keluar hotel sama sekali sejak sampai.
Hingga beberapa saat kemudian. Sebuah pesan masuk, mengatakan kalau Bima sudah keluar dari hotel.
Bella segera memanggil Kinan yang berada di dalam kamar.
"Kinan, ayo. Kita tangkap basah suami brengsekk kamu itu!"
Kinan segera mengikuti langkah Bella. Di belakang Bella yang masih harus mengajak pengacara Gustaf. Tangan Kinan mendadak menjadi dingin. Jantungnya juga berdebar lebih kencang. Saat keempatnya masuk ke dalam lift, dan Bella bicara panjang lebar dengan pengacara Gustaf. Kinan hanya diam saja, meremass tangan satunya. Kedua tangan Kinan saling meremass. Dia merasa sangat gugup.
Kalau dibilang sudah tidak ada rasa lagi pada Bima. Sebenarnya memang sudah tidak ada. Tak ada cinta, itu benar. Tapi rasa benci, terus terang saja, rasa itu semakin besar sekarang. Dan untuk pertama kalinya lagi setelah tiga tahun dia akan melihat wanita yang menjadi penyebab kematian ibunya. Kinan tidak tahu apa reaksinya nanti.
Ting
Pintu lift terbuka.
"Jadi, seperti itu saja. Rudi yang akan merekam semuanya!" kata paman Gustaf di angguki Kinan dan Bella.
Begitu mobil sewaan Bella sudah sampai di depan villa Agnes. Sebuah mobil mewah yang mereka yakini pasti milik Bima juga sudah berada di depan villa. Tak ada suara musik, hanya lampu dan hiasan villa yang kemarin tidak ada, terlihat menambah kesan hangat di villa itu.
Bella menggenggam tangan Kinan.
"Kinan..."
Kinan menghela nafas berat, tapi dia segera menepuk punggung tangan Bella pelan.
"Ayo turun, kita harus dapatkan bukti untuk membuat wanita itu dipenjara!"
Kinan sepertinya sangat yakin, dia memang harus mendapatkan bukti itu. Harus!
***
Bersambung...
😠