Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Suasana di ruang rapat utama NesAura Skincare mendadak terasa begitu padat. Pendingin ruangan yang diatur pada suhu dua puluh derajat Celsius seakan tidak sanggup meredam hawa panas yang terpancar dari ketegangan di antara kedua belah pihak.
Di ujung meja rapat, Nesa duduk dengan postur tegak, kedua tangannya terlipat di atas meja. Wajahnya dingin, tanpa senyum, menampilkan benteng pertahanan seorang CEO perempuan yang menolak untuk terintimidasi oleh pesona slengean dari mitra bisnis mudanya.
Sementara itu, di seberang meja, Arsenio Vance atau yang akrab dipanggil Arsen duduk bersandar santai dengan sebelah tangan menumpu dagunya. Pemuda itu sama sekali tidak terlihat gentar menghadapi tatapan tajam Nesa. Alih-alih merasa tertekan, sudut bibirnya justru terus membentuk senyuman miring yang menyebalkan sekaligus memikat.
"Mari kita langsung ke inti proposal, Mr. Vance," suara Nesa mengalun datar namun penuh wibawa, memecah keheningan yang sempat mendera. "Tim hukum dan pemasaran kami sudah meninjau draf kolaborasi bundling antara NesAura dan Aethel & Co. Secara konsep pasar, ide Anda memang menarik. Tapi ada beberapa klausul mengenai bagi hasil dan pembagian hak cipta pemasaran digital yang tidak bisa kami setujui begitu saja."
Arsen tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebatang pena bermerek di atas meja, memutar-mutarnya perlahan di antara jemarinya yang panjang, sementara manik matanya terus menatap lekat-lekat ke arah Nesa. Pandangan itu begitu intens, seolah ia sedang mengamati sebuah karya seni alih-alih membahas dokumen hukum korporat.
"Silakan, Bu Nesa yang terhormat. Bagian mana yang bikin tim legal Ibu jidatnya berkerut sampai mau copot?" tanya Arsen dengan nada santai, sengaja memancing emosi.
Bila, yang duduk tepat di samping Nesa, nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar cara bicara Arsen yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan formal ruang rapat direksi.
Nesa menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak kesal di dadanya. "Klausul keempat mengenai eksklusivitas promosi. Anda meminta hak penuh untuk menentukan arah kampanye digital di media sosial secara sepihak selama masa peluncuran. NesAura tidak pernah menyerahkan kendali citra merek kami pada pihak luar begitu saja, apalagi pada partner yang hobi membuat konten ugal-ugalan di TikTok."
Mendengar kata "ugal-ugalan", tawa kecil yang renyah meluncur dari mulut Arsen. Pemuda itu meletakkan penanya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan jarak dengan meja rapat.
"Ugal-ugalan itu seni, Bu Nesa," sanggah Arsen dengan mata berbinar penuh percaya diri. "Kalau promosi kosmetik dan parfum dibikin kaku, lurus, dan membosankan seperti kebanyakan brand tua di luar sana, anak muda zaman sekarang bahkan tidak akan meliriknya selama dua detik di beranda Instagram mereka. Mereka butuh sesuatu yang berani, jujur, dan... sedikit resek seperti saya."
"Ini bukan soal membuat konten yang membosankan, Mr. Vance. Ini soal kredibilitas dan reputasi perusahaan yang kami bangun dengan bertahun-tahun kerja keras," balas Nesa tegas, suaranya naik satu tingkat. "Saya tidak mau kerja sama ini ternoda oleh gimik murahan."
"Gimik murahan?" Arsen mengangkat sebelah alisnya, senyumannya perlahan memudar digantikan sorot mata serius yang memancarkan ketajaman bisnis luar biasa. "Bu Nesa, mari kita bicara realistis. Brand NesAura memang raksasa di segmen perawatan kulit matang. Tapi kalian butuh penetrasi pasar ke Gen Z dan milenial muda. Dan di situlah Aethel & Co masuk. Saya tidak menawarkan gimik murahan; saya menawarkan jaminan bahwa produk kolaborasi kita akan sold out dalam waktu kurang dari satu jam setelah dirilis."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan rapat. Tim internal NesAura saling berpandangan. Di balik gaya bicaranya yang slengean dan tengil, argumen bisnis yang dilontarkan Arsen ternyata sangat tajam, terukur, dan berbasis pada data pasar yang akurat. Pemuda itu tahu persis kelemahan sekaligus kekuatan kedua belah pihak.
Nesa tertegun sejenak. Ia menatap tajam ke arah Arsen, mengakui dalam hati bahwa pemuda di hadapannya bukanlah sembarang anak muda kaya yang gemar mencari sensasi di media sosial. Di balik penampilan urakannya, tersimpan otak bisnis yang cerdas dan berbahaya.
"Anda pintar merangkai kata, Mr. Vance," ujar Nesa akhirnya dengan nada suara yang sedikit melunak namun tetap waspada. "Tapi kepintaran saja tidak cukup. Kita tetap harus merevisi klausul pembagian tanggung jawab pemasaran agar kedua belah pihak merasa aman secara hukum."
Arsen kembali tersenyum lebar, kali ini senyuman yang tampak jauh lebih tulus dan memesona. "Baiklah, Bu CEO. Untuk urusan revisi klausul hukum, saya serahkan sepenuhnya pada tim legal Ibu. Tapi dengan satu syarat..."
Nesa mengerjap, keningnya berkerut curiga. "Syarat apa lagi?."
"Jam jam makan siang ini sudah hampir tiba," ucap Arsen sambil melirik jam tangan mewahnya sekilas. "Sebagai bentuk kompromi dan itikad baik saya untuk meredam kegalakan Bu Nesa, bagaimana kalau kita lanjutkan diskusi revisi ini sambil makan siang di luar? Restoran Jepang di seberang gedung ini sepertinya cukup tenang."
Nesa langsung menggelengkan kepalanya tegas. "Terima kasih atas tawaran Anda, Mr. Vance. Tapi jadwal saya hari ini penuh. Saya harus memeriksa laporan logistik pabrik setelah ini."
"Penuh atau sengaja menghindar karena takut salah tingkah di dekat saya?" potong Arsen cepat tanpa rem, melemparkan godaan maut yang langsung membuat seluruh isi ruang rapat terpaku.
Nesa membelalakkan matanya, merasa darahnya berdesir naik ke kepala akibat rasa geram yang luar biasa. "Mr. Vance! Jaga ucapan Anda."
"Saya bicara jujur, kok," jawab Arsen tanpa rasa bersalah sedikit pun, lalu berdiri dari kursinya sambil merapikan jas abu-abunya dengan santai. "Baiklah, saya beri waktu Bu Nesa untuk berpikir ulang sampai sore nanti. Proposal revisinya akan dikirim oleh tim saya sebelum jam lima. Sampai jumpa lagi, Bu Nesa... semoga malam ini mimpinya tidak diganggu oleh saya."
Setelah mengucapkan kalimat penutup yang sukses membuat Nesa menahan napas kesal, Arsen melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah ringan, meninggalkan aroma parfum maskulin beraroma kayu manis dan citrus yang menguar di udara ruangan tersebut.
Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat, Bila menghela napas panjang sambil menatap atasannya dengan senyuman tertahan. "Wah... pemilik Aethel & Co itu benar-benar tipe pria yang tidak punya tombol rem ya, Bu."
Nesa mengembuskan napas kasarnya, memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut ringan. "Dia bukan tidak punya rem, Bila. Dia memang sengaja mencabut rem mobilnya sejak lahir."
Hari-hari berikutnya berjalan dalam pusaran kesibukan yang semakin padat. Sesuai janjinya, tim hukum Aethel & Co mengirimkan draf revisi proposal kolaborasi dengan akomodasi klausul yang sangat menguntungkan pihak NesAura. Tidak ada lagi perdebatan alot; Arsen benar-benar membuktikan bahwa di balik tingkah tengilnya, ia adalah profesional sejati yang tahu kapan harus serius.
Namun, bukan berarti kehadiran Arsen berhenti sampai di ruang rapat saja.
Semenjak hari itu, pemuda tersebut seolah menemukan hobi baru: mengganggu ketenangan hidup Nesa.
Setiap dua hari sekali, sebuah kurir pengiriman selalu datang ke lobi utama NesAura Skincare, membawa buket bunga segar berukuran besar dengan kartu ucapan bernada gombalan ugal-ugalan yang ditulis tangan oleh Arsen. Kadang kala, ia mengirimkan secangkir kopi hitam dengan catatan kecil di cup-nya: "Jangan lupa ngopi, Bu Galang eh, Bu Nesa maksudnya. Biar nggak gampang marah-marah."
Tentu saja hal itu langsung menjadi bahan gossip hangat di kalangan karyawan lantai eksekutif. Bila bahkan sering kali harus menahan tawanya setiap kali melihat ekspresi Nesa yang kesal bercampur salah tingkah mendapati meja kerjanya dipenuhi kiriman dari sang mitra bisnis.
Di sisi lain, dunia di luar sana juga mulai berspekulasi liar. Akun gosip Instagram dan TikTok ramai memberitakan kedekatan tak terduga antara CEO NesAura yang dikenal dingin dan elegan dengan owner Aethel & Co yang terkenal urakan dan berjiwa bebas. Komentar netizen membludak, menjuluki mereka sebagai pasangan "Ice Queen & Hotheaded Boy".
Nesa berusaha keras mengabaikan semua kebisingan media sosial itu. Ia tetap fokus pada persiapan peluncuran lini produk kolaborasi Skincare & Perfume yang dijadwalkan berlangsung sebulan ke depan.
Suatu sore, hujan gerimis mengguyur kota Jakarta dengan lembut, menyisakan hawa dingin yang merayap masuk lewat celah jendela kaca kantor. Pukul tujuh malam, gedung NesAura sudah mulai sepi. Sebagian besar karyawan sudah pulang, menyisakan beberapa staf keamanan dan Nesa yang masih duduk di balik meja kerjanya, merampungkan laporan keuangan terakhir.
Nesa meregangkan kedua tangannya ke atas, memijat tengkuknya yang terasa pegal. Matanya terasa lelah setelah berjam-jam menatap layar monitor.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya terdengar pelan bukan ketukan formal dari Bila, melainkan ketukan santai sebanyak dua kali.
Sebelum Nesa sempat bersuara menyuruh masuk, pintu terdorong terbuka.
Sosok tinggi berbalut mantel hitam panjang dengan rambut sedikit basah di bagian ujungnya akibat gerimis melangkah masuk ke dalam ruangan. Di tangan kanannya, ia membawa dua cangkir kertas berisi cokelat panas yang masih mengepulkan uap tipis.
"Lembur terus, Bu CEO? Nanti cantiknya luntur lho," suara bariton yang sangat dikenal itu langsung menyapa telinga Nesa.
Nesa mendongak kaget. Ia menatap Arsen yang kini sudah berdiri santai di dekat meja kerjanya, membawa dua cangkir minuman hangat tanpa merasa bersalah sedikit pun telah menerobos masuk ke ruang pribadi di malam hari.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke lantai ini, Mr. Vance?" tanya Nesa dingin, langsung memasang ekspresi defensif. "Satpam di bawah seharusnya tidak mengizinkan tamu sembarangan naik setelah jam kantor."
Arsen tersenyum miring, berjalan mendekati meja Nesa lalu meletakkan salah satu cangkir cokelat panas tepat di samping tumpukan berkas kerja Nesa.
"Satpam bawah itu kenalan baik saya, Bu Nesa. Dan saya bilang kalau saya ini calon... ehm, mitra bisnis paling penting yang membawa rezeki nomplok buat perusahaan ini," jawab Arsen enteng, lalu menarik kursi di seberang meja tanpa diundang dan duduk di sana.
Nesa menatap cangkir cokelat panas itu, lalu beralih menatap tajam ke arah Arsen. "Saya tidak memesan cokelat panas, dan saya tidak butuh kunjungan larut malam dari seorang mitra bisnis yang tidak tahu jam sopan santun."
Arsen terkekeh pelan. Ia melepas mantel hitamnya, menyampirkannya di sandaran kursi, lalu menatap Nesa dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah sedikit lebih teduh menghilangkan sejenak kesan tengil yang biasa melekat pada dirinya.
"Saya cuma lewat sehabis meeting dengan klien di sekitar sini, lalu ingat kalau CEO NesAura ini tipe perempuan keras kepala yang pasti lupa makan malam kalau sudah fokus bekerja," ucap Arsen lembut, suaranya terdengar begitu tulus. "Minum, Nesa. Cokelat panas itu nggak ada racunnya, sumpah."
Penyebutan nama depannya secara langsung tanpa embel-embel "Bu" atau "Mr" membuat jantung Nesa berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ada kehangatan asing yang mendadak merayap di dadanya, mencairkan sedikit demi sedikit benteng es yang selama ini ia bangun rapat-rapat.
Namun, Nesa segera menepis perasaan itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan menatap pemuda di hadapannya dengan sorot mata penuh peringatan.
"Mr. Vance, dengar..." ucap Nesa tegas. "Saya hargai kerja sama profesional kita. Tapi tolong, batasi perilaku Anda. Kita tidak memiliki hubungan personal apa pun di luar urusan kantor."
Arsen tidak marah mendengar penolakan dingin itu. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman penuh keyakinan yang luar biasa.
Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap Nesa lurus-lurus tanpa berkedip.
"Siapa bilang kita hanya rekan bisnis?" bisik Arsen pelan namun penuh penekanan, membuat ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi di tengah deru hujan di luar jendela. "Saya memang baru datang ke hidup Ibu, Nesa. Tapi saya pastikan... saya tidak akan pernah pergi ke mana pun sebelum Ibu sendiri yang meminta saya tinggal."
Nesa tertegun. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir pemuda ugal-ugalan itu dengan keyakinan mutlak yang membuat lidah Nesa mendadak kelu. Di bawah temaram lampu meja kerja, untuk pertama kalinya, Nesa merasa benteng pertahanan hatinya benar-benar goyah oleh seorang brondong tengil yang datang tanpa diundang ke dalam hidupnya.