NovelToon NovelToon
Balasan Untuk Keluarga Parasit Suamiku

Balasan Untuk Keluarga Parasit Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.

Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.

Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.

Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.

Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpura-pura

Akhirnya, Laras sampai di perusahaan. Ia masuk ke gedung perusahaan dengan langkah tegap dan tatapan lurus ke depan, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa gelisah yang tengah mengusik hatinya.

Setiap karyawan yang berpapasan dengannya segera menundukkan kepala sebagai tanda hormat.

"Selamat pagi, Bu Laras."

"Selamat pagi, Bu."

Laras membalas sapaan mereka dengan anggukan singkat, dan terus melangkah menuju ruangannya.

Begitu sampai, ia langsung disambut oleh tumpukan dokumen yang memenuhi meja kerja.

Ia meletakkan tas di sisi meja, melepas jas yang ia pakai lalu, mulai memeriksa satu per satu dokumen tersebut.

Untuk sementara, ia berusaha mengesampingkan rasa sakit hati, kecurigaan, dan amarah yang terus bergejolak di dalam dirinya. Ia memaksa pikirannya untuk berkonsentrasi pada pekerjaan, membaca setiap laporan dengan teliti, serta memastikan tidak ada keputusan penting yang terlewatkan.

Namun, semakin keras ia berusaha fokus, semakin sering pula bayangan pengkhianatan Robby menyelinap ke dalam pikirannya.

Wajah pria yang selama ini ia percaya sebagai pasangan hidupnya terus terbayang. Begitu juga percakapan Robby dengan Maya yang tanpa sengaja ia dengarnya.

Setiap kali mengingatnya, dada Laras kembali sesak, seolah luka yang baru saja mengering kembali terkoyak.

Laras menghembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak.

"Sudahlah, Laras. Kamu harus kuat. Jangan biarkan mereka menghancurkan hidupmu," gumamnya pada diri sendiri.

Ia membuka mata dan kembali menatap dokumen di depannya. Setidaknya, dengan menyibukkan diri, ia tidak perlu terus-menerus memikirkan pengkhianatan yang sudah menghancurkan rumah tangganya.

Sayangnya, ada satu hal yang sempat terlupakan olehnya.

Robby juga bekerja di perusahaan milik keluarganya. Jadi, menghindar seperti apapun, mereka pasti akan bertemu.

Dan, benar saja. Menjelang siang, saat Laras tengah memeriksa laporan keuangan, terdengar ketukan di pintu ruangannya.

Tok! Tok!

"Masuk," sahut Laras tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang sedang ia baca.

Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Robby yang mengenakan setelan kerja rapi. Pria itu masuk dengan santai, lalu menutup pintu di belakangnya.

Menyadari siapa yang datang, Laras mengangkat wajah. Sesaat, jantungnya berdegup lebih kencang. Namun, ia segera menyembunyikan reaksinya dan memasang ekspresi tenang.

"Ada apa, Mas?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa.

Robby berjalan mendekati meja kerja Laras. "Tadi pagi, kamu pergi ke mana?" tanyanya. "Aku mencari mu tapi, kata asisten mu, kamu belum datang."

"Oh, tadi aku ada urusan sebentar."

"Urusan apa?" Robby bertanya lagi, menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Laras menahan diri agar tidak menunjukkan rasa gugup. "Aku bertemu dengan Salsa," jawabnya berbohong.

Robby menghembuskan napas panjang, seolah jawaban itu justru mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama ingin ia bicarakan.

Pria itu kemudian berjalan memutari meja dan berdiri tepat di belakang kursi Laras. Tanpa meminta izin, ia meletakkan kedua tangan di bahu istrinya, lalu mulai memijatnya perlahan.

Tubuh Laras seketika menegang.

Sentuhan yang dulu mungkin akan membuatnya merasa nyaman, kini justru menimbulkan rasa jijik. Ia ingin menepis kedua tangan itu dan menyuruh Robby keluar dari ruangannya. Namun, ia sadar kalau dirinya tidak boleh bertindak gegabah.

"Sayang, menurutku, lebih baik kamu mengurangi waktu untuk bergaul dengan Salsa," ujar Robby.

Laras mengerutkan kening. Ia sedikit memiringkan kepala untuk menatap suaminya. "Kenapa begitu?"

Robby menghentikan pijatannya sejenak. "Ya, karena kalian sekarang sudah berbeda. Maksudku, kamu sudah berkeluarga, sedangkan Salsa masih lajang. Dia masih bisa bebas pergi ke manapun dan bersenang-senang sesuka hati."

Robby menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke sisi kepala Laras. "Aku hanya khawatir, kamu terpengaruh gaya hidupnya. Aku takut kamu jadi lebih sibuk menghabiskan waktu dengannya sampai mengabaikanku dan Bara."

Laras hampir saja tertawa mendengar alasan yang keluar dari mulut suaminya.

Sungguh ironis.

Pria yang diam-diam berselingkuh dengan wanita lain, bahkan berencana meninggalkannya setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, kini justru berpura-pura khawatir terabaikan olehnya.

Robby benar-benar pandai memainkan peran.

Tapi, Laras tidak membiarkan pikirannya terbaca dari wajahnya. Ia justru menaikkan sedikit sudut bibir, menampilkan senyum tipis yang tampak meyakinkan.

"Kamu tenang saja, Mas. Aku tidak akan seperti itu," jawabnya lembut. "Lagipula, Salsa juga sibuk bekerja. Jadi, kami tidak akan punya banyak waktu untuk bertemu."

"Oh, begitu." Robby mengangguk pelan, tampak cukup puas dengan jawaban tersebut.

Pria itu kemudian berpindah ke sisi meja dan duduk di atasnya lalu, meraih tangan Laras.

Laras langsung terdiam.

Tatapannya turun menatap jemari Robby yang menggenggam tangannya. Ada dorongan kuat untuk menarik tangannya.

Namun, sekali lagi, ia menahan diri.

Laras mengangkat wajah, lalu memaksakan diri untuk senyum.

"Ada apa, Mas?" tanyanya.

Robby mengusap punggung tangan Laras dengan ibu jarinya. "Aku mau minta maaf atas sikap Ibu padamu akhir-akhir ini."

Laras menatapnya tanpa berkata-kata.

"Aku tahu, Ibu sering memarahi mu, bahkan untuk hal-hal kecil. Aku sudah bicara dengannya supaya bersikap lebih baik padamu." Robby menggenggam tangan Laras sedikit lebih erat. "Kamu jangan terlalu memikirkan ucapannya, ya. Aku tidak ingin kamu merasa sedih karena masalah seperti itu."

Laras hampir tidak percaya mendengar ucapan tersebut.

Robby seolah-olah sedang membelanya, padahal ia tahu betul bagaimana pria itu membiarkan keluarganya memperlakukannya dengan buruk. Bahkan, pria itu sendiri sudah ikut merencanakan sesuatu yang jauh lebih kejam daripada sekadar melontarkan hinaan.

Namun, Laras memilih memainkan perannya.

Ia tersenyum tipis. "Terima kasih, Mas. Aku menghargai perhatianmu."

Robby membalas senyumnya, tampak senang karena istrinya tidak menunjukkan penolakan.

Laras kemudian menundukkan kepala sedikit. "Sebenarnya, aku juga merasa bersalah pada Ibu dan Bapak. Akhir-akhir ini, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak punya banyak waktu untuk mereka. Mungkin, karena itu Ibu merasa kesal padaku."

Robby segera menggelengkan kepala. "Sudahlah, jangan berpikir seperti itu. Kamu tidak perlu merasa bersalah."

Namun, beberapa saat kemudian, tatapan Robby beralih pada tumpukan dokumen di meja. Senyum yang semula menghiasi wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi yang lebih serius.

"Ngomong-ngomong, sampai kapan kamu akan terus sibuk seperti ini, Sayang?" tanyanya.

Laras mengikuti arah pandang suaminya, lalu kembali menatapnya.

"Maksud Mas?"

Robby menghela napas seolah prihatin melihat kesibukan istrinya.

"Lebih baik kamu segera mengambil keputusan tentang pekerjaan ini agar bisa lebih santai. Kamu juga perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk keluarga, terutama untuk Bara." Ia memiringkan kepala, menatap Laras dengan ekspresi penuh perhatian. "Kamu tidak bisa terus-menerus menghabiskan waktu di kantor. Bagaimanapun, kamu juga seorang ibu."

Laras menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menghembuskan napas panjang.

Tentu saja, ia tahu apa yang sebenarnya Robby inginkan.

Pria itu ingin dirinya berhenti mengurus perusahaan. Dengan begitu, Robby bisa memperoleh lebih banyak kesempatan untuk mengambil alih kendali perusahaan secara perlahan.

Sayangnya, ia belum berniat melepaskan tanggung jawab yang dipercayakan ibunya.

"Aku juga ingin punya lebih banyak waktu untuk keluarga, Mas," jawab Laras. "Tapi, Mama mempercayakan perusahaan ini padaku selama beliau berada di luar negeri. Mama ingin aku mengurus semuanya sampai beliau kembali. Jadi, untuk saat ini, aku belum bisa mengambil keputusan."

Senyum di wajah Robby perlahan memudar. "Oh, begitu, ya?" sahutnya.

Laras mengangguk. "Iya, Mas. Aku juga tidak bisa begitu saja meninggalkan semua tanggung jawab ini."

Robby terdiam sesaat. Ada sedikit rasa kecewa di wajahnya, meskipun ia berusaha menutupinya dengan senyum tipis.

"Ya sudah, kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu. Aku kembali ke ruanganku dulu."

Laras mengangguk ringan. "Iya, Mas."

Robby turun dari meja, lalu merapikan jasnya. Ia sempat menatap Laras dan tersenyum seolah ingin meyakinkan istrinya bahwa ia benar-benar peduli.

"Jangan terlalu lelah bekerja, Sayang. Kalau ada apa-apa, beri tahu aku."

Laras membalas senyum itu tanpa ragu. "Baik, Mas."

Puas dengan tanggapan istrinya, Robby berbalik dan berjalan menuju pintu. Ia menoleh sejenak dan tersenyum, sebelum keluar dari ruangan itu.

Laras tetap duduk diam, menatap pintu yang kini tertutup rapat.

Senyum yang sejak tadi ia pertahankan, perlahan menghilang dari wajahnya. Ia meraih tisu basah dari laci meja lalu, mengusap tangannya berulang kali, seolah ingin menghapus bekas sentuhan pria itu.

"Cih, menjijikkan," gumamnya lirih.

Laras membuang tisu tersebut ke tempat sampah, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Silakan berpura-pura menjadi suami yang baik, Robby. Dan, aku akan berpura-pura mempercayainya."

1
Fey mldn
jangan2 nama firma hukum Arras singkatan dari Aryan dan Laras 🤔🤔
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Ah, kakak ni....Janganlah bikin Aryan Malu😆
total 1 replies
Ma Em
Ayo Laras kamu hrs gercep jgn sampai Robby menguasai semua harta yg Laras punya .
Ayudya
ayo Laras buat keluarga Robby menderita🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
bagus Laras lebih cepat kamu cerai dari Robby itu lebih bagus kamu harus tegas dan badas biar Robby dan keluarga tau siapa laras🤣🤣🤣🤣🤣
Ma Em
Laras hrs cerdik jgn sampai bisa dirayu Robby dan masalahmu jgn dipendam sendiri Laras lbh baik kasih tau Aryan dan minta tolong pada Aryan
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Siyap🫡🫡
total 1 replies
Fey mldn
mungkinkah Laras menelepon Aryan, untuk meminta bantuan masalah perceraiannya🤔🤔
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Dia telp aku, kak🤭
total 1 replies
Fey mldn
Roby......... penghianat yang berkedok cinta
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Mokondoh😆
total 1 replies
Ma Em
Laras cepatlah buka kedok Robby yg sdh selingkuh dgn Maya dan lbh baik Laras minta tolong sama Aryan saja kalau Aryan pengacara agar bisa cepat lepas dari para benalu .
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Ya Allah, efek ngantuk. ku baca Kodok 🤧 Maaf, kak.
total 1 replies
Muft Smoker
si Robby harus ny kmn2 bawa kaca ,, biar bisa bercermin dlu kalo mau bicara ,, biar gx malu2in diri sndrii🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: siiip kak🤭🤭🤣🤣🤣
total 4 replies
Muft Smoker
suami masa depan pak robby
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🫣
total 2 replies
Muft Smoker
hei mokondoo ,, ad gx sadar apa amnesia dadakan ,, situ juga sering menanam jagung di kebun nona ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,, km siapa???km manusia kah??

POV Maya : 😒😒😒😒😒😒😒😒
total 6 replies
Fey mldn
benar Laras apa kata hatimu,kamu minta tolong Aryan untuk membantu semua masalah yang kamu hadapi 🤔🤔
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Gass/Determined/
total 1 replies
Muft Smoker
bnr2 keluarga benaluu ,,
😒😒
Muft Smoker: jadiin gelandangan kak ,, udh cukup mereka nikmati hidup mewah ny
total 2 replies
Ma Em
Ayo Laras kumpulkan bukti perselingkuhan Robby dgn Maya lalu buat mereka menyesal karena sdh membohongi Laras , cepatlah usir para benalu itu .
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Siyap, laksanakan 🫡
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker: lngsung mampir kak
total 2 replies
Kustri
tes dna ras
Kustri
hahaaa... roby buaya ternyata dikadalin maya🤣🤣🤣
Kustri
gelang aryan pasti dr laras, yakan thor✌
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Ah, kakak bisa aja🤭
total 1 replies
Kustri
maya baru datang qu sdh menduga pasti selingkuhan roby
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
total 1 replies
Kustri
aryan yg akhir'a jd suami laras✌

itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Setiap malam, aq tidur lho, kak 🤧
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!