Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
— Emira Prawira —
Sudah setengah jam sejak rapat dimulai, tapi suasananya terasa agak aneh. Biasanya aku sibuk dengan tumpukan dokumen dan telepon yang berdering tiap sebentar, tapi kali ini justru rekan kerjakulah yang tampak repot. Kupikir mungkin Marko sedang berbaik hati, mengingat aku sedikit begadang membantunya menyelesaikan dokumen.
Setelah beberapa saat, kuselesaikan sisa dokumen yang belum rampung, lalu kubawa ke meja Marko, agar aku bisa pergi ke atap untuk bersantai.
Sesampainya di atas, kukeluarkan ponsel dari saku, tapi baterainya habis. Kusambungkan ke pengisi daya milik perusahaan. Begitu kunyalakan, ada tumpukan panggilan dari orang tuaku dan pesan-pesan yang bahkan tak sempat kubaca, sebab ponsel langsung berdering menandakan panggilan masuk dari ayahku.
"Halo, Papa—"
Ayah langsung berteriak marah. "KAMU TIDAK BERGUNA! SUDAH KUSURUH BEREBUT HATI MARKO, BUKAN KUKIRIM KE PERUSAHAANNYA UNTUK BERMAIN-MAIN!"
Aku gugup dan bingung. "P-Papa, aku tak mengerti apa maksudmu."
"Orang tua Marko mengumumkan perpisahan kalian di depan umum, dan mereka memutus segala hubungan dengan perusahaan kita. Perusahaan sedang runtuh, semua gara-gara kamu si tak berguna yang tak becus menyenangkan Marko."
"I-itu tidak mungkin, aku—"
"DIAM!" bentak ayah. "MULAI SEKARANG KAMU BUKAN LAGI ANAKKU, BUKAN PULA ANGGOTA KELUARGA PRAWIRA. Kamu memalukan, sia-sia kami membesarkanmu." Lalu ia menutup telepon.
"Halo! Halo!... Papa," seruku putus asa.
Setelah kuperiksa, ternyata benar Marko telah mengumumkan pemutusan hubungan antara kedua keluarga. Sementara aku membaca artikelnya, masuk pula pemberitahuan dari bagian sumber daya manusia soal pemecatanku.
Apakah aku belum cukup penurut dan cukup baik terhadapnya? Aku tak pernah marah, tak pernah pula mengkritiknya atas pelesirannya atau caranya menggoda perempuan lain.
Ia bahkan tak berbelas kasih sedikit pun. Aku tahu ia membenciku, tapi ia tak pernah memikirkan akibat yang bisa menimpaku dari pemutusan hubungan mendadak ini. Setidaknya ia bisa memberitahuku lebih dulu, supaya perusahaan keluarga tidak dirugikan.
Aku kehilangan pekerjaan dan dicoret dari keluarga dalam sekejap mata.
Aku bekerja keras untuk perusahaan ini, mengorbankan sebagian besar kehidupan pribadiku. Aku begadang tiap malam supaya semuanya berjalan sempurna, tapi inilah balasannya, merendahkanku di depan umum.
Aku menjelma menjadi wanita sempurna yang sesuai seleranya, memenuhi segala keinginan orang tuaku, tapi itu tak cukup untuk merebut kasih sayang mereka. Mereka hanya memandangku sebagai aksesori yang bisa mereka pakai, lalu dibuang kapan saja mereka mau.
* * *
Sniff! Sniff!... Aku bodoh dan tolol karena pernah punya pikiran seperti itu.
Emira menangis lama sekali di atap, sebelum akhirnya bangkit untuk mengambil barang-barangnya. Tapi ketika sampai di meja kerjanya, tak ada seorang pun di sana, dan barang-barangnya sudah dirapikan atas perintah Marko.
Ia mengambil barang-barangnya. Tiba-tiba terdengar lift terbuka, tapi ia bahkan tak menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Yang terdengar hanyalah derap langkah cepat di sepanjang lorong dan suara-suara. Lalu mendadak ia merasa seseorang mencengkeram bahunya hingga memaksanya berbalik, dan barang-barangnya jatuh ke lantai. Emira tersentak dan mengangkat pandangan untuk melihat siapa orang di hadapannya.
"D-Daniel," ucapnya terkejut.
Daniel menatapnya cemas. "Kamu tidak apa-apa?"
"Pak Mahendra, belum..." Marko terbata. "Emira? Kamu—"
Emira memotong dengan dingin dan datar, "Jangan khawatir, saya akan segera pergi dari sini, Pak Marko."
Marko tercengang oleh sikap Emira. Baru kali ini Emira menatap matanya dengan pandangan kering tanpa emosi, bahkan berbicara secara formal, sesuatu yang tak pernah dilakukannya.
Marko tersadar dan berdeham. "CEO Mahendra, kenapa Anda meninggalkan rapat untuk datang hingga ke ruangan saya..."
Ia menyadari Daniel sedang menggenggam tangan Emira, dan perasaan yang tak terjelaskan muncul dalam dirinya. Ia mengernyit, lalu dengan agak canggung berkata sambil memandang Daniel.
"Bisa tolong lepaskan tangan tunangan saya?"
Dulu, tiap kali kata "tunangan" keluar dari mulut Marko, bisa dibilang itu membuatku bahagia secara konyol. Tapi sekarang yang kurasakan hanya jijik dan marah. Beraninya ia berdiri di depanku dan dengan penuh percaya diri menyebutku tunangannya, padahal dialah yang memutus hubungan denganku, bahkan sampai membuatku diusir dari keluarga Prawira.
Daniel bicara dengan sinis. "Tunangan? Dia bukan tunangan Anda, Pak Marko. Tunangan Anda itu orang yang berdiri," ia menunjuk dengan tatapan, "di sebelah Anda."
Marko mengabaikan ucapan Daniel. Melihat Daniel tak juga melepaskan tangan Emira, ia mencengkeram dan menarik lengan Emira dengan kuat hingga ia terhempas menabrak tubuh Marko.
Emira, yang sudah di ambang batas amarah dan kemurkaan, mendorong Marko lalu menamparnya keras hingga suaranya menggema di ruangan itu. Semua orang tercengang menatap Emira, kecuali Daniel yang mengenal watak aslinya.
Emira berkata penuh benci dan hina, "Marko, sudahlah, jangan berlebihan. Kamu pikir kamu ini siapa sampai bilang ke orang-orang bahwa aku tunanganmu?" Nadanya berubah sinis. "Bukankah kamu sendiri yang mengumumkan pemutusan hubungan?" Lalu wajahnya kembali datar. "Harusnya kamu senang, sebab sekarang kamu memiliki segalanya, bahkan wanita yang selama ini kamu dambakan sudah kembali ke sisimu."
Marko tercekat. Ia hanya bisa melihat kebencian di mata Emira dan mendengar kata-kata pedas yang diucapkannya. Entah kenapa ia merasa telah membuat kesalahan dengan memutus ikatannya dengan Emira. Tapi di sampingnya berdiri wanita yang selama bertahun-tahun dinantikannya. Ia bingung dengan apa yang dirasakannya, sampai-sampai ia hanya bisa membisu.
Daniel menyela di antara mereka berdua, melindungi Emira. Ia menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut sambil menatap Marko. "Soal proyek itu, anggap sudah selesai. Tak akan ada negosiasi dengan keluarga Gunawan."
Keduanya melangkah pergi, meninggalkan Marko yang tak sanggup bergerak, terguncang hebat oleh kegagalan proyek itu, sementara mereka keluar dari perusahaan.
Emira tetap membisu, dan Daniel meminta stafnya meninggalkan mereka berdua saja.