Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Senyum Palsu
Alunan musik jazz lembut mengalun pelan di dalam kabin mobil sedan mewah milik Rizal. Aroma parfum mahal dan pendingin udara yang sejuk melingkupi suasana, sangat kontras dengan hiruk-pikuk jalanan kota di luar sana.
Sarah duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Rizal yang sedang menyetir. Jemarinya yang dihiasi cincin berlian memainkan ujung kerah jas pria itu dengan gerakan lembut yang dibuat-buat.
"Mas, besok kita jadi kan lihat-lihat gedung buat resepsi?" tanya Sarah dengan suara cemprengnya yang diubah menjadi amat manis dan mendayu.
Rizal tersenyum tipis, sebelah tangannya mengusap jemari Sarah. "Jadi, dong, Sayang. Semua yang kamu mau, pasti Mas usahakan. Yang penting acara kita nanti sempurna."
"Aduh, Mas Rizal memang paling tahu cara bikin aku bahagia," sahut Sarah centil sambil terkekeh pelan, memamerkan deretan giginya yang putih rapi.
Rizal memindahkan giginya saat lampu merah menyala. Pria itu menoleh menatap Sarah, lalu mengusap dagunya seolah baru teringat sesuatu.
"Ngomong-ngomong, Rah... gimana anak kamu? Siapa namanya... Bellona, kan?" tanya Rizal santai. "Dari semalam saya nggak lihat dia. Kamu bilang dia mau ikut makan malam, tapi malah nggak muncul."
Mendengar nama Bellona, senyum manis di wajah Sarah sempat membeku sejenak. Namun, dengan kepandaiannya berpura-pura, wanita itu cepat-cepat menetralkan raut wajahnya dan mengibaskan tangan dengan gaya tanpa beban.
"Ah, Bellona! Nggak usah dipikirin, Mas," jawab Sarah cepat, memasang wajah sangat tenang. "Dia sudah aman kok, sekarang tinggal sama ayah kandungnya."
Rizal menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut namun tak terlalu ambil pusing. "Oh, ya? Ayah kandungnya masih ada? Baguslah kalau begitu."
Rizal terkekeh rendah, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi pengemudi sambil menggelengkan kepala.
"Jujur ya, Rah... bagus deh kalau dia tinggal sama bapaknya," lanjut Rizal tanpa beban, nada bicaranya terkesan meremehkan. "Lagian ngerepotin juga kalau dia harus ikut tinggal sama kita nanti. Kelihatan dari mukanya, anak itu kayaknya susah diatur dan banyak mau. Bisa-bisa ngerusak suasana rumah tangga baru kita."
Jleb.
Ucapan Rizal yang begitu lugas menghantam dada Sarah.
Ekspresi Sarah seketika menegang. Tangan yang tadi membelai kerah jas Rizal mendadak berhenti. Ada desakan rasa jengkel dan panas yang mendadak membakar ubun-ubunnya. Bagaimanapun egoisnya Sarah, Bellona adalah darah dagingnya sendiri. Mendengar calon suaminya menyebut anaknya sendiri sebagai beban yang merepotkan dengan nada seolah Bellona adalah barang yang tak berguna, membuat harga diri Sarah terasa tercoreng.
Ia ingin sekali menyemprot pria di sebelahnya itu, menegaskan bahwa Bellona tidak serepot yang Rizal pikirkan.
Namun, bayangan akan kehidupan mewah, kartu kredit tanpa batas, dan status sosial tinggi sebagai istri pengusaha kaya langsung terlintas di kepalanya—membungkam seluruh amarahnya seketika.
Sarah menelan ludah, menekan rapat-rapat rasa kesalnya di dalam dada.
Lampu hijau menyala. Sedan mewah itu kembali melaju mulus.
Sarah menyunggingkan senyum terbaiknya kembali, senyum palsu yang dipaksakan hingga matanya menyipit.
"Iya dong, Mas," sahut Sarah dengan nada manis yang terdengar agak kaku. "Mas benar banget. Mending dia sama bapaknya aja, biar kita bisa fokus sama pernikahan kita."
Sarah kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rizal, menatap keluar jendela mobil dengan pandangan yang mendadak kosong, mencoba mengabaikan rasa bersalah dan jengkel yang mulai menggerogoti hatinya.
***
Asap rokok membubung tipis di lorong samping studio latihan yang agak remang-remang. Suara jangkrik beradu dengan dengung kipas angin gantung tua yang berputar lambat di atas kepala mereka.
Devan duduk bersandar di atas papan kayu bekas, satu kakinya dilipat naik. Jemarinya menjepit sebatang rokok yang menyala merah di ujungnya. Pria itu menyesapnya dalam-dalam, lalu membiarkan asap putih keluar mengepul dari mulut dan hidungnya dengan helaan napas yang teramat berat.
Raka yang duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung ke dinding bata tanpa plester, ikut menyebat rokoknya santai.
"Gimana semalem? Mati lampu beneran rumah lo?" tanya Raka tanpa menoleh, mengibaskan abu rokoknya ke tanah.
"Jangan ditanya, Anjir," gerutu Devan, jemarinya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Gue terpaksa lilinan kaya orang mau ngepet. Mana tuh bocah galaknya makin-makin! Tadi pagi rumah gue sampe digerebek Pak RT sama rombongan emak-emak komplek!"
Raka langsung menoleh, matanya membelalak. "Buset! Dikira nampung cewek gelap lo?!"
"Iya, Bangsat!" Devan mengusap wajahnya kasar. "Gue terpaksa ngaku dia adik kandung gue yang baru dateng dari kampung. Lah tuh bocah malah ngamuk kagak sudi dimirip-miripin sama muka gue! Padahal kalo diliat-liat... emang mirip, Bangsat. Muka dia pas cemberut plek-ketiplek kaya muka gue kalo lagi pusing kagak punya duit."
Raka terkekeh rendah, menggelengkan kepalanya. "Ya emang anak lo, bego. Lo-nya aja yang masih denial."
"Bukan denial, Rak! Gue cuma... pusing, tau gak?!" Devan mengacak rambutnya frustrasi. "Hidup gue yang tadinya lempeng-lempeng aja kaya jalan tol sepi, tiba-tiba langsung kaya kena musibah skala nasional. Beli token listrik aja gue kagak mampu, gimana mau ngasih makan anak orang?!"
Langkah kaki mendekat dari arah pintu studio. Miko, sang bassis band yang berambut gondrong rewo-rewo, berjalan menghampiri mereka. Pria itu menyandarkan bahunya di kosen pintu, merogoh saku jaket jeans-nya, lalu mengeluarkan sebuah lintangan kecil terbungkus kertas cokelat tipis.
Miko menyeringai tipis, mengayun-ayunkan barang itu di depan wajah Devan.
"Muka lo kusut amat, Van. Nih, pake dulu sikit biar otak lo kagak korslet," tawar Miko santai, menyodorkan lintangan benda haram itu. "Lumayan buat bikin lo lupa sebentar kalo lo tiba-tiba jadi bapak."
Devan melirik lintangan di tangan Miko sejenak. Bau khasnya yang cukup familiar sempat menyapa penciumannya. Namun, Devan dengan cepat mengibaskan tangannya di udara, menolak tawaran itu.
"Nggak dulu, Anjir," pangkas Devan cepat, kembali menyesap rokok biasanya. "Gue lagi banyak pikiran, ntar kalo gue nagih malah makin repot."
Miko menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut. "Tumben lo belagu? Biasanya juga kalo lagi stres lo embat aja."
"Beda cerita, Miko!" Devan mendengkus, melempar puntung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya hingga padam. "Sekarang di rumah gue ada bocah galak yang siap melotot kalo gue bau aneh-aneh. Duit gue aja udah habis buat beli token listrik sama lauk makan siang, kagak ada anggaran buat beli barang gituan lagi!"
Raka tertawa meledek, menepuk-nepuk bahu Devan agak keras. "Nah! Mampus lo! Efek punya anak beneran langsung kerasa, kan? Pria alim mendadak karena takut diceramahin anak sendiri!"
"Bacot lo, Rak!" bentak Devan sambil menyikut perut Raka, walau sudut bibirnya sendiri tak bisa menahan kedutan geli. Ia mendesah panjang, menatap langit malam yang kelam dari celah atap seng studio.