sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 Sari Di Tangkap
Ambulans Puskesmas itu melaju dengan kecepatan 80 km/jam di tengah kegelapan padang sabana. Lampu sorotnya hanya menerangi tanah merah dan rumput kuning yang bergoyang ditiup angin malam.
Di dalam bak ambulans, Dokter Anya memeluk Bintang erat-erat. Bintang sudah tidak demam setinggi tadi pagi, tapi napasnya masih cepat. Selang oksigen kecil masih menempel di hidungnya. Di sebelahnya, Mama Leni berdoa tanpa henti, memegang botol infus yang bergoyang-goyang.
"Bertahan ya, Bintang... 1 jam lagi sampai Waingapu... Mamamu sudah dapat tanda tangan bapakmu... kakimu bisa sembuh, Nak..." bisik Dokter Anya, mengelus kepala Bintang yang masih merah.
Bintang, seolah mengerti, membuka matanya sedikit dan mengeluarkan suara mengik kecil.
Tiba-tiba...
*WIIUUU... WIIUUU...*
Sirine polisi meraung keras dari belakang ambulans.
Sopir ambulans, Pak Harun, melihat dari kaca spion. Sebuah mobil patroli polisi Hilux putih melaju kencang di belakang mereka, lampu rotatornya menyala merah biru, menyuruh ambulans menepi.
"Kenapa polisi stop kita? Kita kan ambulans bawa bayi sakit!" teriak Mama Leni panik.
Dokter Anya juga bingung. "Menepi dulu, Pak Harun! Mungkin ada razia!"
Ambulans menepi di tengah padang sabana yang gelap gulita. Tidak ada rumah, tidak ada lampu, hanya angin dan suara jangkrik.
Mobil polisi berhenti tepat di depan ambulans. Dua polisi berseragam turun dengan senter besar. Satu polisi tua, satu polisi muda. Wajah mereka tegas.
"Selamat malam! Mohon maaf, kami cari pasien atas nama Sari binti Maria! Apakah ada di dalam ambulans ini?" tanya polisi tua itu.
Dokter Anya turun dari ambulans. "Sari tidak ada di sini, Pak! Sari ada di RSUD Waingapu! Dia baru donor darah untuk suaminya! Ini ambulans bawa bayinya, Bintang! Bayinya butuh operasi segera!"
Polisi muda itu membuka sebuah map cokelat dan menunjukkan selembar kertas.
"Kami dapat laporan resmi dari saudari Lina, jam 5 sore tadi di Polsek Waingapu. Laporan percobaan pembunuhan. Terlapor Sari binti Maria. Korban Johan. Lina bilang Sari sengaja mendorong motor Johan di tikungan padang hingga kecelakaan, karena sakit hati Johan mau jual tanahnya. Dan sekarang Johan koma di RSUD."
Mama Leni langsung menjerit, "FITNAH! BOHONG! LINA YANG MAU JUAL TANAH SARI! SARI YANG SELAMATKAN JOHAN PAKAI DARAHNYA SENDIRI!"
Polisi tua itu menghela napas. "Ibu, kami hanya jalankan tugas. Laporan sudah masuk. Kami harus amankan Sari malam ini juga untuk dimintai keterangan di Polres Waingapu. Kalau Sari ada di RSUD, kami akan ke sana sekarang. Dan..."
Polisi itu melihat ke dalam bak ambulans, melihat Bintang yang terpasang oksigen.
"...dan bayi ini, kami harus bawa juga sebagai barang bukti? Atau ikut ibunya?"
Dokter Anya langsung berdiri di depan pintu ambulans, merentangkan kedua tangannya seperti mau melindungi Bintang.
"TIDAK BISA, PAK! Bayi ini sepsis! Butuh inkubator di Waingapu malam ini juga! Kalau dibawa ke kantor polisi, dia bisa mati! Dia butuh tanda tangan bapaknya yang sudah kami dapat! Yayasan tunggu malam ini!"
Polisi itu saling pandang. Mereka juga manusia. Mereka melihat bayi kecil dengan kaki bengkok dan selang oksigen itu.
Tapi laporan sudah laporan. Perintah dari atasan sudah turun.
Di sisi lain, di RSUD Waingapu, Sari masih duduk lemas di lantai IGD, memegang kertas cap jempol darah Johan di dadanya. Tubuhnya masih pucat karena donor darah. Darah nifasnya masih keluar.
Dua polisi lain masuk ke IGD dan langsung menuju Sari.
"Anda Sari binti Maria?" tanya polisi.
Sari mengangkat wajahnya yang pucat. "Iya... saya..."
"Anda kami amankan atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap suami Anda, Johan. Anda punya hak untuk diam. Silakan ikut kami ke Polres untuk pemeriksaan."
Sari mematung. Dunia berputar.
Percobaan pembunuhan? Ia yang mendorong motor Johan? Ia yang baru saja memberikan 250 cc darahnya sendiri untuk menyelamatkan nyawa Johan?
Dari ujung lorong IGD, Lina muncul bersama seorang pengacara. Pengacara sewaan yang memakai kemeja batik. Lina tersenyum puas melihat Sari akan diborgol.
"Tuh, Pak Polisi, dia orangnya! Dia yang dorong motor Johan karena tidak mau tanahnya dijual! Saya lihat sendiri! Tangkap dia!" teriak Lina dengan suara dibuat menangis.
Sari menatap Lina. Tidak ada lagi air mata. Yang ada hanya rasa muak yang luar biasa.
"Bohong... saya tidak dorong Johan... saya yang selamatkan dia..." bisik Sari lirih.
Tapi polisi tidak peduli siapa yang bohong. Mereka harus bawa Sari.
Saat borgol hendak dipasangkan di tangan Sari yang masih berlumuran darah kering itu, tiba-tiba...
*"LEPAS BORGOL ITU! LEPAS!"*
Suara bentakan keras menggelegar dari pintu IGD.
Semua orang menoleh.
Di pintu IGD, dengan kepala diperban putih dan masih memakai baju pasien RSUD, dengan infus masih tergantung di tangannya, berdiri Johan.
Johan sudah sadar dari komanya.
Wajahnya pucat, kepalanya diperban, jalannya sempoyongan, tapi matanya terbuka dan menatap tajam ke arah Lina.
"Johan... Johan, kamu sudah sadar?" Lina kaget, wajahnya langsung pucat.
Johan berjalan pelan, tertatih-tatih, menuju ke arah Sari dan polisi. Setiap langkahnya membuat perban kepalanya semakin merah.
"Lepas... lepas borgol istri saya..." kata Johan dengan suara serak dan lemah, tapi jelas. "Bukan dia yang dorong saya... saya yang jatuh sendiri... motor saya selip... Sari... Sari yang selamatkan saya... dia kasih darahnya untuk saya..."
Johan ambruk berlutut di depan Sari. Ia menatap Sari yang duduk di lantai dengan mata berkaca-kaca.
"Sari... maafkan aku... maafkan aku... aku jahat... aku mau jual tanahmu... aku bohong... Lina yang suruh aku... Lina yang buat laporan palsu itu karena kamu tidak mau jual tanah..."
Pengakuan Johan itu membuat polisi langsung menurunkan borgolnya dan menatap Lina dengan curiga.
Lina panik. Ia mundur selangkah.
"Johan! Apa-apaan kamu! Kamu bela dia! Padahal dia punya anak cacat!"
Johan menatap Lina dengan benci.
"Anak cacat itu anakku! Bintang itu anakku! Dan Sari... Sari adalah perempuan paling berani yang pernah aku kenal!"
Johan lalu meraih kertas cap jempol darah yang masih dipegang Sari, mengangkatnya tinggi-tinggi di depan polisi dan Lina.
"Lihat! Ini tanda tangan saya! Cap jempol darah saya untuk operasi kaki anak saya! Sari dapatkan ini dengan darahnya sendiri! Bukan dengan menjual tanah!"
Polisi tua yang tadi menghentikan ambulans di padang sabana, yang ternyata juga sudah sampai di RSUD karena mengejar ambulans itu, masuk ke IGD dengan Bintang yang digendong Dokter Anya.
"Bintang... Bintangku..." Sari langsung merangkak memeluk Bintang yang masih pakai selang oksigen.
Semua orang di IGD RSUD Waingapu malam itu menangis. Perawat, pasien lain, polisi, bahkan Pak Paulus yang baru sampai dengan motor garamnya.
Kecuali Lina. Lina berdiri mematung, wajahnya pucat, tahu rencananya gagal total.
Tapi saat semua orang berpikir masalah sudah selesai, Johan yang masih berlutut di depan Sari, tiba-tiba memegang kepalanya yang diperban dengan sangat keras. Darah segar kembali mengalir deras dari perbannya.
Matanya mendelik ke atas.
Tubuhnya kejang.
"JOHAN!" teriak Sari.
Dokter UGD berlari, "Pendarahan ulang! Cepat bawa ke ruang operasi! Sekarang!"
Johan ambruk di pelukan Sari. Di tangannya masih menggenggam erat kertas cap jempol darah untuk operasi kaki Bintang.
Di pelukan Sari yang lain, Bintang menangis kencang, seolah tahu bapaknya sedang sekarat lagi.
Apakah Johan akan mati benar-benar kali ini, sebelum sempat melihat kaki Bintang sembuh?
Dan apakah Lina akan ditangkap polisi karena laporan palsu, atau ia akan kabur membawa kabur sertifikat tanah Sari yang asli yang ternyata sudah ia curi dari gubuk Sari saat Sari di Puskesmas pagi tadi?