Mereka menyebutnya monster—Capo dei capi Camorra yang paling ditakuti, pria berdarah dingin yang katanya kehilangan hatinya bertahun-tahun lalu dan hanya hidup untuk kekuasaan, darah, dan balas dendam. Gabriele Saviano tak pernah menginginkan seorang anak. Tapi ketika istri yang tak pernah ia cintai meninggal saat melahirkan, ia terjebak dengan satu hal yang tak pernah ia rencanakan: seorang bayi perempuan mungil berambut pirang.
Sofia Palermo baru sembilan belas tahun, yatim-piatu, dan tak pernah mengasuh siapa pun. Yang ia punya hanyalah kehangatan seorang gadis yang tumbuh dicintai—dan keberanian nekat untuk melawan siapa pun, bahkan pria paling berbahaya di dunia mafia. Ia datang ke rumah besar sang Capo untuk merawat seorang bayi terlantar. Ia tak menyangka akan menemukan dirinya bermain api dengan sang iblis itu sendiri.
Satu sinar matahari yang keras kepala. Satu monster yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi. Di antara mereka: gairah yang membakar, pertengkaran yang memancing badai, dan seorang gadis kecil yang perlahan menyatukan dua jiwa yang sama-sama hancur.
Tapi mencintai seorang Capo berarti masuk ke medan perang. Musuh lama mengintai dari bayang-bayang, pengkhianat bersembunyi di dalam rumah, dan sebuah dendam berdarah siap merenggut segala yang mulai berharga bagi Gabriele. Ketika mereka yang paling ia sayangi menjadi sasaran, sang Bestia harus memilih: tetap menjadi monster tanpa hati—atau membakar dunia demi melindungi keluarganya.
Dari kesepakatan dingin menjadi obsesi yang mematikan. Dari sekadar pengasuh menjadi ratu yang bersemayam di jantung kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berendam di Bak
Sofia
Aku merosot perlahan ke dalam air hangat di bak mandi. Aku tersentak begitu bokongku menyentuh air.
"Sial," keluhku dan kupaksa diriku untuk duduk.
Sialan, sakit sekali ini.
Kulihat monitor bayi yang kuletakkan di lantai. Mia masih tidur. Hari ini aku terpaksa membuatnya tidur siang lebih awal, karena aku butuh berendam di bak. Anna yang menyarankannya.
Aku merona mengingat tatapan para pelayan. Sebagian menatapku dengan iri, sebagian dengan marah, dan Anna menatapku dengan cemas.
Ketika ia mendengarku mengaduh untuk keenam kalinya pagi ini, ia mendekat dan bertanya apakah aku baik-baik saja, apakah aku butuh bantuan. Wajahku memerah dan kubilang aku baik-baik saja, tak usah khawatir, semua yang terjadi memang kuinginkan sendiri. Begitu ia paham bahwa yang kukatakan adalah kebenaran, ia menyarankanku berendam air hangat.
Dan di sinilah aku sekarang, mencoba menemukan sedikit kelegaan dari rasa sakitku.
"Padahal kau sendiri yang mau ada yang mengusir rasa gatalmu," tegurku pada diri sendiri.
Mungkin aku seharusnya membeli losion untuk meredakan gatal saja dan tidak pergi ke kamar Gabriele.
Kupejamkan mata dan kuingat kejadian kemarin. Aku tersenyum. Tidak, aku tak menyesali apa pun. Kemarin luar biasa. Lebih hebat dari yang kuduga. Aku menghela napas mengingat apa yang kurasakan saat tubuh kami menyatu, saat ia memberiku kenikmatan terbesar yang pernah kurasakan seumur hidupku.
"Pria itu adalah kehancuranku."
Kukira hari ini aku harus menjauhinya, tapi ternyata tak perlu. Anna bilang ia berangkat dini hari tadi.
Kurasa karena ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, ia tak menyia-nyiakan waktu semenit pun di rumah ini.
Aku mencoba merasa lega dengan keputusannya, tapi tak bisa. Aku ingin ia tinggal, meski hanya untuk menanyakan bagaimana keadaanku hari ini. Tapi nihil, tak ada telepon, tak ada pesan. Tak ada.
"Niente," geramku dalam bahasa Italia.
Ia bahkan tak meneleponku untuk menanyakan apakah aku sudah mendapatkan pil pencegah kehamilan itu. Tolol.
Untung aku menemukannya di apotek yang hanya berjarak sepuluh blok dari rumah ini. Selain meminum pil terkenal itu, aku juga disuntik, yang menurut apoteker yang melayaniku akan melindungiku selama tiga bulan. Bukan berarti aku akan mengulangi kejadian kemarin, karena aku takkan melakukannya. Aku sudah mendapatkan yang kuinginkan, jadi aku tak tertarik lagi padanya.
"Pembohong," ucapku dan tertawa getir.
Tubuhku masih menginginkannya, tapi kurasa aku harus belajar hidup dengannya. Gabriele sudah pergi, dan kurasa ia tak akan segera kembali.
Ya, lebih baik begini.
Aku berbaring memanjang penuh di bak dan membenamkan kepalaku untuk memaksa diri berhenti memikirkannya.
Kutahan napas selama mungkin. Aku mulai menghitung perlahan.
Satu. Dua. Tiga... Tujuh puluh delapan.
Paru-paruku mulai terbakar dan aku kembali duduk, bernapas dengan susah payah begitu kepalaku tak lagi di dalam air.
Rambutku menutupi wajahku sementara aku berusaha mengatur napas.
"Kau memang suka pembatasan oksigen, ya."
Aku memekik melihat Gabriele duduk di tepi bak, tersenyum geli ke arahku.
"Suatu hari kau akan membunuhku," gumamku dengan tangan di dada.
"Aku takkan pernah membiarkanmu kehabisan oksigen, si liar kecil. Kurasa kau sudah tahu aku sangat mahir menggunakan tekniknya."
Aku menampar kakinya, dan barulah saat itu aku ingat aku sedang telanjang.
"Pergi dari sini!" pintaku sambil mencoba menutupi tubuhku dengan buih.
"Aku sudah melihatmu telanjang, Sofi."
"Aku tak peduli."
"Aku takkan pergi sebelum tahu bagaimana keadaanmu."
Aku tersenyum tanpa bisa kutahan. "Baik," jawabku tanpa menatap matanya.
"Kau merasa sangat sakit?"
Kulitku merona. "Itu bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusanku. Aku ingin tahu kapan kau akan pulih untuk kembali kutiduri."
Tubuh pengkhianatku langsung menghangat mendengar nada seraknya. Tubuhku ingin melemparkan diri ke pelukannya dan memohon lebih, tapi otakku lebih cerdas.
Aku tertawa. "Tak akan terulang lagi, Capo."
Ia tertawa seolah aku baru saja menceritakan lelucon terbaik sepanjang sejarah.
"Aku serius!" seruku kesal. "Aku sudah tak gatal lagi," dustaku.
Ia menangkup wajahku dalam tangannya yang besar dan menyusuri bibirku dengan ibu jarinya, membuat sebuah embusan napas kecil lolos dari mulutku.
"Rasa gatalnya akan kembali begitu kau tak lagi kesakitan, dan akan jauh lebih nikmat karena tak akan sakit lagi seperti ini," bisiknya sambil menatapku dengan cemas. "Aku seharusnya lebih lembut padamu. Anna bilang kau juga menodai seprai-seprainya."
Kupejamkan mata karena malu. Kenapa sih Anna harus seember itu?
"Hei," panggilnya, "jangan malu."
"Aku tidak malu, aku jengkel. Kenapa semua orang harus mencampuri hidupku?"
"Anna mengkhawatirkanmu."
"Ya, seharusnya tak usah," lontarku kesal. "Per favore, pergilah," pintaku tanpa mau menatapnya. Kurasa lebih baik ia tak kembali. "Kembalilah pada apa pun yang kau kerjakan saat tak berada di rumah ini."
Kurasakan Gabriele membungkuk dan mendekat padaku. Ia meninggalkan sebuah ciuman di puncak kepalaku.
"Aku akan meninggalkanmu supaya kau bisa berpakaian, tapi hari ini aku membutuhkanmu."
"Aku tak akan tidur denganmu!" balasku.
Ia tertawa. "Aku tak sedang memikirkan itu, tapi kalau kau mau, tinggal minta saja."
"Tunggu saja sampai lumutan."
"Aku akan menunggumu sambil berbaring di ranjangku, si liar kecil, dan kau akan datang, aku yakin akan hal itu."
"Itu akan kita lihat," desisku sambil bersumpah dalam hati tak akan pernah kembali ke kamarnya.
"Hari ini ayahku datang untuk makan malam, ia ingin melihat cucunya. Aku butuh kalian siap untuk turun ke ruang makan pukul enam tepat."
"Baik," aku memaksa diri menjawab.
Aku harus menjaga pekerjaanku.
"Seorang teman ayahku akan datang bersama putrinya," ucapnya dengan nada datar. "Aku butuh kalian di meja itu supaya aku tak bosan," tambahnya, dan mulutnya melengkung dalam setengah senyum.
Kuselipkan kedua tanganku di bawah bokongku untuk menahannya, sebab tanganku ingin sekali membelai wajah Gabriele. Aku menyukai senyumnya.
Ia mengangkat daguku dan memberiku ciuman cepat tanpa bisa menahannya. Begitu bibirnya menyentuh bibirku, kurasakan segala sesuatu dalam hidupku kembali baik-baik saja.
"Sampai jumpa di bawah," tambahnya sebelum bangkit dan keluar dari kamar mandi.
Begitu sendirian, aku kembali membenamkan kepalaku ke dalam air.
Sudah kubilang, pria itu adalah kehancuranku.