Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Penawaran dua belas juta
Sinar matahari pagi menembus celah gorden dan jatuh tepat di wajah Keira.
Jam baru menunjukkan pukul enam, tetapi kediaman Mahardika sudah mulai ramai. Suara mesin pemotong rumput terdengar dari halaman depan, bercampur aroma kopi hitam dan roti panggang dari dapur utama.
Keira mengusap mata, lalu meregangkan badan sampai punggungnya berbunyi krek.
Semalam ia hanya tidur beberapa jam gara-gara harus mengurus Mika, menyelamatkan botol susu dari insiden terpeleset, sekaligus beradu mulut dengan Si Beruang Galak alias Ian Xavier.
"Oke, Keira. Hari baru, tagihan utang belum berkurang," gumamnya sambil menatap cermin kecil.
Ia menguncir rambutnya tinggi, memakai kaus longgar, lalu keluar kamar menuju area makan lantai dasar.
Namun, saat melewati koridor utama, langkahnya terhenti. Pintu ruang kerja Nathaniel ternyata terbuka.
Di dalam, pria paruh baya itu berdiri dekat jendela besar sambil memegang secangkir espresso. Jasnya sudah rapi, menandakan ia siap berangkat ke kantor.
"Pagi, Pak Nathaniel," sapa Keira sopan dari ambang pintu.
Nathaniel menoleh. Ekspresi tegasnya sedikit melunak saat melihat Keira.
"Ah, Keira. Pagi. Sini, masuk sebentar. Saya memang mau bicara sama kamu sebelum berangkat."
Keira melangkah masuk dengan sedikit ragu.
"Duduk, Keira."
Nathaniel menunjuk kursi di depan meja kerjanya.
Keira duduk di ujung kursi dengan posisi tegak. Kedua tangannya ia letakkan di atas pangkuan.
"Ada apa, ya, Pak? Apa ada yang kurang dari cara saya menjaga Mika semalam?"
Nathaniel terkekeh pendek sambil memutar cangkirnya.
"Justru sebaliknya. Bik Yani sudah cerita semuanya. Kamu berhasil bikin Mika tidur nyenyak sampai pagi tanpa rewel. Nggak ada barang pecah dan nggak ada pelayan yang kena amuk. Itu rekor baru di rumah ini, Keira."
Keira mengembuskan napas lega.
"Syukurlah, Pak. Mika sebenarnya nurut, kok. Cuma perlu diajak ngobrol pakai bahasa anak kecil aja."
Nathaniel meletakkan cangkirnya, lalu mengambil sebuah map dari sudut meja.
"Karena pekerjaan kamu terbukti memuaskan sejak hari pertama, saya nggak mau buang-buang waktu. Kontrak yang kemarin disiapkan Bu Lastri sebenarnya hanya berstatus percobaan selama dua minggu. Tapi melihat respons Mika, saya mau mengubah status kamu menjadi pengasuh tetap live-in. Artinya, kamu tinggal menetap di sini."
Keira mengedipkan mata.
"Tinggal menetap, Pak?"
"Iya. Kamu dapat kamar sendiri, makan tiga kali sehari ditanggung rumah, dan fasilitas kesehatan kalau sewaktu-waktu sakit."
Nathaniel mengambil pena, lalu mengetuknya pelan ke meja.
"Soal gaji, penawaran awal dari Bu Lastri tujuh juta per bulan, kan?"
Keira mengangguk cepat.
Angka tujuh juta saja sudah cukup membuat ibunya menangis terharu saat pertama kali mendengarnya.
"Saya rasa angka itu terlalu kecil untuk tanggung jawab mengasuh Mika selama dua puluh empat jam."
Nathaniel menuliskan sesuatu di selembar kertas, kemudian menggesernya ke hadapan Keira.
"Ini penawaran dari saya."
Keira menunduk membaca angka yang tertulis di sana.
Rp12.000.000,- / bulan.
Di bawahnya tercantum beberapa fasilitas tambahan:
- Tunjangan Hari Raya sebesar satu kali gaji.
- Tunjangan kesehatan.
- Bonus kinerja setiap tiga bulan.
JEDAG-JEDUG!
Jantung Keira langsung berdegup kencang. Matanya membesar. Ia bahkan mengucek mata dua kali, takut salah membaca akibat kurang tidur.
Namun, angka itu tidak berubah.
Dua belas juta?!
Pikiran Keira langsung berputar seperti kalkulator rusak.
Dua belas juta sebulan. Kalau ia hanya menggunakan dua juta untuk kebutuhan pribadi—itu pun kamar dan makan sudah ditanggung rumah—berarti ada sepuluh juta yang bisa dikirim ke kampung setiap bulan.
Utang kertas kuning bisa segera dilunasi. Utang kepada Pak Darto juga bisa dibereskan. Sisanya mungkin cukup untuk membeli sapi, bahkan memperbaiki atap teras yang bocor.
"Pak... ini... nolnya nggak salah ketik, kan?"
Suara Keira terdengar gagap.
"Dua belas juta itu gede banget, Pak. Di kampung saya, uang segini bisa buat sewa lapangan bola setahun!"
Nathaniel tertawa lepas. Suara tawanya terdengar begitu asing di rumah yang biasanya tenang itu.
"Nggak salah, Keira. Bagi saya, kenyamanan dan keselamatan Mika itu nggak ternilai. Kalau kamu bisa membuat Mika tersenyum dan tumbuh bahagia, dua belas juta itu angka yang sangat adil."
Keira menelan ludah. Ia masih sulit percaya dengan tawaran di hadapannya.
Namun, sebelum sempat mengucapkan terima kasih, Nathaniel kembali bersuara.
"Tapi ada syaratnya."
Keira langsung menegakkan badan.
"Syarat apa, Pak? Minta saya menyapu halaman depan pakai sikat gigi? Saya jabanin, Pak!"
Nathaniel tersenyum tipis melihat antusiasmenya.
"Bukan. Syaratnya cuma satu. Kamu harus sabar menghadapi anak sulung saya, Ian."
Seketika itu juga, nama Ian sukses menerbangkan Keira dari awan dua belas juta kembali ke bumi.
Nathaniel menghela napas panjang. Tatapannya beralih ke jendela.
"Ian itu... sejak ibunya meninggal dan saya terlalu sibuk mengurus perusahaan, dia tumbuh menjadi pribadi yang keras dan penuh kecurigaan. Dia nggak gampang percaya sama orang baru, apalagi orang yang dekat dengan Mika dan saya."
Pria itu berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Saya tahu semalam dia pasti mengatakan sesuatu yang kurang enak kepada kamu."
Keira menggigit bibir bawahnya.
Kurang enak? Lebih tepatnya pedas kayak remasan cabai rawit ditaruh di mata, Pak.
"Tapi saya mohon, jangan dimasukkan ke hati. Ian cuma berusaha melindungi keluarganya dengan cara yang salah. Kalau dia keterlaluan, kamu laporkan kepada saya. Paham?"
Keira menatap Nathaniel. Ada rasa simpati yang muncul melihat pria itu.
Ternyata menjadi orang kaya juga tidak selalu seindah cerita FTV. Rumahnya memang besar, uangnya berlimpah, tetapi anak sulungnya punya mulut yang sinisnya minta ampun.
"Paham, Pak. Saya janji bakal profesional," jawab Keira mantap. "Selama Mas Ian nggak melempar saya keluar gerbang pakai tangannya sendiri, saya bakal bertahan."
Nathaniel terkekeh mendengar jawabannya.
"Bagus."
Ia kemudian menandatangani kertas penawaran tersebut dan menyodorkannya kepada Keira.
"Kamu tanda tangan di sini. Mulai hari ini, kamu resmi menjadi bagian dari rumah ini."
Keira menerima pulpen itu dengan tangan sedikit gemetar.
Dua belas juta.
Angka itu terus terbayang di kepalanya. Ia membayangkan wajah ibunya saat mendengar kabar ini nanti. Mungkin perempuan itu akan menangis lagi, karena bahagia.
Keira menarik napas, lalu menunduk untuk membubuhkan tanda tangan.
Namun, tepat ketika ujung pulpen hampir menyentuh kertas—
BRAM!
Pintu ruang kerja tiba-tiba didorong kasar dari luar hingga membentur dinding.
Keira tersentak. Pulpen di tangannya terlepas dan menggelinding di atas meja, nyaris mencoret kertas penawaran dua belas juta yang baru saja diberikan Nathaniel.
semangat Kak 💪💪