NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Perjannian

Ruang ndalem kembali sunyi setelah penjelasan selesai. Tak ada lagi suara tangis keras, yang tersiksa hanya napas berat, dan wajah-wajah yang menahan beban masing masi.

Romo Yai sempat memejamkan mata sejenak, seolah menimbang sesuatu yang tak ringan.

"Setelah mempertimbangkan semuanya," ucap Romo Yai perlahan.

"Romo memutuskan menikahkan Hafiz dan Anisa."

Kalimat itu jatuh tanpa nada tinggi, namun menghantam lebih keras dari bentakan.

Anisa membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

"Pernikahan ini tidak akan digelar di pondok pesantren." lanjut Romo Yai.

"Kita lakukan di Malang, di luar lingkungan pesantren. Agar tidak menjadi bahan pembicaraan dan menjaga kehormatan semua pihak."

Umi Laila mengangguk pelan.

"Umi setuju, itu mengingat Anisa masih sekolah." ujarnya.

Romo Yai mengangguk.

"Pernikahan dilakukan secara agama. Yang terpenting dah di mata agama. Urusan lain akan dipikirkan kemudian, sesuai waktu dan kesiapan."

Anisa menggigit bibirnya. Tangannya gemetar hebat.

Suasana semakin menekan ketika suara Ayah Anisa terdengar tegas dari layar ponsel.

"Anisa ini... sejak kecil memang sulit di atur, Kiai," ujarnya jujur.

"Terlalu manja, keras kepala, dan terlalu mudah terpengaruh hal yang buruk."

Ibu Sari menunduk, menghapus sudut matanya, ia sedih lagi-lagi putri semata wayangnya membuat kisruh di pondok pesantren.

"Kami khawatir, jika tidak ada yang mengontrol, tindakannya akan semakin jauh. Karena itu... kami setuju jika Anisa dinikahkan dengan Gus Hafiz."

Anisa melirik sekilas kearah Gus Hafiz, pria dingin itu bahkan tak ada penolakan, wajah datarnya itu, semakin membuat Anisa putus asa.

"Kalian dengar, semua sudah sepakat."

Ujar Romo Yai menegaskan.

"Tapi Romo, Dek Anisa masih sekolah, itu tidak mungkin." Akhirnya, Gus Hafiz bersuara.

"Soal pendidikan, Nak Anisa itu sudah Romo dan Umimu pikiran." ujar Kiai.

Gus Hafiz, terdiam ia tak bisa lagi membantah.

"Nggih, Romo..." ucap Hafiz pada akhirnya.

Anisa menoleh, tanpa sadar gadis itu menarik lengan kemeja Gus Hafiz, isyarat agar pria itu menolak pernikahan itu.

Gus Hafiz menoleh, menatap tangan Anisa yang menarik-narik lengan kemejannya.

Tanpa bicara, tanpa membentak. Hanya tatapan dan itu cukup membuat Anisa langsung melepaskan lengan kemeja Hafiz.

"Saya terima keputusan ini sebagai amanah." ujarnya tegas. membuat mata Anisa membulat.

"Gus..." suara Anisa nyaris tercekik.

"Saya nggak mau, nikah sama pria kaku seperti panjenengan." Bisiknya pelan, hanya Gus Hafiz yang mendengar ucapan Anisa.

Gus Hafiz diam, ia tak sedikitpun menjawab ucapan Anisa. Anisa menggeram dalam hatinya, berharap diberikan hukuman dengan dikeluarkan sebagai santriwati, tapi malah semakin terjebak dengan pria kaku seperti Gus Hafiz.

Semua telah sepakat, kecuali hatinya sendiri. Tak ada pembelaan, semua hanya patuh pada ucapan Romo Yai.

Romo Yai menghela napas. Menutup keputusan itu dengan kalimat yang menekan.

"Ingat Hafiz, pernikahan yang kalian jalani nanti itu bukan lah hukuman, tapi tanggung jawab. Jika dijalani dengan benar itu akan menjadi ladang ibadah. Tapi jika dijalani dengan ego, itu akan menjadi beban seumur hidup." tegasnya.

Gus Hafiz mengangguk, mengerti.

Umi Laila kembali membuka suara, setelah kesepakatan itu sudah dipilih.

Wajahnya tenang namun ketegasannya tak menyisakan ruang untuk tawar menawar. Tangannya terlipat di atas pangkuan pandangannya bergantian jatuh pada Gus Hafiz dan Anisa.

"Sebelum pernikahan ini dilangsungkan, ada perkara yang harus kalian pahami," ucapnya tegas.

"Dan ini bukan permintaan, tapi syarat."

Gus Hafiz menunduk hormat.

"Nggih, Umi."

Anisa semakin menunduk, dadanya semakin terasa sempit, tiap kali kata nikah diucapkan.

"Pertama," lanjut Umi Laila.

"Hubungan kalian tidak boleh diperlihatkan ke publik, tidak ada yang boleh tahu jika kalian suami istri. Tidak di pondok, tidak diluar. Mengingat Anisa masih tercatat sebagai santri kelas dia Aliyah, masa depannya tidak boleh rusak pembicaraan orang."

Anisa terdiam.

Sementara Gus Hafiz mengangguk tegas.

"Nggih, Umi."

"Kedua..." suara Umi Laila semakin tegas,

"Nak Anisa tinggal di ndalem, di bawah pengawasan Umi.Tapi kalian tidak tidur sekamar."

Tatapan Umi Laila mengunci Gus Hafiz, karena putranya bukan lah anak remaja, melainkan laki-laki dewasa yang usianya tiga puluh tahun.

"Sampai Nak Anisa benar-benar tamat sekolah, dan siap lahir batin."

"Nggih..." jawab Gus Hafiz singkat tanpa ragu.

Umi Laila lalu menoleh kearah Anisa.

"Ketiga" ucapnya pelan.

"Sebagai istri, Nak Anisa tetap punya tanggung jawab. Kamu wajib melayani makan minum dan pakaian suamimu. Menjaga kebutuhannya kecuali kebutuhan ranjang. Tidak ada sentuhan yang melampaui batas, ingat Gus, Anisa masih berstatus santri panjenengan."

Anisa menggigit bibirnya, wajahnya memanas, bukan karena malu semata, tetapi ia tak bisa membayangkan akan terikat pada laki-laki dewasa seperti Gus Hafiz.

Umi Laila menatap keduanya bergantian.

"Pernikahan ini untuk menjaga, bukan untuk melampiaskan nafsu. Jika kalian melanggar salah satu dari perjanjian ini, Umi sendiri yang akan bertindak."

Suasan kembali sunyi.

Gus Hafiz menarik napas panjang.

"Nggih, Umi. InsyaAllah Hafiz akan jaga amanah, Umi."

Anisa menunduk lebih dalam. Isi kepalanya seketika ingin berontak.

"Kenapa sih dia, selalu aja menyanggupi. Dasar menyebalkan." omelnya dalam hati.

"Bagus... pagi nanti, kita langsung Ke Malang. Persiapkan diri kalian. Nak Anisa, silahkan istirahat, " Umi Laila membawa Anisa untuk masuk ke kamar ndalem.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!