Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang makan
Setelah dicari ke mana-mana, Aira akhirnya menemukan suaminya di halaman. Ternyata Devan sedang bersama Pak Bambang. Dari kejauhan, Aira menangkap basah Devan yang tengah menyodorkan sebuah amplop tebal ke tangan ayahnya.
"Bapak, Mas Devan..." panggil Aira menghampiri.
Pak Bambang yang sering sakit-sakitan itu memang terbiasa jalan pagi berputar di sekitar rumah. Sementara Devan sudah tampil begitu rapi, siap berangkat kerja.
"Sudah, Pak. Terima saja, ini khusus buat Bapak." desak Devan lembut tapi tegas saat Pak Bambang mencoba menolak.
"Tapi... uangnya lebih baik kasih ke Aira saja buat ditabung, Nak." saran Pak Bambang tak enak hati.
"Nggak perlu, Pak. Buat istriku tercinta sudah ada porsinya sendiri." sahut Devan santai sambil tersenyum tipis.
Aira sampai melongo. "Mas Devan kasih uang ke Bapak?"
Aira makin bingung. Kemarin suaminya baru saja memberi uang sejuta, sekarang malah bagi-bagi amplop lagi ke Bapak. Uang dari mana coba? *Apa Mas Devan habis gajian, terus uang kemarin itu murni dari tabungannya?* batin Aira menerka-nerka.
"Terima saja, Pak. Buat pegangan Bapak, siapa tahu nanti mau beli sesuatu yang disuka." kekeh Aira akhirnya, membuat Pak Bambang tak enak hati kalau menolak lagi.
"Ya sudah, terima kasih banyak ya, Nak Devan. Bapak terima uangnya, semoga rezeki kalian makin berlimpah." doa Pak Bambang tulus, yang langsung diaminkan serentak oleh Aira dan Devan.
Hati Pak Bambang luluh dan terharu. Baru kali ini dia merasakan perhatian yang begitu tulus dari seorang menantu. Anak dan menantunya yang lain? Boro-boro! Jangan harap ada yang sepeduli Devan dan Aira.
"Sayang..." panggil Devan tiba-tiba.
Suara berat itu langsung sukses membuat Aira merinding manis. Pipinya mendadak panas. Biasanya Devan memanggilnya 'Dek', tapi kenapa pagi-pagi begini tiba-tiba panggil 'Sayang'?
"Kayak lebih enak dipanggil 'Sayang' deh." goda Devan dengan tatapan mata yang bikin jantung Aira berdegup kencang tak karuan.
*Aduh, makin meleleh aku! Dulu Bagas jangankan seistimewa ini, manggil nama aja ketus. Beneran deh, si Bagas itu fix nggak pernah tulus cinta sama aku.* maki Aira dalam hati saat teringat mantan pacarnya yang kepergok selingkuh dengan adiknya sendiri.
"Bo... boleh, terserah Mas Devan aja." jawab Aira gugup, padahal dalam hati sudah melayang-layang kegirangan.
Tanpa peringatan, Devan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan amplop cokelat tebal, lalu menyodorkannya tepat ke jemari Aira.
"Sayang, ini ada pegangan buat kamu. Pakai buat kebutuhan kamu, ya. Katanya Ibu minta uang belanja? Kasih pakai uang ini. Terus sisanya kamu pakai buat beli baju baru, makeup, atau apa pun yang kamu mau. Jangan cuma disimpen atau ditabung terus." bisik Devan lembut.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak..."
"Masa cuma terima kasih aja?" protes Devan dengan nada menuntut, matanya menatap lekat bibir Aira.
Dahi Aira berkerut polos. "Lalu... harus gimana lagi?"
"Kasih kiss dong." bisiknya tepat di samping telinga Aira, membuat bulu kuduk Aira berdiri serentak.
*Blush!* Wajah Aira seketika merah padam sampai ke leher. Dia sama sekali tak menyangka kuli bangunan yang baru dinikahinya ini bisa seberani dan semanis ini saat meminta jatah ciuman pagi!
"Kok malah melamun? Nggak mau, nih?" bisik Devan lagi, makin mendekatkan wajahnya.
Dengan napas tersendak dan rasa malu luar biasa, Aira berjinjit kecil hendak mendaratkan kecupan di pipi suaminya. Namun belum sempat bibirnya menempel, jemari kekar Devan justru sudah mencengkeram pinggang Aira, menarik tubuhnya makin merapat, dan langsung membungkam bibir Aira dengan lumatannya yang dalam dan menuntut.
"Mmph..." Aira hampir kehilangan pijakan, mencengkeram dada Devan karena keterkejutan dan sensasi panas yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
Setelah melepas ciumannya yang menyisakan napas terengah-engah dari Aira, Devan mengusap bibir Aira yang basah dengan ibu jarinya.
"Aku berangkat dulu, ya. Nanti malam mungkin aku pulang agak telat, atau malah nggak pulang sama sekali karena harus lembur." pamit Devan santai.
"Kamu... kamu nggak sarapan dulu, Mas?" tanya Aira terbata-bata, berusaha menguasai detak jantungnya yang masih maraton.
"Nggak usah, Sayang. Aku buru-buru." jawabnya sembari mengacak rambut Aira gemas sebelum melangkah pergi.
Sepeninggal Devan, Aira berdiri terpaku sambil menatap amplop tebal di tangannya. Rasa penasaran mulai menggerogoti pikirannya.
*Ini tebal banget... Isinya uang dua ribuan sama lima ribuan kali ya? Eh, tapi masa iya gaji kuli dikasih pecahan receh sebanyak ini di dalam amplop?*
Begitu amplop itu dibuka, lutut Aira mendadak lemas. Tangannya gemetaran hebat. Di dalam amplop itu bertengger segepok uang kertas merah pecahan seratus ribu yang masih licin dan gress!
"Se... seratus ribu? Ini... sepuluh juta?!" pekik Aira tertahan.
Seumur hidupnya, jangankan memegang uang cash sepuluh juta, melihat bentuknya di depan mata saja Aira belum pernah!
"Beneran sepuluh juta?! Dapet uang dari mana Mas Devan sebanyak ini? Memangnya gaji kuli bangunan bisa melimpah gini?" gumam Aira penuh tanya dan kepanikan. Pikiran buruk mulai membayanginya, ia takut suaminya terjerumus ke hal-hal yang tidak benar.
Tanpa pikir panjang, Aira merogoh ponselnya dan langsung menelepon Devan. Dia butuh penjelasan sekarang juga!
Namun, panggilannya malah ditolak mentah-mentah. "Lho, kok malah di-reject?!"
*Ting!* Sebuah pesan singkat masuk dari Devan.
*‘Kenapa menelepon, Sayang? Aku sedang ada pertemuan penting. Nanti aku hubungi lagi setelah pertemuannya selesai, ya.’*
Aira tertegun membaca pesan itu. Dahinya berkerut dalam. Sejak kapan kuli bangunan punya agenda 'pertemuan penting'?
"Sejak kapan kuli bangunan meeting segala? Pertemuan penting apaan coba? Nggak masuk akal banget!" Aira mengacak rambutnya frustrasi. Di kepalanya, yang namanya kuli bangunan itu ya ngeruk pasir dan megang cetok adukan semen di proyek, bukan sibuk menghadiri rapat!
Karena perutnya sudah makin keroncongan, Aira memutuskan untuk masa bodoh dulu dan berjalan ke dapur. Namun baru saja tangannya menyentuh piring, sebuah tangan secara kasar merebut piring itu dari genggamannya.
"Mau ngapain kamu pegang-pegang piring?!" bentak Bu Ismi galak.
"Ya mau sarapan lah, Bu. Aira lapar." jawab Aira mengelus dadanya yang kaget.
"Enak aja mau sarapan! Kerja aja belum, sudah sok-sokan mau makan!" omel Bu Ismi tanpa belas kasihan.
"Aira lapar banget, Bu. Aira makan sebentar, habis ini langsung beres-beres rumah kok."
"Nggak ada! Sebelum rumah ini bersih, nggak ada makanan buat kamu!" cetus Bu Ismi menohok.
Napas Aira tertahan. "Ya ampun, Bu! Karin, Mbak Siska, sama Mas Beni dari tadi makan santai-santai aja, kenapa cuma Aira yang harus kerja dulu baru boleh makan?!"
"Ya bedalah! Mas Beni itu menantu yang ngasih uang belanja ke Ibu paling banyak! Nggak kayak kamu, udah numpang tinggal gratis di sini, nggak ada kontribusinya, terus seenaknya mau makan masakan Ibu! Kalau mau makan, beli sendiri sana!" amuk Bu Ismi pedas.
Aira menggigit bibirnya, matanya mendadak panas menahan tangis. Perlakuan ibunya benar-benar keterlaluan. Siska dan Beni diperlakukan bak raja karena punya uang, sedangkan Karin yang hampir tak pernah ngasih uang sepeser pun tetap dimanja dengan alasan mau menikah dan butuh banyak biaya. Hanya Aira yang selalu disudutkan dan diperlakukan bak pembantu!
Tiba-tiba Aira teringat uang tebal yang ada di kamarnya. Keningnya menyengit, emosinya membumbung. *Oke! Kalau Ibu nggak boleh makan di sini, aku bisa beli sendiri!* Aira sudah lama mendambakan bakso urat dan sate bumbu kacang, tapi tak pernah kesampaian. Hari ini dia akan memanjakan dirinya sendiri.
"Mendingan kerjain tuh cucian piring ketimbang banyak gaya. Emangnya Mbak Aira punya duit buat jajan di luar? Sok-sokan!" celetuk Karin yang tiba-tiba melintas sambil tersenyum mengejek.
"Iya, apa salahnya sih bantuin orang tua? Lagian kamu kan cuma pengangguran di rumah ini. Beda sama Mbak sama Karin yang harus berangkat kerja!" imbuh Siska ikut-ikutan menyindir pedas.
Tanpa sudi meladeni mulut beracun saudara-saudaranya, Aira memutar badan dan langsung menuju kamarnya. Cih! Siapa juga yang tiap hari menyapu, mengepel, dan mencuci pakaian mereka sampai bersih kalau bukan dirinya? Dasar tidak tahu diri!
Tak lama kemudian, Aira kembali ke rumah membawa bungkusan makanan. Dia sengaja membeli bakso urat jumbo dan sate dengan bumbu kacang yang baunya menyengat gurih. Tanpa ragu, Aira membuka bungkusan itu tepat di meja makan dan menyantapnya dengan sangat nikmat.
"Kamu ini ya! Malah enak-enakan beli makanan mahal di luar!" semprot Bu Ismi yang mendadak muncul dengan wajah merah padam. "Kalau punya duit itu mending dikasihkan ke Ibu buat belanja! Jangan cuma bisanya numpang hidup dan makan gratis di sini! Kamu itu sudah menikah, jangan bertingkah kayak masih lajang!"
Telinga Aira rasanya mau pecah. Sejak menikah, Ibunya mendadak amnesia dan terus-menerus menyindir tempat tinggal dan uang belanja.
Karena sudah benar-benar muak dan kesal setengah mati, Aira langsung merogoh kantongnya, mengambil lembaran uang bernilai satu juta rupiah, lalu menampar kenyataan itu dengan melemparkan uangnya ke atas meja tepat di hadapan ibunya.
"Nih! Uang belanja dari Mas Devan!" tegas Aira dengan nada dingin.
Seketika, mulut tajam Bu Ismi bungkam total. Matanya melotot menatap lembaran uang satu juta yang masih tergeletak di meja.
"N-nah... gitu dong!" gagap Bu Ismi berusaha menutupi kekagetannya sambil dengan cepat menyambar uang itu. "Ngerti diri kalau ikut makan di rumah. Tapi kamu juga jangan hambur-hamburkan uang begitu cuma buat gaya-gayaan beli makan di luar!"
Aira menatap ibunya dengan pandangan nanar. "Aira itu lapar, Bu! Beli makan di luar diomelin, mau makan masakan rumah dilarang. Kenapa di mata Ibu, Aira selalu salah?!"
Tanpa menunggu balasan ibunya lagi, Aira langsung bangkit, membereskan bungkus makanannya, dan berjalan cepat menuju kamar lalu menguncinya dari dalam.
Dadanya naik turun menahan emosi. Rasanya enggan sekali keluar untuk menyentuh sapu atau cucian baju hari ini. Biarkan saja rumah ini berantakan! Aira ingin melihat, sampai sejauh mana mereka bisa bertahan kalau pembantu gratisan di rumah ini mendadak mogok kerja!
*(Bersambung)*