NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN OM

BERMAIN API DENGAN OM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.

Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.

Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25.

​Malam harinya, suasana di dalam kamar rawat VIP itu terasa jauh lebih tenang. Bella hanya sendirian di dalam ruangan yang luas setelah Karin menemaninya hingga menjelang sore. Sebelum berpamitan, Karin telah memastikan bahwa putrinya itu beristirahat dengan cukup, meski raut wajah Bella masih menyisakan sisa-sisa kesedihan yang mendalam. Bella sendiri yang meminta kedua orang tuanya untuk pulang agar mereka bisa beristirahat di rumah.

​Beberapa saat setelah jam makan malam tiba, seorang perawat masuk membawa nampan berisi menu rumah sakit yang tampak hambar. Namun, sebelum perawat itu sempat meletakkannya di meja, pintu kembali terbuka dan sosok Christian melangkah masuk. Pria paruh baya itu masih mengenakan jas dokternya yang tampak sedikit kusut, mencerminkan betapa melelahkan hari yang baru saja ia lewati.

​Dengan gestur dingin dan berwibawa, Christian mengisyaratkan kepada perawat untuk keluar. "Biar saya yang urus," ucapnya singkat. Perawat itu mengangguk patuh dan langsung meninggalkan ruangan.

​Keheningan seketika menyelimuti kamar tersebut. Tanpa bersuara, Christian mendekati ranjang, memeriksa selang infus Bella, lalu memastikan suhu tubuh gadis itu sudah benar-benar stabil.

​"Bagaimana perasaanmu malam ini?" tanya Christian dengan suara baritonnya yang tenang, mulai merapikan selimut Bella.

​Bella hanya menjawab dengan gumaman pelan dan irit. "Sudah lebih baik, Om..."

​Christian kemudian mendekat untuk memeriksa detak jantung Bella menggunakan stetoskop. Ia menempelkan alat medis itu tepat di dada gadis tersebut. Namun, saat kepalanya berada dekat dengan tubuh Bella, ingatan pria itu tiba-tiba terseret pada kejadian malam di mana Bella tak sengaja menciumnya dalam keadaan kacau.

Napas Christian seketika tercekat. Jantungnya berdetak jauh lebih kencang dari biasanya, membuatnya kehilangan fokus sejenak. Pandangannya tanpa sadar tertuju pada lekuk tubuh Bella di balik selimut rumah sakit.

​Sadar dengan apa yang sedang ia pikirkan, Christian langsung menegakkan tubuhnya, mengerjap cepat untuk menetralkan debar jantung dan pikirannya yang mendadak kacau. Ia berdeham kecil untuk menutupi salah tingkah nya.

​"Ada yang masih terasa sakit?" tanya Christian mengalihkan pembicaraan, berusaha kembali bersikap profesional.

​"Tidak ada, Om," jawab Bella lirih, menatap lurus ke depan.

​Christian mengangguk kaku, lalu meraih ponselnya dari dalam saku jas. Ia meletakkannya di atas nakas dekat ranjang. "Apa kamu sudah membuka ponsel atau melihat berita hari ini?" tanya Christian.

​Bella menggeleng lemah. Sejak skandal fotonya di klub malam dan berita miring tentang keluarganya mencuat, ia sengaja menjauhkan diri dari dunia maya karena tidak sanggup melihat hujatan publik.

​"Buka ini," perintah Christian lembut, mendorong ponselnya mendekat ke arah Bella.

​Dengan ragu, Bella mengambil ponsel tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika melihat linimasa berita dipenuhi oleh rilis resmi kepolisian dan pemberitaan media massa mengenai penangkapan Vero atas kasus penipuan, pemerasan, hingga jaringan prostitusi gelap.

Tidak ada lagi berita miring tentang dirinya. Yang ada hanyalah klarifikasi bersih, dukungan moral dari netizen, serta sebuah unggahan khusus dari Clarisa di media sosial yang membela dan membersihkan nama baik sahabatnya itu secara terbuka.

​Bella terpaku, menatap layar ponsel dengan mata mengerjap tak percaya. Air mata haru perlahan menggenang di pelupuk matanya.

​"Nama keluarga dan reputasimu sudah dibersihkan sepenuhnya," ucap Christian pelan, memperhatikan reaksi gadis itu. "Tidak ada lagi yang bisa merusak nama baik keluarga Allegra."

​Bella menaruh kembali ponsel itu, lalu mendorong nampan makanan rumah sakit menjauh darinya. Ia menggeleng pelan saat Christian memintanya makan.

​"Aku tidak selera makan, Om. Pahit," tolak Bella kekeh.

​"Kamu harus memulihkan tenaga, Arabella. Makanlah sedikit lagi," bujuk Christian tegas.

​"Tidak mau, Om. Sudah, tolong... Om Tian pulang saja. Atau biarkan aku tidur," kata Bella bersikeras, memalingkan wajahnya ke arah jendela.

​Christian menghela napas panjang melihat kekeraskepalaan gadis itu. Tanpa mendebat lagi, pria itu melepas jas dokternya dan menyampirkannya di kursi. Di luar dugaan Bella, Christian justru melangkah masuk ke dalam kamar mandi di dalam ruang rawat tersebut. Bella tertegun sejenak, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh om tirinya itu.

​Beberapa menit kemudian, Christian keluar dengan penampilan yang lebih segar setelah membasuh wajah dan merapikan kemejanya. Ia lantas duduk di sofa sudut ruangan, meraih ponselnya, dan menekan sebuah panggilan cepat kepada asisten pribadinya.

​"Bawakan makanan dari restoran bintang lima ke ruang rawat VVIP sekarang. Pastikan porsinya untuk dua orang," perintah Christian singkat melalui sambungan telepon, lalu menutupnya.

​Tak sampai setengah jam kemudian, ketukan pintu terdengar. Asisten Christian datang membawa kantong kertas besar berisi hidangan mewah yang aromanya langsung menyeruak ke seluruh ruangan, menebarkan bau sedap makanan yang sangat menggugah selera.

​Bella menelan ludahnya susah payah. Aroma makanan itu begitu nikmat, mengingatkannya pada salah satu kuliner viral yang selama ini sangat ingin ia coba namun selalu kehabisan karena antrean yang terlalu panjang. Bella melirik sekilas ke arah meja, matanya berbinar kelaparan, namun gengsi dan rasa malunya membuatnya kembali menunduk.

​Christian, yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Bella dari sofa, tersenyum tipis penuh arti. Ia tahu persis bagaimana cara memancing gadis keras kepala itu.

​Christian bangkit, membuka kemasan makanan tersebut, lalu membawa semangkuk hidangan lezat itu mendekati ranjang Bella.

​"Kalau kamu ingin makan, katakan saja. Jangan menyiksa diri sendiri hanya karena gengsi," ucap Christian lembut sambil berdiri di sisi ranjang, sengaja mengarahkan aroma makanan itu agar semakin tercium oleh Bella.

​Wajah Bella merona merah karena malu ketahuan. "Bukan begitu... aku cuma..."

​"Mau?" tawar Christian langsung memotong, menatap manik mata Bella dengan sorot teduh. "Makanan ini sangat banyak, dan aku tidak mungkin menghabiskannya sendirian. Kalau kamu mau, turunlah dan temani aku makan di meja sana."

​Melihat makanan impiannya berada tepat di depan mata, pertahanan Bella runtuh seketika. Rasa laparnya jauh lebih besar daripada rasa malunya. Saat Christian hendak berbalik melangkah ke meja, Bella dengan ragu menarik pelan ujung kemeja pria itu.

​Christian menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan sebelah alis terangkat.

​Bella menunduk, menggigit bibirnya pelan. "Aku... aku mau..." cicitnya malu-malu.

​Christian tersenyum kecil—sebuah senyuman langka yang membuat wajah tegasnya terlihat jauh lebih lembut. Dengan penuh perhatian, pria itu membantu Bella turun dari ranjang, memakaikan sandal rumah sakit di kaki mungil gadis itu, lalu menuntunnya dengan hati-hati menuju meja makan di sudut ruangan.

​Bella duduk dengan antusias, langsung menyantap makanan viral tersebut dengan mata berbinar-binar. Rasa lelah dan kesedihannya seolah menguap begitu saja saat lidahnya mengecap makanan yang begitu ia rindukan. Christian hanya duduk di sampingnya, menatap gadis itu dengan pandangan hangat sambil sesekali menyodorkan air minum.

​Di sela-sela momen makan yang hangat itu, Christian meletakkan sendoknya, lalu menatap Bella lekat-lekat dengan suara yang berubah serius namun menenangkan.

​"Arabella..." panggil Christian pelan. "Mulai detik ini, apa pun masalah yang menimpamu, sebesar apa pun beban yang kamu rasakan, jangan pernah sungkan untuk mengatakannya padaku."

​Bella mengangkat kepalanya, menatap Christian dengan mulut yang masih mengunyah pelan.

​"Meskipun keluarga yang membesarkanmu bukan orang tua kandungmu, kamu tetap bagian tak terpisahkan dari keluarga itu," lanjut Christian penuh penekanan. "Dan ingat satu hal... jika kamu butuh perlindungan, aku akan selalu siap berdiri di garis depan untuk melindungi kamu. Tidak peduli siapa pun yang mencoba menyakitimu."

​Kata-kata itu menghujam telak di lubuk hati Bella. Ada rasa aman yang luar biasa hangat menjalar di dadanya, membuat matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini oleh kelegaan yang teramat sangat.

***

​Sementara itu, di belahan kota yang lain, suasana di dalam mansion mewah keluarga Allegra justru terasa begitu kelam dan menyesakkan.

​Mobil yang dikemudikan pengawal baru saja tiba di pelataran rumah. Alan dan Karin melangkah masuk ke dalam rumah yang megah namun terasa dingin. Begitu pintu tertutup rapat dan Karin melepas mantelnya di ruang depan, Alan menghela napas berat, melonggarkan dasinya dengan kasar.

​"Untung saja Christian bisa bergerak cepat dan membereskan semuanya," ujar Alan dengan nada dingin tanpa beban, berbicara kepada istrinya. "Jika tidak, perusahaan kita benar-benar akan hancur lebur hanya karena ulah gadis tidak tahu diri itu."

​Karin langsung menatap suaminya dengan sorot mata memperingatkan. "Mas, jaga ucapanmu! Bella sedang sakit di rumah sakit. Jangan bicara seperti itu."

​"Aku hanya mengatakan kenyataan, Karin!" balas Alan ketus, suaranya meninggi. "Kalau bukan karena ayah kandung Arabella mendekam di penjara menggantikan posisiku yang nyaris ketahuan melakukan korupsi besar-besaran... aku tidak akan pernah sudi sudi membesarkan dan peduli pada anak pembawa sial itu!"

​Deg!

​Tanpa disadari oleh Alan maupun Karin, Nathan yang baru saja kembali ke rumah berdiri mematung di balik dinding pembatas ruang tamu.

​Seluruh darah di tubuh Nathan seolah berhenti mengalir. Napasnya tercekat hebat, dan dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Kalimat keji yang baru saja keluar dari mulut ayahnya menghantam telak kesadarannya, membongkar kenyataan mengerikan bahwa penderitaan dan rahasia besar Bella ternyata berakar dari pengorbanan ayah kandung gadis itu demi menyelamatkan nama baik ayahnya sendiri.

*

*

*

1
🍌
🌚🌚🌚 sikat
Nurmalia Lia
aishhh gak sabar nunggu bella nih thor😍👍
🍌
kapan plok2 🌚
Vira Anisah
lanjut
Ita Putri
munafik tingkat dewa si Alan 🤭
🍌
lama 😗
Mia Camelia
rasakan kau nathan di jutekin Clarisa🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor double up 😍😍😍
Mia Camelia
ceritain Clarisa dan nathan dulu thor, makin penasaran nih 🤭
🍌
jodoh anda 🌚
🍌
bisa dipercepat alurnya 🌚🌚🌚
Mia Camelia
aduh makin rumit nih😔
Mita Paramita
nah gitu dong sih Vero mesti dikasih dipenjara biar sadar🫡 om Christ tegas banget buat lindungi Bella 😍
Mia Camelia
akhirnya bella di Terima keluarga nya😂
Mia Camelia
bella keras kepala banget sih😔😂
Mia Camelia
cristian udh mulai melindungi bella, 🤭
Ita Putri
pergi yg jauh sekalian Bella
kesel banget liat keluarga allegra
Ita Putri
pret lah....
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang
Mia Camelia
plis bella jangan kabur2an mulu, capek nih🤭🤭
🍌
kejar om.. borgol kakinya 🌚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!