Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 35. MALADEWA
Ternyata suara pilot tadi hanya candaan kecil. Ia sebenarnya hendak memberitahu bahwa cuaca di sepanjang penerbangan cukup cerah dan perjalanan diperkirakan lancar.
Alessia menghela napas lega.
“Jangan pernah bercanda seperti itu lagi,” gerutunya kepada Vellano.
Vellano tertawa. “Kamu yang terlalu mudah panik.”
“Karena kamu yang membuatku panik!”
Jet pribadi mereka kemudian lepas landas. Interiornya begitu mewah dan nyaman, lengkap dengan kursi luas yang bisa direbahkan, ruang makan kecil, serta tempat tidur yang membuat perjalanan panjang terasa seperti berada di hotel pribadi.
Penerbangan menuju Maladewa memakan waktu sekitar delapan setengah jam.
Awalnya Alessia dan Vellano menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bercanda. Sesekali Vellano menggoda istrinya, membuat Alessia memukul lengannya dengan bantal.
Namun beberapa jam kemudian, Alessia mulai mengantuk.
Ia tertidur.
Bangun.
Makan.
Lalu tidur lagi.
Vellano sampai memperhatikannya sambil tersenyum.
“Kamu seperti beruang yang sedang hibernasi.”
Alessia yang masih setengah mengantuk membuka mata.
“Aku dengar.”
Vellano tertawa. “Tidur saja.”
Beberapa menit kemudian Alessia kembali tertidur.
Vellano hanya menggeleng sambil tersenyum. Melihat istrinya begitu nyaman membuat perjalanan panjang itu terasa singkat.
Setelah delapan setengah jam, akhirnya pesawat mendarat di bandara internasional Maladewa.
Begitu keluar dari pesawat, udara hangat langsung menyambut mereka.
Alessia tersenyum lebar.
“Vellano… kita benar-benar sampai.”
Vellano menggenggam tangannya.
“Selamat datang di bulan madu kita.”
Mereka kemudian menuju resort mewah di tepi laut. Vila mereka berdiri langsung di atas perairan biru jernih, dikelilingi pasir putih dan pemandangan laut yang hampir tidak berujung.
Alessia terdiam beberapa saat melihat pemandangan itu.
“Indah sekali…”
Vellano menatap laut, lalu beralih kepadanya.
“Aku lebih suka melihat reaksimu.”
Alessia tersenyum malu.
Namun ketika mereka baru melangkah menuju vila, Vellano tiba-tiba berhenti.
“Ada satu aturan.”
Alessia menoleh curiga.
“Aturan apa?”
Vellano tersenyum.
“Selama di sini, tidak boleh membahas pekerjaan.”
Alessia tertawa.
“Kalau begitu, kamu juga tidak boleh menjadi CEO.”
Vellano mengangkat kedua tangan.
“Deal.”
Mereka pun masuk ke vila, tanpa mengetahui bahwa bulan madu mereka ternyata akan membawa lebih banyak kejutan daripada yang mereka bayangkan.
......................
Malam mulai turun di Maladewa. Setelah beristirahat sejenak, Alessia dan Vellano mengganti pakaian mereka dengan pakaian santai. Tidak ada jas, tidak ada gaun mewah, dan tidak ada urusan perusahaan malam itu.
Begitu keluar dari kamar, mereka mendapati meja makan di vila sudah dipenuhi berbagai hidangan mewah. Lampu-lampu hangat menyala di sekitar ruangan, sementara suara ombak terdengar lembut dari luar.
Alessia langsung berhenti melangkah.
Matanya berbinar melihat meja yang penuh makanan.
“Vellano…”
“Apa?”
“Ini semua untuk kita?”
Vellano tersenyum. “Tentu.”
Alessia mendekati meja seperti anak kecil melihat hadiah.
Ada steak panggang dengan saus khusus, seafood segar, pasta, berbagai salad, sup, roti hangat, hingga hidangan penutup yang tersusun cantik. Aroma makanan memenuhi ruangan.
“Aku bingung harus mulai dari mana.”
Vellano tertawa. “Katanya tadi kamu mau menjaga pola makan.”
Alessia langsung menoleh. “Itu sebelum aku melihat semua ini.”
Vellano menggeleng geli.
“Keras kepala.”
Alessia mengambil garpu. “Aku menyebutnya menikmati hidup.”
Mereka kemudian duduk berhadapan dan mulai makan. Sesekali Alessia menyuapkan makanan kepada Vellano, dan Vellano membalasnya dengan sengaja mengambil makanan dari piring istrinya.
“Hei! Itu punyaku.”
“Kita suami istri.”
“Bukan berarti makananku jadi milikmu.”
Vellano tertawa.
Di tengah suara ombak dan cahaya malam yang lembut, keduanya menikmati makan malam pertama mereka di Maladewa—jauh dari keluarga, pekerjaan, dan segala drama yang selama ini memenuhi hidup mereka.
Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar memiliki waktu hanya untuk berdua.
......................
Setelah makan malam, Alessia dan Vellano menikmati malam dengan berenang sebentar. Tak lama kemudian, mereka berendam bersama di bathtub berisi air hangat. Suasana menjadi semakin romantis ketika keduanya saling mendekat, tertawa kecil, lalu berbagi ciuman lembut.
Entah siapa yang memulai, mereka kini hanya saling menatap dengan senyum malu.
Vellano tiba-tiba berkata dengan wajah serius, “Menurutku kita sebaiknya pindah ke tempat yang lebih nyaman.”
Alessia langsung menatapnya curiga. “Kenapa?”
Vellano tersenyum jahil. “Orang tua kita sudah terlalu sering membahas soal cucu.”
Wajah Alessia seketika memerah.
“Vellano!”
Vellano tertawa puas melihat reaksinya.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan bathrobe, Alessia baru saja hendak berjalan menuju kamar ketika Vellano tiba-tiba mengangkat tubuhnya dalam bridal style.
“Vellano!”
“Kenapa?”
“Aku bisa jalan sendiri!”
“Aku tahu.”
“Lalu turunkan aku!”
“Tidak mau.”
Alessia menutupi wajahnya karena malu. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika Vellano membawanya menuju kamar.
Malam pertama bulan madu mereka baru saja dimulai.
......................
Setelah makan malam, Alessia dan Vellano menikmati malam dengan berenang sebentar. Tak lama kemudian, mereka berendam bersama di bathtub berisi air hangat. Suasana menjadi semakin romantis ketika keduanya saling mendekat, tertawa kecil, lalu berbagi ciuman lembut.
Entah siapa yang memulai, mereka kini hanya saling menatap dengan senyum malu.
Vellano tiba-tiba berkata dengan wajah serius, “Menurutku kita sebaiknya pindah ke tempat yang lebih nyaman.”
Alessia langsung menatapnya curiga. “Kenapa?”
Vellano tersenyum jahil. “Orang tua kita sudah terlalu sering membahas soal cucu.”
Wajah Alessia seketika memerah.
“Vellano!”
Vellano tertawa puas melihat reaksinya.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan bathrobe, Alessia baru saja hendak berjalan menuju kamar ketika Vellano tiba-tiba mengangkat tubuhnya dalam bridal style.
“Vellano!”
“Kenapa?”
“Aku bisa jalan sendiri!”
“Aku tahu.”
“Lalu turunkan aku!”
“Tidak mau.”
Alessia menutupi wajahnya karena malu. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika Vellano membawanya menuju kamar.
Malam pertama bulan madu mereka baru saja dimulai......
...****************...
Oke author gantung dulu ya ceritanya 😂