NovelToon NovelToon
Sandera yang Salah Mafia Gallo

Sandera yang Salah Mafia Gallo

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: ESTER ÁVILA

Dia menyeberangi perbatasan demi mencari keluarga yang tak pernah ia miliki. Ia justru jatuh ke dalam pelukan seorang pria yang bersumpah menghancurkannya.

Emma tumbuh miskin dan sebatang kara di sebuah desa kecil di Prancis, tak pernah tahu satu rahasia yang mengubah segalanya: ia punya saudari kembar. Ketika sebuah foto tua menuntunnya ke Toscana untuk mencari asal-usulnya, ia tak sadar bahwa wajahnya kini adalah sasaran nomor satu mafia paling ditakuti di Italia.

Hugo Gallo, sang Don berhati es, baru saja dikhianati di hari pernikahannya—ditinggalkan di altar, brankasnya dikuras habis oleh perempuan yang ia cintai. Maka ketika seorang gadis berwajah persis pengkhianat itu muncul di wilayahnya, ia tak ragu sedetik pun: ia menyeret Emma ke penjara bawah tanahnya untuk membalas dendam.

Tapi air mata gadis ini terlalu tulus. Ketakutannya terlalu nyata. Dan semakin lama Hugo menatapnya, semakin ia sadar—ia mungkin telah menawan orang yang salah.

Di antara balas dendam dan gairah, kebencian dan perlindungan, dua jiwa yang paling tak mungkin bersatu mulai saling meruntuhkan tembok. Namun musuh-musuh lama keluarga Gallo masih mengintai dalam bayang, seorang pengkhianat bersembunyi di balik tembok istana, dan seseorang di dalam rumah menyimpan pisau untuk punggung mereka.

Ketika seorang mafia jatuh cinta, ia tak sekadar melindungi. Ia menyatakan perang.

Sebuah kisah romansa mafia yang gelap, panas, dan memikat—penuh gairah terlarang, pengkhianatan berdarah, rahasia keluarga, dan cinta yang lahir dari tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa yang menyukai pria dominan posesif, heroine yang tumbuh dari rapuh menjadi seorang ratu, dan akhir bahagia yang harus diperjuangkan dengan darah.

Sandera yang Salah: Mafia Gallo — kadang, kesalahan terbesar sang Don justru menjadi satu-satunya hal benar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESTER ÁVILA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku ingin semuanya sempurna +18

Kami terus melangkah dalam diam sepanjang jalan, tetapi kini keheningan itu terasa berbeda: sarat harapan, sarat sesuatu yang baru dan suci yang sebentar lagi akan terjadi.

Aku mengemudi menuju apartemenku, sebuah tempat tinggi, tersembunyi, tempat setiap sudutnya kupilih sendiri, untukku. Ketika kami memasuki lift yang langsung mengantar ke lantai teratas, kurasakan tubuh di sampingku menegang, kulihat kedua tangan kecilnya saling meremas, dan irama napasnya berubah.

Dia gugup, tegang, dan aku memahaminya dengan sempurna. Aku tahu, bagi dirinya, momen ini benar-benar baru, dia ingin ini menjadi sesuatu yang tunggal, istimewa, dan justru itulah yang membuatnya semakin berarti bagiku.

Belum pernah ada perempuan yang menginjakkan kaki di sini. Bahkan Alessia sekalipun, yang dulu mengira dirinya akan menjadi pemilik sesuatu milikku, tetapi tak pernah sedikit pun mendekati tempat ini. Ini adalah tempat sucianku, tempatku beristirahat… dan kini, untuk pertama kalinya, kubuka pintunya untuknya.

Ketika pintu lift terbuka, aku melangkah masuk lebih dulu, menariknya lembut dengan tanganku. Ruangan itu luas, dengan dinding-dinding kaca yang memperlihatkan kota jauh di bawah, tetapi dengan dekorasi yang tenang dan kokoh, mencerminkan siapa diriku sesungguhnya.

Dia berhenti di ambang pintu, memandang sekeliling dengan mata membelalak, penuh kekaguman sekaligus keraguan. Aku tak berkata apa-apa dulu; hanya berjalan menuju panel lampu dan meredupkan cahayanya, menyisakan penerangan lembut dan hangat yang menciptakan bayangan-bayangan menyenangkan dan menghapus kekerasan ruangan.

Aku menuju meja bar, mengambil sebotol air mineral dan sebotol minuman keras ringan yang lembut, yang tak cukup kuat untuk mengubah apa pun, hanya untuk melemaskan tubuh. Kutuang dua gelas dan kembali kepadanya, yang masih berdiri di tempat yang sama, seolah takut menyentuh sesuatu dan merusak keajaiban itu.

"Kemarilah, Emma," panggilku pelan, menyodorkan satu gelas berisi minuman ringan yang manis dan tak berbahaya, dan satu gelas berisi air. "Minumlah sedikit. Ini hanya untuk menenangkanmu, tidak akan membuatmu pusing, tidak akan membuatmu kehilangan kendali atas apa pun. Aku ingin kamu ada di sini, bersamaku, merasakan segala yang akan terjadi."

Dia menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, menyesap sedikit, lalu menatap mataku, mencari rasa aman.

"Kamu mau… mau mandi dulu?" tanyaku, dengan suara tenang, sabar, seakan kami hanya sedang mengobrol soal hari itu. "Supaya merasa lebih nyaman, lebih ringan. Ada air panas, semua yang kaubutuhkan. Kalau mau, ambil waktu selama yang kaubutuhkan. Aku akan menunggumu di sini."

Dia mengangguk cepat, seakan itu jalan keluar yang baik untuk menata pikirannya sendiri, untuk menarik napas sejenak sebelum apa yang akan datang.

"Iya, tolong," jawabnya, nyaris berbisik.

Kugenggam lagi tangannya dan kutuntun ke kamar utama. Ruangan itu besar, dengan ranjang lebar dan rendah, seprai gelap yang lembut, dan perabot kayu berat yang kupilih sendiri. Kubuka pintu kamar mandi, dan di dalamnya semua sama megahnya, tetapi tetap hangat: meja dari batu, sebuah bak mandi besar di samping jendela, handuk-handuk putih lembut yang dilipat dengan rapi.

"Anggap saja rumah sendiri. Sekarang semua ini milikmu," ujarku sambil menunjuk ke segala penjuru. "Pakai apa saja yang kaumau, sesantai yang kaubutuhkan. Kalau sudah siap, tinggal keluar. Aku tidak akan masuk, tidak akan mengganggu ruangmu."

Dia melangkah masuk perlahan, menatapku sekali lagi sebelum menutup pintu, dan kudengar bunyi klik lembut kunci diputar.

Begitu tinggal sendiri, kutarik napas dalam-dalam dan mulai membereskan semuanya dengan tenang, gerakan-gerakan cermat dan lambat, menata setiap detail agar tak ada yang mengganggu. Kuambil sebotol lagi minuman lembut yang sama seperti yang kutawarkan padanya, kuletakkan dalam jangkauan ranjang, kalau-kalau dia mau sesuatu untuk menenangkan diri, sesuatu yang melemaskan tubuh, tetapi tetap membuat pikiran dan inderanya terbuka lebar dan waspada terhadap apa yang akan kuberikan padanya. Kunyalakan musik pelan, kupilih melodi lembut, instrumental, tanpa lirik, hanya harmoni yang memenuhi ruangan dan menutupi keheningan apa pun yang mungkin membuatnya tak nyaman.

Sementara kuatur suhu ruangan dan kurapikan bantal-bantal di ranjang, sebuah suara tegas berbunyi di dalam kepalaku, sebuah peringatan yang kuulang-ulang untuk diriku sendiri, bagai aturan yang terpahat dengan api:

"Ini kali pertamanya. Ini kali pertama seseorang masuk ke sini. Tetap tenang, Hugo. Pelan-pelan. Jangan menakutinya. Ajari dia. Tuntun dia. Dia menyerahkan diri padamu, memercayaimu untuk menjadi yang pertama dalam segalanya… maka jadilah layak atas kepercayaan itu. Kendalikan kekuatanmu, kendalikan hasratmu. Tujuannya bukan memuaskan diriku, melainkan membuatnya merasa nyaman, merasa tunggal, merasa menjadi milikku, tanpa rasa takut, tanpa tergesa-gesa."

Aku berjalan ke jendela, memandang kota yang bercahaya jauh di bawah, dan menunggu. Setiap detik yang berlalu adalah keabadian bagi hasratku, tetapi kutahan diriku dengan segenap kekuatan. Di balik pintu itu, dia sedang bersiap menyerahkan diri padaku, dan itu jauh lebih dahsyat, jauh lebih penting daripada gejolak apa pun yang kurasakan.

Ketika akhirnya kudengar suara pintu kamar mandi terbuka, aku berbalik perlahan, siap menyambutnya, siap mulai mengajari, menguasai, mencintai… dan menjadikan momen ini, yang begitu ia ingin menjadi sesuatu yang tunggal, sebagai sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan.

Ketika pintu terbuka, dia muncul di sana, berdiri diam, seluruh tubuhnya terbungkus handuk putih lembut, ditekan kuat-kuat ke dada, seakan masih berusaha melindungi diri, menyembunyikan diri sedikit. Rambutnya yang basah jatuh berombak lembut di bahunya, wajahnya merona oleh mandi air panas dan oleh rasa malu yang tak juga meninggalkannya.

Aku sudah tanpa kemeja, merasakan udara sejuk lantai teratas menerpa kulitku, dan ketika mataku bertemu matanya, dunia di sekeliling seakan benar-benar berhenti. Aku mulai berjalan ke arahnya, langkah-langkah lambat, mantap, setiap gerakan kuperhitungkan agar dia punya waktu melihatku mendekat, merasakan kehadiranku membesar, bersiap untuk apa yang akan datang, tanpa terburu-buru sedikit pun.

Aku cukup dekat hingga dia bisa merasakan panas yang keluar dari tubuhku, hingga aroma parfumku yang kuat dan khas menyelimutinya sepenuhnya. Aku membungkuk perlahan dan mulai menciumnya. Mula-mula kucium lembut setiap sudut wajahnya, dahinya, pipinya yang merona, sudut matanya, hidungnya… Setiap sentuhan bibirku terasa ringan, penuh sayang, seakan aku sedang merekam setiap detailnya ke dalam diriku. Lalu aku turun perlahan, menyusuri garis rahangnya, sampai tiba di lehernya.

Di situ aku berhenti. Kurasakan aroma kulitnya, kelembutan yang sudah kubayangkan, dan kubiarkan bibirku menyentuh titik tepat itu, di tempat leher bertemu bahu, sebuah tempat yang begitu peka, begitu miliknya. Kucium perlahan, dengan tenang, merasakan getar yang menjalari seluruh tubuhnya, merasakan caranya memiringkan kepala ke samping, menyerahkan diri secara naluriah pada sentuhanku. Napasku yang panas menerpa kulitnya, dan aku bisa mendengar jantungnya berdegup tak beraturan, kuat, cepat, persis seperti jantungku.

Tanganku yang besar dan hangat naik menyusuri sisi tubuhnya, berhenti di tepi atas handuk yang menutupinya. Kusentuh kain itu dengan kelembutan yang nyaris kejam, merasakan panas yang datang dari baliknya, lalu, sangat perlahan, sangat lembut, mulai kutarik handuk itu ke bawah. Bukan sentakan, bukan gerakan kasar; melainkan gerakan lambat, yang menyingkap setiap sentimeter kulitnya sedikit demi sedikit, membiarkan udara kamar menerpanya, membiarkannya merasakan setiap bagian dirinya kutemukan.

Handuk itu meluncur, turun melewati lengannya, melewati dadanya, melewati perutnya, sampai jatuh sepenuhnya ke lantai, menjadi gundukan putih di kaki kami.

Dia telanjang, di situ, di hadapanku, terbuka sepenuhnya. Kulihat tubuhnya, lekuk yang sempurna, kulit yang lembut, semua yang sudah kubayangkan dan jauh lebih dari itu. Dia berdiri diam, membungkukkan bahu, wajahnya membakar oleh malu, semerah tomat masak, matanya menunduk, tak berani menatapku, kedua tangannya ingin terangkat untuk menutupi diri lagi. Tetapi kupegang kedua pergelangan tangannya dengan lembut, mencegahnya bersembunyi, dan aku berkata, pelan, serak, dengan kekaguman yang keluar dari setiap kata:

"Kamu… adalah yang paling indah yang pernah kulihat seumur hidupku, Emma. Sempurna. Setiap bagian kecil dirimu… adalah segala yang selalu kuinginkan. Jangan pernah sembunyi dariku. Kamu tak tahu betapa menakjubkannya dirimu seperti ini, sepenuhnya milikmu, sepenuhnya milikku."

Seketika dia membuka matanya, terkejut oleh kata-kata itu, oleh dalamnya tatapanku, oleh kenyataan bahwa aku memandangnya bukan sekadar dengan hasrat, melainkan dengan pemujaan yang begitu besar. Meski wajahnya masih membakar, dengan segenap rasa malu di dunia, dia tetap di sana, berdiri diam, menerima untuk dilihat, dipuji, dikagumi.

Aku menurunkan tubuhku sedikit, meletakkan satu lengan di belakang punggungnya dan lengan lainnya di bawah kakinya, lalu, dalam satu gerakan tunggal dan ringan, kuangkat dia dari lantai, kudekap dalam gendonganku. Secara otomatis dia melingkarkan lengannya di leherku, merapat padaku, merasakan kekokohan otot-ototku yang menopangnya, merasakan bahwa di sini, dia tak akan jatuh, tak akan salah, tak perlu takut pada apa pun.

Kudekap dia dengan segenap rasa aman di dunia, merasakan bobotnya yang ringan dalam lenganku, merasakan kulitnya menempel pada kulitku, panas tubuh kami berbaur, dan aku berjalan perlahan menuju ranjang besar, tempat aku akan mengajarinya segala yang perlu ia ketahui, tempat aku akan menjadikannya… akhirnya dan sepenuhnya… milikku.

Kubaringkan dia lembut di atas seprai yang halus, lalu berlutut di sisi ranjang, tanpa menjauh sedetik pun, matanya masih mengikuti setiap gerakanku, penuh campuran rasa malu dan pesona. Aku berdiri diam di situ sesaat, hanya agar dia melihatku, agar dia sadar bahwa, sebagaimana dia menyerahkan diri padaku, kini aku pun menyerahkan diri padanya.

Dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan, membiarkan setiap detik terasa, kubawa tanganku ke bagian pinggang celanaku. Kubuka kancing dan kuturunkan ritsleting perlahan, sepanjang waktu menatap dalam-dalam matanya, ingin merekam setiap reaksinya, setiap detail dari kali pertama dia melihatku sepenuhnya menjadi miliknya.

Kuturunkan celana itu menyusuri kakiku, kubiarkan jatuh ke lantai, lalu kulepas potongan terakhir yang menutupiku, perlahan, tanpa tergesa sedikit pun. Aku berdiri telanjang di hadapannya, terbuka sepenuhnya, seluruh tubuhku tersingkap, seluruh hasratku terlihat, kejantananku yang sudah menegang dan membakar itu tampak jelas, hanya untuknya.

Begitu dia sadar bahwa aku sudah sepenuhnya telanjang, bahwa dia bisa melihat segalanya, seperti caraku melihatnya, rasa malu yang sudah ia rasakan tampak berlipat seratus kali. Cepat-cepat dia membawa tangan ke wajah, menutupi mata dengan jari-jari lentiknya, sikunya menekan dada, wajahnya membakar oleh malu, begitu merah hingga seakan bersinar di bawah cahaya lembut kamar.

Lihat aku. Lihat apa yang kaubuat terjadi padaku. Lihat betapa aku sepenuhnya milikmu, sebagaimana kamu sepenuhnya milikku.

Dia tak melepaskan tangannya, tetapi kulihat jari-jarinya sedikit merenggang, menyisakan celah kecil untuk mengintip, penasaran, terkagum, dan pada saat yang sama ngeri oleh keberaniannya sendiri.

Aku mencondongkan tubuh ke atasnya, menopang bobot tubuhku pada siku agar tak menekannya, tetapi menempelkan kulitku pada kulitnya, merasakan panas yang keluar dari kami berdua, sentuhan setiap sentimeter, sensasi bahwa akhirnya kami begini, begitu dekat hingga tak ada lagi apa pun yang muat di antara kami.

Lalu aku menciumnya. Kumulai dari sudut bibirnya, perlahan; lalu kukuasai bibirnya sepenuhnya, sebuah ciuman dalam yang lama, yang kucurahkan seluruh keinginanku, seluruh rasa hormatku, seluruh gairah yang kusimpan hanya untuk momen ini. Lidahku bertemu lidahnya dalam irama tenang, mengajari, menuntun, mengecap rasa manis yang telah menjadi candu bagiku. Kuturunkan ciuman menyusuri dagunya, menyusuri lengkung lehernya, merasakan tubuhnya melengkung lembut di bawah tubuhku, lengannya kini meluncur ragu-ragu sampai bertumpu di bahuku, seakan mencari pegangan.

Aku berhenti sejenak, mengangkat wajah hanya secukupnya untuk menatap dalam matanya, yang kini terbuka, berbinar, basah, penuh kepercayaan. Kupegang wajahnya di antara kedua tanganku yang besar, ibu jariku membelai pipinya, dan kuucapkan dengan sangat pelan, dengan kesungguhan yang mutlak, agar dia tak pernah melupakannya:

"Ingatlah semua yang sudah kukatakan padamu, Emma. Ingat selalu: apa pun yang terjadi, sekuat apa pun aku menginginkannya, sedalam apa pun kita berdua tenggelam dalam kenikmatan… kamu tinggal minta, kamu tinggal bilang tidak, bilang berhenti, atau bilang stop… maka aku berhenti. Saat itu juga. Tanpa bertanya, tanpa memaksa. Semua kuasa ada padamu di sini. Aku sepenuhnya milikmu. Cukup ucapkan, dan semuanya berhenti."

Dia mengangguk perlahan, matanya penuh keyakinan yang memenuhiku dengan bangga dan cinta. Aku tersenyum padanya, senyum yang hanya milik kami berdua, lalu turun lagi menciumnya, kini dengan lebih dalam, dengan lebih lapar, siap mengajari, menuntun, menjadikannya… wanitaku, sungguh-sungguh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!