NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — Hari Pernikahan

Alisha Amanda berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dalam gaun pengantin berwarna putih.

Untuk beberapa saat, dia hanya diam.

Gaun itu terlihat sederhana, tetapi cukup indah untuk membuatnya tampak berbeda dari biasanya. Rambutnya ditata rapi, sementara riasan tipis memperhalus wajahnya tanpa mengubah penampilannya secara berlebihan.

Di belakangnya, seorang perias sedang merapikan bagian terakhir dari gaun tersebut.

"Sudah selesai, Nona Alisha," katanya sambil tersenyum.

"Terima kasih."

Alisha membalas senyuman itu, meskipun jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasanya.

Hari ini benar-benar tiba.

Hari ketika dia akan menikah dengan seorang laki-laki bernama Adrian Mahendra.

Laki-laki yang dikenalnya bukan karena kisah cinta, melainkan karena sebuah keputusan besar yang mereka ambil dengan alasan masing-masing.

Alisha menunduk, memperhatikan kedua tangannya yang saling menggenggam.

Dia teringat ibunya.

Ratih Amanda belum sepenuhnya pulih, tetapi kondisinya perlahan membaik. Alisha berharap ibunya bisa menyaksikan hari bahagianya tanpa harus mengkhawatirkan apa pun.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Sebuah pesan dari Daniel muncul di layar.

Daniel: Nona Alisha, semua persiapan sudah selesai. Acara akan segera dimulai. Mohon bersiap.

Alisha membaca pesan itu dua kali sebelum membalas.

Alisha: Baik, Pak Daniel. Saya sudah siap.

Setelah mengirim pesan, dia meletakkan ponsel kembali.

Perias yang masih berada di ruangan memperhatikan wajahnya melalui cermin.

"Apakah Anda gugup?"

Alisha tersenyum tipis.

"Sedikit."

"Itu wajar. Hari ini hari istimewa."

Alisha tidak menjawab.

Istimewa, tentu saja.

Namun, dia sendiri belum tahu bagaimana harus memaknai hari ini.

---

Di tempat lain, Adrian Mahendra sedang berdiri di depan cermin besar di kamar pribadinya.

Jas pengantin berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya. Kemeja putih dan dasi yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat formal, sementara rambutnya sudah ditata dengan rapi.

Daniel berdiri tidak jauh darinya sambil memeriksa jadwal acara melalui tablet.

"Pak Adrian, kendaraan sudah siap. Tamu-tamu utama juga mulai berdatangan."

Adrian membetulkan posisi jam tangannya.

"Baik."

"Setelah tiba di lokasi, Anda akan langsung menuju ruang tunggu sebelum acara dimulai."

Adrian mengangguk.

Daniel menatapnya sejenak.

"Apakah ada hal lain yang ingin Anda pastikan?"

"Tidak."

"Baik, Pak."

Daniel kembali memeriksa jadwal.

Adrian mengambil ponselnya dari meja. Beberapa pesan pekerjaan masih masuk, tetapi dia tidak membukanya.

Untuk hari ini, setidaknya dia harus menyelesaikan urusan pernikahannya terlebih dahulu.

Bukan karena dirinya tiba-tiba berubah menjadi laki-laki yang mengutamakan romansa, melainkan karena dia memahami bahwa acara ini merupakan tanggung jawab yang harus dijalani dengan baik.

Sebelum meninggalkan kamar, Adrian menoleh kepada Daniel.

"Pastikan semuanya berjalan sesuai jadwal."

"Siap, Pak."

Adrian kemudian melangkah keluar.

Wajahnya tetap tenang, nyaris tanpa perubahan ekspresi.

Tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.

---

Lokasi pernikahan telah dipersiapkan dengan indah.

Bunga-bunga putih menghiasi bagian depan ruangan. Kursi-kursi tersusun rapi, sementara dekorasi sederhana memberikan kesan elegan tanpa terlihat berlebihan.

Para tamu mulai memenuhi tempat yang telah disediakan.

Ratna Mahendra berdiri di dekat pintu masuk bersama suaminya, Hendrik Mahendra.

Sejak tadi, Ratna tampak sibuk memastikan semua berjalan dengan baik.

"Semoga hari ini berjalan lancar," katanya.

Hendrik mengangguk.

"Semuanya sudah dipersiapkan. Jangan terlalu khawatir."

Ratna menghela napas.

"Aku hanya berharap Adrian bisa menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh."

Hendrik melirik putranya yang baru saja tiba bersama Daniel.

"Adrian memang bukan orang yang mudah menunjukkan perasaan. Namun, dia tahu tanggung jawabnya."

Ratna mengikuti arah pandangan suaminya.

Adrian berjalan mendekat.

"Ma," sapanya singkat.

Ratna langsung tersenyum.

"Kamu sudah datang."

"Iya."

Ratna memperhatikan penampilan putranya.

"Kamu terlihat rapi."

"Terima kasih."

"Jangan terlalu memikirkan pekerjaan hari ini, ya. Fokuslah pada acara."

Adrian menatap ibunya.

"Saya sudah mengatur jadwal."

Ratna menggeleng kecil.

"Bukan itu maksud Mama."

Adrian terdiam.

Dia memahami apa yang ingin dikatakan ibunya, tetapi tidak ingin membicarakannya panjang lebar.

"Acara akan segera dimulai," katanya akhirnya.

Hendrik menepuk bahu istrinya dengan lembut.

"Biarkan dia bersiap."

Ratna menghela napas, lalu mengangguk.

Adrian kemudian berjalan menuju ruang tunggu pengantin pria.

Seperti biasa, dia memilih diam daripada menjelaskan sesuatu yang menurutnya tidak perlu dibahas lebih jauh.

---

Alisha tiba beberapa saat kemudian.

Ketika mobil berhenti di dekat pintu masuk, dia menarik napas dalam-dalam sebelum turun dengan bantuan seorang petugas.

Matanya menyapu dekorasi yang telah disiapkan.

Semuanya terlihat begitu nyata.

Beberapa orang yang bertugas menyambutnya dengan ramah dan mengarahkannya menuju ruang tunggu pengantin perempuan.

Sebelum masuk, Alisha sempat menoleh ke arah pintu utama.

Dia berharap ibunya bisa berada di sana.

Namun, Ratih masih harus menjalani perawatan dan beristirahat di rumah sakit. Alisha memahami keadaan itu, meskipun ada sedikit kesedihan yang sulit disembunyikannya.

Dia mengeluarkan ponsel dan membuka foto ibunya.

"Bu, hari ini aku menikah," bisiknya pelan.

Jarinya menyentuh layar ponsel.

"Aku harap Ibu cepat sembuh."

Setelah beberapa saat, Alisha mengunci layar dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.

Dia tidak ingin larut dalam kesedihan.

Hari ini harus dijalaninya dengan baik.

Ketika memasuki ruangan, dia melihat Ratna sudah menunggunya.

"Alisha."

Alisha segera berdiri lebih tegak.

"Selamat pagi, Tante."

Ratna tersenyum hangat.

"Hari ini kamu terlihat cantik."

"Terima kasih, Tante."

Ratna menggenggam tangannya sebentar.

"Kamu gugup?"

Alisha mengangguk kecil.

"Sedikit."

"Tidak apa-apa. Semuanya akan berjalan dengan baik."

Alisha mencoba tersenyum.

Ratna tidak mengetahui seluruh alasan di balik pernikahan ini. Baginya, Alisha adalah perempuan yang akan menjadi istri putranya, seseorang yang perlu disambut dan diperlakukan dengan baik.

"Kamu tidak perlu merasa sendirian di sini," lanjut Ratna. "Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kamu boleh bicara dengan Tante."

Alisha merasakan kehangatan dari perkataan itu.

"Terima kasih banyak, Tante."

Ratna mengusap punggung tangannya sebelum memberi kesempatan kepada Alisha untuk kembali bersiap.

Setidaknya, di tengah kegugupannya, Alisha merasa bahwa keluarga Adrian tidak berniat mempersulit keadaannya.

---

Tak lama kemudian, acara pernikahan pun dimulai.

Para tamu mengambil tempat duduk masing-masing. Percakapan yang sebelumnya terdengar di berbagai sudut ruangan perlahan mereda.

Adrian telah berdiri di tempat yang disediakan.

Punggungnya tegak. Wajahnya tenang, sementara kedua tangannya berada dalam posisi rapi di depan tubuhnya.

Ketika musik mulai terdengar, perhatian para tamu beralih ke pintu masuk.

Alisha muncul dengan gaun putihnya.

Langkahnya perlahan.

Dia berusaha mengendalikan kegugupan yang semakin terasa setiap kali mendekati tempat Adrian berdiri.

Untuk sesaat, pandangan mereka bertemu.

Adrian menatapnya tanpa menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Dia hanya mengangguk tipis sebagai sapaan.

Alisha membalas dengan anggukan kecil.

Tidak ada senyuman romantis.

Tidak ada tatapan penuh kerinduan.

Namun, keduanya memahami bahwa hari ini mereka akan menjalani keputusan yang telah disepakati bersama.

Ketika Alisha tiba di samping Adrian, seorang petugas mempersilakan mereka menempati posisi masing-masing.

Adrian sedikit menggeser tubuhnya agar Alisha bisa berdiri dengan nyaman.

Gerakannya sederhana, tetapi cukup membantu Alisha yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan gaunnya.

"Terima kasih," bisik Alisha pelan.

Adrian mengangguk.

"Sama-sama."

Setelah itu, keduanya kembali menghadap ke depan.

Acara berlangsung dengan khidmat. Pemimpin acara menyampaikan beberapa kata tentang pernikahan, tanggung jawab, serta pentingnya saling menghormati dalam kehidupan bersama.

Alisha mendengarkan dengan saksama.

Ada beberapa kalimat yang membuatnya kembali memikirkan masa depannya.

Saling menghormati.

Saling menjaga.

Menjalani tanggung jawab bersama.

Dia tidak tahu apakah dirinya akan menemukan kebahagiaan dalam pernikahan ini, tetapi dia berharap setidaknya mereka bisa saling memperlakukan dengan baik.

Di sampingnya, Adrian mendengarkan dengan tenang.

Sesekali, dia melirik ke arah petugas yang mengatur jalannya acara untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Sikapnya tetap terkendali.

Namun, ketika Alisha tampak kesulitan membetulkan posisi gaunnya, Adrian menggeser sedikit kursi yang berada di dekatnya agar tidak menghalangi gerakan Alisha.

Dia melakukannya tanpa banyak bicara.

Alisha menyadarinya, tetapi tidak mengatakan apa-apa selain memberikan senyum kecil.

---

Setelah rangkaian acara utama selesai, keduanya menjalani proses pengesahan pernikahan sesuai ketentuan yang telah dipersiapkan.

Dokumen diperiksa.

Nama mereka disebut.

Tanda tangan dibubuhkan pada bagian yang diperlukan.

Ketika seluruh proses selesai dan petugas menyatakan bahwa mereka telah resmi menjadi suami istri, tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan.

"Selamat kepada kedua mempelai!"

Ratna terlihat sangat bahagia.

Hendrik tersenyum sambil memberikan tepuk tangan.

Beberapa tamu menghampiri mereka untuk menyampaikan ucapan selamat.

Alisha membalas setiap ucapan dengan sopan.

"Selamat, ya, Alisha," kata Ratna sambil memeluknya.

"Terima kasih, Tante."

"Mulai sekarang, kamu bagian dari keluarga kami."

Alisha terdiam sejenak sebelum mengangguk.

"Iya, Tante."

Di dekat mereka, Adrian menerima ucapan selamat dari beberapa rekan bisnis dan kerabat keluarga.

Dia membalasnya dengan sopan, tanpa memperpanjang percakapan.

Ketika kerumunan mulai berkurang, Daniel menghampirinya.

"Pak, semua dokumen acara sudah diselesaikan."

Adrian mengangguk.

"Baik."

"Setelah sesi foto, acara akan dilanjutkan dengan ramah tamah."

"Pastikan semuanya berjalan lancar."

"Siap, Pak."

Daniel kemudian beralih untuk memeriksa jadwal berikutnya.

Adrian melirik Alisha yang sedang berbicara dengan ibunya melalui panggilan video.

Dia tidak bisa mendengar seluruh percakapan mereka, tetapi melihat Alisha tersenyum dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Adrian tidak mendekat.

Dia memahami bahwa percakapan itu penting bagi Alisha.

Beberapa menit kemudian, Alisha mengakhiri panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Adrian baru menghampirinya.

"Ibumu?"

Alisha menoleh.

"Iya. Ibu mengucapkan selamat."

Adrian mengangguk pelan.

"Semoga lekas pulih."

Alisha sedikit terkejut mendengar ucapan itu, meskipun Adrian menyampaikannya dengan nada datar.

"Terima kasih."

Percakapan mereka berhenti sampai di sana.

Tidak ada yang merasa perlu menambahkan sesuatu.

Mereka berdiri berdampingan, tetapi jarak di antara keduanya masih terasa jelas.

Bukan karena ada pertengkaran.

Mereka hanya belum terbiasa menjadi pasangan.

---

Menjelang sore, sebagian besar rangkaian acara telah selesai.

Para tamu mulai meninggalkan lokasi setelah menyampaikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.

Alisha duduk sebentar di ruang istirahat, berusaha mengendurkan bahunya yang terasa pegal setelah berjam-jam mengenakan gaun pengantin.

Adrian masuk beberapa saat kemudian.

Dia sudah melepas jasnya dan menggulung sedikit bagian lengan kemejanya.

"Kamu masih di sini?" tanyanya.

Alisha menoleh.

"Iya. Aku sedang beristirahat sebentar."

Adrian mengangguk.

"Kalau sudah siap, kita bisa pulang."

Alisha berdiri perlahan.

"Baik."

Ketika dia mengambil tasnya, Adrian memperhatikan bahwa Alisha harus mengangkat sedikit bagian bawah gaunnya agar tidak tersangkut.

Adrian tidak langsung mengambil alih atau menyentuhnya. Dia hanya membuka pintu lebih lebar dan memastikan jalan di depan mereka tidak terhalang.

Alisha berjalan melewatinya.

"Terima kasih."

Adrian mengangguk sekali lagi.

Mereka kemudian berpamitan kepada Ratna dan Hendrik.

Ratna memeluk Alisha sebelum pasangan itu pergi.

"Jaga kesehatanmu, ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi Tante."

"Iya, Tante."

Ratna kemudian menoleh kepada Adrian.

"Jaga Alisha baik-baik."

Adrian menjawab dengan singkat, tetapi tegas.

"Iya, Ma."

Hendrik menepuk bahu putranya.

"Hati-hati di jalan."

Adrian mengangguk.

Setelah berpamitan, Adrian dan Alisha meninggalkan lokasi pernikahan.

Hari itu telah mengubah status mereka di hadapan keluarga dan orang lain.

Namun, mereka berdua tahu bahwa kehidupan setelah acara ini akan berbeda dari apa yang terlihat di foto-foto pernikahan.

Tidak akan selalu ada dekorasi indah.

Tidak akan selalu ada orang yang mengucapkan selamat.

Yang tersisa hanyalah kehidupan sehari-hari, dengan kebiasaan, pekerjaan, dan tanggung jawab masing-masing.

Dan mereka masih harus belajar bagaimana menjalani semuanya di bawah satu atap.

---

Mobil melaju meninggalkan lokasi pernikahan.

Alisha duduk di kursi penumpang, sementara Adrian berada di belakang kemudi.

Selama beberapa menit, tidak ada percakapan di antara mereka.

Alisha memandang keluar jendela.

Adrian berkonsentrasi pada jalan.

Suasana di dalam mobil tidak terasa bermusuhan, hanya canggung karena keduanya belum terbiasa dengan keadaan baru ini.

Akhirnya, Adrian membuka suara.

"Setelah sampai di rumah, kamu bisa beristirahat."

Alisha menoleh.

"Bagaimana dengan kamu?"

"Aku masih harus memeriksa beberapa pekerjaan."

Alisha sudah menduga jawaban itu.

"Oh, begitu."

"Kalau kamu membutuhkan sesuatu, beri tahu Daniel. Dia akan membantu mengurus keperluan rumah."

Alisha mengangguk pelan.

"Baik."

Adrian kembali memusatkan perhatian pada jalan.

Tidak ada janji manis atau percakapan panjang tentang masa depan mereka.

Alisha pun tidak memaksanya.

Dia tahu sejak awal bahwa pernikahan ini tidak dibangun berdasarkan perasaan cinta.

Untuk sekarang, dia hanya berharap bisa menjalani hari-harinya dengan tenang, tetap bekerja, dan memastikan ibunya mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

Sementara Adrian ingin agar kehidupan barunya tidak mengganggu tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan.

Dua orang dengan tujuan berbeda.

Kini, mereka telah resmi menjadi suami istri.

Dan perjalanan mereka baru saja dimulai.

1
katya
Good luck with your novel, it's quite an interesting novel.👍
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
katya
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!