NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

reza terluka

Ketukan pintu yang lambat dan berirama dari luar mansion itu bukanlah Sora melainkan anak buah kepercayaan Reza yang sengaja memicu sinyal darurat untuk mengalihkan perhatian Tuan Burhan yang baru saja pergi. Namun, ancaman di luar sana ternyata jauh dari kata selesai.

Musuh-musuh Reza memanfaatkan celah keretakan antara Reza dan keluarga Burhan untuk melancarkan serangan balasan yang lebih nekat.

​Dua hari sejak kedatangan Tuan Burhan, suasana kota makin mencekam. Maya terus berusaha menjaga jarak dari Reza di dalam mansion.

Ia sengaja tidur lebih awal, jarang keluar dari kamar, dan selalu menunduk menghindari tatapan mata Reza setiap kali mereka berpapasan di dapur atau ruang tengah.

Maya sadar betul posisinya hanyalah cewek biasa, dan ia tidak mau menjadi beban lebih lanjut bagi pria itu.

​Sampai akhirnya, suatu malam sekitar pukul dua pagi, ketenangan mansion hancur berkeping-keping.

​Suara langkah kaki yang terseret dan riuh terdengar dari balik pintu utama. Pintu terbuka secara paksa, memperlihatkan dua orang pengawal bertubuh kekar memapah tubuh Reza yang terkulai lemah.

Pakaian jas mahal yang biasa Reza kenakan sudah robek dan basah kuyup oleh darah segar. Wajah tampan bos mafia itu pucat pasi, peluh dingin membasahi dahi dan pelipisnya.

​Maya yang terbangun karena suara bising langsung berlari keluar dari kamar. Betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan mengerikan di ruang tengah.

​"Reza!" jerit Maya histeris, melupakan semua niatnya untuk menjaga jarak. Ia berlari mendekat ke arah sofa tempat para pengawal membaringkan tubuh Reza.

​"Cepat panggil dokter pribadi Tuan Reza! Bawa kotak medis darurat ke sini!" teriak salah satu pengawal dengan panik pada rekannya.

​"Tidak usah panggil dokter..." suara Reza terdengar sangat parau dan lemah, menginterupsi kepanikan di ruangan itu. Mata hitamnya yang biasa tajam kini terlihat bersayup menahan rasa sakit yang luar biasa.

​"Tapi Tuan Besar, luka tembak di perut Anda cukup dalam! Banyak darah yang keluar!" cemas sang pengawal, bersiap merogoh ponselnya.

​Reza mengepalkan tangannya, menahan napas sambil meringis kesakitan.

"Saya bilang tidak usah! Dokter klan itu orangnya Burhan... dia pasti akan melapor ke keluarga Sora kalau saya terluka parah. Kalian mau menyerahkan leher saya secara cuma-cuma?"

​Para pengawal terdiam, saling pandang dengan raut wajah penuh keraguan dan keputusasaan.

Mereka tahu ucapan Reza benar, tapi membiarkan sang bos berdarah-darah tanpa penanganan medis sama saja dengan membiarkannya mati.

​Di tengah kebingungan itu, Reza mengalihkan tatapannya yang sayu pada Maya yang berdiri gemetaran di samping sofa.

Pria itu perlahan mengulurkan tangannya yang bersimbah darah, mencoba menggapai jemari Maya.

​"Maya..." panggil Reza pelan, hampir berupa bisikan. "Hanya kamu... aku cuma mau kamu yang merawat aku..."

​Maya menelan ludah dengan susah payah, air mata mulai menetes membasahi pipinya. Tangannya bergetar hebat saat menyambut uluran tangan Reza yang dingin.

"Reza... tapi aku bukan dokter! Aku tidak tahu cara mengeluarkan peluru atau mengobati luka parah seperti ini!"

​"Kamu bisa..." bisik Reza menatap mata Maya dengan penuh permohonan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

"Tolong aku, Maya... Jangan biarkan orang lain menyentuh luka ini."

​Melihat tatapan penuh kepasrahan dan kepercayaan dari pria yang selama ini menjadi pelindungnya, runtulah seluruh keraguan di dalam diri Maya. Rasa takutnya hilang digantikan oleh rasa cemas yang teramat sangat.

​Maya mendongak menatap para pengawal dengan tegas. "Bawa kotak obat darurat, alkohol, kain kasa, dan air hangat ke sini sekarang! Cepat!"

​Para pengawal tanpa ragu langsung menuruti perintah Maya. Dalam sekejap, ruang tengah mansion berubah menjadi ruang operasi darurat.

Maya berlutut di samping sofa, menggunting kemeja putih Reza yang sudah bersimbah darah. Tampak luka tembak yang mengerikan di perut bagian kiri bawah Reza, darahnya terus mengalir keluar tak berhenti.

​"Tahan ya, Reza... ini pasti sakit sekali," bisik Maya dengan suara bergetar, mengambil alkohol dan kain steril.

​"Lakukan saja... aku percaya sama kamu," sahut Reza lirih, memejamkan matanya rapat-rapat sambil mencengkeram erat tepi sofa kulit.

​Dengan tangan yang diusahakan tetap stabil meski hatinya menangis, Maya perlahan membersihkan darah dan mengobati luka tembak tersebut.

Setiap kali Maya mengusap kain steril ke lukanya, tubuh kokoh Reza menegang hebat dan erangan kesakitan lolos dari tenggorokannya.

Setiap kali Reza meringis, hati Maya rasanya ikut teriris. Ia sadar, pria berkuasa yang ditakuti seluruh kota ini kini menyerahkan nyawanya sepenuhnya ke dalam tangan cewek biasa sepertinya.

​Hampir dua jam Maya berjuang menghentikan pendarahan, menjahit luka luar sebisanya dengan peralatan steril darurat, dan membebat perut Reza dengan perban tebal. Tubuh Maya sendiri sudah dipenuhi bercak darah dan peluh.

​Ketika pendarahan akhirnya berhasil dihentikan, kondisi Reza perlahan stabil meski napasnya masih sangat lemah. Para pengawal bernapas lega dan pamit mundur untuk berjaga ketat di luar pintu mansion.

​Kini, hanya ada mereka berdua di ruang tengah yang hening.

​Maya terduduk lemas di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi sofa tepat di samping wajah Reza yang terpejam.

Tangan kanan Maya masih digenggam erat oleh Reza, seolah pria itu takut Maya akan menghilang jika ia melepas genggamannya sedikit saja.

​Maya menatap wajah pucat Reza yang tertidur lelap. Jemari Maya yang bebas perlahan terulur, mengusap lembut helai rambut Reza yang basah oleh keringat. Rasa iba, takut, dan kasih sayang yang tulus bercampur aduk merayapi lubuk hatinya.

​"Kenapa kamu melakukan ini semua, Reza?" bisik Maya pelan pada pria yang tak sadarkan diri itu.

"Kenapa kamu harus mempertaruhkan nyawa dan kekuasaan kamu cuma demi melindungi cewek biasa seperti aku?"

​Tiba-tiba, kelopak mata Reza terbuka perlahan. Meski pandangannya masih agak kabur karena pengaruh rasa sakit, mata hitamnya langsung terkunci pada wajah Maya. Genggaman tangannya di jari-jari Maya makin mengencang.

​"Karena... kamu satu-satunya alasan aku ingin tetap hidup sebagai manusia, Maya..." jawab Reza lirih dengan suara serak, mengulang kembali pengakuan jujurnya di tengah kesadarannya yang belum pulih sepenuhnya.

​Maya membeku, dadanya bergemuruh hebat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Reza.

​Namun, sebelum Maya sempat merespons ucapan yang menyentuh hati itu, suara ledakan kecil mendadak terdengar dari arah lift pribadi penthouse, disusul oleh derap langkah kaki sepatu bot tebal yang merangsek masuk tanpa permisi.

​Bersambung......

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!