NovelToon NovelToon
Yan Kai

Yan Kai

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: DANTE-KUN

Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.

Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Hari-hari Yan Kai di Hutan Larangan pun mulai berubah menjadi sebuah rutinitas yang tidak pernah terputus. Setiap malam, ketika cahaya bulan mulai menyinari hutan yang sunyi, ia akan duduk bersila di depan gua kecilnya.

Teknik Kultivasi Bulan Purnama terus berputar tanpa henti, menyerap energi spiritual alam yang berpadu dengan kekuatan kegelapan di dalam tubuhnya. Setiap malam, fondasi kultivasinya menjadi semakin kokoh.

Ketika fajar tiba, Yan Kai akan memulai hari dengan berburu hewan liar untuk mengisi perutnya—rusa, kelinci hutan, babi hutan, apa pun yang dapat dimakan akan menjadi sumber makanannya.

Setelah itu, barulah ia memasuki bagian terdalam Hutan Larangan untuk mencari Binatang Iblis yang sesuai dengan kekuatannya.

Pada awalnya, ia hanya berani menghadapi Binatang Iblis Tingkat 2. Setiap pertarungan selalu menjadi pertaruhan nyawa. Berkali-kali tubuhnya dipenuhi luka, berkali-kali ia hampir kehilangan nyawa. Namun setiap kemenangan memberinya sebuah Inti Jiwa, yang kemudian ia gunakan untuk mempercepat kultivasinya.

Seiring berjalannya waktu, Teknik Pedang Bayangan yang ia temukan di dalam Cincin Ruang juga mulai menunjukkan hasil. Setelah berbulan-bulan berlatih tanpa mengenal lelah, gerakan pedangnya menjadi semakin cepat dan sulit ditebak.

Meski belum mencapai tingkat mahir, teknik itu telah menjadi senjata utama Yan Kai saat menghadapi Binatang Iblis.

Hari demi hari berlalu, musim berganti. Pepohonan yang sempat meranggas kembali dipenuhi dedaunan hijau. Hujan deras datang silih berganti, kemudian berganti lagi dengan musim kemarau yang panjang.

Sementara itu, Yan Kai terus tumbuh. Dari seorang pemuda yang dahulu selalu dipenuhi luka dan hinaan, kini ia menjelma menjadi seorang kultivator yang tangguh.

Perawakannya menjadi lebih tegap, wajahnya semakin dewasa, tatapan matanya jauh lebih tenang dan tajam. Jubah hitam yang dahulu masih tampak kebesaran kini terasa pas melekat di tubuhnya.

Selama satu tahun penuh, hampir tidak ada satu hari pun yang ia sia-siakan. Siang bertarung, malam berkultivasi. Terluka, sembuh, lalu bertarung kembali. Siklus itu terus berulang tanpa henti.

Dan hasil dari kerja keras tersebut akhirnya mulai terlihat. Dari Ranah Pengumpulan Qi Tahap Puncak, ia berhasil menerobos menuju Ranah Pembangunan Fondasi Tahap Awal. Beberapa bulan kemudian, ia kembali menembus Tahap Menengah. Lalu Tahap Puncak.

Hingga akhirnya, tepat satu tahun setelah dirinya diasingkan ke Hutan Larangan, di bawah cahaya bulan purnama yang menggantung tinggi di langit, aura spiritual yang luar biasa tiba-tiba meledak dari tubuh Yan Kai.

Boom!

Gelombang energi menyapu pepohonan di sekitarnya. Daun-daun berguguran, sementara hembusan angin memenuhi seluruh lembah. Qi di dalam dantiannya berubah menjadi jauh lebih padat dan stabil. Fondasi spiritualnya akhirnya mencapai tingkat yang sempurna.

Yan Kai perlahan membuka matanya. Napasnya terasa panjang dan tenang. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Akhirnya... Ranah Pembangunan Fondasi Tahap Puncak."

Dalam waktu satu tahun, ia telah melompati satu ranah besar dan mencapai puncak ranah berikutnya. Kecepatan kultivasi seperti itu, apabila diketahui dunia luar, pasti akan mengguncang seluruh dunia kultivasi.

Namun tidak ada seorang pun yang menyaksikannya. Hanya Hutan Larangan yang menjadi saksi bisu perjalanan tersebut.

Kini, usia Yan Kai juga telah menginjak sembilan belas tahun. Selama setahun hidup di hutan itu, ia tidak hanya memperoleh kekuatan. Ia juga mempelajari hampir seluruh wilayah Hutan Larangan—setiap sungai, setiap lembah, setiap wilayah Binatang Iblis.

Bahkan daerah-daerah yang harus dihindari telah ia tandai di dalam ingatannya. Setelah berkali-kali menjelajahi berbagai penjuru hutan, Yan Kai akhirnya berhasil menyusun gambaran kasar mengenai wilayah tersebut. Ia bahkan mulai mengetahui arah yang kemungkinan besar mengarah ke pintu keluar Hutan Larangan.

Yan Kai berdiri di atas sebuah tebing tinggi sambil memandang hamparan hutan yang terbentang luas di hadapannya. Angin malam berembus pelan, mengibaskan jubah hitamnya. Tatapannya perlahan mengarah ke sisi timur laut.

"Itu... seharusnya jalan keluarnya."

Setahun yang lalu, ia dipaksa memasuki Hutan Larangan sebagai seorang pelayan yang lemah dan tidak berdaya. Namun kini, ia memiliki keyakinan bahwa dirinya telah cukup kuat untuk kembali menginjakkan kaki di dunia luar.

Dan kali ini, tidak lagi sebagai Yan Kai, pelayan yang selalu dihina semua orang.

...

Keesokan paginya, setelah memastikan seluruh barang miliknya telah tersimpan rapi di dalam Cincin Ruang, Yan Kai berdiri di depan gua yang selama satu tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya.

Tatapannya perlahan menyapu sekeliling. Tempat itu telah menjadi saksi bagaimana dirinya bertahan hidup, berkultivasi, dan tumbuh menjadi jauh lebih kuat.

Ia menghela napas pelan. "Terima kasih..."

Meski hanya sebuah gua sederhana, tempat itu telah menyelamatkan hidupnya berkali-kali. Tanpa menoleh lagi, Yan Kai mulai melangkah mengikuti arah yang selama ini ia yakini sebagai jalan keluar dari Hutan Larangan.

Perjalanannya berlangsung cukup lama. Ia melewati lembah-lembah yang telah begitu dikenalnya, menyeberangi sungai berbatu, dan berjalan menembus hutan lebat tanpa sedikit pun keraguan. Kini ia telah menghafal sebagian besar wilayah Hutan Larangan, dan setiap langkahnya dipenuhi keyakinan.

Waktu terus berlalu. Matahari perlahan naik semakin tinggi. Tiba-tiba, pepohonan di hadapannya mulai berkurang. Kabut yang selama ini menyelimuti hutan perlahan menghilang. Yan Kai mempercepat langkahnya.

Beberapa saat kemudian, matanya membelalak. Di hadapannya terbentang sebuah dataran luas yang disinari cahaya matahari. Langit biru yang selama ini tertutup oleh kanopi pepohonan akhirnya kembali terlihat. Embusan angin yang hangat menerpa wajahnya.

Yan Kai berdiri mematung selama beberapa saat. Lalu senyum lebar perlahan muncul di wajahnya.

"Aku... berhasil keluar."

Untuk pertama kalinya setelah satu tahun hidup di Hutan Larangan, ia kembali melihat dunia luar. Perasaan yang selama ini ia pendam akhirnya meledak menjadi kebahagiaan. Tanpa mampu menahannya lagi, Yan Kai tertawa pelan, lalu mulai berlari. Semakin lama semakin cepat.

Ia berlari melintasi padang rumput luas, menjauh dari mulut Hutan Larangan seolah ingin meninggalkan seluruh kenangan pahit yang pernah dialaminya di tempat itu. Angin menerpa wajahnya, jubah hitamnya berkibar mengikuti langkahnya. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun, ia merasa benar-benar bebas.

Setelah berlari cukup jauh, Yan Kai akhirnya memperlambat langkahnya. Di depan sana tampak sebuah jalan setapak yang biasa dilalui para pedagang dan pengelana. Ia mengikuti jalan tersebut.

Tidak lama kemudian, di kejauhan mulai tampak tembok batu yang menjulang tinggi. Di balik tembok itu terlihat deretan bangunan serta asap yang mengepul dari berbagai penjuru. Di atas gerbang kota terpahat tiga huruf besar.

Kota Batu.

Yan Kai memandang kota itu dengan mata berbinar. "Jadi... inilah kota terdekat." Sudah satu tahun lamanya ia tidak melihat keramaian manusia. Hanya dengan melihat kota dari kejauhan saja, hatinya sudah dipenuhi rasa hangat.

Namun sebelum melangkah lebih jauh, Yan Kai teringat sesuatu. Ia segera mengirimkan kesadarannya ke dalam Cincin Ruang. Di salah satu sudut masih tersimpan sebuah kantong kulit kecil. Ketika dibuka, di dalamnya terdapat tumpukan koin emas yang berkilau.

Yan Kai menghitungnya secara singkat. "Seratus koin emas..." Jumlah itu bukanlah sedikit. Menurut pengetahuan yang ia miliki, satu koin emas setara dengan seratus koin perak, sedangkan satu koin perak bernilai seratus koin tembaga. Dengan uang sebanyak itu, ia tidak perlu mengkhawatirkan biaya hidupnya untuk sementara waktu.

Yan Kai pun kembali melanjutkan perjalanan menuju gerbang kota. Semakin dekat, ia melihat cukup banyak orang keluar masuk Kota Batu. Para pedagang membawa kereta penuh barang dagangan, para pemburu memikul hasil buruan mereka, sementara beberapa kultivator tampak berjalan dengan pakaian yang menunjukkan identitas masing-masing.

Di depan gerbang, beberapa penjaga kota sedang melakukan pemeriksaan terhadap setiap orang yang hendak masuk. Sesekali mereka meminta biaya masuk, lalu mempersilakan orang tersebut melanjutkan perjalanan.

Melihat pemandangan itu, Yan Kai tidak merasa khawatir. Biaya masuk kota biasanya hanya beberapa keping koin perak. Dengan seratus koin emas yang dimilikinya, jumlah itu sama sekali bukan masalah.

Ia menarik napas panjang, lalu berjalan dengan tenang menuju gerbang Kota Batu. Setelah membayar biaya masuk kepada para penjaga, Yan Kai akhirnya melangkahkan kaki melewati gerbang batu yang menjulang tinggi.

Suara para pedagang yang menawarkan dagangan, tawa anak-anak yang berlarian, aroma makanan hangat dari berbagai kedai, serta hiruk-pikuk kehidupan kota langsung menyambutnya.

Yan Kai berhenti sejenak di tengah jalan utama, tatapannya menyapu keramaian di sekelilingnya. Sudah satu tahun lamanya ia hidup ditemani kesunyian Hutan Larangan. Kini, ia akhirnya kembali menginjakkan kaki di dunia manusia.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Anna
aku suka cerita nya mudahan ada lanjutannya
kay
semangat rhor💪 izin promosi🙏saya buat novel juga kalo tertarik mampir aja
Dante-Kun
👍🤲
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
Riski Kurniawan
Very Nice Thor..
BOIEL-POINT .........
very very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very very very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
yos helmi
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!