Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Bukti
Malam belum sepenuhnya meninggalkan Istana Weishan ketika kabut tipis merayap di sepanjang atap-atap istana, menyelimuti bangunan megah itu dengan warna kelabu yang menyerupai kain kafan. Lentera-lentera merah masih bergoyang di bawah tepian genting berukir naga, sementara angin dingin menyusup melalui celah jendela, membawa aroma dupa yang bercampur dengan bau tanah basah. Di kejauhan, lonceng istana berdentang tiga kali, suaranya menggema panjang di antara lorong-lorong batu yang sunyi.
Namun, ketenangan pagi itu hanyalah selubung tipis yang menutupi kebusukan di balik dinding kekuasaan.
Di Paviliun Fengyi, tempat Permaisuri Wang Laoyin menjalani pengurungan sementara, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada malam sebelumnya. Tirai sutra berwarna keemasan tergantung muram di sisi ranjang. Seprai yang telah ternoda darah sudah diganti oleh para pelayan atas perintah pengawal, tetapi bayangan tubuh Shen Rui yang terbujur kaku di sampingnya masih melekat di benak Wang Laoyin, seperti lukisan mengerikan yang dibakar dengan tinta hitam ke dalam ingatannya.
Ia duduk tegak di tepi ranjang, mengenakan jubah dalam berwarna putih gading. Rambut hitamnya yang panjang terurai hingga pinggang, hanya sebagian diikat dengan pita sederhana. Wajahnya masih menyimpan kecantikan yang anggun dan agung, tetapi sepasang matanya yang jernih kini memancarkan kelelahan, kemarahan, dan kewaspadaan seekor burung phoenix yang sayapnya baru saja dipatahkan.
Wang Laoyin bukan perempuan yang mudah gentar. Sejak kecil, ia dididik untuk memahami tata krama istana, membaca watak manusia dari gerak mata, dan menjaga martabatnya bahkan ketika seluruh dunia berusaha menjatuhkannya. Ia mengetahui bahwa di dalam istana, sebilah pedang tidak selalu menjadi senjata paling mematikan. Terkadang, selembar kertas jauh lebih tajam daripada seribu pedang, sebab pedang hanya dapat merenggut nyawa, sedangkan kebohongan mampu membunuh kehormatan seseorang di hadapan seluruh negeri.
Pagi itu, ia belum mengetahui seberapa dalam jurang yang telah digali untuk menelannya.
Pintu Paviliun Fengyi terbuka dengan suara berderit.
Seorang kasim masuk, membungkuk dengan gerakan kaku, lalu berkata, “Hamba menyampaikan titah Raja. Permaisuri diperintahkan menghadap ke Aula Qinzheng untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.”
Wang Laoyin mengangkat wajah, berusaha bersikap tenang.
“Pemeriksaan lanjutan?” ulangnya perlahan. “Apakah pemeriksaan terhadap kematian Shen Rui belum cukup? Atau sekarang mereka hendak menemukan dosa lain yang bahkan tidak pernah kulakukan?”
Kasim itu menundukkan kepala semakin dalam. Bibirnya bergetar, tetapi ia tidak berani menjawab.
Wang Laoyin berdiri. Ia merapikan lengan jubahnya, kemudian mengambil jubah luar berwarna merah tua dengan sulaman burung phoenix emas di bagian bahu. Ia mengenakannya tanpa bantuan siapa pun. Gerakannya tenang, nyaris anggun, seolah-olah ia bukan seorang perempuan yang sedang diseret menuju pengadilan, melainkan penguasa yang hendak memasuki aula untuk menerima penghormatan.
“Baiklah,” katanya sambil mengangkat dagunya.
“Antarkan aku kepada Raja.” Lanjutnya sambil mengibaskan perlahan lengan jubahnya.
Ia melangkah keluar dari paviliun dengan dagu terangkat. Dua baris pengawal berdiri di sepanjang tangga batu, tombak mereka tegak seperti hutan besi. Beberapa pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepala. Sebagian menatapnya diam-diam, lalu cepat-cepat memalingkan wajah seolah-olah sekadar melihat sang Permaisuri pun dapat mendatangkan bencana. Wang Laoyin melihat semuanya.
Ia melihat ketakutan, rasa ingin tahu, dan penghinaan yang mulai tumbuh di mata orang-orang yang dahulu berlutut menyambut kedatangannya. Bahkan sebelum sebuah keputusan dijatuhkan, namanya telah mulai diseret ke dalam lumpur oleh bisik-bisik yang tidak berani diucapkan dengan suara lantang.
Ia menggenggam ujung lengan jubahnya.Siapa pun yang menyiapkan semua ini, aku akan menemukanmu.
Namun, di balik keberanian yang ia tunjukkan, sebuah firasat buruk perlahan tumbuh di dalam dadanya. Ia merasa bahwa kematian Shen Rui hanyalah pintu pertama dari sebuah lorong panjang yang dipenuhi perangkap. Dan kini, seseorang telah menyiapkan perangkap berikutnya.
Aula Qinzheng merupakan salah satu bangunan paling megah di Istana Weishan, atapnya bertingkat tiga, dihiasi ukiran naga emas yang melingkar pada tiang-tiang penyangga berwarna merah darah. Lantai marmer putih memantulkan cahaya dari puluhan lentera kristal, sementara sebuah singgasana kayu cendana hitam berdiri di atas panggung tinggi, dinaungi tirai sutra kuning keemasan yang hanya boleh digunakan oleh raja.
Di balik singgasana, terbentang lukisan pegunungan berselimut awan. Pada bagian tengah lukisan itu, seekor naga biru digambarkan terbang menembus badai, melambangkan kekuasaan Raja Han Quan atas langit dan bumi.
Namun, hari itu, tidak ada keagungan yang mampu mengusir hawa dingin dari aula tersebut. Raja Han Quan duduk di singgasana. Wajahnya keras, alisnya berkerut, dan jemarinya mengetuk sandaran kursi dengan irama yang tidak teratur. Ia mengenakan jubah kerajaan berwarna hitam kebiruan dengan sulaman naga emas di dada. Di usianya yang matang, ia masih memiliki wibawa seorang penguasa yang terbiasa membuat para pejabat gemetar hanya dengan satu tatapan.
Di sebelah kanan singgasana berdiri beberapa pejabat tinggi. Di sebelah kiri, para pengawal kerajaan berjajar tanpa suara. Pejabat Qian Bei berada di antara para pejabat tersebut. Ia mengenakan jubah resmi berwarna biru gelap, dengan ikat pinggang berornamen giok dan topi pejabat yang terpasang sempurna di kepalanya. Wajahnya tampak tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menyaksikan kehancuran rumah tangga kerajaan. Ia memiliki sepasang mata yang kecil dan tajam, mata seorang lelaki yang terbiasa menyembunyikan niat di balik kata-kata penuh kesetiaan. Pejabat Qian Bei, adalah penasehat raja, dia adalah teman belajar sang raja pada saat menjadi putra mahkota. Ketika Wang Laoyin memasuki aula, Qian Bei segera membungkuk, penghormatan yang sedikit berlebihan.
“Salam kepada Permaisuri.”
Ucapannya terdengar sopan, tetapi Wang Laoyin menangkap sesuatu yang ganjil pada sudut bibirnya. Ada bayangan kepuasan yang sangat tipis, begitu tipis hingga mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Namun, Wang Laoyin bukan orang lain. Ia mengingat tatapan itu. Dan untuk pertama kalinya, nama Qian Bei muncul dalam benaknya sebagai kemungkinan yang tidak boleh diabaikan.
“Bangkitlah,” ujar Raja An Quan dengan suara berat.
Wang Laoyin berhenti di tengah aula, lalu membungkuk sesuai tata krama. “Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia.”
“Kemarin malam, seorang pengawal ditemukan tewas di kamar tidurmu.” Raja menatapnya lurus-lurus, ucapan itu terasa bernada penuh jijik saat di ucapkan dengan nada sinis oleh seorang raja.
“Pagi ini, penyelidikan menemukan sesuatu yang mungkin menjelaskan hubungan kalian.”
Jantung Wang Laoyin berdegup lebih keras.
“Hubungan kami?” Ia mengangkat wajah, tidak terima.
“Yang Mulia, Shen Rui adalah pengawal pribadi yang ditugaskan menjaga keamanan Paviliun Fengyi. Jika ia berada di dekat kamar hamba, itu merupakan bagian dari tugasnya. Hamba tidak memahami apa yang Yang Mulia maksud dengan hubungan kami.”
Raja Han Quan tidak segera menjawab. Ia memberi isyarat kepada Qian Bei.
Pejabat itu maju tiga langkah, lalu mengeluarkan sebuah amplop dari balik jubahnya. Amplop tersebut berwarna putih kekuningan, terbuat dari kertas halus yang biasa digunakan untuk surat pribadi kalangan bangsawan. Segelnya telah terbuka. Pada permukaannya terdapat noda kemerahan yang tampak seperti bekas lilin.
“Yang Mulia,” kata Qian Bei, “dalam pemeriksaan terhadap barang-barang milik Shen Rui, para penyelidik menemukan surat ini. Isinya menunjukkan adanya hubungan pribadi antara pengawal tersebut dan Permaisuri.”
Suasana aula seketika berubah.
(Bersambung ya, jangan lupa supportnya vote, like dan komen🥰 Lap yuuuu all )