NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:68.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Ampun, Mayor!

Kepanikan luar biasa langsung menghantam rongga dadanya. Kunjungan Opa Gema bukanlah kunjungan basa-basi biasa. Di usia senjanya, kakeknya itu datang dengan niat tulus yang murni: hendak menjenguk cucu menantunya—Vina—pasca-insiden kecelakaan mengerikan beberapa waktu lalu yang sempat luput dari perhatian sang kakek karena kesibukan dinas luar kota. Dan yang jauh lebih mematikan bagi Yudhana: dari gelagat ajudan yang membawakan dua koper besar ukuran sedang, Opa Gema berniat menginap beberapa hari di rumah dinas cucunya untuk merawat dan memastikan keharmonisan rumah tangga mereka.

Menginap ... di rumah ini? Dan Vina bahkan belum pulang dari panti!

Otak Yudhana berputar liar, menghitung segala konsekuensi buruk yang siap menghancurkan hidupnya dalam hitungan detik.

Selama ini, di balik dinding rumah dinas berukuran sedang ini, Yudhana dan Vina hidup di dunia yang terpisah. Demi menjaga jarak dan melampiaskan ego dinginnya, Yudhana memaksa Vina tidur di kamar tamu yang sempit, sementara ia menguasai kamar utama seorang diri. Tidak ada kemesraan, tidak ada kehangatan suami istri, yang ada hanyalah perang dingin dan benteng kebencian yang baru-baru ini mulai runtuh secara perlahan.

Jika Opa Gema masuk ke dalam rumah ini dan mendapati Vina belum kembali, atau mendapati kamar mereka terpisah—atau lebih parah lagi, mengetahui bahwa cucu kesayangannya sedang dalam proses di ambang perceraian akibat ulah dinginnya—maka kemurkaan sang kakek akan menjadi palu godam yang menghancurkan karier militer sekaligus harga diri Yudhana seketika. Janji suci perjodohan yang diwariskan almarhum ayah Vina dan dipegang teguh oleh Opa Gema akan ternoda di tangan cucunya sendiri.

Bayangan betapa murkanya sang kakek jika tahu cucu emasnya menelantarkan istri amanah almarhum sahabatnya berkelebat cepat di kepala Yudhana. Ia tahu betul bagaimana watak Opa Gema; tidak ada ampun bagi seorang perwira yang mengkhianati janji suci pernikahan, apalagi jika itu menyangkut martabat marga keluarga besar.

Tok... tok... tok!

Suara ketukan tongkat kayu yang berpadu dengan ketukan tangan tegas pada daun pintu utama terdengar menggema nyaring, memecah kesunyian sore hari.

"Yudhana! Buka pintu, Cucuku!" suara bariton serak namun bertenaga khas Opa Gema menembus bilik pintu kayu jati, memanggil namanya dari luar teras.

Wajah Yudhana mendadak pucat pasi. Keringat dingin mulai bercucuran menuruni pelipisnya yang basah. Sebagai seorang Komandan Batalyon yang terbiasa menghadapi medan latihan taktis paling ekstrem sekalipun, belum pernah dalam hidupnya Yudhana merasa separah ini kehilangan kendali atas situasi.

Ia menoleh ke arah koridor lorong menuju kamar tamu tempat Vina selama ini disembunyikan dari zona nyamannya—kamar yang saat ini kosong karena pemiliknya masih asyik berjualan es cokelat di depan panti tanpa bisa dihubungi karena ponselnya hancur. Semuanya berantakan. Tidak ada persiapan sama sekali. Jika kakeknya masuk dan menanyakan keberadaan Vina, atau jika kakeknya melihat kamar tidur mereka terpisah, riwayat karier dan rumah tangganya tamat hari itu juga.

Ketukan kedua kembali mendarat lebih keras, disusul suara ajudan yang mendampingi di luar. "Komandan Yudhana, mohon izin, Kakek Besar menunggu di depan."

Waktu terus berjalan detik demi detik, mendesak sang perwira tinggi untuk segera bertindak sebelum sang kakek memutuskan membuka pintu dengan kunci cadangan yang dibawanya. Dengan napas memburu dan dada yang bergemuruh hebat, Yudhana melangkah kaku menuju pintu utama. Tangannya yang besar dan kokoh sedikit bergetar saat meraih gerendel kunci.

Ia menarik daun pintu utama itu terbuka lebar, menampilkan sosok Opa Gema yang berdiri tegak dengan tatapan tajam namun memancarkan kehangatan seorang kakek.

"Assalamualaikum, Opa," ucap Yudhana parau, berusaha menegakkan postur tubuhnya seraya menelan ludah yang terasa begitu pahit di tenggorokan.

Badai terbesar dalam sejarah rumah tangganya resmi dimulai detik itu juga.

***

Udara sore di ruang tamu rumah dinas nomor A-12 mendadak terasa jauh lebih tipis dan menyesakkan. Di atas meja sofa ruang tengah, secangkir teh poci hangat yang baru saja diseduh mengeluarkan uap tipis mengepul, menebarkan aroma melati yang lembut. Namun, kehangatan itu berbanding terbalik dengan suasana mencekam yang menyelimuti dua orang pria di sana.

Opa Gema duduk tegak di sofa beludru hijau, tongkat kayu berukirnya diletakkan menyandar di sisi meja. Sorot mata pria sepuh itu, meskipun dibalut garis-garis keriput usia senja, masih menyiratkan ketegasan seorang patriark yang terbiasa memegang kendali. Di seberangnya, Mayor Yudhana duduk dengan punggung kaku bak patung militer. Keringat dingin yang tak kasat mata merayap turun perlahan melewati pelipis sang Mayor, sementara jemari tangannya saling bertaut erat di atas paha untuk menyembunyikan getaran gugup.

"Jadi ... bagaimana kabar kesehatan Cucu Menantuku? Opa dengar dari laporan bintara garnisun beberapa minggu lalu Vina sempat mengalami kecelakaan yang cukup parah di jalan raya utama," suara serak namun berwibawa Opa Gema memecah keheningan, matanya menatap lekat pintu depan rumah dinas.

Belum sempat Yudhana merangkai kata-kata pembenaran atau alasan yang masuk akal, suara derit pintu utama terbuka lebar dari luar.

Ceklek.

"Huh, capek banget. Hari ini jualan es cokelat bener-bener laris manis sampai kaleng celengannya hampir tumpah!"

Suara riang tanpa beban itu meluncur begitu saja. Vina melangkah masuk ke dalam ruang tamu sambil menjinjing tas kain belanjaan di tangan kiri dan menyeka peluh di dahinya dengan lengan baju. Namun, langkah kakinya seketika terhenti kaku saat mendapati ruang tamu yang biasanya kosong benderang kini dihuni oleh seorang kakek tua berwibawa yang sedang menatapnya lekat-lekat dengan senyuman terkembang.

Vina terperanjat di tempatnya. Otaknya yang masih terjebak di usia delapan belas tahun akibat amnesia berputar liar. Ia mengerjap-ngerjap bingung, memindai wajah pria tua di depannya dari ujung kepala sampai kaki. Siapa orang tua ini? Kenapa tiba-tiba ada di ruang tamu? Apakah dia salah satu kerabat jauh Markas yang nyasar ke rumah dinas?

Sebelum Vina sempat melontarkan pertanyaan ceplas-ceplos bergaya barbar-nya, Opa Gema sudah bangkit berdiri dari sofa dengan gerakan yang masih gagah. Pria sepuh itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, melangkah cepat menghampiri Vina, lalu memeluk tubuh gadis itu dengan penuh kehangatan seorang kakek kepada cucu kesayangannya.

"Ya Allah, cucu menantuku ... Vina sayang," bisik Opa Gema penuh haru, menepuk-nepuk punggung Vina pelan. "Maafkan Opa ya, Nduk. Baru sekarang sempat menengokmu setelah sibuk urusan dinas luar kota. Kamu kurusan, Nak ... tapi syukurlah, wajahmu masih memancarkan aura bidadari yang sama seperti waktu pertama kali Opa membawamu ke hadapan Yudhana."

Vina membeku dalam pelukan hangat itu. Tubuhnya kaku, matanya melotot lebar melewati bahu Opa Gema, menatap tajam ke arah Yudhana yang duduk di seberang seolah meminta pertolongan darurat. Keluarga siapa ini?! Kenapa meluk-meluk akrab banget?! batin Vina menjerit panik.

Bersambung...

1
neny
ayo gengsi ajh gedein yud,klau udh kehilangan baru km rasa😡😡
Cicih Sophiana
Vina tanya aja kangsung sama kakek Gema...
Nar Sih
kayak nya om mayor udh mulai suka dgn istri bar,,nya
Naufal Affiq
lanjut mom
Naufal Affiq
mati aja lah om,gak ada gunanya hidup di dunia ini
Mommy Ghina: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Naufal Affiq
percuma pangkat nya tinggi selangit,tapi otak si om gak di pakai
ryuka
nah loohhj om tentara..sanggup kamu???
Nar Sih
jgn,,nanti janji tinggal janji ,kayak mayor suami mu gk rela lps kmu vina
kaylla salsabella
alhamdulillah mom
Nar Sih
pasti suami mayor mu mengingkari janji nya pdmu vina ,
kaylla salsabella
laris manis Vina jualan nya😍😍
Kar Genjreng
janji ya jangan di hindari sudah sepakat kan nah pokonya sekarang saatnya main drama bukan amboxing,,,😁
ryuka
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Oma Gavin
jgn seneng dulu Vina itu tentara kampret yudhana pasti punya cara licik buat bikin kamu tetap jadi istri 😂
Mundri Astuti
bener" bar" ya si Vina 😄...
masih untung ga ditendang tuh om" kaku😛
ismi
kak datengen cogan lain lah buat vina,jangan balikan dengan situkang selingkuh siyudha
Kar Genjreng
sekarang tinggal. menahan gengsi mu mayor ya dan terus kan selingkuhan mu,,,paling juga sangat jauh berbeda gadis panti sudah terbiasa mandiri sederhana dan rajin,,,besok bila bercerai ibarat buang berlian dan menggenggam baru kali kalk 🤣🤣pasti seru ya punya bini cantiknya cetarrr penuh polesan dan drama queen,,,,beda dengan Vina Istri rasa babu, kumel tidak pernah di perlakukan dengan baik,,,sabanya di dapur dan di sumur ga lebih,,, sekarang kena akak mat mammmuuuussss

🤭🤭🤭🤭
Naning Naning
punya istri penurut dicuekein, rasain sekarang istrinya jadi bar bar ga nurut lagi ,
Mundri Astuti
good vina
kaylla salsabella
nah delima kan kamu yudha🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!