Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Perlu Mengkhawatirkanku
Wu Xing tidak langsung duduk. Ia terlebih dahulu menatap Boqin Changing dengan senyum tipis, kemudian menarik kursi di hadapannya dan duduk dengan santai.
"Tuan besar, kalian hanya pergi selama beberapa bulan, tetapi sudah membuat kekacauan di mana-mana."
Boqin Changing mengangkat alis. Sesaat kemudian, ia tertawa mendengar perkataan Wu Xing.
"Apa kau iri?"
Wu Xing ikut tertawa. Ia menggelengkan kepala sambil menjawab.
"Tentu saja! Kalian pergi bertarung dengan orang-orang kuat, membuat nama besar di dunia persilatan, tetapi tidak seorang pun mengajakku. Apa kalian sudah melupakan orang tua ini?"
Boqin Changing tersenyum geli.
"Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Hanya saja, tugasmu di sini jauh lebih penting daripada ikut bertarung bersama kami."
Wu Xing menghela napas pura-pura kecewa.
"Benar juga. Kalau aku ikut pergi, siapa yang akan menjaga tempat ini?"
Boqin Changing hanya tersenyum. Ia tidak menyangkal perkataan itu.
Selama dirinya tidak berada di sekte, Wu Xing memang memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting. Selain membantu Sekte Dua Pedang Petir, pria itu juga harus memastikan tidak ada pihak luar yang berani bertindak semena-mena.
Percakapan mereka perlahan terhenti. Angin malam berembus melewati teras, membuat suasana menjadi lebih hening.
Wu Xing yang sebelumnya masih tersenyum tiba-tiba mengubah ekspresinya. Ia menatap Boqin Changing beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan suara lebih pelan.
"Syukurlah, kau baik-baik saja, Tuan Besar."
Boqin Changing menoleh kepadanya. Melihat kesungguhan di wajah Wu Xing, ia kembali tertawa kecil.
"Apa yang perlu kau khawatirkan dariku?"
Wu Xing terdiam sesaat, lalu ikut tertawa.
"Benar juga. Dengan kemampuanmu sekarang, siapa yang cukup berani mencari masalah denganmu?"
"Kalau begitu, untuk apa kau repot-repot mengkhawatirkanku?"
"Hahaha! Tapi Tuan Besar, meskipun aku tahu kau kuat, bukan berarti aku tidak boleh mengkhawatirkanmu."
Boqin Changing tersenyum tanpa menjawab. Ia memahami perasaan Wu Xing.
Bagi orang luar, dirinya mungkin hanya dikenal sebagai sosok menakutkan yang mampu membuat banyak pendekar berpengalaman gemetar. Namun, bagi Wu Xing, ia adalah Tuan yang sangat ia hormati dan perhatikan.
Setelah tertawa bersama beberapa saat, Boqin Changing mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, cukup membicarakan hal itu. Bagaimana keadaan sekte selama aku tidak berada di sini?"
Wu Xing segera menjawab dengan nada serius.
"Secara keseluruhan, keadaan sekte masih baik. Tidak ada masalah besar yang mengganggu kegiatan para murid. Patriark Wang Zhou dan para tetua juga menjalankan tugas mereka seperti biasa."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Namun, setelah kau pergi, semakin banyak kelompok yang mengirim mata-mata untuk mengamati sekte ini."
Boqin Changing tidak terlihat terkejut.
"Karena aku?"
Wu Xing mengangguk.
"Awalnya, hanya beberapa kelompok yang menunjukkan ketertarikan. Mereka ingin mengetahui keadaan Sekte Dua Pedang Petir, jumlah pendekar kuat yang kita miliki, serta hubunganmu dengan para tetua di sini." Wu Xing menggelengkan kepala. "Namun, setelah kau resmi menjadi salah satu Raja Dunia, jumlah mereka meningkat tajam."
Boqin Changing menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Sepertinya gelar itu cukup merepotkan."
"Memang merepotkan." Wu Xing menghela napas. "Mereka datang dengan berbagai motif. Ada yang sekadar ingin mengumpulkan informasi, ada pula yang ingin menjalin hubungan dengan sekte ini. Beberapa bahkan mungkin berniat mencari kelemahan kita."
Ia melanjutkan ucapannya.
"Untungnya, sebagian besar dari mereka hanya berani bergerak di Kota Shui atau mengamati sekte ini dari kejauhan. Mereka tidak berani memasuki wilayah sekte secara terang-terangan."
Boqin Changing menatap Wu Xing kembali.
"Bagaimana dengan mereka yang tidak tahu diri?"
Senyum tipis muncul di wajah Wu Xing.
"Aku mendatangi mereka satu per satu dan menyuruh mereka pergi. Sebagian besar langsung menuruti perkataanku. Adapun mereka yang masih membangkang, aku tidak segan-segan melumpuhkan mereka semuanya.”
Boqin Changing tertawa kecil.
"Kau masih seperti biasanya."
Wu Xing ikut tertawa.
"Tentu saja. Jika aku bersikap terlalu lunak, mereka akan menganggap Sekte Dua Pedang Petir mudah ditindas."
Wu Xing berhenti sejenak, kemudian menambahkan ucapannya.
"Oh, benar. Malam ini juga ada beberapa kelompok yang mencoba mengawasi sekte dari beberapa tempat berbeda. Aku sudah mendatangi mereka dan menyuruh mereka angkat kaki."
Boqin Changing menatapnya dengan penuh minat.
"Jadi, tiga kelompok yang kurasakan itu, tadi kau yang usir mereka?"
Wu Xing mengangguk.
"Benar, Tuan Besar. Mereka sudah pergi. Sepertinya mereka tidak menyangka aku akan menemukan keberadaan mereka secepat itu."
Boqin Changing mengangkat cangkir teh di atas meja kecil, lalu menyesap isinya sebelum kembali berbicara.
"Bagus."
"Jika masih ada kelompok yang mengawasi sekte ini, catat baik-baik dari mana mereka berasal. Cari tahu nama kelompok mereka, siapa pemimpinnya, serta apa tujuan mereka datang ke sini."
"Setelah itu, sampaikan pesan kepada mereka. Jika mereka kembali melakukan pergerakan untuk mengawasi sekte ini tanpa izin, aku sendiri yang akan datang menghancurkan markas mereka."
Nada suara Boqin Changing terdengar santai. Namun, Wu Xing tahu bahwa perkataan itu bukan sekadar ancaman kosong.
Sosok yang kini duduk di hadapannya adalah Tuannya. Ia tahu betul kekuatannya.
Orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di dunia persilatan pun harus mempertimbangkan dengan matang sebelum berani menyinggungnya. Jika Boqin Changing benar-benar memutuskan untuk menghancurkan sebuah kelompok, tidak banyak pihak yang mampu menghentikannya.
Wu Xing mengangguk mantap.
"Baik, Tuan Besar. Aku akan menyampaikan pesan itu kepada mereka."
Ia kemudian menundukkan kepala sedikit.
"Namun, aku juga ingin meminta maaf. Selama kau tidak berada di sekte, aku hanya mengusir mereka. Aku tidak langsung memberi peringatan keras seperti yang baru saja kau katakan."
Boqin Changing melambaikan tangan.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Tindakanmu sudah benar. Selama mereka tidak mengganggu sekte dan bersedia pergi, tidak perlu membuang terlalu banyak waktu untuk menghadapi mereka."
Ia menatap Wu Xing sambil tersenyum.
"Aku hanya tidak ingin mereka menganggap kesabaranku sebagai tanda kelemahan. Jika mereka tetap tidak memahami batasan, barulah kita beri mereka pelajaran."
Wu Xing tertawa.
"Tuan Besar, sepertinya orang-orang itu akan kesulitan tidur setelah mendengar pesanmu."
Boqin Changing mengangguk.
"Kalau begitu, semoga mereka bisa tidur lebih nyenyak setelah berhenti mengawasi sekte ini."
Keduanya kembali tertawa.
Setelah urusan tersebut selesai dibicarakan, suasana di teras kembali santai. Wu Xing menceritakan beberapa kejadian yang berlangsung selama Boqin Changing tidak berada di sekte. Ada pula beberapa hal kecil yang membuatnya kesal, terutama ulah sejumlah orang yang mengira mereka bisa bertindak sesuka hati hanya karena Boqin Changing sedang tidak berada di tempat.
Boqin Changing mendengarkan sambil sesekali memberikan tanggapan. Mereka juga membicarakan perkembangan para murid, keadaan Kota Shui, serta beberapa perubahan yang terjadi di dunia persilatan.
Waktu berlalu tanpa terasa. Percakapan mereka berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Wu Xing berdiri dan berpamitan.
"Tuan Besar, aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu lagi.”
Boqin Changing menatap Wu Xing kembali.
"Pergilah. Jika ada sesuatu yang penting, langsung beri tahu aku."
Wu Xing mengangguk.
"Baik, Tuan Besar."
Wu Xing membungkuk hormat sebelum melangkah meninggalkan teras. Sosoknya perlahan menghilang di antara kegelapan malam.
Boqin Changing kembali duduk sendirian. Setelah menikmati ketenangan selama beberapa saat, ia akhirnya berdiri dan memasuki kamarnya untuk beristirahat. Malam itu berlalu tanpa kejadian lain.
...******...
Keesokan paginya, cahaya matahari mulai menyinari kediaman Boqin Feng. Suara burung terdengar dari pepohonan di sekitar rumah, sementara beberapa murid sekte sudah mulai melakukan latihan pagi di tempat mereka masing-masing.
Di dalam salah satu kamar, Boqin Changing masih terbaring di atas tempat tidur. Ia belum juga bangun. Bahkan, wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan sedikit perubahan. Bibirnya bergerak pelan, seolah sedang berbicara dengan seseorang di dalam mimpi.
"Jangan... jangan sentuh mereka..."
Kening Boqin Changing berkerut. Tangannya mengepal di atas selimut, sementara napasnya terdengar sedikit berat.
"Kalau kalian berani menyentuh Ayah dan Ibu..."
Suaranya terhenti sesaat.
"Aku akan membunuh kalian semua!"
Kalimat terakhir itu terdengar lebih keras daripada sebelumnya. Namun, Boqin Changing tetap tidak membuka matanya. Ia masih terjebak dalam mimpinya sendiri.
Di luar kamar, suasana kediaman tetap tenang. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang sedang dialaminya.
Sementara itu, di ruang tamu, dua orang tamu telah tiba untuk menemuinya. Tetua Keenam, Yi Min, duduk di salah satu kursi sambil sesekali melirik ke arah lorong yang menuju kamar Boqin Changing. Di sampingnya duduk seorang pemuda berusia belasan tahun. Penampilannya cukup rapi, dengan pakaian seorang tuan muda bangsawan yang terlihat terawat.
Pemuda itu duduk tegak, tetapi sesekali ia melirik ke sekeliling dengan rasa ingin tahu. Ia jelas belum terbiasa berada di kediaman salah satu pendekar terhebat di alam ini.
Yi Min memperhatikan tingkahnya, lalu berkata pelan.
"Duduklah dengan tenang. Kita datang untuk menemui Tetua Keempat yang kau cari.”
Pemuda itu segera menarik kembali pandangannya.
"Baik, Tetua."
Yi Min mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah dalam rumah.
"Tetua Keempat baru saja kembali setelah sekian lama pergi. Kita mungkin harus menunggu sebentar."
Pemuda itu mengangguk patuh. Meski demikian, rasa penasaran di matanya tidak sepenuhnya menghilang.
Ia telah mendengar banyak cerita mengenai Boqin Changing. Kini, ia akhirnya memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan sosok yang namanya semakin terkenal di dunia persilatan itu.
Sayangnya, orang yang ingin ditemuinya masih tertidur pulas di dalam kamar.