Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ada yang hilang
Sean menatap jauh ke halaman yang ditumbuhi bermacam-macam bunga hias mahal, koleksi dari ibu tirinya.
Sejak dirinya tiba, laki-laki itu memang di minta, oh tidak, diwajibkan tinggal dirumah kediaman Wijayakusuma di Toronto, Kanada.
Selain aset-asetnya yang masih dibekukan oleh Danu, sang papa, Sean memang masih dalam kontrol dari seorang dokter yang merawatnya.
"Sean, mau sampai kapan kamu akan mengurung diri dikamar?" seru Maggi, adik tirinya dari ambang pintu kamar.
Sean hanya melirik sekilas tentu dengan tatapan dingin menusuk.
Tapi sepertinya Maggi tak terpengaruh sama sekali.
Ia sudah amat sangat terbiasa dengan sikap kakaknya itu.
"Papa memintamu turun untuk makan malam" ucap Maggi lagi.
"Kalian makan saja, saya tidak lapar!" dingin dan ketus pastinya.
Maggi mengedikkan bahu, dan berlalu dengan cuek.
Sean melirik dengan ujung matanya dan kembali fokus pada layar ponselnya.
Sudah lebih dari tiga bulan, nomor Kemala tak bisa dihubungi meskipun dia sudah melakukan berbagai cara.
"Apakah kamu baik-baik saja Kemala?"
"Dimanapun kamu berada, saya harap kamu akan selalu bahagia.."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, mana kakakmu?" tanya Anita begitu melihat putrinya turun dari lantai dua seorang diri.
"Mom.. Dad, dia tidak akan turun. Kita makan saja" ujar Maggi menyeruput air minumnya.
Anita dan Danu saling pandang.
Danu mengetatkan rahang.
"Honey, biarkan saja... Mungkin dia butuh waktu... Nanti saya akan minta Jesi untuk menghangatkan makanannya..." cegah Anita ketika suaminya hendak bangkit menghampiri Sean.
"Mau sampai kapan dia akan terus begini dan mengacuhkan kamu? Dia harus menghormatimu!" seru Danu emosi.
"Tidak apa honey... Saya maklum... Saya bukan ibu kandungnya, jangan dipaksakan"
"Kamu memang bukan ibu kandungnya tapi kamu istri saya. Sean harusnya tetap menaruh hormat padamu dan menyayangi Maggi karena dia putri kandung saya... Lagipula, ini sudah tujuh belas tahun, apa memang harus selama itu...!" suara Danu terdengar keras dan lantang.
"Jika memang tidak suka, kenapa papa harus terus memaksa saya...! Mau tujuh belas tahun atau lebih, seumur hidup, saya tidak akan pernah menerima perempuan yang mengakibatkan ibu saya menderita lalu bunuh diri...!" ucap Sean yang rupanya sudah berdiri di tangga.
"Lancang kamu Sean!!" hardik Danu.
Anita terlihat cemas dan mencoba menenangkan suaminya.
Sean memandang penuh amarah yang memuncak. Dadanya naik turun karena emosi.
"Papa mau saya bagaimana? Apakah saya harus menyayangi perempuan yang diam-diam papa sembunyikan dari kami? Atau papa mau saya berlutut dan merentangkan tangan dan memeluk perempuan yang secara tidak langsung adalah penyebab kematian mama? Begitu yang papa mau?"
Bughhh....
Sebuah pukulan mendarat di rahang Sean hingga menyebabkan sudut bibirnya berd*rah.
Sean mengusapnya dengan ibu jari lalu menyeringai.
"Papa pikir, dengan memukul saya, dosa-dosa kalian akan terampuni? Mau papa bun*h saya pun, Tuhan tidak akan mengampuni dosa kalian!" ucapnya dingin.
Maggi nampak ketakutan dan berusaha menahan tangisnya.
Dia memang tahu jika Sean membencinya namun tidak tahu jika penyebabnya adalah ibunya sendiri.
Airmata jatuh dipipinya.
"Maggi..." seru Anita berusaha menahan putrinya yang berlari ke kamar.
"Mas... Saya mohon, berdamailah dengan putramu lalu biarkan kami pergi...Saya tidak sanggup melihat kalian terus bertengkar" pinta Anita memohon pada suaminya.
"Kamu bicara apa Anita...?"
Sean memutar bola matanya, terlalu muak dengan drama perempuan tertindas yang terus menerus dimainkan oleh ibu sambungnya itu.
"Saya tidak perduli dengan drama kalian.. Jika mau rumah ini damai, maka kembalikan semua milik saya. Buku tabungan, atm dan paspor. Saya akan pergi dari sini..." sela Sean.
"Jika kamu pergi dari rumah ini, maka kamu bukan lagi bagian dari Wijayakusuma!" ucap Danu berang.
"Baik, tidak masalah... Justru itu lebih bagus.." ucap Sean menantang balik.
Danu beranjak kekamarnya dan tak lama, dia melemperkan clutch ke atas meja.
"Semuanya ada disana... Dan begitu kamu keluar dari rumah ini, maka apapun yang terjadi padamu bukan lagi tanggung jawab saya.. Mulai detik ini, saya Danu Wijayakusuma bukan lagi papamu!"
Sean tersenyum miring.
"It's okey... Lagipula, sejak kapan papa mulai mengkhawatirkan saya...? Bukankah selama ini papa hanya sibuk dengan putri kalian saja... "
Danu lagi-lagi mengepalkan tinjunya.
Sean selalu bisa memancing emosinya.
Sean meraih clutch tersebut dan mengecek isinya satu-persatu dan meninggalkan Danu berserta Anita diruang makan.
Tak lama setelahnya, Sean telah turun dengan sebuah koper besar lalu berjalan keluar rumah tanpa menyapa Danu yang hanya berdiri memandang di kejauhan.
Baginya, Danu sudah bukan papanya lagi sejak dia tahu bahwa papanya sendirilah yang jadi racun dalam hidupnya dan juga mendiang sang ibu.
Decit ban mobil sport mengisi kesunyian malam dikawasan perumahan elit keluarga Wijayakusuma.
Sean kini telah benar-benar melepaskan kehidupannya dan juga nama Wijayakusuma.
Dari arah jendela, Maggi menatap kepergian sang kakak dengan deraian airmata.
Ada rasa sesak dalam dadanya apalagi ketika dirinya mengetahui kebenaran yang selama belasan tahun disembunyikan oleh kedua orangtuanya.
"I'm sorry Sean, I didn't know you had been suffering because of mom's actions."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mesin mobil menderu kencang membelah jalanan yang mulai sepi. Sean menekan pedal gas lebih dalam, matanya menatap lurus ke depan meski pikirannya masih kalut. Pikirannya hanya satu, pergi dari sini secepat mungkin.
Sesampainya di depan rumah sahabatnya, ia memarkirkan kendaraannya dengan tergesa-gesa.
"Sean..?" Erik tentu kaget dengan kedatangan Sean yang mendadak.
"Saya titip mobil... Jika harganya cocok, kamu bisa menjualnya" ucap Sean sembari mengeluarkan koper besarnya.
Kening Erik mengerut.
"Kamu bertengkar lagi dan pak Danu?" tebaknya yang disahut gumaman oleh Sean.
"Kamu mau kemana?"
"Indonesian, tanah kelahiranku..."
"What do you want to do in Indonesia?"
"Workshop, maybe"
Erik menghela nafas panjang.
"Ya... Lakukan apa yang menurut mu baik... Jika ada kabar baik, saya akan mengabarimu.." ujar Erik menepuk bahu Sean.
Tanpa banyak bicara lagi, Sean segera pamit dengan Erik karena taksi yang akan mengantarnya ke bandara telah tiba di luar pagar rumah Erik.
"Good luck bro..." seru Erik sedikit berteriak yang dibalas acungan jempol dari Sean.
Tadi, sebelum dirinya sampai ke rumah Erik, Sean telah memesan sebuah tiket penerbangan menuju Jakarta dan hanya ada satu kursi kosong di bagian kelas ekonomi.
Tak apa pikir Sean. Yang penting, dia segera meninggalkan negara itu dan semua yang membuat hatinya sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan itu terasa tak berujung.
Duduk di kursi pesawat selama berjam-jam, Sean menatap keluar jendela yang memantulkan cahaya kabin yang redup.
Hampir 20 jam perjalanan dengan satu kali transit, membuat seluruh tulang rasanya terasa kaku dan berat. Matanya terasa perih karena kurang tidur, namun pikirannya tak pernah benar-benar tenang untuk bisa terlelap nyenyak.
Setiap jam yang berlalu terasa seperti selamanya.
Rasa bosan, lelah fisik, dan kekacauan perasaannya setelah pertengkaran dengan ayahnya menyatu, membuat perjalanan ini terasa jauh lebih berat dari yang sebenarnya.
Ia hanya ingin segera mendarat, menapakkan kaki di tanah Jakarta, tempat di mana ia merasa bisa bernapas lebih lega.
Saat pesawat akhirnya menurunkan ketinggian dan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta mulai terlihat dari ketinggian, Sean menghela napas panjang.
Badannya lelah luar biasa, tapi untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu, hatinya terasa sedikit lebih tenang.
Ia sudah sampai.
Dan mulai detik ini, dirinya bukan lagi seorang Wijayakusuma tapi Arkatama.
Nama tengah pemberian mendiang ibunya yang sempat dihapus oleh Danu disetiap kartu identitasnya. Dan kini nama itu akan dia pakai sebagai identitas baru dengan kehidupan yang baru pula.
Sean menarik sudut bibirnya.
"Ma... Sean pulang... Dan kali ini bukan untuk pergi lagi, atau rehabilitasi. Tetapi untuk memulai hidup baru dengan masa depan yang lebih tenang seperti keinginan mama..."
"Tolong doakan Sean dari atas sana ya ma..."
bersambung....