Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Jarak di antara mereka masih terasa terlalu dekat.
Napas Reynand menyapu lembut dahi Anindya — hangat, namun juga berat dan penuh gejolak. Mata Anindya membelalak, bibirnya sedikit terbuka, ia seakan kehilangan kemampuan untuk bernapas maupun bergerak.
JEDARRR...!!
Petir kembali menyambar dengan keras. Lampu kamar berkedip sejenak sebelum akhirnya kembali menyala terang.
Pada detik itu juga, kesadaran Reynand seketika pulih sepenuhnya.
Ini sudah di luar batas kewajaran.
Dengan gerakan cepat, ia mundur sebanyak dua langkah. Jarak yang sedetik lalu terasa nyaris tak terpisahkan, kini terbentang seluas jurang di antara mereka.
"Ma... maaf," ucap Reynand dengan suara yang terdengar serak dan bergetar, bukan lagi nada tegas seorang pimpinan yang terbiasa memberi perintah.
Ia mengusap tengkuknya sendiri, rahangnya mengeras menahan segala gejolak batin yang bergolak di dadanya.
Anindya masih berdiri terpaku di tempatnya. Kedua pipinya terasa panas membara, dan detak jantungnya terdengar nyaring hingga ke telinga sendiri.
"S-saya... saya minta maaf, Pak. Tadi saya..." suaranya tercekat di kerongkongan, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Tidak perlu dijelaskan," potong Reynand dengan cepat, terlalu cepat seakan ingin menutup kemungkinan pembicaraan lebih lanjut.
Ia berbalik memunggungi Anindya. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, menahan diri agar tidak kembali melangkah mendekat.
"Segera ganti pakaian dengan yang kering, lalu beristirahat. Besok pagi pukul tujuh kita akan melanjutkan inspeksi lapangan. Siang harinya baru kita kembali ke kota."
Sebuah perintah. Dingin. Tegas. Profesional. Seakan apa yang baru saja terjadi dalam sepuluh detik yang lalu itu sama sekali tidak pernah terjadi.
Anindya mengangguk pelan, meskipun ia tahu Reynand tidak dapat melihatnya dari belakang.
"Baik, Pak."
Ia bergegas melangkah kecil menuju kamar mandi, mengunci pintu dari dalam, lalu menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang tertutup rapat itu.
Tadi... mereka hampir berciuman. Hampir saja melanggar batas yang seharusnya dijaga.
Sementara itu, di ruang utama, Reynand berdiri terpaku di depan jendela kaca besar. Hujan di luar masih menghantam permukaan kaca dengan gemuruh yang tak kunjung reda.
Ia memejamkan mata rapat, menarik napas panjang dan dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih belum kembali tenang.
Ponsel yang tergeletak di meja bergetar perlahan. Nama penelepon terpampang jelas di layar - Gisella.
Reynand menatap nama itu cukup lama, sangat lama, seakan harus memutuskan sesuatu yang berat sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Sayang? Besok pagi aku mampir ke apartemen sekalian membawakan sarapan, ya?" suara Gisella terdengar ceria dan penuh keakraban di seberang telepon.
Reynand memejamkan mata, menghela napas panjang sebelum menjawab dengan nada yang datar dan tanpa emosi.
"Aku sedang melakukan perjalanan dinas. Besok siang baru kembali."
"Oh... aku—"
Tut...
Panggilan diputuskan sepihak. Reynand menyandarkan dahinya ke permukaan kaca jendela yang terasa dingin. Di luar sana, bayangan dirinya sendiri terlihat samar dan kabur di balik kaca yang terkena percikan air hujan.
Ia tahu sepenuhnya di dalam hatinya, ia tak seharusnya menumbuhkan dan memelihara perasaan sedalam ini terhadap sekretaris yang bekerja di bawah naungannya sendiri.
-
-
-
Suasana di lantai tiga puluh gedung Reynand Group pagi ini tampak seperti biasa, sibuk namun tertib. Pintu ruangan kerja Reynand terbuka perlahan, dan Hansen melangkah keluar dengan berkas laporan di tangan. Belum sempat ia melangkah menuju ruangannya sendiri, lift eksekutif tepat terbuka, dan sosok Gisella melangkah keluar dengan penampilan yang selalu sempurna, namun langkahnya terlihat penuh tujuan.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Hansen dengan sopan dan hormat.
Gisella mengangguk singkat, tatapannya langsung tertuju pada pintu ruangan suaminya yang tertutup rapat.
"Selamat pagi."
"Mohon maaf, Nyonya. Tuan Reynand sedang menjalankan perjalanan dinas ke luar kota. Beliau baru akan kembali nanti siang," jawab Hansen dengan senyum tetap terjaga dan sopan santunnya tak tergoyahkan.
"Aku tahu," jawab Gisella datar, seakan informasi itu sudah lama ia ketahui.
Ia menoleh ke arah meja sekretaris di ruang depan yang tampak rapi namun kosong. Tidak ada tas, tidak ada kehadiran siapa pun di sana. Dadanya seakan mencelos, dan rasa cemas yang sejak semalam ia tahan kini meluap kembali ke permukaan. Ia menoleh cepat ke arah Hansen, sorot matanya berubah tajam dan penuh kekhawatiran yang tak bisa lagi disembunyikan.
"Hansen..." panggilnya dengan nada yang sedikit bergetar namun tetap berusaha tegas. "Reynand pergi dinas itu... apakah dia pergi bersama sekretaris barunya itu? Anindya?"
Hansen terdiam sejenak, menatap wajah wanita itu yang kini tampak menahan napas menanti jawaban. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, tetap menjaga profesionalitasnya sebagai asisten pribadi.
"Maaf, Nyonya... saya tidak berwenang memberikan rincian perjalanan dinas Tuan Reynand kepada pihak di luar lingkungan kantor, kecuali atas persetujuan beliau sendiri."
Gisella menyipitkan matanya, cengkeraman tas tangan di genggamannya semakin erat.
"Aku istrinya, Hansen. Bukan pihak luar. Sekarang jawab aku. Apakah wanita itu ikut bersamanya?"
Suasana di lorong itu seketika menjadi hening. Hansen menunduk sedikit, namun tetap teguh pada pendiriannya.
"Mohon dimaklumi, Nyonya. Semua urusan perjalanan dinas sepenuhnya diatur oleh Tuan Reynand secara langsung."
Gisella menghela napas panjang, berusaha menahan amarah dan kekhawatiran yang bercampur aduk di dadanya. Ia tahu Hansen tidak akan mudah digoyahkan, namun keraguan yang kini tumbuh di hatinya semakin mengakar kuat.
"Baiklah..." ucapnya akhirnya pelan namun penuh penekanan. "Kalau begitu, tolong sampaikan pada suamiku, bahwa aku datang menemuinya. Dan sampaikan juga... suruh dia pulang ke kediaman utama malam ini. Ada hal yang ingin aku bahas berdua dengannya."
"Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan pesan Anda begitu Tuan Reynand kembali nanti."
Gisella melangkah menuju lift dengan langkah yang tetap terjaga keanggunannya, namun jemarinya yang mencengkeram tas tangan di sisi tubuhnya mengisyaratkan betapa besarnya kekesalan yang ia tahan. Pintu lift terbuka, dan sesaat sebelum tertutup, ia sempat melirik sekilas ke arah meja sekretaris yang masih kosong itu sekali lagi, seakan ingin memastikan bahwa keraguannya bukanlah sekedar ketakutan tanpa alasan.
"Dia cuma seorang sekretaris biasa," batinnya bergetar, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Reynand tidak akan mungkin tertarik padanya. Benar begitu, kan?"
-
-
-
Bersambung...