Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagar yang Tidak Bisa Dibuka
Fajar menyentuh kaca-kaca Mahendra Tower saat mobil Alyssa meluncur masuk ke jalur lobi. Matanya perih. Blazer yang ia pakai sudah diganti, tapi bau antiseptik rumah sakit masih menempel di rambutnya.
Hendri duduk di sampingnya, memegang map berisi cetakan log administrator. Di kursi depan, Kompol Dimas dari reserse siber memeriksa tabletnya sebentar lalu menoleh.
"Nona, pimpinan komisaris tiba di gedung dua puluh menit lalu," katanya. "Bapak Bram Mahendra."
"Rapat darurat dewan komisaris," lanjut Hendri pelan. "Jam delapan. Agendanya satu: menonaktifkan Nona sebagai direktur utama, dengan alasan keamanan gedung. Dia memakai insiden semalam sebagai bahan."
"Insiden yang dia sendiri atur." Alyssa menatap pantulan gedung di kaca mobil. "Vito sudah di rumah sakit?"
"Menjaga ruangan Pak Devan. Sepuluh pengawal bergantian di lorong."
Alyssa mengangguk. Ia tidak mau meninggalkan Devan. Tapi seseorang menunggu di lantai atas dengan senyum yang sudah dipelajari bertahun-tahun, dan ia tidak akan membiarkan orang itu menentukan pagi ini.
***
Lobi lantai dasar penuh orang. Karyawan berseragam berdiri berkelompok di dekat pintu putar, berbisik, memegang ponsel. Beberapa wartawan sudah menunggu di balik tali pembatas.
Di depan lift eksekutif, empat petugas keamanan gedung berdiri melebar seperti pagar. Di tengah mereka, Bram Mahendra, dalam setelan abu rapi dan tongkat pendek di tangan kiri, menyambutnya dengan senyum seperti paman yang sedang menyambut keponakan.
"Alyssa. Aku turun supaya kamu tidak perlu repot naik sendirian."
"Minggir, Paman."
"Tentu." Bram tidak bergerak. "Tapi dulu dengarkan. Setelah kejadian semalam, dewan khawatir. Ada penyusup masuk penthouse. Ada tembakan di rumah sakit. Orang-orang bertanya apakah kamu masih bisa melindungi perusahaan ini."
"Atau apakah kamu yang membuat semuanya terjadi?" Suaranya tidak naik, tapi lobi mendadak senyap.
Senyum Bram tidak goyah. "Hati-hati dengan tuduhan."
"Saya tidak menuduh. Saya hanya bertanya." Alyssa melangkah dua tindak ke depan, tepat di antara dua petugas keamanan. "Atas perintah siapa lift eksekutif ditutup pagi ini?"
Petugas di kiri melirik Bram. Tidak ada yang menjawab.
Alyssa menoleh pada petugas itu dengan tatapan yang membuatnya mundur selangkah.
"Saya direktur utama gedung ini. Buka."
Tidak ada gerakan. Lalu Kompol Dimas melangkah maju, menunjukkan lencana dan sebuah surat dari Polda Metro Jaya.
"Kami membawa surat penggeledahan lantai lima puluh dan penyitaan perangkat di dalamnya. Tolong minggir, Bapak-bapak."
Petugas keamanan itu saling pandang, lalu perlahan membuka barisan.
***
Ruang rapat dewan di lantai empat puluh lima, meja oval sepanjang delapan meter, dan tujuh komisaris yang sudah duduk dengan wajah gelisah. Komisaris Pramono menunduk melihat map di depannya, tidak mengangkat kepala saat Alyssa masuk.
Bram masuk di belakang dan mengambil kursi di ujung meja, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Saudara-saudara, kita mulai," ucapnya halus. "Alyssa datang dengan tamu, tapi karena beliau pimpinan, biarlah ia bicara dulu."
Alyssa tidak duduk. Ia menempelkan map berisi cetakan log ke tengah meja.
"Pukul satu dini hari kemarin, seseorang menyalin kartu akses lantai lima puluh saya, menyusup ke ruang kerja saya, dan memasang penyadap relai di bawah meja saya. Alat itu dipakai untuk mengarahkan penculik yang menyandera saya satu lantai di bawahnya. Salinan kartu itu dibuat dari data master yang diperbarui tiga hari lalu."
Ia membuka halaman terakhir. Satu baris dicetak tebal.
"Pembaruan itu dilakukan dengan akun administrator atas nama B.M."
Hening.
Hendri melangkah maju dan menyerahkan lembar kedua, bukti riwayat login yang ia amankan dari server. Kompol Dimas berdiri di belakang Alyssa, tabletnya menyala.
Bram memandang kertas itu sebentar, lalu tertawa kecil.
"Alyssa, akun itu milikku, ya. Seluruh dewan tahu aku administrator sistem keamanan. Tapi apa kamu pikir aku sebodoh itu menaruh namaku sendiri di jejak kejahatan?"
"Saya tidak berpikir Paman bodoh." Alyssa menatapnya lurus. "Saya hanya berpikir Paman sudah terlalu lama nyaman."
Satu komisaris menarik napas tajam.
"Dan log ini bukan satu-satunya." Hendri membuka tablet. "Akun yang sama mengakses rekaman kamera lantai empat puluh sembilan tepat sebelum padam, dari komputer di ruang kerja Pak Bram sendiri."
Bram berhenti tersenyum.
Untuk pertama kali sejak Alyssa mengenalnya, topeng paman itu retak, hanya sedetik, dan di baliknya ada sesuatu yang dingin dan perhitungan.
"Kompol," katanya akhirnya, suara tidak lagi ramah. "Ini jebakan. Seseorang meretas akunku."
"Itu bisa dijelaskan di kantor, Pak," jawab Kompol Dimas. "Anda kami mintai keterangan sekarang."
***
Dua polisi mengapit Bram. Ia berdiri perlahan, merapikan jasnya, dan tidak melawan. Saat melewati Alyssa, ia berhenti satu langkah di depannya.
"Kamu menang satu hal pagi ini, Keponakan," bisiknya, hanya untuk telinga Alyssa. "Kamu bisa menyelamatkan perusahaan ini. Tapi kamu tidak akan pernah bisa menyelamatkan suamimu."
Darah Alyssa seperti turun ke kaki. "Apa maksud Paman?"
Bram tersenyum, dan ini senyum yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Sudah ada yang bekerja di Jakarta sejak tadi malam. Aku hanya tidak perlu ada di sana."
Ia dibawa keluar. Komisaris Pramono masih menunduk. Tidak ada yang berani bicara.
Ponsel di saku blazer Alyssa bergetar. Bukan getar pesan biasa, tapi nada darurat yang ia pasang khusus untuk satu kontak.
Vito.
Ia menggeser layar. Wajah Vito muncul, berkeringat, di tengah sirene medis yang memenuhi latar belakang.
"Nona!" Suaranya pecah. "Seseorang menyusup ke ruang isolasi lewat jalur servis. Panel pusat oksigen dikunci dari luar. Tabung cadangan diganti dengan tabung kosong!"
"Devan?" Suara Alyssa tidak keluar seperti yang ia mau.
"Saturasinya jatuh sampai nol! Dokter Arman sedang pompa manual!" Vito menelan ludah, dan di belakangnya terdengar teriakan perawat. "Nona... jantungnya berhenti. Garis di monitornya lurus!"
Ruang rapat mendadak jauh, seperti dilihat dari dalam air.
Bram. Dua polisi baru saja mengawalnya keluar dari gedung ini.
Berarti bukan Bram yang menekan tombol itu.
Alyssa berlari.
.....
.....
Bersambung.