Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Pintu kayu Bilik Nomor Empat Belas berderit pelan saat dibuka, menyebarkan aroma kayu pinus tua dan hawa sejuk yang mengalir dari lantai batu di bawahnya.
Di luar teras, kerumunan murid luar yang tadi menonton pertarungan antara Qin Mu dan Fang Lie sudah mulai membubarkan diri. Sebelum pergi untuk mengantarkan bakpao ke asrama barat, He Bao menyerahkan kembali sepasang sarung Bilah Kembar Taring Hantu kepada Qin Mu dengan kedua tangan penuh hormat, sementara Liu Shan sempat berbisik di depan pintu.
"Saudara Qin, meskipun kau sudah memenangkan bilik ini dengan kepalan tanganmu, ingatlah satu hal," ujar Liu Shan sambil melirik ke arah puncak-puncak gunung di kejauhan. "Di Sekte Awan Langit, jatah makan dan tempat tinggal dasar memang tidak dipungut biaya di bulan pertama. Tapi kalau kau ingin menukar pil pemurnian Qi, meminjam tungku di Puncak Seribu Tungku, atau masuk ke lantai atas Puncak Kitab Langit, semuanya membutuhkan kontribusi dari misi sekte. Kalau kau butuh petunjuk jalan atau ingin menukar barang hasil buruan, cari saja aku di Paviliun Murid!"
Qin Mu mengangguk singkat sebagai tanda terima kasih, lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Kamar itu jauh lebih luas dan kokoh dibandingkan gubuk kayu di Lembah Murid Baru Akademi Kekaisaran. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang batu giok kasar yang permukaannya hangat. Tepat di bawah ranjang batu itulah cabang kecil dari urat spiritual gunung mengalir, memancarkan kabut tipis energi murni yang membuat setiap tarikan napas terasa menyegarkan meridian.
Qin Mu tidak langsung beristirahat.
Ia berjalan memeriksa setiap sudut ruangan dan celah jendela untuk memastikan tidak ada lubang pengintaian. Setelah yakin tempat itu aman, ia duduk di tepi ranjang batu dan mengeluarkan Kantung Penyimpan milik Wei Tian serta Diaken Ma yang sempat ia sembunyikan di balik pakaian dalamnya sebelum jatuh pingsan di Cangzhou.
Di dalam kantung peninggalan Wei Tian, selain pakaian mewah dan beberapa gulungan teknik pedang tingkat rendah milik Klan Wei yang tidak berguna baginya, terdapat delapan belas keping Batu Roh Tingkat Menengah dan lebih dari tiga ratus keping Batu Roh Tingkat Rendah.
Ditambah dengan sisa perbekalannya, kekayaan Qin Mu saat ini masih sangat melimpah untuk ukuran seorang praktisi Qi Gathering.
Namun yang membuat tatapan mata Qin Mu meredup dingin bukanlah tumpukan Batu Roh tersebut, melainkan ingatan tentang bagaimana dua keping Jimat Pelindung Tingkat Roh miliknya hancur seperti kertas rapuh ketika dihantam oleh telapak tangan Qi Cair milik Su Kuang dan Tetua Sekte Bayangan Darah.
"Di ranah Qi Gathering, aku bisa membunuh mereka yang berada di puncak ranah yang sama," gumam Qin Mu pelan sambil menatap telapak tangannya sendiri yang kini telah sembuh. "Tapi di hadapan Foundation Establishment, semua trik tingkat satu tidak ada artinya. Aku harus segera mencapai Puncak Qi Gathering dan membangun fondasi keabadianku sendiri."
Dan selain mengejar kekuatan, ada dua utang informasi yang terus membayangi kepalanya sejak malam pengorbanan Gu Shanyin dan Penatua Luo di saluran pembuangan Kota Linlang:
Qin Long dari Klan Qin. Yan Ruo dari Klan Yan.
Di kota perbatasan kecil seperti Linlang atau di Gerbang Luar Akademi Kekaisaran, mustahil menemukan catatan kuno tentang klan-klan tersembunyi di benua ini. Namun di sini di Sekte Awan Langit yang telah berdiri selama ratusan tahun dan memiliki perpustakaan raksasa di Puncak Kitab Langit pasti ada jejak sejarah yang tercatat!
Qin Mu mengetukkan tumitnya ke lantai batu.
Bayangan hitam di bawah kakinya bergelombang dan berdiri tegak menjadi wujud Klone Bayangan. Setelah ikut beristirahat selama tiga hari di dalam bayangan tubuh aslinya yang direndam cairan obat Mu Qinghe, aura Klone Bayangan itu kini telah pulih sepenuhnya di Tahap Awal Qi Gathering.
Qin Mu menyerahkan sepuluh keping Batu Roh Tingkat Menengah, Tungku Alkimia Perunggu Hitam, serta gulungan warisan Penatua Luo kepada klonenya.
"Tetaplah di dalam kamar ini," perintah Qin Mu kepada bayangannya sendiri. "Serap energi dari urat spiritual di bawah ranjang batu dan Batu Roh ini tanpa henti, serta lanjutkan mempelajari diagram Formasi Tingkat Dua dari catatan Luo Tua. Jika ada orang yang mengetuk pintu saat aku pergi, jangan buka."
Klone Bayangan itu mengangguk patuh, lalu duduk bersila di atas ranjang batu giok dan mulai menarik napas meditasi, sementara tubuh asli Qin Mu merapikan jubah biru keabu-abuannya, menyembunyikan Bilah Kembar Taring Hantu di balik jubahnya, lalu melangkah keluar dari kamar melalui pintu depan.
Satu tubuh bermeditasi menyerap Qi dan menghafal formasi di dalam kamar, sementara satu tubuh lagi berjalan mencari informasi di luar. Dengan cara ini, bahkan ketika ia sedang berjalan kaki sekalipun, kultivasinya tetap bergerak maju setiap detiknya!
Jalan batu yang menghubungkan Puncak Murid dengan Puncak Kitab Langit membentang melewati lereng berhutan bambu hijau yang tenang.
Di sepanjang tepian jalan setapak itu, terdapat beberapa pelataran batu kecil tempat para murid luar yang memilih jalur pendukung sedang menyelesaikan tugas harian mereka sebelum tengah hari.
Saat Qin Mu melewati salah satu pelataran di dekat pos penjagaan jalan gunung, langkahnya sedikit melambat karena mendengar suara diskusi yang tegang.
Di bawah naungan pohon beringin tua, dua orang murid luar sedang berjongkok di depan sebuah lempengan batu bundar yang permukaannya sedang diukir dengan pena besi beraliran Qi.
Murid yang satu adalah seorang gadis muda berusia sekitar lima belas tahun dengan wajah pucat dan bahu yang sedikit meringkuk. Tangannya yang memegang pena ukir tampak bergetar halus karena gugup, dan setiap kali ada murid lain yang lewat sambil membawa pedang di pinggangnya, gadis itu tanpa sadar menarik tubuhnya menjauh (Tang Xiaoyu).
Sedangkan di sebelahnya, berjongkok seorang pemuda bertubuh ramping dengan hidung yang tampak terus mengendus udara dan sepasang mata yang sangat jeli mengamati jejak di tanah (Zhou Ping).
"Xiaoyu, tenanglah sedikit," ujar Zhou Ping dengan nada sabar sambil menyeka keringat di dahinya. "Ini piringan batu terakhir dari jatah latihan kita minggu ini. Kalau kau berhasil menyelesaikan ukiran Formasi Peringatan Angin ini sebelum siang, kita bisa menyerahkannya ke balai tugas dan mendapat sepuluh poin kontribusi."
"A-aku tahu, Kakak Zhou..." bisik Tang Xiaoyu dengan suara sangat pelan, nyaris tertelan desir angin bambu. "Tapi aliran Qi di batu ketiga ini terasa tidak stabil. Aku takut... aku takut kalau kupaksa menyambungkan garisnya, batu ini akan meledak lagi seperti kemarin."
"Coba tarik napas dulu, aku memang tidak mengerti soal garis formasi, tapi hidungku mencium bau belerang batu dari sudut kanan piringan itu mulai memanas," kata Zhou Ping sambil menunjuk ke tepi batu dengan kening berkerut.
Tang Xiaoyu menggigit bibirnya. Karena tidak ingin mengecewakan rekannya, gadis pendiam itu memaksakan ujung pena besinya untuk menarik garis rune keempat lurus ke arah titik tengah lempengan batu!
Qin Mu yang kebetulan berjalan melewati belakang mereka melirik sekilas ke arah piringan batu tersebut.
Dengan pemahaman formasi yang telah ditransfer dari Klone Bayangannya, mata Qin Mu langsung melihat letak kesalahan fatal pada pola aliran energi di batu itu. Urat alami di dalam batu yang digunakan gadis itu miring ke kiri, namun gadis itu menggambarnya sesuai buku panduan standar yang lurus!
Dalam dua detik lagi, benturan Qi di titik tengah batu itu akan meledak dan menghancurkan jari-jari gadis itu.
"Tarik garis keempat itu setengah inci ke kiri mengikuti retakan abu-abu di batunya, lalu hentikan aliran Qi-mu sebelum menyentuh lingkaran dalam," suara datar Qin Mu tiba-tiba terdengar dari belakang mereka sambil ia terus melangkah lewat tanpa berhenti. "Kalau kau meneruskannya lurus ke tengah, kamu akan kehilangan tiga jari tangan kananmu."
Tang Xiaoyu tersentak kaget mendengar suara asing yang dingin itu.
Karena terkejut namun secara refleks mengikuti instruksi yang begitu spesifik tersebut, tangan gadis itu langsung membelokkan ujung pena ukirnya setengah inci ke kiri mengikuti urat batu abu-abu, lalu menarik lepas Qi-nya tepat sebelum menyentuh lingkaran dalam!
Zing... Klik.
Cahaya perak lembut menyala dari permukaan piringan batu itu selama satu detik, lalu meredup menjadi pola Formasi Peringatan Angin yang stabil dan sempurna! Tidak ada percikan api, dan bau belerang panas yang tadi tercium langsung lenyap seketika.
Tang Xiaoyu terpaku menatap piringan batu di pangkuannya dengan mata membelalak lebar. "B-berhasil...? Hanya dengan menggesernya setengah inci mengikuti urat batu, tekanannya langsung hilang!"
Gadis itu buru-buru mendongak untuk mengucapkan terima kasih, namun pemuda berjubah murid luar yang menegurnya tadi sudah berjalan sepuluh langkah menjauhi mereka, menuju jembatan menuju Puncak Kitab Langit.
Di sebelahnya, Zhou Ping berdiri dan menatap punggung Qin Mu dengan kening berkerut tajam. Hidung pemuda dari keluarga pemburu itu mengendus udara yang ditinggalkan oleh langkah kaki Qin Mu.
"Siapa murid luar itu?" bisik Tang Xiaoyu pelan. "Apa dia senior dari Puncak Formasi Bintang yang sedang menyamar?"
"Bukan. Seragamnya masih baru dan berbau kain gudang Puncak Mata Air Kehidupan. Dia pasti Qin Mu, murid baru yang pagi ini mengalahkan Kakak Senior Fang Lie di Halaman Timur," gumam Zhou Ping dengan nada serius, matanya yang tajam tidak lepas dari punggung Qin Mu yang menjauh.
"Tapi ada yang aneh dengan orang itu, Xiaoyu," lanjut Zhou Ping pelan. "Sebagai pemburu, aku bisa mencium bau keringat, rasa gugup, atau kegembiraan dari setiap orang yang lewat di jalan ini. Tapi pemuda tadi... napasnya sama sekali tidak berbunyi, langkah kakinya tidak meninggalkan jejak berat di tanah, dan dari tubuhnya hanya tercium bau tanaman obat pahit serta besi dingin. Kalau nanti kau bertemu dengannya lagi, jangan pernah membuatnya marah."
Setelah menyeberangi jembatan batu putih yang membelah awan, Qin Mu akhirnya menginjakkan kaki di puncak keempat Sekte Awan Langit: Puncak Kitab Langit.
Berbeda dengan Puncak Murid yang riuh oleh teriakan latihan, Puncak Kitab Langit diselimuti oleh keheningan yang khidmat. Ratusan pohon bambu giok tumbuh mengelilingi sebuah bangunan pagoda kayu raksasa berlantai tujuh yang menjulang tinggi menyentuh awan. Suara gemerisik halaman kitab yang dibalik dan aroma tinta cendana kuno memenuhi udara.
Di aula depan lantai pertama pagoda tersebut, di balik sebuah meja kayu panjang yang dihiasi pot anggrek putih dan tumpukan gulungan bambu, duduk seorang wanita paruh baya berwajah lembut dan anggun.
Wanita itu mengenakan jubah putih keperakan yang bersih tanpa satu pun kerutan. Rambutnya disanggul sederhana dengan tusuk konde kayu, dan di tangannya terdapat sebilah kuas yang sedang menyalin kitab kuno dengan gerakan yang mengalir tenang bagaikan air sungai. Meskipun ia sama sekali tidak melepaskan tekanan Qi-nya, kedalaman aura dari ranah Soul Transformation Menengah miliknya membuat siapa pun yang masuk ke aula itu secara alami menurunkan suara mereka.
Tetua Bai Shuyun, Pemimpin Balai Pengajaran Sekte Awan Langit.
Ketika Qin Mu melangkah masuk dan menyerahkan lempeng kayu Murid Luar miliknya di atas meja untuk dicatat, gerakan kuas Tetua Bai Shuyun berhenti sejenak.
Sepasang mata wanita itu yang jernih dan seolah mampu membaca isi hati manusia terangkat, menatap wajah Qin Mu yang tenang dengan senyum lembut yang tipis.
"Qin Mu dari Bilik Empat Belas," ucap Tetua Bai Shuyun dengan suara yang sejuk dan menenangkan. "Tetua Mu dari Balai Alkimia baru saja mengeluh di rapat pagi tadi bahwa kau menghabiskan Cairan Sumsum Giok miliknya, dan Tetua Luo dari Balai Perang memuji kepalan tanganmu di Halaman Timur. Aku mengira kau akan langsung pergi ke Puncak Pedang Langit atau beristirahat, tidak menyangka tempat pertama yang kau datangi justru adalah perpustakaanku."
"Kepalan tangan hanya bisa mengalahkan orang yang berdiri di depan mata, Tetua," jawab Qin Mu sopan sambil membungkuk hormat, menjaga nada suaranya tetap datar. "Tanpa mengetahui peta dunia dan sejarah lawan, kepalan tangan sekeras apa pun hanya akan menabrak tembok."
Senyum di bibir Tetua Bai Shuyun sedikit melebar. Ia meletakkan kuasnya dan menatap pemuda di hadapannya dengan sorot mata yang lebih dalam.
Sebagai seseorang yang masa kecilnya hancur karena perang antarsekte dan bertahan hidup berkat membaca kitab sebelum memegang pedang, Bai Shuyun bisa melihat bayangan luka dan kebencian yang tersembunyi rapat di balik mata hitam Qin Mu yang terlalu tenang untuk anak seusianya.
"Kata-katamu benar, tapi ingatlah satu hal selama kau berada di puncak ini," ujar Tetua Bai Shuyun lembut namun tegas. "Kitab dan teknik ada untuk membuka jalan pikiran, bukan untuk memperbudak hatimu dengan beban yang belum sanggup kau pikul. Kekuatan tanpa pemahaman hanya akan menghancurkan pemiliknya sendiri."
Ia mengembalikan lempeng kayu milik Qin Mu. "Dengan lempeng Murid Luar, kau bebas membaca seluruh gulungan sejarah, geografi, dan teknik dasar di lantai satu dan lantai dua. Lantai tiga ke atas membutuhkan poin kontribusi atau status Murid Dalam. Masuklah."
"Terima kasih atas bimbingannya, Tetua."
Qin Mu mengambil lempengnya dan melangkah masuk menyusuri deretan rak kayu raksasa di lantai satu.
Ia melewati lorong bagian depan yang dipenuhi puluhan murid luar dan murid dalam yang sedang berebut mencari manual teknik pedang serta jurus tinju. Qin Mu berjalan lurus menuju bagian paling belakang lantai satu lorong Arsip Sejarah Benua, Geografi, dan Silsilah Sekte.
Lorong itu sepi dan hanya diterangi oleh batu cahaya di sudut langit-langit.
Selama dua jam penuh, Qin Mu berdiri di antara rak-rak tinggi yang berdebu, menarik satu demi satu gulungan kulit dan buku bambu yang mencatat sejarah klan-klan besar di Kerajaan Tianhe dan negara-negara tetangga di sekitarnya.
Matanya bergerak cepat memindai ribuan nama keluarga bangsawan dan sekte kultivator.
Klan Su dari Ibu Kota... Klan Wei dari perbatasan barat... Sekte Pedang Tianxuan di pegunungan utara...
Namun, kening Qin Mu perlahan berkerut dalam.
Dari puluhan gulungan sejarah kerajaan selama lima ratus tahun terakhir yang ia buka, tidak ada satu pun catatan yang menyebutkan keberadaan sebuah klan besar bernama Klan Qin maupun Klan Yan! Seolah-olah kedua klan yang melahirkan ayah dan ibunya itu sama sekali tidak berada di wilayah negara-negara fana ini, atau nama mereka berada di tingkat dunia yang bahkan tidak terjangkau oleh pencatat sejarah kerajaan biasa!
Penatua Luo pernah terkejut saat mendengar nama Klan Yan dari mulut Kekek Gu, pikir Qin Mu tajam sambil mengembalikan gulungan geografi ke rak. Dan Ayah meninggalkan Kunci Hitam Balai Penjaga Langit di bawah tanah dengan pesan agar aku tidak membuka segel kesembilan sebelum mencapai ranah Nascent Soul. Artinya, asal-usul mereka berada jauh di atas sekadar klan kerajaan.
Setelah menutup buku sejarah benua, perhatian Qin Mu beralih ke rak batu giok di sudut paling kanan lorong tersebut.
Di sana, berjajar deretan lempengan batu giok hijau tua dan buku bambu tebal yang mencatat sejarah berdirinya tempat ia berpijak saat ini: Catatan Silsilah dan Sejarah Sekte Awan Langit (Tianyun Zong).
Qin Mu ingin tahu siapa sebenarnya kakek tua berpakaian rami yang dipanggil Orang Tua Gila itu, dan seberapa besar kekuatan sekte ini dibandingkan dengan musuh-musuh di luar sana.
Ia menarik jilid utama yang mencatat daftar pemimpin dan silsilah guru-murid dari generasi ke generasi.
Di halaman pertama bagian puncak silsilah yang masih hidup, tertulis sebuah nama dengan tinta emas yang goresannya tampak liar dan tidak beraturan seolah ditulis sendiri oleh pemiliknya sambil tertawa:
Leluhur Tertinggi: Xiao Beichen (Orang Tua Gila).
Di bawah nama Xiao Beichen, terdapat jalur garis keturunan darah yang mengarah ke nama cucu kandungnya: Ketua Sekte Saat Ini — Xiao Ying, lalu turun lagi ke nama cicitnya: Xiao Mei.
Namun, ketika jari Qin Mu bergeser ke kolom sebelah kanan di bawah nama Xiao Beichen kolom yang secara khusus mencatat daftar Murid Pribadi yang pernah diterima secara langsung oleh sang Leluhur selama ratusan tahun gerakan tangan Qin Mu mendadak terhenti.
Selama beberapa generasi, kolom Murid Pribadi milik Xiao Beichen itu hampir sepenuhnya kosong karena sang Leluhur terkenal tidak pernah sudi mengajar orang lain secara resmi.
Hanya ada satu baris tempat yang pernah ditulisi di bawah kolom Murid Pribadi tersebut sekitar dua puluh tahun yang lalu.
Akan tetapi, bagian permukaan bambu giok tempat nama satu-satunya murid perempuan itu tertulis telah dicungkil dan dikerik secara paksa dengan benda tajam hingga menyisakan lubang goresan yang kasar!
Tidak ada nama. Tidak ada catatan tahun kepergian, tidak ada keterangan apakah murid itu mati atau diusir. Seluruh identitasnya telah dihapus dari katalog silsilah resmi lantai satu!
Mengapa nama satu-satunya murid pribadi Leluhur dihapus seperti ini?
Qin Mu menyipitkan matanya. Ia teringat pada perkataan Orang Tua Gila di balkon Paviliun Awan Emas sebelum dirinya pingsan tiga malam lalu ketika kakek tua itu memaki Kaisar Tian Dao melalui transmisi suara: "Kalahkan saja dulu murid perempuanku dalam seratus jurus, baru aku akan mengabulkan keinginanmu!"
Saat kakek tua itu menyebut "murid perempuannya", nada suaranya penuh dengan kebanggaan, bukan kebencian terhadap seorang pengkhianat! Jika sang Leluhur begitu membanggakan murid perempuannya itu, mengapa namanya justru dihapus dan disembunyikan dari arsip sekte?!
Rasa penasaran yang dingin mendorong Qin Mu untuk menarik sebuah gulungan tua lainnya yang terselip tepat di sebelah papan silsilah itu: Catatan Perbaikan Formasi Puncak Kitab Langit — Dua Puluh Dua Tahun Silam.
Qin Mu membuka gulungan catatan teknis yang berdebu itu. Di halaman tengahnya, terdapat gambar diagram perbaikan formasi pelindung perpustakaan yang digambar ulang oleh para tetua masa lalu.
Namun tepat di sudut bawah halaman kulit tersebut, terdapat sebaris catatan koreksi kecil yang ditulis dengan goresan kuas yang sangat rapi, tajam, dan tegas mengkritik kelemahan pada sudut diagram para tetua dan menambahkan satu simpul segel pengunci berbentuk kelopak bunga teratai terbalik untuk menstabilkan aliran energi!
Di bawah catatan koreksi kecil itu tidak ada tanda tangan nama, hanya keterangan singkat dari pengurus arsip masa lalu: (Dikoreksi oleh Murid Pribadi Puncak Terlarang).
Begitu mata hitam Qin Mu melihat bentuk simpul segel kelopak teratai terbalik pada diagram kuno itu, jantungnya mendadak berdegup kencang bagaikan dihantam palu godam!
Napas Qin Mu tertahan di tenggorokan.
Tanpa sadar, tangan kanannya langsung meraba ke bagian dadanya tepat ke arah Cincin Giok Retak peninggalan ibunya yang tergantung di lehernya!
Selama empat belas tahun ia memandangi cincin giok itu setiap malam di Desa Canglan. Di bagian dalam lingkaran Cincin Giok Retak milik ibunya itu, terdapat guratan pola pengunci kecil yang menahan aura cincin tersebut agar tidak bocor keluar... dan pola pengunci di dalam cincin ibunya itu memiliki perubahan sudut kelopak teratai terbalik yang seratus persen identik dengan goresan tangan milik Murid Pribadi Xiao Beichen di gulungan ini!
Padahal di seluruh catatan dasar formasi Penatua Luo yang telah dihafalnya, pola perubahan simpul seperti itu tidak pernah ada dalam buku panduan umum mana pun!
Pola segel yang sama dengan cincin milik Ibu...?! pikiran Qin Mu berputar cepat di tengah keheningan perpustakaan yang dingin. Apakah ini hanya kebetulan karena berasal dari aliran formasi yang sama, ataukah...
"Hei! Apa yang sedang kau lihat sampai mematung begitu?!"
Sebuah bisikan tajam tiba-tiba terdengar tepat dari balik celah rak buku di sebelah telinga kiri Qin Mu!
Qin Mu nyaris memutar sikunya untuk menghantam sosok tersebut sebelum ia menahan gerakannya sepersekian detik, mendapati wajah bulat Xiao Mei yang sudah bersih dari noda abu sedang menyembul dari balik tumpukan kitab di seberang rak!
Namun begitu mata bulat Xiao Mei turun dan melihat bahwa benda yang sedang dipegang oleh tangan kiri Qin Mu adalah Papan Silsilah Murid Pribadi Xiao Beichen yang bagian namanya telah dicungkil kasar itu, ekspresi nakal dan jahil di wajah gadis berusia dua belas tahun itu mendadak lenyap!
Wajah Xiao Mei berubah pucat dan serius. Dengan gerakan secepat kilat, tangan kecil Xiao Mei langsung melompat melewati celah rak, merebut papan silsilah itu dari tangan Qin Mu, dan memasukkannya kembali ke bagian paling dalam rak batu!
"Kau sudah bosan hidup, ya?!" bisik Xiao Mei dengan suara sangat rendah sambil menarik lengan baju Qin Mu menjauh dua langkah dari rak silsilah tersebut, matanya yang bulat melirik waspada ke arah aula depan tempat Tetua Bai Shuyun berada.
Qin Mu menatap gadis kecil di depannya dengan tatapan tenang namun menyelidik. "Ada apa dengan bagian nama yang dihapus di papan silsilah kakek buyutmu itu?"
Xiao Mei menutup mulutnya rapat-rapat selama beberapa detik, raut wajahnya menunjukkan campuran antara rasa takut dan hormat yang mendalam terhadap masa lalu keluarganya.
"Dengar baik-baik, Qin Mu," bisik Xiao Mei dengan nada paling serius yang pernah ia keluarkan sejak bertemu dengannya. "Di Sekte Awan Langit ini, aku berani mencuri anggur Kakek Buyut, berani meledakkan kebun obat Kakek Mu, dan berani menjahili para tetua. Tapi ada satu aturan mati yang bahkan ayahku sendiri sebagai Ketua Sekte tidak pernah berani melanggarnya."
Xiao Mei menatap lurus ke mata hitam Qin Mu.
"Jangan pernah menanyakan siapa nama murid perempuan yang dihapus dari papan silsilah itu di hadapan para tetua, dan terlebih lagi... jangan pernah sekalipun menyinggung soal 'Murid Pribadi Puncak Terlarang' di depan Kakek Buyut!" suara Xiao Mei bergetar pelan. "Belasan tahun lalu, sebelum aku lahir, seorang tetua pernah lancang membicarakan kepergian bibi seperguruanku itu. Hari itu, Kakek Buyut tidak tertawa. Dia menghancurkan separuh aula pertemuan Puncak Utama hanya dengan satu telapak tangan sampai seluruh gunung bergetar!"
Di balik lengan bajunya, jari-jari Qin Mu mengepal perlahan.
Belasan tahun lalu. Menghilang sebelum Xiao Mei lahir. Murid perempuan kebanggaan Orang Tua Gila yang namanya tidak boleh disebut oleh siapa pun di Sekte Awan Langit.
Usia Qin Mu saat ini adalah empat belas tahun. Waktu menghilangnya murid perempuan itu... bertepatan dengan masa sebelum dirinya dilahirkan dan ditinggalkan bersama Gu Shanyin di Desa Canglan!
Meskipun Qin Mu belum memiliki bukti kuat dan tidak tahu mengapa ibunya Yan Ruo disebut berasal dari "Klan Yan yang misterius" oleh Gu Shanyin sementara di sini terdapat jejak tekniknya sebagai murid pribadi Xiao Beichen, satu benang merah yang menggetarkan jiwa kini telah terhubung di dalam benaknya.
Orang Tua Gila itu sendiri bahkan belum tahu siapa aku sebenarnya, batin Qin Mu dengan jantung berdegup kencang, namun wajahnya dipaksa tetap sedingin batu tanpa menunjukkan perubahan emosi sedikit pun di depan Xiao Mei. Sebelum aku tahu alasan mengapa Ibu menghilang dari sekte ini dan musuh macam apa yang membuat mereka bersembunyi di Desa Canglan, aku tidak boleh membiarkan siapa pun termasuk Orang Tua Gila itu melihat Cincin Giok Retak di dadaku!
"Aku mengerti," ucap Qin Mu datar, menutup gulungan perbaikan formasi di tangannya dan mengembalikannya ke tempat semula seolah tidak menemukan apa-apa. "Aku hanya kebetulan melihat papannya rusak. Lalu untuk apa kau membuntutiku sampai ke perpustakaan ini?"
Melihat Qin Mu tidak bertanya lebih jauh soal papan silsilah itu, Xiao Mei mengembuskan napas lega dan sifat aslinya yang cerdik langsung kembali.
Gadis kecil itu menyilangkan kedua tangannya di dada sambil mengangkat dagunya. "Siapa yang membuntutimu?! Aku ke sini karena baru saja lewat di depan Paviliun Misi di kaki Puncak Pedang Langit!"
Xiao Mei mengeluarkan selembar kertas pengumuman yang baru dicabut dari papan dan menyodorkannya ke depan wajah Qin Mu.
"Tadi kau bilang tidak mau berlindung di balik namaku, kan? Kebetulan sekali! Tiga hari lagi, Balai Perang dan Balai Alkimia akan mengirim tim gabungan murid luar dan murid dalam ke Lembah Kabut Seribu Racun di perbatasan wilayah sekte untuk mengawal pengambilan Bunga Teratai Darah Es!" ujar Xiao Mei dengan mata berbinar menantang. "Kudengar imbalannya bukan cuma seratus poin kontribusi, tapi pemenang kontribusi tertinggi di misi itu berhak meminjam satu Kristal Inti Elemen dari gudang sekte dan mendapat izin masuk ke lantai tiga Puncak Kitab Langit!"
Mata hitam Qin Mu langsung menyipit tajam saat mendengar dua nama benda tersebut: Bunga Teratai Darah Es dan Kristal Inti Elemen.
Itu adalah bahan utama yang ia butuhkan untuk meracik pil penembus Puncak Qi Gathering sekaligus material lanjutan untuk memberi makan Bilah Kembar Taring Hantu miliknya!
"Tapi jangan senang dulu," Xiao Mei menyeringai lebar memperlihatkan gigi taring kecilnya. "Yang memimpin pengawalan misi itu adalah Lin Feng dan Su Lian dari Murid Dalam! Mereka paling tidak suka membawa beban yang lambat. Kalau kau memang sehebat yang kau tunjukkan di depan Fang Lie tadi pagi, berani tidak kau mendaftar ke misi itu bersamaku tanpa menggunakan nama Kakek Buyut?"
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️