Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seseorang yang Muncul Tiba-Tiba
Pria itu melangkah maju dengan kaki gemetar, lalu berlutut di hadapan tumpukan koin emas. Kedua tangannya meraih segenggam koin dan mengangkatnya setinggi dada.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
"Hahaha ... hahaha!"
Ia tertawa sambil menangis.
"Sepanjang hidupku, aku belum pernah melihat emas sebanyak ini! Bahkan jika aku menjual seluruh harta milikku, nilainya tidak akan sebanding dengan satu sudut ruangan ini!"
Pria berwajah kurus segera berlari ke arah tumpukan emas lainnya. Ia mengambil segenggam koin, kemudian membiarkannya jatuh melewati sela-sela jarinya. Suara gemerincing memenuhi ruangan.
"Kita kaya!!!”
Salah seorang dari mereka bahkan menghambur-hamburkan koin emas ke udara. Koin-koin itu berjatuhan di atas kepalanya, sementara ia tertawa seperti orang gila.
"Mulai hari ini, aku akan membeli kediaman terbesar di kota! Aku akan memiliki pelayan sebanyak yang kuinginkan dan tidak perlu lagi tunduk kepada siapa pun!"
Pria bertubuh kekar mendengus
"Pelayan?"
"Dengan kekayaan sebesar ini, aku bahkan bisa membangun kekuatanku sendiri. Tidak akan lama sebelum orang-orang yang dahulu merendahkanku berlutut di hadapanku!"
Mereka berlima tenggelam dalam kegembiraan. Rasa takut yang selama perjalanan memenuhi hati mereka seakan lenyap dalam sekejap. Semua jebakan, semua kematian, dan semua penderitaan yang telah mereka alami terasa sepadan dengan apa yang kini terbentang di depan mata.
Akan tetapi, di balik kegembiraan itu, sesuatu perlahan berubah. Tatapan mereka mulai bergeser dari tumpukan emas menuju satu sama lain.
Mereka semua berasal dari Bukit Tengkorak. Mereka telah berlatih bersama, menjalankan misi bersama, bahkan mempertaruhkan nyawa bersama. Namun, hubungan di antara mereka tidak pernah benar-benar didasarkan pada kesetiaan.
Selama ini, mereka bekerja sama karena memiliki kepentingan yang sama. Kini, ketika kekayaan yang mampu mengubah hidup mereka berada tepat di depan mata, kepentingan itu mulai saling berbenturan.
"Hei, kalian lihat ini!"
Pria berwajah kurus mengangkat sebuah kotak kecil dari atas meja batu. Ketika membukanya, ia menemukan beberapa batu berwarna ungu yang memancarkan energi pekat.
"Ini bukan batu biasa. Energi yang terkandung di dalamnya sangat murni!"
Pria bertubuh kekar segera mendekat.
"Berikan kepadaku."
Pria berwajah kurus spontan memeluk kotak itu ke dadanya.
"Kenapa harus kuberikan kepadamu? Aku yang menemukannya!"
"Jangan lupa siapa yang memimpin perjalanan ini. Tanpa aku, kalian mungkin sudah mati di lorong pertama."
"Memimpin perjalanan bukan berarti kau berhak mengambil semuanya!"
Wajah pria bertubuh kekar langsung menggelap.
"Apa katamu?"
Pria kurus itu juga nampak marah.
"Aku bilang, kau tidak berhak mengambil semuanya!"
Suasana yang semula dipenuhi tawa mendadak berubah tegang. Seorang pria lain yang sejak tadi memeriksa senjata di rak segera menyela.
"Sudahlah. Kita berlima telah sampai di tempat ini. Harta karun ini seharusnya dibagi rata."
Pria bertubuh kekar menoleh tajam kepadanya.
"Dibagi rata?" Menurutmu, apakah kontribusi kita selama perjalanan sama?"
Pria yang sedang memeriksa senjata kemudian bertanya.
"Kalau begitu, bagaimana cara menentukan bagiannya?"
Pria bertubuh kekar nampak tertawa.”
"Hahaha... Ini sangat mudah.”
“Aku mengambil setengah dari seluruh harta. Sisanya kalian bagi di antara kalian sendiri."
Keempat pria lainnya terdiam sejenak. Kemudian, pria berwajah kurus tertawa dingin.
"Kau benar-benar tidak tahu malu."
"Apa kau ingin mati?"
Seketika, hawa membunuh memenuhi ruangan.
Pria bertubuh kekar bergerak lebih dahulu. Ia mengayunkan tinjunya ke arah pria berwajah kurus, memaksa lawannya melemparkan kotak giok dan melompat mundur.
Bum!
Tinju itu menghantam meja batu hingga retak.
"Karena kau ingin mati, aku akan mengabulkan keinginanmu!"
Pria berwajah kurus mencabut belati dari pinggangnya dan menerjang maju.
Pertarungan pun pecah. Tiga orang lainnya awalnya mencoba memisahkan mereka. Namun, ketika salah seorang dari mereka tiba-tiba mengambil sebuah pedang berharga dari rak dan menyatakan bahwa senjata itu menjadi miliknya, pertikaian segera meluas.
Tidak ada lagi rekan seperjalanan. Yang tersisa hanyalah lima orang yang ingin menguasai sebanyak mungkin harta.
Pedang beradu dengan golok. Tinju menghantam tubuh. Gelombang tenaga dalam menyapu tumpukan koin emas, membuat ratusan koin beterbangan dan berjatuhan di lantai.
Salah seorang pria berhasil menebas bahu lawannya, tetapi ia sendiri menerima tusukan di perut. Pria bertubuh kekar membunuh pria berwajah kurus dengan pukulan telak, lalu berbalik menghadapi dua orang lainnya.
Pertarungan berlangsung semakin brutal. Tak seorang pun bersedia mundur. Bahkan ketika tubuh mereka mulai dipenuhi luka, mereka tetap menyerang dengan segenap kekuatan yang tersisa.
Pada akhirnya, seorang demi seorang tumbang. Jeritan terakhir menggema di dalam ruangan, kemudian perlahan menghilang.
Keheningan kembali menyelimuti tempat itu. Di antara tumpukan emas dan mayat-mayat yang berserakan, hanya satu orang yang masih berdiri, pria bertubuh kekar itu.
Namun, keadaannya jauh dari baik. Pakaiannya terkoyak, napasnya tersengal-sengal, dan darah mengalir dari beberapa luka di tubuhnya. Sebuah luka yang cukup dalam membentang di bagian perutnya, membuat setiap gerakan terasa menyakitkan.
Ia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya tertawa.
"Hahaha ... hahahaha!"
Tawanya menggema di seluruh ruangan.
"Pada akhirnya, akulah pemenangnya!"
Ia menunduk, memandangi mayat-mayat yang dahulu merupakan rekan seperjalanannya.
Tidak ada kesedihan di wajahnya. Sebaliknya, senyum puas justru semakin lebar menghiasi bibirnya.
"Kalian bodoh. Jika sejak awal kalian bersedia mendengarkanku, mungkin kalian tidak perlu mati."
Ia menggelengkan kepala, kemudian mengalihkan pandangan ke lautan emas di sekelilingnya.
"Tidak masalah. Setidaknya, semua ini sekarang menjadi milikku."
Pria itu melangkah perlahan melewati mayat-mayat tersebut. Ia bahkan tidak lagi memedulikan darah yang mengalir dari tubuhnya. Pikirannya telah dipenuhi bayangan mengenai kehidupan yang akan ia jalani setelah keluar dari gua ini.
Dengan kekayaan sebesar ini, ia bisa membeli kediaman megah, merekrut para ahli, dan membangun kekuatan sendiri.
Ia tidak perlu lagi tunduk kepada pemimpin Bukit Tengkorak. Jika menginginkannya, ia bahkan bisa meninggalkan kelompok itu dan menjalani hidup sebagai seorang bangsawan.
"Hahaha ..."
Pria itu kembali tertawa kecil.
"Pengorbananku tidak sia-sia."
Ia berhenti di depan sebuah patung naga emas yang berdiri di atas alas batu. Tangannya menyentuh permukaan patung itu dengan penuh kekaguman sebelum ia melanjutkan langkahnya.
Di sudut ruangan, ia menemukan sederet pedang kuno yang tersimpan di dalam kotak panjang. Beberapa di antaranya memiliki sarung berhiaskan permata, sementara yang lain tampak sederhana tetapi memancarkan aura yang membuatnya enggan menyentuh sembarangan.
Ia juga menemukan beberapa gulungan teknik kultivasi, botol-botol obat, serta benda-benda aneh yang tidak dapat ia kenali.
"Benar-benar harta yang luar biasa."
Ia menggosok kedua tangannya.
"Aku harus memeriksa semuanya. Siapa tahu ada sesuatu yang nilainya jauh lebih tinggi daripada emas-emas ini."
Pria itu terus berjalan hingga akhirnya tiba di bagian paling belakang ruangan.
Di sana berdiri sebuah cermin besar. Cermin itu lumayan tinggi dengan bingkai berwarna perak yang dipenuhi ukiran kuno. Tidak ada debu pada permukaannya, seolah-olah seseorang baru saja membersihkannya.
Pria itu mengernyit.
"Cermin?"
Ia mendekat, lalu berdiri tepat di hadapannya.
Permukaan cermin memantulkan sosoknya dengan jelas. Ia melihat wajah yang dipenuhi keringat, rambut berantakan, serta pakaian yang telah robek dan berlumuran darah.
Luka di perutnya juga terlihat begitu jelas. Anehnya, ia sama sekali tidak merasa terganggu dengan penampilannya. Sebaliknya, ia justru tersenyum lebar kepada bayangannya sendiri.
"Lihat dirimu. Kau akhirnya berhasil."
Ia mengangkat dagu, seolah-olah sedang menatap seorang penguasa besar.
"Dengan seluruh harta ini, tidak akan ada seorang pun yang berani meremehkanku lagi."
Ia membayangkan dirinya keluar dari gua dengan membawa seluruh harta di tempat ini.
"Semua penderitaan tadi benar-benar sepadan."
Pria itu masih menatap bayangannya ketika sesuatu yang aneh terjadi. Permukaan cermin tiba-tiba beriak.
Senyum di wajahnya perlahan menghilang.
"Apa?"
Ia mengangkat tangan dan menyentuh permukaan cermin, tetapi tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Bayangannya masih terlihat di sana, hanya saja bentuknya mulai kabur.
Sesaat kemudian, wajah yang terpantul di dalam cermin lenyap sepenuhnya. Sebagai gantinya, muncul pusaran hitam keunguan.
Pusaran itu berputar perlahan, kemudian semakin cepat. Bagian tengahnya tampak begitu gelap, seolah-olah merupakan lubang tanpa dasar yang mampu menelan segala sesuatu di sekitarnya.
Angin kencang tiba-tiba menyembur keluar dari permukaan cermin. Pria itu terkejut dan segera melangkah mundur.
"Apa-apaan ini?!"
Ia mencoba menjaga keseimbangan, tetapi kakinya tersandung tumpukan koin emas. Tubuhnya jatuh terduduk, sementara matanya terus menatap pusaran yang muncul di dalam cermin.
Jantungnya berdegup kencang. Selama puluhan tahun hidup di dunia persilatan, ia telah menyaksikan berbagai hal aneh. Namun, ia belum pernah melihat cermin yang berubah menjadi pusaran seperti itu.
Apakah ini sebuah jebakan? Ataukah ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya?
Sebelum ia sempat memikirkan jawabannya, pusaran tersebut mendadak bergetar.
Wusss!
Sebuah sosok perlahan muncul dari tengah pusaran.
Mula-mula, pria itu hanya melihat sepasang sepatu. Kemudian, sepasang kaki jenjang, pakaian berwarna terang, dan tubuh seorang pemuda muncul dari dalam kegelapan tersebut.
Pemuda itu tampak berusia belasan tahun. Rambut hitamnya panjang dan terurai hingga punggung, sementara wajahnya begitu tampan dengan raut yang tenang. Pakaiannya sederhana, tanpa perhiasan mencolok. Sebuah pedang berwarna putih terselip di pinggangnya.
Pemuda itu melangkah keluar dari cermin seolah-olah baru saja melewati sebuah pintu biasa. Pusaran hitam keunguan di belakangnya perlahan mengecil, kemudian menghilang. Permukaan cermin kembali jernih, memantulkan ruangan yang dipenuhi harta karun dan mayat-mayat. Sebelum akhirnya pecah berantakan.
Pemuda itu berdiri diam selama beberapa saat. Ia mengangkat pandangan, mengamati ruangan di sekelilingnya. Matanya melewati tumpukan emas, patung-patung berharga, deretan senjata, serta mayat-mayat yang tergeletak di lantai.
Tidak ada perubahan berarti pada ekspresinya. Seolah-olah pemandangan semacam itu bukanlah sesuatu yang layak membuatnya terkejut.
Akhirnya, pemuda itu mengembuskan napas pelan.
"Pada akhirnya, pintu portal dimensi untuk memasuki alam ini terbuka juga."
Suaranya terdengar tenang di tengah keheningan ruangan.
Pria yang masih terduduk di lantai itu menatapnya dengan wajah pucat. Ia tidak tahu siapa pemuda tersebut, dari mana asalnya, ataupun bagaimana pemuda itu bisa keluar dari sebuah cermin.
Namun, satu hal membuat bulu kuduknya berdiri. Pemuda itu baru saja menyebut bahwa cermin di depannya adalah sebuah portal dimensi untuk masuk ke alam ini. Apa maksudnya ini?