Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 6
"Loh, Nak Khadafy... Ternyata kamu malah ke sasar ke dapur kotor... Ayo, kita kembali ke depan, Nak... Semua keluarga sudah menunggu, katanya Niken juga sedang dalam perjalanan pulang..." Bu Irma ternyata menyusul ke dalam dapur.
Bu Irma melangkah lebar-lebar memasuki dapur, matanya menyipit tajam penuh kecurigaan saat mendapati calon menantunya berdiri teramat dekat dengan Zheana. Senyum palsunya langsung mengembang, mencoba menutupi amarah yang mendidih di dada. Dia tidak tahu kalau Khadafy adalah atasan Zheana. Karena Bu Irma terkesan tak peduli dan tak mau tahu dimana Zheana bekerja.
"Ayo ke depan, Nak. Di depan ada Tante Lilis sama Om Rudi yang mau ngobrol. Lagian Niken baru saja telepon Mama, katanya dia sudah selesai pemotretan dan sedang jalan pulang!" Ucap Bu Irma seraya memegang lengan Khadafy, mencoba menarik pria itu menjauh dari Zheana.
"Iya Bu," jawab Khadafi tak mau membuat Zheana kembali mendapatkan masalah.
Akhirnya dia dan Bu Irma berbalik dan menjauh dari dapur menuku ruang keluarga. Zheana bernafas lega melihat Khadafy pergi. Karena sejujurnya dia tak nyaman, apalagi pria itu adalah calon suami kakaknya. Walau kedua orang tuanya baik, tetap saja Zheana menghormatinya sebagai mertua dari Niken.
Khadafy melangkah tenang kembali ke ruang keluarga. Bu Irma mengikutinya dari belakang dengan senyum mengembang, siap memamerkan calon menantu kayanya itu pada sanak saudara. Namun, baru saja Khadafy hendak mendaratkan tubuhnya di sofa samping Umi Rina, derak langkah sepatu hak tinggi yang nyaring memecah suasana.
Niken melangkah masuk tanpa canggung, membawa aroma parfum menyengat yang langsung memenuhi ruangan.
"Halo semuanya! Duh, maaf ya Niken baru sampai!" sapa Niken dengan suara nyaring, mengibaskan rambut panjangnya yang terurai bebas.
Seketika, canda tawa kerabat Bu Irma terhenti. Suasana ruang tamu berubah menjadi kaku.
Niken tampil sangat mencolok. Ia mengenakan atasan crop top bertali spageti yang minim, memperlihatkan bahu, dada atas, serta perutnya secara terbuka dipadukan dengan celana kulot ketat. Riasannya tebal dan mencolok khas selesai pemotretan, sama sekali jauh dari kesan seorang calon pengantin yang hendak menyambut kedatangan calon mertua.
Tanpa canggung atau merasa salah, Niken menghampiri Umi Rina dan Abi Haris, menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Umi... Abi... maaf banget ya Niken telat. Tadi photoshootnya padat banget, biasa lah tuntutan profesi model!"
Umi Rina mematung. Tangannya disalami Niken dengan kaku. Pandangan mata Umi Rina yang semula begitu hangat dan teduh saat menatap Zheana, seketika meredup, berubah menjadi tatapan yang sangat tajam, dingin, dan penuh kekecewaan. Beliau memperhatikan penampilan Niken dari atas ke bawah tanpa mengumbar senyum sedikit pun.
Niken justru santai mendaratkan tubuhnya di lengan sofa tepat di sebelah Khadafy, lalu mengibas-ngibaskan bajunya.
"Aduh, sumpah panas banget jalanan. Untung aku bisa menyelesaikan pemotretan lebih cepat, sehingga aku bisa bertemu dengan Umi, Abi dan keluarga besar kamu yang lainnya.
Khadafy hanya diam, memalingkan wajahnya. Namun, ia bisa merasakan tatapan tajam Umi Rina yang kini beralih sepenuhnya mengunci dirinya. Pandangan sang ibu seolah menuntut jawaban atas pilihan hidup yang diambil anaknya. Dia memang sudah beberapa kali mendapaykan peringatan dari Uminya, kalaupun tak bisa menutup auratnya, setidaknya Niken bisa berpakaian yang lebih sopan dan tertutup apalagi ada pria yang bukan muhrimnya.
Bu Irma yang melihat situasi tersebut langsung panik setengah mati. Wajahnya pucat melihat sorot mata calon besan kayanya.
"A..duh, Niken! Kamu kok belum ganti baju dulu sih, Nak? Kan Mama sudah pesan..." tegur Bu Irma terbata-bata, mencoba menutupi rasa malu.
"Kenapa harus ganti baju sih, Ma? Ini kan baju santai, bagus dan fashionable kok," sahut Niken santai tanpa beban, lalu menoleh pada Umi Rina dengan senyum lebar yang dipaksakan.
Abi Haris berdeham keras, melipat tangannya di dada dengan raut wajah yang mengeras.
Umi Rina perlahan mengalihkan pandangannya dari Niken, menatap Khadafy lurus-lurus. Suara Umi Rina terdengar begitu rendah namun amat berwibawa, menembus keheningan ruangan.
Khadafy hanya menunduk, tak berani menatap manik mata ibunya. Keheningan yang menekan terasa begitu mencekam. Bu Irma yang menyadari perubahan atmosfer itu langsung maju dengan senyum panik, berusaha mencairkan ketegangan.
"A-aduh, Jeng Rina... Pak Haris... maafkan Niken ya," pangkas Bu Irma terbata-bata seraya mengelus bahu anak sulungnya dengan resah.
"Anak muda zaman sekarang memang begini, kebetulan Niken kan model profesional, jadi ya... bajunya menyesuaikan tuntutan kerjaan. Tapi aslinya Niken ini anaknya baik banget kok, penurut!"
Niken justru memutar bola matanya malas, menyandarkan punggungnya di sofa tepat di samping Khadafy tanpa rasa canggung sedikit pun.
Abi Haris berdeham sangat keras. Suaranya bergema menembus ruang keluarga yang semula riuh oleh celoteh kerabat Bu Irma. Beliau menegakkan tubuhnya, merapikan peci serta jas koko yang mengenakan tubuh mewahnya, lalu berdiri dari sofa tanpa senyum sedikit pun.
"Bu Irma, Pak Rudi... sepertinya niat silaturahmi kami untuk hari ini sudah cukup," potong Abi Haris tegas, suaranya tenang namun memiliki penekanan yang tak bisa dibantah.
Bu Irma tersentak, wajahnya seketika pucat pasi. "Lho... Pak Haris? Kok terburu-buru sekali? Ini hidangan dan minumannya bahkan belum tersentuh penuh... Niken juga baru saja sampai, Pak."
"Terima kasih atas sambutannya yang begitu... riuh," sahut Abi Haris seraya melipat kedua tangannya di belakang punggung, melayangkan pandangan dingin ke arah Niken yang kini mendadak salah tingkah.
"Namun mohon maaf, namun hari sudah malam dan kalian juga harus istirahat yang cukup menjelang hari pernikahan yang akan di laksanakan tiga hari lagi. Dan kalian juga pasti akan sangat sibuk... Kemi meminta maaf kalau kedataangan kami merepotkan..."
Umi Rina menyusul berdiri di samping suaminya. Beliau merapikan gamis serta jilbab lebarnya, lalu menatap Bu Irma dengan raut wajah datar.
"Kami mohon pamit, Bu Irma. Terima kasih atas jamuannya..."
Khadafy melirik tajam ke arah Niken. Matanya menyipit penuh pencerahan dingin, memberikan isyarat tegas yang seolah berkata: Perbaiki sikapmu sekarang, atau semuanya hancur.
Niken yang semula hendak membuka mulut untuk membela diri, mendadak bungkam. Tatapan tajam Khadafy, yang belum pernah ia lihat sebelumnya serta raut dingin calon mertuanya membuat nyalinya menciut seketika. Sadar betapa peliknya situasi ini dan betapa besarnya pertaruhan pernikahan mereka yang tinggal tiga hari lagi, gengsi Niken runtuh.
"Umi... Abi..." cicit Niken terbata-bata. Ia melangkah maju dengan wajah menunduk dalam, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Niken... Niken mohon maaf sebesar-besarnya. Niken salah. Niken terlalu terburu-buru pulang dan kurang berpikir panjang soal pakaian Niken..."
"Niken beneran minta maaf, Umi, Abi," lanjut Niken penuh penyesalan, suaranya kini bergetar jujur.
"Niken janji nggak akan mengulanginya lagi. Niken... Niken langsung ganti baju sekarang juga kalau Umi dan Abi berkenan menunggu."
Bu Irma bernapas lega melihat putrinya akhirnya mau mengalah dan bersikap manis, meski ketegangan di ruangan itu masih terasa pekat.
Abi Haris menghela napas panjang. Beliau menatap Niken, lalu beralih pada Khadafy yang masih berdiri membisu.
"Tidak perlu repot-repot ganti baju sekarang, Nak. Hari memang sudah malam, dan kamu tentu lelah setelah bekerja. Kami juga harus menyimpannya sebagai bahan evaluasi bersama Khadafy."
"Tapi Pak..." potong Bu Irma panik, takut restu itu benar-benar menguap.
"Bu Irma," sela Umi Rina dengan senyum tipis yang formal.
"Saran kami, gunakan tiga hari menuju pernikahan ini untuk menata hati dan kesiapan anak-anak kita. Pernikahan bukan sekadar pesta, tapi penyatuan dua keluarga beserta norma di dalamnya."
Niken hanya bisa berdiri mematung, menunduk pasrah saat Khadafy menuntun kedua orang tuanya melangkah keluar menuju pekarangan. Bu Irma menyusul dari belakang, terus-menerus menguapkan kata maaf hingga pintu mobil SUV mewah itu tertutup rapat.
Mobil itu meluncur pergi meninggalkan kediaman Bu Irma. Di teras, Bu Irma langsung mengelus dadanya yang sesak, sementara Niken menatap mobil Khadafy yang menjauh dengan tatapan cemas dan penyesalan mendalam.