Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
istri kedua Abimana
Usai akad nikah tempo hari dirumah sakit, Abimana amat sangat jarang terlihat di kediaman Kemala.
Laki-laki itu kemungkinan besar sedang bersama istri keduanya, Kirana Ayu. Apalagi hari ini bertepatan dengan perempuan itu yang keluar dari rumah sakit, menurut kabar dari Bi Atik, asisten rumah keluarga Ummi.
Fisiknya yang masih lemah semakin bergantung pada Abimana, suaminya.
"Hati-hati... Kamu masih lemah" ucap Abimana begitu menuntun Kirana masuk kedalam mobilnya.
"Kami duluan, Pa, Ma...." pamit Abimana kepada kedua mertuanya.
"Kalian hati-hati... Kami akan menyusul dibelakang" ujar Gibran kepada Abimana.
Mobil Abimana membelah jalanan yang cukup padat siang ini.
Kirana menyandarkan kepala di jok kursi, menatap lunglai jalanan yang padat.
"Mas... Apa Kemala akan membenciku?" tanyanya disela-sela Abimana menyetir.
Abimana melirik Kirana sebentar lalu fokus pada jalanan.
"Tidak... Kemala itu baik. Ya.. Dia baik... Buktinya, dia mengizinkanku menikahimu.... Kamu jangan berfikiran yang macam-macam... Istirahatlah, perjalanan kita masih 20 menit lagi..." sahut Abimana mencoba menenangkan Kirana maupun dirinya sendiri.
Suasana riuh menyambut mobil Abimana yang memasuki komplek pondok.
Disudut taman, dekat rindangnya pepohonan, Kemala menatap dua mobil yang memasuki area pondok.
Hatinya berdenyut sakit.
"Saya dengar... Gus Abimana menikahi perempuan cantik yang juga sahabatnya semasa belajar di Kairo..." satu perempuan berbisik dengan suara yang cukup bisa didengar oleh Kemala sebenarnya.
"Husst.... Jangan keras-keras.... Kamu juga jangan ngawur Lastri...! Mana mungkin Gus Abimana menikah lagi sementara dirinya baru saja menikahi adik angkatnya..." sanggah perempuan lainnya.
"Kamu harus percaya saya Mina... Kita lihat ya... Itu mobil Gus Abimana dan dia pasti tidak sendiri.. Saya dengar dari Bi Atik, kalau Gus Abimana akan membawa istri keduanya kesini dan mereka akan tinggal disini..." seru Lastri yang tetap bersikeras dengan pendapatnya.
"Kasihan Kemala... Dia harus dipoligami meskipun pernikahannya bahkan belum genap sebulan... " timpal Mina menatap punggung Kemala yang berdiri tak jauh dari keduanya.
Dan benar saja, Abimana keluar bersama dengan Kirana disusul kedua orangtua Kirana dari mobil yang berbeda.
Keempatnya melangkah masuk kekediaman utama Abah Adi yang disambut oleh Ummi Dewanti diteras depan.
Bersama mereka juga ada dua orang berpakaian jas hitam ikut masuk kedalam rumah.
Kemala menunduk, menatap ujung sepatunya.
Ragu, apakah dirinya akan datang kesana atau mencari alasan agar tak bertemu mereka semua.
Dua menit terdiam, akhirnya Kemala memutuskan berjalan kearah perpustakaan pondok.
Dia belum siap bertemu Abimana ataupun Kirana, setidaknya untuk saat ini karena dirinya bingung harus bereaksi bagaimana nantinya jika mereka bertatap muka.
Kemala bukanlah gadis yang pandai berbasa-basi atau bermanis mulut.
Apa yang terasa tidak enak didalam hatinya akan terlihat jelas diwajah manisnya.
Dan demi mengindari hal itu, akhirnya dia memilih menepi sejenak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mereka pengacara keluarga yang nantinya akan mengurus surat-surat pernikahan kita di kantor urusan agama. Kamu tandatangan beberapa berkas dulu ya... Saya mau kebelakang sebentar..." ucap Abimana sebelum dirinya bangkit.
Di ruang tamu, selain ada Abah, juga ada kedua orangtua Kirana dan dua orang pengacara keluarga Rahardjo yang membawa beberapa dokumen.
Ummi Dewanti berada didapur bersama asisten rumah tangga.
"Ummi... Kenapa Ummi disini?" suara lembut Abimana berhasil membuat paruh baya itu terkejut.
"Kamu perlu apa? Biar nanti Bi Atik yang bawakan...." Ummi balik bertanya.
"Tidak... Saya tidak perlu apa-apa... Hanya saja...." kepala Abimana menoleh keseluruh ruangan, mencari sosok yang sudah hampir seminggu ini tidak ia lihat.
"Kemala tidak ada disini... Kamu jangan ganggu dia dulu..." ucap Ummi seakan tahu apa yang dicari Abimana.
Abimana menatap ibunya dengan raut sedih.
"Ummi marah?" pertanyaan itu akhirnya dia tanyakan kepada wanita yang melahirkannya.
Ummi Dewanti menghentikan gerakannya yang sedang mengaduk teh.
"Mau marah pun Ummi bahkan tidak berhak... Yang berhak marah itu adalah Kemala bukan Ummi... Hanya saja, terus terang Ummi kecewa pada keputusan mu dan juga Kemala... Tapi apa boleh dikata, kamu dan Kirana bahkan kini sudah menikah... Tak ada gunanya marah-marah, hanya membuang-buang waktu saja... Pesan Ummi, jalani dengan adil rumah tangga mu bersama kedua istri mu... Jangan sakiti salah satunya terlebih Kemala... Dia tidak punya siapa-siapa selain kita keluarganya...." sesudah mengatakan hal itu, Ummi pergi dari hadapan Abimana yang masih terdiam.
...****************...
Malam menjelang, Abimana dan juga Kirana telah beranjak masuk kedalam kamar untuk berisitirahat.
Kirana menyandarkan kepalanya di dada Abimana yang kini sedang membelai rambut panjangnya.
"Mas... Seharian ini, saya tidak melihat Kemala. Dia dimana?"
Gerakan tangan Abimana terhenti. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang temaram.
"Dia... Dia berada dirumah pemberian Abah...." sahutnya.
Kirana mendongak, menumpu dagunya di atas dada Abimana.
"Rumah pemberian Abah?" ulang Kirana.
"Iya..."
"Maksudnya, Kemala tinggal sendiri disana dan tidak tinggal bersama kita di rumah utama?" ada keterkejutan dari nada suara Kirana.
"Saya belum cerita ya..?" Abimana menatap manik istrinya.
"Cerita apa?" alis Kirana saling bertaut.
Abimana menegakkan punggungnya dan bersandar pada kepala ranjang disusul oleh Kirana yang ikut duduk disampingnya.
"Kemala setuju akan pernikahan kita, tapi dirinya tidak ingin berada dalam satu atap dengan mu.... Dia memilih tinggal di rumah yang dibuatkan oleh Abah untuk kami..." suara Abimana melemah diujung kalimatnya.
Kirana menunduk.
Jemarinya yang lentik memilin ujung selimutnya.
"Apa saya jahat mas? Kemala pasti membenci saya" ada setetes airmata yang jatuh dan mengenai selimut dipangkuannya.
Abimana menarik nafas pelan.
Dia membawa Kirana dalam pelukannya. "Jangan berfikir macam-macam Kirana.... Nanti biar saya yang bicara pada Kemala... Sekarang, ayo kita istirahat...." ucapnya mencoba menenangkan istri keduanya itu.
Kirana menarik ujung kaos yang dikenakan oleh Abimana. Wajahnya mendongak menatap suaminya.
Abimana seolah terhipnotis karena tatapan teduh mata Kirana yang selalu membuatnya jatuh hati meski dulu wajahnya selalu ditutupi cadar.
Telapak tangan Abimana membelai pipi ranum itu. Dan sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Kirana setelahnya.
"Saya... menginginkan mu malam ini Kirana..." bisik Abimana mendayu di telinga Kirana.
Kirana tersenyum malu.
"Saya siap mas... "
Abimana meletakkan telapak tangannya diatas kepala Kirana dan mulai membaca doa sebelum keduanya mengarungi malam indah nan syahdu sebegai suami istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rembulan bersembunyi malu dibalik awan di gelapnya malam.
Kemala menutup bukunya dan menengadah menatap langit.
Hatinya sunyi.
"Ayah... Ibu... Kemala rindu.... Tolong, bantu Kemala melewati semua ini... " batinnya lirih.
Setetes cairan bening mengalir disudut matanya.
Isak itu semakin perih.
Harusnya, sebagai pengantin baru, dia sedang menikmati hari-hari indah bersama suaminya seperti pada pasangan baru pada umumnya.
Harusnya, dia dan Abimana kini sedang bercengkrama atau sekedar bersenda gurau sembari menyelami karakter masing-masing.
Tapi, dirinya hanya dibiarkan sendiri dikamar yang dingin ini.
Poligami boleh saja memiliki nama yang indah di kitab, boleh saja dihiasi dengan dalih belas kasih dan kebaikan. Tetapi kenyataannya tetap sama, selalu ada yang tersakiti. Dan hampir selalu, mereka adalah wanita yang dipaksa berbagi, berkorban, dan berikhlas, bukan karena hatinya sudah cukup lapang, melainkan karena tak ada pilihan lain yang tersisa baginya.
Kemala menghela napas panjang, membiarkan satu butir air mata jatuh menyentuh punggung tangannya. Ia tak menyesal telah memberi izin itu, tetapi ia juga tak akan pernah menyangkal bahwa hatinya kini tak lagi sama.
Abimana bukan hanya miliknya tapi juga milik perempuan lain yang bahkan hati mereka saling bertaut satu sama lain.
bersambung....