Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — RAHASIA KELUARGA MAHARDIKA
Malam itu, Arga Pratama tidak langsung tidur.
Ia duduk di tepi ranjang penginapan dengan laptop terbuka, memandangi foto daftar anggota komite audit ARX-9 yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal. Di antara nama-nama yang sebagian besar buram, satu nama tercetak dengan jelas.
HENDRA MAHARDIKA — ANGGOTA KOMITE AUDIT EKSTERNAL.
Arga memperbesar gambar tersebut. Ia memeriksa bagian atas, bawah, dan sisi dokumen, berharap menemukan nomor arsip atau tanda pengenal yang bisa digunakan untuk melacak sumbernya.
Namun, foto itu tidak menampilkan informasi yang cukup.
Tidak ada nomor halaman. Tidak ada tanggal yang dapat dibaca. Bahkan logo perusahaan di sudut kanan tampak terpotong.
Seseorang mungkin telah memotret dokumen asli. Namun, seseorang juga bisa saja menyusun gambar itu dari beberapa sumber berbeda.
Arga menutup jendela gambar.
Ia tidak akan membuat kesalahan yang sama seperti orang-orang yang dahulu menghancurkan reputasinya.
Satu nama di atas kertas bukanlah bukti kejahatan.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Nadia muncul di layar.
Sudah ada kabar dari Kevin?
Arga membalas singkat.
Panggilannya terputus. Aku belum bisa menghubunginya lagi.
Nadia segera menelepon.
“Menurutmu, apa yang terjadi?” tanyanya begitu Arga mengangkat panggilan.
“Aku tidak tahu. Dia bilang ada seseorang yang datang ke tempatnya, lalu teleponnya terputus.”
“Kita sebaiknya tidak berasumsi bahwa dia sedang dalam bahaya hanya karena panggilannya terputus. Bisa saja ada masalah jaringan atau dia sedang menangani sesuatu.”
“Aku setuju. Tapi aku ingin memastikan dia baik-baik saja.”
“Coba kirim pesan singkat. Jangan mendatanginya sendirian tanpa konfirmasi.”
Arga melakukan apa yang disarankan Nadia.
Ia mengirim pesan kepada Kevin, meminta kabar dan menanyakan apakah mereka bisa berbicara lagi keesokan hari.
Setelah itu, ia menunjukkan foto Hendra kepada Nadia.
Nadia terdiam beberapa detik.
“Kalau dokumen ini asli, berarti Hendra pernah terlibat dalam komite audit.”
“Benar.”
“Namun, menjadi anggota komite audit tidak otomatis berarti dia terlibat dalam perubahan laporan.”
“Itulah sebabnya aku harus berbicara dengannya.”
Nadia menghela napas.
“Kau sadar bahwa ini bisa memengaruhi hubunganmu dengan Rendy?”
“Aku tidak akan menjadikan Rendy bertanggung jawab atas tindakan ayahnya. Bahkan, aku belum tahu apakah ayahnya melakukan sesuatu yang salah.”
“Bagus. Kita cari dokumen pendukung sebelum mengambil langkah lebih jauh.”
Arga menatap foto itu sekali lagi.
Besok, ia akan berbicara dengan Rendy terlebih dahulu. Jika Hendra benar-benar terlibat dalam komite audit, Arga ingin mendengar penjelasannya langsung, bukan melalui pesan anonim.
Ia mematikan laptop dan berbaring.
Namun, malam itu, pikirannya terus kembali kepada satu pertanyaan.
Mengapa seseorang begitu ingin mengarahkan penyelidikannya kepada Hendra Mahardika?
Pukul tujuh pagi, Rendy sudah berada di area latihan kompetisi ketika Arga menghampirinya.
Rendy sedang membaca data pengujian mesin bersama Dimas. Ia mengangkat kepala saat melihat Arga datang.
“Kau terlihat seperti tidak tidur semalaman,” katanya.
“Aku memang tidak banyak tidur.”
“Masih memikirkan ARX-9?”
Arga mengangguk.
“Aku perlu berbicara denganmu tentang ayahmu.”
Wajah Rendy langsung berubah.
“Ada apa dengan ayahku?”
Arga tidak langsung menunjukkan foto tersebut.
“Aku menerima dokumen yang mengklaim bahwa Hendra Mahardika pernah menjadi anggota komite audit eksternal ARX-9. Aku belum bisa memastikan keasliannya.”
Rendy terdiam.
“ARX-9? Proyek lima tahun lalu itu?”
“Ya.”
“Ayahku memang pernah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan otomotif. Tetapi aku tidak tahu apakah dia terlibat dalam proyek itu.”
“Aku tidak menuduhnya. Aku hanya ingin memastikan apakah informasi tersebut benar.”
Rendy menatap Arga dengan serius.
“Kenapa baru sekarang kau memberitahuku?”
“Karena aku tidak ingin kau mendengar kabar yang sudah dipelintir orang lain.”
Rendy mengalihkan pandangannya ke arah kendaraan di arena.
“Ayahku pernah mengatakan bahwa beberapa proyek teknologi yang dia ikuti dihentikan karena persoalan administrasi. Dia tidak pernah menjelaskan lebih jauh.”
“Apakah kau bersedia membantuku berbicara dengannya?”
Rendy menghela napas panjang.
“Aku bisa mencoba. Tapi aku tidak menjamin dia mau membicarakannya.”
“Aku mengerti.”
Rendy terdiam sesaat, lalu menatap Arga lagi.
“Kalau ternyata dia memang menjadi anggota komite itu, kau tetap akan memeriksa semuanya secara objektif?”
“Ya.”
“Sekalipun hasilnya buruk untuk keluargaku?”
Arga menjawab tanpa ragu.
“Kalau ada bukti bahwa seseorang melakukan kesalahan, kita harus menghadapinya. Tetapi kita tidak boleh menyatakan seseorang bersalah sebelum bukti itu jelas.”
Rendy mengangguk perlahan.
“Baiklah. Aku akan menghubunginya.”
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Aku tidak tahu banyak tentang ARX-9. Tapi aku tahu satu hal tentang kompetisi ini. Kalau kalian membiarkan persoalan pribadi menentukan penilaian, orang yang mengacaukan semuanya justru akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.”
Arga menatap Dimas.
“Kau benar.”
Rendy menyilangkan tangan.
“Untuk saat ini, kita tetap harus menyelesaikan kompetisi. Aku tidak mau seluruh usahaku sia-sia hanya karena kita sibuk mengurus masa lalu.”
Arga tersenyum tipis.
“Kalau begitu, fokuslah pada latihanmu.”
Rendy mendengus.
“Kau memang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyindir.”
“Anggap saja itu bagian dari pelatihan mental.”
Dimas tertawa, dan untuk beberapa saat, suasana di antara mereka terasa lebih ringan.
Namun, sebelum mereka kembali berlatih, seorang panitia menghampiri Arga.
“Peserta nomor 17, ada keputusan sementara mengenai status Anda.”
Arga menoleh.
“Apa keputusannya?”
“Setelah pemeriksaan awal, panitia belum menemukan bukti yang cukup untuk menyatakan Anda melakukan akses tidak sah. Penangguhan penggunaan sistem teknis khusus tetap berlaku sampai audit selesai, tetapi Anda diperbolehkan mengikuti tahap kompetisi berikutnya yang tidak melibatkan akses tersebut.”
Rendy langsung tersenyum.
“Setidaknya kau belum bisa disingkirkan dengan mudah.”
Arga menerima salinan keputusan.
“Terima kasih. Saya berharap pemeriksaan terhadap sistem dilakukan dengan cara yang sama telitinya.”
Panitia mengangguk, lalu pergi.
Arga menyimpan surat itu.
Ia belum sepenuhnya bebas dari tuduhan, tetapi setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya di arena.
Dan ia tidak berniat menyia-nyiakan kesempatan itu.
Menjelang siang, Rendy mendapat kabar dari ayahnya.
Hendra bersedia bertemu mereka pada pukul empat sore di kantor perusahaan Mahardika Automotive Group.
Arga sempat ragu apakah sebaiknya ia datang. Ia tidak ingin membuat pertemuan tersebut tampak seperti interogasi.
Namun, Rendy mengatakan bahwa ayahnya sendiri yang meminta Arga hadir.
“Katanya dia ingin mendengar langsung apa yang sedang kau cari,” ujar Rendy.
“Apakah dia tahu tentang foto itu?”
“Aku belum mengirimkannya. Aku hanya mengatakan bahwa ada dokumen yang menghubungkan namanya dengan komite audit ARX-9.”
Arga mengangguk.
“Baik. Aku akan datang.”
Kantor Mahardika Automotive Group berdiri di sebuah gedung perkantoran modern di kawasan bisnis Jakarta. Lobi utamanya dipenuhi kaca dan batu berwarna gelap, sementara sejumlah kendaraan mewah dipajang di area penerimaan tamu.
Arga datang dengan kemeja sederhana dan membawa map tipis. Rendy menjemputnya di lobi, lalu mengajaknya menuju ruang kerja ayahnya.
Hendra Mahardika berdiri di dekat jendela ketika mereka masuk.
Pria itu mengenakan kemeja putih dan jas abu-abu. Usianya sudah melewati lima puluh tahun, tetapi sikapnya masih menunjukkan ketegasan seorang pengusaha yang terbiasa mengambil keputusan.
“Arga Pratama,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Akhirnya kita bertemu dalam keadaan yang lebih tenang.”
Arga menjabat tangannya.
“Terima kasih sudah bersedia menerima saya, Pak.”
Hendra mempersilakan mereka duduk.
Rendy mengambil kursi di sebelah Arga, sementara Hendra duduk di seberang meja.
“Saya sudah mendengar bahwa Anda sedang mencari informasi mengenai proyek ARX-9,” kata Hendra. “Saya juga mendengar nama saya mulai muncul dalam penyelidikan itu.”
Arga membuka mapnya.
“Saya menerima foto dokumen yang mencantumkan nama Bapak sebagai anggota komite audit eksternal. Saya belum bisa memastikan apakah dokumen itu asli.”
Ia meletakkan salinan foto di atas meja.
Hendra memandang gambar tersebut.
Ekspresinya tidak langsung berubah. Ia hanya mendekatkan dokumen itu, lalu membaca bagian yang masih terlihat.
Setelah beberapa detik, ia menyandarkan tubuh.
“Formatnya mirip dengan dokumen yang pernah saya lihat,” katanya. “Namun, saya tidak bisa memastikan keasliannya dari foto seperti ini.”
“Apakah Bapak pernah menjadi anggota komite audit proyek ARX-9?”
Hendra tidak segera menjawab.
Ia menatap Rendy sebentar, kemudian kembali kepada Arga.
“Ya. Saya pernah ditunjuk sebagai anggota komite audit eksternal untuk sebuah program pengembangan sistem otomotif. Program itu melibatkan beberapa perusahaan dan pemasok komponen. Saya tidak menangani pengujian mesin secara langsung.”
“Apakah program itu ARX-9?”
“Seingat saya, ya.”
Rendy tampak terkejut.
“Ayah tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku.”
Hendra menghela napas.
“Karena proyek tersebut dihentikan dan sebagian dokumennya berada di bawah perjanjian kerahasiaan. Saya tidak merasa pantas membicarakan hal yang tidak lagi menjadi bagian dari pekerjaan saya.”
Arga melanjutkan dengan hati-hati.
“Apakah Bapak pernah meminta Kevin Santoso memberikan kesaksian terhadap saya lima tahun lalu?”
Hendra menatapnya tajam.
“Tidak.”
Jawabannya cepat dan tegas.
“Saya tidak pernah meminta Kevin memberikan kesaksian terhadap Anda. Saya juga tidak pernah bertemu dengannya secara pribadi untuk membahas insiden itu.”
“Apakah Bapak mengetahui bahwa Kevin memberikan kesaksian yang menyudutkan saya?”
“Saya mengetahui bahwa ada pernyataan dari sejumlah anggota tim teknis dalam paket evaluasi. Saya tidak tahu bagaimana masing-masing pernyataan diperoleh.”
“Apakah Bapak ikut menyetujui laporan final?”
Hendra terdiam.
Kali ini, ia membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab.
“Saya ikut meninjau ringkasan evaluasi sebagai anggota komite. Namun, saya tidak memeriksa setiap halaman laporan teknis.”
“Apakah Bapak mengetahui adanya perbedaan antara laporan keselamatan awal dan laporan final?”
Hendra memandang Arga tanpa berkedip.
“Saya baru mengetahui bahwa ada dugaan perbedaan setelah Anda mulai mencari dokumen lama.”
Arga mencatat jawaban tersebut.
“Apakah Bapak memiliki salinan dokumen rapat komite audit?”
“Ada kemungkinan beberapa catatan masih tersimpan di arsip perusahaan. Saya harus memeriksanya terlebih dahulu.”
“Apakah Bapak bersedia membantu?”
Hendra menatap foto di atas meja.
“Saya bersedia memeriksa arsip yang masih tersedia. Namun, saya tidak akan menyerahkan dokumen rahasia kepada pihak luar tanpa memastikan dasar dan prosedur yang tepat.”
Arga mengangguk.
“Saya memahami itu. Saya tidak meminta Bapak melanggar perjanjian atau memberikan dokumen yang tidak boleh dibagikan. Jika ada arsip relevan, kita bisa mencari cara yang sah untuk memverifikasinya.”
Hendra tampak sedikit lebih tenang.
“Bagus. Setidaknya Anda datang untuk bertanya, bukan langsung menuduh.”
Rendy melirik Arga, seolah mengakui bahwa pertemuan tersebut berjalan lebih baik daripada yang ia bayangkan.
Namun, Hendra belum selesai berbicara.
“Ada sesuatu yang perlu Anda ketahui,” katanya.
Arga menunggu.
“Dalam rapat evaluasi, saya mengingat ada satu pembahasan mengenai penundaan pengujian. Salah satu anggota tim teknis mengajukan keberatan karena hasil validasi belum lengkap.”
“Apakah orang itu saya?”
“Saya tidak ingat siapa yang menyampaikan keberatan tersebut. Rapat itu sudah berlangsung lima tahun lalu, dan saya mengikuti beberapa program lain pada periode yang sama.”
“Apakah keberatan tersebut dicatat dalam notulen?”
“Seharusnya.”
“Apakah notulennya masih ada?”
Hendra mengangguk perlahan.
“Itulah yang akan saya periksa.”
Arga menutup mapnya.
Pertemuan itu belum memberinya jawaban final, tetapi setidaknya Hendra telah mengakui keterlibatannya dalam komite audit dan bersedia memeriksa arsip perusahaan.
Ketika Arga hendak berdiri, Hendra memanggilnya.
“Arga, saya ingin bertanya satu hal.”
“Silakan, Pak.”
“Jika ternyata laporan final memang tidak lengkap, apa yang akan Anda lakukan?”
Arga menjawab dengan tenang.
“Saya akan meminta laporan itu diperiksa dan dikoreksi berdasarkan bukti yang dapat diverifikasi. Saya ingin nama saya dibersihkan, tetapi saya tidak ingin menghancurkan reputasi seseorang hanya untuk membalas apa yang terjadi kepada saya.”
Hendra menatapnya lama.
“Jawaban yang bijaksana.”
Arga tidak tersenyum.
“Saya hanya tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama.”
Dalam perjalanan keluar dari gedung, Rendy berjalan di samping Arga tanpa banyak bicara.
Baru ketika mereka sampai di lobi, ia berhenti.
“Aku tidak menyangka ayahku benar-benar terlibat dalam komite itu.”
Arga mengangguk.
“Aku juga tidak tahu sebelumnya.”
“Apakah kau percaya padanya?”
Arga mempertimbangkan pertanyaan itu.
“Aku percaya bahwa dia bersedia memeriksa arsip. Tetapi aku belum bisa memastikan semua yang dia ingat benar atau lengkap.”
Rendy menunduk.
“Jawabanmu memang selalu seperti itu.”
“Karena itulah yang bisa kupastikan sekarang.”
Rendy menghela napas.
“Aku tidak akan memintamu berhenti menyelidiki ayahku. Kalau ada sesuatu yang harus dijelaskan, dia harus menjelaskannya.”
Arga menepuk bahu Rendy dengan ringan.
“Terima kasih.”
“Jangan salah paham. Aku masih akan mengalahkanmu di kompetisi.”
Arga tertawa kecil.
“Aku mulai bosan mendengar ancaman itu.”
Mereka melanjutkan langkah menuju pintu keluar.
Namun, tepat sebelum mencapai lobi utama, seorang petugas keamanan menghampiri Hendra yang baru saja keluar dari lift.
“Pak, maaf mengganggu. Ada dokumen lama yang ditemukan di ruang arsip. Sepertinya berkaitan dengan proyek yang tadi Bapak bahas.”
Hendra langsung berhenti.
“Dokumen apa?”
Petugas itu menyerahkan sebuah amplop bersegel.
“Ditemukan di antara berkas rapat komite audit lima tahun lalu. Tidak ada keterangan pengirim.”
Hendra menerima amplop itu, lalu memeriksa bagian depannya.
Arga dan Rendy saling pandang.
Di sudut amplop tercetak nomor dokumen yang sangat dikenal Arga.
ARX9-CC-117B.
Hendra membuka segelnya dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat salinan notulen rapat, daftar persetujuan, dan sebuah lembar yang memuat catatan revisi dokumen.
Arga memperhatikan halaman pertama.
Pada bagian bawah tercantum sebuah kalimat:
Keberatan terhadap kelanjutan pengujian harus dicatat sebagai rekomendasi keselamatan dan tidak boleh dihapus dari laporan evaluasi.
Arga merasakan napasnya tertahan.
Kalimat itu sejalan dengan apa yang selama ini ia yakini: pengujian memang seharusnya dihentikan sampai masalah keselamatan diselesaikan.
Namun, di halaman berikutnya terdapat catatan yang membuat suasana berubah.
Rekomendasi keselamatan tidak dimasukkan dalam ringkasan final atas permintaan pihak yang berwenang.
Tidak ada nama lengkap.
Hanya sebuah kode jabatan dan nomor otorisasi.
Hendra membaca baris itu berulang kali.
“Saya tidak ingat pernah melihat halaman ini,” katanya pelan.
Arga menatap dokumen tersebut.
“Apakah kode otorisasinya bisa diperiksa?”
Hendra mengangguk.
“Kita harus mencocokkannya dengan arsip keanggotaan komite dan catatan rapat.”
Rendy mendekat.
“Ayah, lihat bagian bawah.”
Di sudut halaman terdapat catatan tambahan yang hampir tertutup lipatan.
Tulisan itu berbunyi:
DOKUMEN ASLI DISIMPAN OLEH KETUA KOMITE.
Hendra membeku.
Arga menoleh kepadanya.
“Siapa ketua komite audit saat itu, Pak?”
Hendra tidak langsung menjawab.
Ia membalik halaman terakhir, kemudian membaca daftar nama yang tercantum di sana.
Wajahnya perlahan berubah serius.
“Ketua komite saat itu bukan saya,” katanya.
“Siapa namanya?” tanya Rendy.
Hendra menunjuk satu baris di bagian atas daftar.
Arga membaca nama tersebut.
GUNAWAN WIRATAMA.
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Gunawan selama ini dikenal sebagai konsultan pengawasan sistem dengan akses administratif tingkat tinggi. Kini, sebuah dokumen yang ditemukan di arsip perusahaan menyebutnya sebagai ketua komite yang menyimpan dokumen asli.
Namun, Arga tidak langsung menyimpulkan bahwa Gunawan mengubah laporan. Catatan itu hanya menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas penyimpanan dokumen menurut arsip tersebut.
Masih ada pertanyaan mengenai siapa yang mengajukan revisi, siapa yang memberikan otorisasi, dan siapa yang benar-benar menghapus rekomendasi keselamatan dari laporan final.
Hendra menutup map itu.
“Saya akan meminta bagian arsip memeriksa asal dokumen ini. Tidak seorang pun boleh mengubah atau membuangnya sebelum pemeriksaan selesai.”
Arga mengangguk.
“Dan kita harus mencatat siapa yang menemukannya serta di mana dokumen itu disimpan.”
Hendra menatap Arga dengan serius.
“Saya akan memastikan itu dilakukan.”
Untuk pertama kalinya, Hendra tidak lagi tampak seperti pengusaha yang ingin menjauh dari persoalan lama. Ia tampak seperti seseorang yang baru menyadari bahwa sebuah keputusan yang pernah ia tinjau mungkin tidak sesederhana yang selama ini ia percaya.
Malam itu, Arga kembali ke penginapan dan langsung menghubungi Nadia.
Ia menceritakan pertemuannya dengan Hendra, pengakuan mengenai keanggotaan komite audit, dan penemuan dokumen CC-117B.
Nadia mendengarkan tanpa menyela.
“Kalau catatan itu autentik, kita akhirnya memiliki hubungan yang lebih jelas antara dokumen revisi dan komite audit,” katanya.
“Namun, kita tetap belum tahu siapa yang meminta perubahan.”
“Benar. Dan kita perlu memverifikasi apakah Gunawan benar-benar ketua komite pada saat itu.”
“Besok aku akan menghubunginya melalui jalur yang bisa dicatat.”
Nadia mengangguk.
“Jangan mengirim dokumen yang baru ditemukan kepada nomor anonim atau pihak yang belum terverifikasi. Kita perlu menjaga salinannya.”
Arga setuju.
Setelah panggilan berakhir, ia membuka kembali foto yang dikirimkan kepadanya malam sebelumnya.
Hendra Mahardika ternyata memang pernah berada dalam komite audit. Namun, dokumen yang baru ditemukan menunjukkan bahwa ketua komite saat itu adalah Gunawan Wiratama.
Artinya, seseorang mungkin telah memilih nama Hendra untuk mengalihkan perhatian dari Gunawan.
Atau mungkin ada lebih dari satu pihak yang memiliki peran dalam keputusan tersebut.
Arga baru saja hendak menutup laptop ketika sebuah surel masuk.
Pengirimnya menggunakan alamat yang tampak seperti alamat resmi perusahaan, tetapi domainnya tidak sepenuhnya cocok dengan alamat perusahaan yang diketahui Arga.
Ia tidak membuka lampiran apa pun. Ia hanya membaca pratinjau pesannya.
Arga Pratama, kau sudah menemukan dokumen CC-117B. Sekarang kau perlu mengetahui mengapa Gunawan tidak pernah menyerahkan laporan keselamatan asli kepada komite.
Arga mengerutkan kening.
Pesan itu berlanjut.
Jangan mencari Gunawan di kantornya. Cari arsip proyek yang dipindahkan setelah ARX-9 dihentikan.
Tidak ada tanda tangan.
Tidak ada nama pengirim yang dapat diverifikasi.
Namun, di bagian bawah surel tercantum sebuah alamat lokasi penyimpanan arsip lama milik perusahaan pemasok komponen.
Arga mencatat alamat tersebut, lalu mengirimkan salinan surel kepada Nadia untuk diperiksa.
Ia tidak akan mendatangi lokasi itu hanya berdasarkan pesan anonim. Mereka perlu memverifikasi keberadaan tempat tersebut, pemiliknya, dan apakah arsip yang dimaksud dapat diperiksa melalui jalur resmi.
Tetapi satu hal telah berubah.
Penyelidikan mereka tidak lagi hanya berpusat pada siapa yang menandatangani laporan final.
Kini, mereka harus mencari tahu ke mana laporan keselamatan asli dipindahkan setelah proyek ARX-9 dihentikan.
Dan jika laporan itu masih tersimpan, mungkin di dalamnya terdapat jawaban yang telah dicari Arga selama lima tahun.
Jawaban yang bisa membersihkan namanya.
Atau mengungkap bahwa orang yang selama ini ia anggap sebagai sekutu ternyata memiliki rahasia yang jauh lebih besar.
Bersambung.