NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Sidang di Aula Utama

Aula utama Sekte Pedang Fajar berdiri di tengah kompleks sekte dalam, sebuah bangunan panjang bertiang merah dengan lantai papan yang sudah mengilap oleh ratusan tahun langkah kaki. Di ujung ruangan, di atas panggung rendah, tiga kursi kayu berukir ditata berjajar. Tiga orang tua duduk di sana dengan wajah yang berbeda-beda: yang kiri berkumis tebal dan tampak mengantuk, yang tengah kurus dengan mata tajam seperti burung elang, dan yang kanan gemuk dengan senyum yang tidak sampai ke matanya.

Jian Chen berdiri di barisan paling belakang bersama Lu Gang, memakai jubah luar terbaiknya yang ia pinjam dari Qiu Bo dan tetap terasa kebesaran. Di sisi lain ruangan, Gu Hong berdiri tegak dengan cambuk di pinggang dan wajah yang tidak menunjukkan apa-apa. Dua puluh murid luar duduk bersila di lantai sebagai saksi, termasuk Qiu Bo, Tan Fu, dan Lin Xue.

"Sidang dibuka," kata tetua yang kurus. Suaranya tajam dan tidak membuang kata. "Aku Tetua Yan dari Aula Hukum. Di sebelah kiriku Tetua Sun dari Aula Kontribusi, di sebelah kananku Tetua Bai dari Penilik. Zhao Feng dari sekte dalam mengajukan laporan. Silakan."

Zhao Feng melangkah ke depan dan membungkuk. "Terima kasih, Tetua. Dalam penyelidikan perintah palsu yang memajukan jadwal kelompok ketiga, aku memeriksa buku pembayaran murid luar dan catatan aula kontribusi. Keduanya tidak cocok." Ia mengangkat dua buku itu. "Selisih rata-rata tiga koma dua poin per murid, dari tiga ratus dua belas murid, setiap bulan, selama sedikitnya empat bulan terakhir. Dan tanda tangan penerima di buku aula tidak cocok dengan tanda tangan pengawas Lu Gang."

"Tuduhan itu serius," kata Tetua Bai sambil tersenyum. "Siapa yang kau tuduh?"

"Aku tidak menuduh. Aku melaporkan angka. Siapa yang menyerahkan daftar angka itu kepada pengawas adalah Kepala Murid Luar Gu Hong."

Semua mata beralih kepada Gu Hong. Ia melangkah maju dan membungkuk dengan gerakan yang terlalu halus. "Tetua, aku tidak tahu dari mana angka-angka ini berasal. Setiap bulan aku hanya mengumpulkan laporan kerja dan meneruskannya kepada pengawas. Kalau ada kesalahan, itu mungkin kesalahan juru tulis."

"Tanda tangan Lu Gang dipalsukan," kata Tetua Yan. "Juru tulis tidak memalsukan tanda tangan."

"Mungkin juru tulis lain."

"Jian Chen," kata Tetua Yan tanpa menoleh. "Maju."

Jian Chen melangkah ke depan. Di sekelilingnya ruangan terasa lebih sempit. Ia membungkuk. "Hamba, Tetua."

"Kau yang mengumpulkan lembar-lembar poin itu?"

"Aku dan beberapa teman. Seratus sembilan lembar dari empat pondok."

"Dari mana kau tahu cara memeriksa catatan aula?"

"Aku menyapu aula kontribusi dua hari dan membaca papan catatan yang terbuka."

"Kau hafal angka-angka itu?"

"Sebagian."

"Sebutkan lima nama dan jumlah poin mereka bulan lalu."

Jian Chen menyebut lima nama dan lima angka, satu per satu. Tetua Sun, yang tadi mengantuk, membuka buku catatan dan mencocokkannya dengan jarinya. Wajahnya berubah. "Tepat. Semua tepat."

"Itu bisa saja kebetulan," ujar Tetua Bai.

"Lima dari lima?" balas Tetua Sun.

Tetua Bai tersenyum lagi, lebih tipis. Ia mencondongkan tubuh ke arah Jian Chen. "Anak muda. Kau murid luar dua tahun yang tidak punya nama. Kenapa kau mau mengambil risiko sebesar ini, melawan seorang Kepala Murid Luar?"

Jian Chen menelan ludah. Ia sudah menyiapkan jawaban yang aman, tetapi jawaban itu tidak keluar. "Karena lembar poinku juga dipotong tiga poin setiap bulan, Tetua," katanya. "Dan karena Ma Rui, murid yang meninggal di tambang, menerima lembar poin yang dipotong juga. Dia bekerja dengan jatah yang kurang, dan ia tidak pernah tahu."

Tidak ada yang bersuara. Tetua Bai menarik tubuhnya kembali.

"Aku mengaku bersalah, Tetua." Suara itu datang dari belakang Jian Chen. Lu Gang melangkah ke depan dengan wajah pucat dan membungkuk dalam-dalam. "Aku menandatangani buku pembayaran setiap bulan tanpa memeriksanya. Gu Hong yang menyerahkan daftar angkanya kepadaku. Aku percaya padanya dan aku lalai. Dua tanda tangan di buku aula bukan tanda tanganku. Tapi tanda tangan di buku pembayaran asli adalah tanda tanganku, dan aku bertanggung jawab atas kelalaian itu."

Ruangan hening. Gu Hong menatap Lu Gang dengan mata yang menyala. "Kau pengecut," desisnya.

"Gu Hong," kata Tetua Yan. "Diam."

"Tetua, ini fitnah. Mereka bersekongkol."

"Siapa bersekongkol dengan siapa?" tanya Tetua Yan dengan suara datar. "Murid luar, pengawas, dan murid dalam bersekongkol melawan Kepala Murid Luar? Apa untungnya bagi mereka?"

"Mereka iri."

"Iri pada apa?"

Gu Hong tidak menjawab. Tetua Bai berdeham. "Mungkin ada baiknya kita menunda sidang ini, Tetua Yan. Perlu waktu untuk menyelidiki lebih dalam."

"Tidak perlu," kata Tetua Sun. Ia menutup buku di tangannya. "Aku mengenali tulisan di buku aula ini. Itu tulisan tangan Gu Hong. Aku pernah melihatnya setiap bulan selama enam tahun."

Gu Hong menoleh cepat ke arahnya. "Tetua Sun..."

"Sudah cukup," kata Tetua Yan. Ia berdiri, dan seluruh ruangan ikut menahan napas. "Putusan Aula Hukum. Gu Hong dicopot dari jabatan Kepala Murid Luar. Seluruh poin yang diambil dikembalikan kepada murid, dipotong dari gajinya. Tiga puluh cambukan di lapangan, hari ini juga. Dan ia diawasi oleh Aula Hukum selama setahun."

"Setahun?" Gu Hong hampir berteriak. "Aku..."

"Seratus cambukan kalau kau bicara lagi," kata Tetua Yan.

Gu Hong menutup mulutnya. Wajahnya memucat, lalu memerah, lalu memucat lagi. Dua penjaga aula menghampirinya dan menggiringnya keluar. Saat melewati Jian Chen, ia berhenti sebentar dan menatapnya dengan mata yang tidak lagi tersenyum.

"Kau," kata Gu Hong pelan. "Aku tidak akan lupa."

"Aku juga tidak," jawab Jian Chen.

Gu Hong pergi. Tetua Yan duduk kembali. "Lu Gang. Kelalaianmu tetap dihukum. Kau diturunkan dari pengawas utama menjadi pengawas bawahan selama tiga bulan, dan setiap tanda tangan yang kau buat harus disaksikan murid dalam. Mengerti?"

"Mengerti, Tetua," jawab Lu Gang sambil membungkuk lebih dalam. Dalam suaranya ada sesuatu yang bukan lagi ketakutan, melainkan kelegaan.

"Jian Chen. Zhao Feng." Tetua Yan menatap mereka bergantian. "Kalian bertindak sesuai aturan, walaupun caranya agak berani. Sepuluh poin kontribusi untuk masing-masing. Dan jangan ulangi tanpa izin."

"Terima kasih, Tetua," jawab Jian Chen dan Zhao Feng hampir serentak.

Di luar aula, matahari sudah tinggi. Dao menunggu di bawah pohon dengan tangan terlipat, Qiu Bo dan Tan Fu melompat-lompat gembira, dan Lin Xue berdiri sedikit di belakang, menatap Jian Chen dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.

"Kau menang," kata Dao sambil menepuk punggungnya terlalu keras.

"Kita menang," koreksi Jian Chen.

"Kita," ulang Lin Xue pelan. Ia tersenyum, kecil dan singkat. "Baik. Kita."

Zhao Feng berdiri agak jauh, memandang ke arah lain. Ketika Jian Chen mendekat, ia tidak menoleh. "Hutangmu belum kutagih," katanya.

"Aku tahu."

"Aku akan menagihnya ketika aku butuh." Zhao Feng mengencangkan sabuknya. "Dan Jian Chen. Orang yang baru saja kau jatuhkan punya banyak teman. Jaga punggungmu."

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!