NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembaran Kertas yang Menjebak

Matahari sore memancarkan sinar jingga kemerahan yang menerobos masuk melalui dinding kaca geser apartemen Green Heights Residence. Cahaya itu membias manis di atas permukaan lantai marmer yang bersih, menciptakan atmosfer hangat namun terasing di dalam unit seluas seratus dua puluh meter persegi tersebut.

Arini duduk santai di atas sofa kulit berwarna putih tulang, mengenakan gaun santai berbahan sutra tipis yang dibeli dari butik lantai bawah hotel kemarin. Di tangannya, sebuah cangkir porselen berisi teh manis hangat mengepulkan uap tipis. Ia menikmati kesendirian yang mewah itu—sesuatu yang dulu tak pernah sanggup ia khayalkan ketika masih bergelut dengan bau asap dapur kusam di rumah petak kontrakan.

Bzzzt... bzzzt...

Suara dengung bel pintu unit apartemen berbunyi dua kali dengan nada yang amat sopan dan teratur.

Arini meletakkan cangkir porselennya di atas meja kaca, lalu berdiri merapikan gaunnya sebelum melangkah menuju pintu utama. Saat ia menarik gagang pintu mahoni yang kokoh itu, seorang wanita berusia awal tiga puluhan berdiri di ambang pintu. Wanita itu mengenakan kemeja blazer hitam yang sangat rapi, rambut disanggul modern, dan memegang sebuah tas dokumen berbahan kulit sintetis berwarna hitam.

"Selamat sore, Ibu Arini," sapa wanita itu seraya membungkukkan badannya sedikit dengan senyuman profesional. "Saya Maya, sekretaris pribadi Bapak Rian Pratama."

"Oh, Mbak Maya. Silakan masuk," jawab Arini seanggun mungkin, mencoba menampilkan wibawa sebagai tuan rumah di hunian mewah tersebut.

Maya melangkah masuk dengan sopan, melepaskan sepatu hak tingginya di dekat rak khusus, lalu berjalan mengikuti Arini menuju meja makan berbahan kaca tebal di ruang tengah. Wanita itu meletakkan tas dokumennya di atas meja, lalu menarik beberapa lembar kertas bermaterai yang dijilid rapi dengan sampul plastik transparan.

"Pak Rian meminta saya untuk menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa mendampingi Ibu sore ini secara langsung," tutur Maya lembut seraya merapikan letak kacamata berbingkai tipisnya. "Beliau sedang ada pertemuan makan malam penting dengan konsorsium investor luar negeri hingga larut malam. Karena itu, beliau mengutus saya untuk menyelesaikan berkas administrasi kepunian dan fasilitasi unit ini atas nama Ibu."

Arini tersenyum bangga, dadanya membuncah oleh rasa dihargai. "Tidak apa-apa, Mbak Maya. Rian memang sangat sibuk belakangan ini. Lalu, berkas apa saja yang harus saya tanda tangani?"

Maya menggeser tiga tumpuk dokumen ke hadapan Arini. Di bagian bawah setiap dokumen, telah terpasang stempel meterai sepuluh ribu rupiah beserta ruang kosong bernamakan ARINI WULANDARI sebagai pihak kedua.

"Ini adalah dokumen verifikasi hak guna dan perjanjian jaminan administrasi hunian untuk unit Executive Suite ini, Bu," terang Maya dengan artikulasi kalimat yang sangat lancar dan fasih, gaya bicara khas seorang profesional berpengalaman. "Sesuai dengan regulasi management Green Heights Residence, setiap penghuni tetap VIP diwajibkan menyertakan spesimen tanda tangan dan fotokopi Karta Tanda Penduduk (KTP) sebagai bentuk penjaminan fasilitas pendukung—termasuk keanggotaan clubhouse, garasi khusus, dan akun transaksi layanan kamar gratis yang terhubung langsung ke rekening koran perusahaan Pak Rian."

Arini mengambil lembaran kertas tebal itu. Matanya menyapu deretan kalimat tercetak dengan huruf-huruf berukuran kecil yang memenuhi lembaran tersebut. Ada banyak istilah hukum bisnis, poin-poin klausul jaminan, serta deretan nomor pasal yang rumit dan membingungkan bagi orang awam.

Sebagai seorang wanita yang tak pernah bersentuhan dengan dunia korporat atau hukum perdata, deretan bahasa hukum di lembaran itu terlihat seperti labirin kata-kata yang membosankan. Apalagi, nama Rian Pratama dan logo perusahaannya—PT Cipta Graha Mandiri—terpampang jelas di bagian kop surat paling atas.

"Untuk apa aku membacanya rumit-rumit?" batin Arini membisikkan keangkuhannya sendiri. "Rian pria kaya raya yang mencintaiku. Tidak mungkin dia berniat jahat padaku. Ini pasti cuma formalitas biasa seperti yang Rian bilang tadi pagi."

"Ibu Arini cukup membubuhkan tanda tangan di sebelah kiri meterai pada lembar ketiga, lembar tujuh, dan lembar lampiran terakhir," petunjuk Maya seraya menyodorkan sebuah pulpen berujung emas yang sangat elegan.

Tanpa membaca klausul-klausul tersembunyi yang menyatakan bahwa nama pihak kedua secara sah dijadikan sebagai penjamin perorangan (personal guarantee) atas liabilitas dan pinjaman dana jaminan modal kerja operasional perusahaan, Arini menyambut pulpen itu.

Dengan jemari yang mantap dan senyuman kepuasan yang mengembang di bibirnya, Arini membubuhkan tanda tangannya di atas meterai-meterai tersebut. Coretan tinta hitam itu mengalir lancar, tanpa menyadari bahwa dengan setiap goresan pulpen itu, ia baru saja mengikatkan lehernya sendiri pada sebuah jerat utang beracun yang sengaja dipasang oleh Rian.

"Sudah selesai semua, Mbak Maya," ujar Arini seraya menyodorkan kembali tumpukan dokumen itu dengan gaya anggun.

Maya menerima dokumen-dokumen itu. Sepasang matanya di balik kacamata berkilat tipis menyembunyikan sebuah senyuman dingin yang sangat samar—senyuman dari seorang kaki tangan yang berhasil menjalankan tugas jebakan untuk tuannya. Maya merapikan kertas-kertas itu ke dalam tas kulitnya dengan cermat.

"Terima kasih banyak atas kerja samanya, Bu Arini," kata Maya seraya berdiri dan membungkuk hormat. "Semua fasilitas VIP Ibu sudah aktif sepenuhnya mulai malam ini. Jika Ibu membutuhkan bantuan transportasi atau belanja pribadi, Ibu tinggal menghubungi nomor saya."

"Terima kasih, Mbak Maya. Hati-hati di jalan," sahut Arini ramah.

Setelah sekretaris itu pamit dan meninggalkan apartemen, Arini berjalan menuju jendela balkon. Ia memandangi pendaran lampu kota malam hari dari ketinggian lantai dua belas dengan napas lega. Ia merasa berada di puncak dunia, dikelilingi oleh fasilitas mewah, dan dilindungi oleh pria kaya yang sangat memperhatikannya.

Arini sama sekali tak sadar, bahwa kertas yang baru saja ia tanda tangani bukanlah surat fasilitas kemewahan, melainkan awal dari gulungan benang takdir yang kelak akan menyeret hidupnya jatuh ke dasar jurang yang paling gelap.

Sementara itu, malam yang sama menyelimuti sebuah area pemukiman padat di bagian timur kota.

Di sebuah kedai kopi sederhana berbahan kayu di pinggir jalan raya yang ramai oleh hilir mudik kendaraan, Dimas duduk seorang diri di sudut ruangan dekat jendela. Di hadapannya, tersaji secangkir kopi hitam panas yang uapnya membumbung pelan, bersanding dengan sebuah buku catatan tebal bersampul kulit cokelat yang sudah agak kusam.

Di atas lembaran kertas putih buku catatan itu, Dimas sedang mengetik dan menggambar sketsa dengan pulpen hitamnya. Jemarinya yang berkapalan dan kuat bergerak teliti, merancang sketsa sistem alur kerja baru untuk efisiensi distribusi suku cadang di bengkel tempatnya bekerja.

"Dim... kamu masih di sini jam segini?"

Sebuah suara wanita yang lembut dan tenang menegurnya dari samping meja.

Dimas menengadah. Seorang wanita berusia sekitar dua puluh enam tahun berdiri di dekat mejanya, memegang nampan berisi beberapa cangkir kosong. Wanita itu mengenakan pakaian muslimah yang bersahaja—tunik kain katun warna krem dipadu dengan jilbab lebar berwarna cokelat muda yang menutupi dada. Wajahnya bersih tanpa riasan tebal, namun memancarkan kehangatan alami dan kesejukan yang menenangkan siapa saja yang memandangnya.

Dialah Sari.

Sari adalah putri tunggal dari Pak Joko, pemilik bengkel tempat Dimas bekerja. Wanita yang lulus dari jurusan akuntansi universitas negeri itu sehari-hari membantu ayahnya mengelola pembukuan keuangan bengkel dan usaha kedai kopi kecil di samping lokasi bengkel tersebut.

"Eh, Mbak Sari..." Dimas tersenyum tipis, bergegas merapikan kertas-kertasnya agar tidak mengganggu. "Iya ini, Mbak. Saya lagi merapikan rekapitulasi data barang masuk gudang untuk minggu depan, sekalian buatkan sketsa penataan rak baru supaya montir tidak kesulitan cari sparepart."

Sari melangkah mendekat, meletakkan nampan kosongnya di meja samping, lalu menatap lembar sketsa tulisan tangan Dimas dengan binar mata penuh kekaguman yang tulus. Tulisan tangan Dimas sangat rapi, dan sistem klasifikasi yang dirancangnya tampak begitu terstruktur dan efisien.

"Sketsanya rapi sekali, Mas Dimas," puji Sari tulus, suaranya halus bagaikan gerimis di musim kemarau. "Sejak Mas Dimas bantu merapikan sistem administrasi di bengkel Bapak dua bulan lalu, pembukuan keuangan kami jadi jauh lebih tertata. Bapak tadi siang dipuji oleh pemasok utama karena pembayaran dan rekap stok barang kita selalu tepat waktu."

Dimas menundukkan kepalanya sedikit, merasa agak canggung menerima pujian itu. "Ah, tidak Mbak Sari. Saya cuma berusaha menjalankan tugas sebaik mungkin. Pak Joko sudah sangat baik mau menampung dan memberi saya pekerjaan, jadi sudah kewajiban saya memberikan hasil kerja terbaik."

Sari duduk di kursi kayu di seberang meja Dimas, menatap pria di hadapannya itu dengan sorot mata yang teduh. Sebagai wanita yang sehari-hari memperhatikan lingkungan bengkel ayahnya, Sari tahu betul perjalanan pahit yang baru saja melukai hidup Dimas. Ia tahu bagaimana pria jujur dan pekerja keras ini ditinggalkan oleh istrinya demi pria kaya, dan bagaimana Dimas menghadapi kepedihan itu tanpa pernah mengucapkan sepatah kata pun sumpah serah atau umpatan keji.

Keteguhan hati, kejujuran, dan keikhlasan Dimas dalam bekerja di tengah badai ujian hidup telah menumbuhkan rasa hormat yang amat dalam di dalam dada Sari—sebuah rasa hormat yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi simpati yang hangat.

"Mas Dimas..." panggil Sari pelan, nadanya menyiratkan kepedulian yang hangat. "Jangan terlalu memaksakan diri bekerja sampai larut malam terus-menerus. Kesehatan Mas Dimas juga penting. Bapak sering bilang ke saya kalau beliau khawatir melihat Mas Dimas terlalu lelah."

Dimas menatap mata Sari yang jernih. Ada perbedaan yang sangat mencolok yang ia rasakan saat menatap mata wanita di hadapannya ini dibandingkan saat ia menatap mata Arini dulu. Di mata Arini, yang ada hanyalah tuntutan, kegelisahan, dan kehausan akan hal-hal yang belum tercapai. Namun di mata Sari, ia menemukan ketenangan, keikhlasan, dan penghargaan atas hal-hal kecil yang ia lakukan.

"Terima kasih atas perhatiannya, Mbak Sari... dan terima kasih juga untuk Pak Joko," jawab Dimas dengan tulus, sebuah senyuman hangat yang jujur akhirnya terukir di bibirnya. "Kerja keras ini bukan karena saya memaksakan diri, Mbak... tapi karena saya ingin memastikan bahwa langkah saya ke depan berdiri di atas tumpuan yang benar."

Sari tersenyum anggun, menganggukkan kepalanya memahami. "Saya percaya, Mas Dimas... pohon yang akarnya kuat ditanam dalam kejujuran dan kesabaran, tidak akan pernah tumbang walau dihantam angin kencang. Allah pasti sudah menyiapkan jalan yang jauh lebih indah di depan sana."

Malam itu, di bawah temaram lampu kedai kopi yang sederhana dan desir angin malam yang tenang, benih-benih takdir baru mulai tertanam secara perlahan. Sementara Arini di puncak lantai dua belas sedang terbuai dalam cengkeraman kemewahan semu yang menjebak, Dimas di dasar bumi sedang merajut kembali harapan hidupnya bersama orang-orang tulus yang menghargai keberadaannya.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!