Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampil Pertama
"Dua hari," kata Ratna, "Dua hari kau tidur di tikar yang tidak mau kugelar itu."
Satrio mengerjap. Cahaya pagi masuk dari atap ijuk yang bolong dan jatuh tepat ke wajahnya. Ia terbaring di tikar di sudut pendopo, di tempat anak Mbok Rondo dulu berbaring. Bahu kirinya dibalut tebal, kedua lengannya penuh olesan ramuan yang berbau kunyit, dan setiap tarikan napas membuat dadanya ngilu.
Ratna duduk bersila di sampingnya. Lengan kirinya juga dibalut, dari siku sampai pergelangan. Di tangga pendopo, anak Mbok Rondo mengintip sebentar, lalu berlari terpincang-pincang sambil berteriak bahwa Kakang sudah bangun.
"Lenganmu..."
"Sudah kujahit sendiri." Ratna melemparkan sesuatu ke atas dada Satrio, "Ini dari jasad Branjang."
Satrio meringis waktu benda itu mendarat. Sebuah pundi kecil dari anyaman pandan, seukuran kepalan tangan, dengan mulut yang diikat tali hitam. Di sekeliling anyamannya ada rajah-rajah kecil dari benang hitam, berkelok-kelok seperti aksara yang tidak bisa ia baca.
"Kampil," kata Eyang. Suaranya masih lemah, "Barang orang mati yang paling berguna."
Satrio menarik tali pengikat itu. Simpulnya tidak bergeser sedikit pun. Ia menariknya lebih keras, lalu mencoba menggigitnya.
"Percuma," kata Ratna, "Mulut kampil itu dikunci rajah, bukan simpul. Cuma bisa dibuka dengan cakra. Alirkan sedikit cakramu ke rajah di mulutnya, sampai rajah itu mengenalimu."
"Pemburu bayaran punya barang begini?"
"Itu yang membuatku tidak tenang. Kampil berajah tidak dijual di pasar mana pun. Harganya bisa membeli satu desa." Ratna melirik ke luar pendopo, ke arah tiga gundukan tanah baru di ujung kebun singkong, "Orang yang membayar mereka pasti jauh lebih kaya daripada mereka."
Satrio duduk dengan susah payah, menggenggam kampil itu dengan tangan kanan, dan mendorong panas dari perutnya ke telapak tangan.
Asap tipis langsung mengepul dari anyaman pandan itu.
"Hei!" Ratna merebut kampil itu dan meniup-niupnya, "Dialirkan, bukan dibakar! Isinya bisa ikut hangus!"
Percobaan kedua, Satrio cuma meneteskan panas sedikit sekali, sampai rajah di mulut kampil itu diam saja.
"Kau sedang membuka kampil atau mau tidur lagi?"
Percobaan ketiga, rajah itu sempat menyala redup. Lalu bahu kirinya menyentak nyeri, alirannya putus, dan cahaya itu padam.
"Jangan didorong," kata Eyang pelan, "Alirkan. Seperti air sawah yang dibuka pematangnya. Sama seperti waktu kau naik ranah di halaman belakang dulu."
Satrio memejamkan mata. Ia menarik napas, menahannya di perut, lalu membiarkan panas itu mengalir pelan lewat jalur-jalur yang dua malam lalu terbuka paksa. Jalur-jalur itu sekarang lebih lebar, dan panasnya mengalir jauh lebih lancar daripada yang ia ingat.
Rajah di mulut kampil itu menyala satu per satu, merambat melingkar sampai bertemu ujungnya sendiri. Tali hitam itu mengendur dengan sendirinya.
"Terbuka," gumam Satrio.
Ia memasukkan tangan kirinya ke dalam. Tangan itu terus masuk sampai ke siku, jauh lebih dalam daripada ukuran pundi itu sendiri. Satrio melongo.
"Jangan melongo," kata Ratna, "Keluarkan saja isinya."
Yang pertama keluar adalah segenggam kepingan logam hitam. Tujuh keping. Permukaannya tidak bercap seperti uang pasar, tapi berukir sisik-sisik kecil yang saling menumpuk. Di bawah dipan Guru, di dalam kendi kecil yang mulutnya disumbat gabus, ada lima keping yang persis seperti ini.
Yang kedua, sekantong kecil keping perak, lebih berat daripada upah dari kepala desa.
"Upahku jadi dua kali lipat," gumam Satrio.
"Upah dari orang yang mau memotong tanganmu," sahut Ratna.
Yang terakhir, selembar kain yang dilipat empat. Satrio membukanya di atas tikar.
Di atas kain itu tergambar sebuah batu bersegi-segi seukuran ibu jari, dicat merah pekat. Kristal di telapak tangan kanannya langsung terasa hangat.
Ratna menatap gambar itu, lalu menatap tangan kanan Satrio yang masih terbalut. Pelan-pelan, Satrio mengepalkan tangannya.
"Aku tidak bertanya," kata Ratna.
Ia mengambil sekeping logam bersisik itu dan membaliknya di antara jari-jarinya.
"Aku belum pernah melihat lambang ini," katanya, "Tapi di Tirta Kencana, guruku pernah bercerita. Dua tahun belakangan, murid-murid berbakat dari padepokan-padepokan kecil menghilang satu per satu. Hilang begitu saja, seperti ditelan kabut. Padepokan besar tidak peduli, dan padepokan kecil tidak punya tenaga untuk mencari." Ia meletakkan keping itu di atas gambar batu merah, "Padepokanmu kecil, kan?"
"Tujuh orang," jawab Satrio, "Termasuk Guru."
"Kalau begitu, hati-hati. Kau sudah membunuh dua orang mereka, dan orang seperti mereka tidak berhenti di angka dua." Ratna bangkit dan menyampirkan kantong obatnya di bahu, "Satu lagi. Berhenti membuat dirimu terluka."
"Aku belum bilang setuju."
"Bilang sekarang."
Satrio menggaruk tengkuknya, "Setuju."
Ratna mengeluarkan sebuah bumbung bambu yang mulutnya ditutup lilin lebah, lalu meletakkannya di pangkuan Satrio.
"Ramuan gurumu. Sukmajati dan akar alang-alang, sudah kering dan sudah kutumbuk. Sejumput untuk tiga mangkuk air, rebus dengan api kecil sampai tinggal satu mangkuk. Tiga kali sehari." Ia menatap bumbung itu, "Cukup untuk sebulan. Sesudah itu, kalian tetap harus menemukan Teratai Getih. Kalau sudah dapat, bawa ke Tirta Kencana. Jangan direbus sendiri."
Satrio memeluk bumbung itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih," katanya, "Dan maaf. Soal daun di pasar."
"Urutannya benar." Ratna menunjuk bahu kiri Satrio dengan dagunya, "Ganti balutan itu setiap pagi. Kalau bernanah, kau sendiri yang bodoh."
Ratna turun dari pendopo. Warga yang sedang menyambung tiang-tiang patah berhenti bekerja dan membungkuk kepadanya. Mbok Rondo menyelipkan sebungkus nasi ke tangannya, dan anaknya mengantarnya terpincang-pincang sampai ke gardu di mulut desa.
Satrio berdiri bersandar di tiang pendopo yang masih utuh, menatap selendang biru itu makin kecil di jalan setapak di sepanjang sungai.
"Ratna Kemuning," gumamnya, "Tabib dari Tirta Kencana."
Lalu ia membeku.
'Eyang, aku belum bilang namaku.'
"Dua hari dia membalut lukamu," kata Eyang, "Dan dia cuma tahu kau bocah bodoh yang bau got."
Satrio menyambar tiang pendopo dan berteriak sekuat tenaga sampai bahunya nyeri lagi.
"RATNA! NAMAKU SATRIO! SATRIO DARI GENI WENING!"
Di jalan setapak di tepi sungai itu, Ratna tetap berjalan tanpa menoleh. Tapi ujung bibirnya terangkat.
***
Bulan di atas lereng Geni Wening tinggal sedikit lagi bulat.
Gerobak kerbau milik kepala desa Watuputih mengantar Satrio dan kelima karung berasnya sampai ke kaki bukit. Satrio memanggul sekarung di bahu kanannya dan mendaki jalan setapak dengan buntalan di punggung. Isinya garam, minyak pelita, benang, jarum, sekarung kecil kunyit, dan dua bongkah gula aren untuk Jati, semuanya ia beli di Pasar Kademangan dalam perjalanan pulang. Baju Gandung yang sudah dicuci terlipat rapi di dalamnya. Bumbung ramuan dari Ratna terikat erat di pinggangnya, dan tujuh keping logam bersisik itu terbungkus kain gambar batu merah di dasar buntalan, untuk Guru.
"Mereka sudah menggambar batuku," kata Eyang di sepanjang jalan, entah sudah yang keberapa kali, "Bocah, yang mencarimu sekarang bukan lagi pemburu yang kebetulan lewat."
'Aku tahu, Eyang.'
Tapi malam ini Satrio tidak mau memikirkan itu. Ia sudah menyiapkan cerita untuk Gandung, soal dua ekor kambing yang ia makan tanpa sahabatnya itu. Gandung pasti merajuk, lalu menuntut diceritakan ulang dari awal, bagian per bagian, sampai ke bumbu gulainya.
'Sebelum purnama,' batin Satrio sambil nyengir sendiri.
Di pertigaan di balik rumpun bambu, sebuah kendi kecil tergeletak pecah di tengah jalan. Di sebelahnya ada sendok kayu yang patah gagangnya. Satrio melangkahi keduanya tanpa melambat. Atap-atap ijuk padepokan sudah kelihatan di atas sana.
Gerbang yang miring itu masih belum diperbaiki, dan dari arah dapur darurat di halaman, tidak ada asap yang naik. Seseorang berlari menuruni jalan setapak dari arah gerbang, dan Satrio langsung mengenali cara berlarinya.
"Sekar!" Satrio mengangkat karung di bahunya tinggi-tinggi, "Sebelum purnama, kan? Aku bawa kunyit sebanyak-banyaknya, sampai..."
Sekar berhenti di depannya. Kakinya telanjang, wajahnya pucat, napasnya tersengal, dan matanya merah. Ia mencengkeram lengan baju Satrio dengan kedua tangan.
"Gandung hilang," katanya.
Senyum Satrio membeku.
"Dua malam lalu dia bilang mau menunggumu di pertigaan, dan dia tidak pulang." Suara Sekar pecah, "Tadi pagi ada pisau tertancap di pintu pendopo. Pisau itu menembus kain ini."
Di gerbang di atas sana, Jati dan Lintang berdiri berdampingan. Damar bersandar di tiang gerbang dengan kaki yang belum pulih, dan wajahnya tertuju ke tanah.
Sekar membuka kepalan tangannya. Di telapaknya ada secarik kain yang ujungnya hangus. Satrio mengenali kain itu. Itu balutan telapak tangannya sendiri, yang dirobek Bargowo pada Malam Obor.
Di atas kain itu tertulis dengan arang:
Si gendut ada padaku. Lembah Kabut. Datang sendiri, bawa tangan kananmu. Bargowo.
Karung beras di bahu Satrio merosot dan jatuh ke tanah. Talinya putus, dan butir-butir beras tumpah ke jalan setapak.