Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART. 29 Perubahan Alessia
Alessia akhirnya berkata:
"Vellano, mari kita bercerai saja.”
Vellano langsung marah dan tidak habis pikir dengan keputusan Alessia. Namun Alessia memilih diam. Ia tidak mau menjelaskan apa pun lagi dan akhirnya tidur dengan posisi membelakangi Vellano.
Vellano yang awalnya marah perlahan diliputi rasa bersalah. Ia sadar bahwa perkataannya dan sikapnya mungkin sudah terlalu menyakiti istrinya. Di satu sisi ia sangat marah karena Alessia ingin mengakhiri pernikahan mereka, tetapi di sisi lain ia juga sedih, takut kehilangan Alessia, dan menyesali semuanya.
Kamar utama yang biasanya terasa luas malam itu justru terasa begitu sempit. Setelah mengucapkan kalimat yang membuat dunia Vellano seakan berhenti, Alessia hanya menarik selimut dan membaringkan tubuhnya. Ia memunggungi suaminya, menatap kosong ke arah jendela.
“Alessia…” suara Vellano terdengar berat.
Tidak ada jawaban.
“Jadi setelah semua yang kita lalui, kau memilih bercerai begitu saja?” Nada suaranya meninggi. “Apa kau benar-benar memikirkan ucapanmu?”
Alessia tetap diam. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia menggigit bibirnya agar tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Malam itu, ia tidak ingin mendengar alasan apa pun dari Vellano.
“Jawab aku!” Vellano semakin emosi.
Namun ketika tidak mendapat respons, amarahnya perlahan runtuh. Ia menatap punggung Alessia yang terlihat kecil di balik selimut. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa mungkin istrinya bukan sedang mengancamnya.
Alessia benar-benar terluka.
Vellano mengembuskan napas panjang lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya mengepal. Berbagai percakapan mereka terlintas di kepalanya—tatapan kecewa Alessia, sikap dinginnya, juga kata-kata tajam yang mungkin selama ini ia lontarkan tanpa pernah memikirkan akibatnya.
“Alessia…” panggilnya lagi, kali ini jauh lebih lembut.
Tetap tidak ada jawaban.
Vellano menundukkan kepala. Kemarahan yang tadi memenuhi dadanya berubah menjadi rasa bersalah yang menusuk.
Ia takut.
Bukan takut kehilangan pernikahan mereka.
Ia takut kehilangan Alessia.
Dan untuk pertama kalinya, Vellano menyadari bahwa menjadi seorang suami ternyata bukan hanya tentang melindungi seseorang, tetapi juga tentang mengetahui kapan harus berhenti menyakiti orang yang dicintainya.
......................
Keesokan paginya, mansion Vellano terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Vellano terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Tangannya refleks meraba sisi ranjang, tetapi hanya menemukan seprai yang sudah dingin. Alessia tidak ada di sana.
“Alessia?”
Tidak ada jawaban.
Ia segera bangkit dan mencari ke kamar mandi, ruang keluarga, ruang makan, hingga balkon. Tidak ada siapa pun. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
“Di mana dia?”
Dengan langkah tergesa, Vellano turun ke lantai bawah dan langsung menuju dapur.
“Apakah kalian melihat Nyonya Alessia?”
Seorang maid yang sedang menyiapkan sarapan segera menunduk.
“Nyonya Alessia sudah pergi sejak pagi, Tuan. Katanya beliau pergi balapan.”
Vellano terdiam.
Balapan.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Tentu saja. Setelah pertengkaran semalam, Alessia pasti membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri.
“Aku bahkan tidak bisa menyalahkannya,” gumamnya lirih. “Aku memang salah.”
Ia kembali ke kamar dengan langkah berat. Setelah mandi, Vellano membuka lemari untuk mengambil pakaian. Namun tangannya mendadak berhenti.
Di sana sudah tergantung rapi sebuah kemeja putih, jas hitam, dan dasi yang biasa ia kenakan ke kantor.
Di atasnya terdapat secarik sticky note.
Tulisan tangan Alessia.
“Ini baju kamu. Jangan cari aku. Aku akan segera kembali.”
Vellano membeku.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap tulisan itu tanpa berkedip. Dadanya terasa sesak.
Alessia sedang marah kepadanya. Bahkan ingin mengakhiri pernikahan mereka. Namun perempuan itu masih sempat menyiapkan pakaiannya seperti biasanya.
“Kenapa kau masih melakukan semua ini…?” bisiknya.
Ia meremas sticky note itu perlahan, lalu menempelkannya kembali dengan hati-hati.
Rasa bersalahnya semakin dalam.
Vellano mengenakan pakaian yang telah disiapkan Alessia. Sebelum keluar kamar, ia sempat menatap ranjang kosong mereka.
“Pulanglah dengan selamat, Alessia.”
Dengan hati yang berat, ia akhirnya berangkat ke kantor. Namun sepanjang perjalanan, pikirannya hanya tertuju pada satu orang—istrinya yang mungkin sedang marah, tetapi masih peduli padanya.
......................
Pagi itu, suasana di kantor Vellano Group ikut berubah menjadi tegang. Bahkan sebelum Vellano memasuki ruangannya, para staf sudah saling bertukar pandang.
Semua orang tahu satu hal: bos mereka sedang dalam suasana hati yang sangat buruk.
Vellano duduk di belakang meja, menatap laporan yang baru saja diberikan seorang staf. Hanya ada satu kesalahan kecil—setengah halaman laporan tertukar.
“Ini apa?” tanyanya dingin.
Staf itu menelan ludah. “Maaf, Tuan. Saya akan segera memperbaikinya.”
“Setengah halaman saja bisa salah. Bagaimana saya bisa mempercayakan laporan yang lebih besar kepada kalian?”
Staf itu langsung pucat.
Di luar ruangan, Axel yang mendengar suara Vellano hanya menghela napas.
“Sepertinya hari ini kita harus berjalan sambil membawa bom,” gumamnya.
Maxime menahan tawa. “Jangan membuat suara keras. Nanti kita dianggap salah mengetik juga.”
Axel langsung menutup mulut.
Namun suasana semakin panas ketika rapat dewan direksi dimulai.
Vellano duduk di ujung meja dengan tatapan tajam. Salah satu direktur yang selama ini dicurigai melakukan manipulasi dana mulai memberikan penjelasan panjang.
“Saya rasa laporan itu hanya kesalahpahaman—”
“Cukup.”
Satu kata dari Vellano langsung membuat ruangan membeku.
Ia meletakkan dokumen di meja dengan keras.
“Saya sudah memberikan Anda kesempatan untuk menjelaskan tiga kali. Jangan membuat saya memberikan kesempatan keempat.”
Direktur itu terdiam.
Vellano mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Jika audit menemukan dana perusahaan masuk ke rekening pribadi Anda, saya sendiri yang akan memastikan Anda mempertanggungjawabkannya.”
Tak ada seorang pun berani menyela.
Tatapan Vellano begitu dingin hingga beberapa direktur bahkan memilih menundukkan kepala.
Setelah rapat selesai, Maxime dan Axel mendekatinya.
“Tuan, mungkin Anda perlu istirahat,” ujar Maxime hati-hati.
“Saya baik-baik saja.”
Axel mengangkat alis. “Kalau itu definisi baik-baik saja, saya tidak ingin tahu seperti apa definisi Anda saat benar-benar marah.”
Vellano melirik tajam.
Axel langsung mundur.
“Baik. Saya diam.”
Maxime menghela napas panjang. Ia tahu penyebab sebenarnya.
Alessia.
Dan melihat wajah Vellano, jelas sekali pria itu sama sekali tidak bisa berhenti memikirkannya.
......................
Di sisi lain kota, suara deru mesin memenuhi sirkuit. Alessia baru saja melewati garis finis dan kembali memenangkan balapan.
Sorak-sorai penonton terdengar dari berbagai penjuru. Alessia membuka helmnya, rambutnya sedikit berantakan, tetapi senyum tipis terlihat di wajahnya.
Hadiah kemenangan kali ini mencapai 400.000 USD.
“Lumayan,” gumam Alessia santai.
Karen yang sudah menunggunya langsung menghampiri.
“Lumayan? Empat ratus ribu dolar kau bilang lumayan?”
Alessia mengangkat bahu. “Setidaknya cukup untuk membeli banyak makanan.”
Karen menatapnya tidak percaya.
“Kau habis menang balapan, bukan habis menang lomba makan.”
“Justru sekarang aku lapar.”
Beberapa menit kemudian, mereka meninggalkan sirkuit dan pergi makan siang di sebuah restoran. Alessia sengaja memilih tempat yang cukup tenang. Ia ingin mengalihkan pikirannya dari kejadian semalam.
Mereka duduk berhadapan sambil menikmati makanan.
Karen memperhatikan Alessia yang sejak tadi makan dengan cukup lahap.
“Kau baik-baik saja?”
Alessia mengunyah lalu mengangguk.
“Baik.”
“Kau yakin?”
“Yakin.”
“Tidak sedih?”
Alessia berhenti sebentar. Tatapannya turun ke piring.
“Sedikit.”
Karen langsung tersenyum lembut. “Nah, akhirnya jujur juga.”
Alessia mendengus. “Aku hanya tidak mau membicarakannya.”
“Baiklah. Kita tidak akan membicarakan Vellano.”
“Terima kasih.”
“Sebagai gantinya, aku akan membicarakan makanan.”
Alessia tertawa kecil.
Mereka kemudian mengobrol tentang berbagai hal—balapan, motor, rencana perjalanan, bahkan kejadian konyol saat Karen pernah salah masuk toilet pria.
Alessia sampai tertawa terbahak-bahak.
Untuk beberapa saat, rasa sesak di dadanya sedikit menghilang.
Namun di balik tawanya, pikirannya tetap tertuju pada satu orang.
Vellano.
Ia menarik napas pelan lalu kembali menyuapkan makanan ke mulut.
Setidaknya hari ini, ia ingin menikmati waktunya bersama sahabatnya.
Sementara jauh di kantor, suaminya juga sedang memikirkan dirinya tanpa henti.
......................
Malam akhirnya tiba. Setelah seharian menjalani aktivitas masing-masing, Alessia dan Vellano hampir bersamaan tiba di mansion.
Pintu utama terbuka. Mereka berhenti beberapa langkah satu sama lain.
Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, keduanya hanya diam.
Vellano sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Sejak pagi, ada begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan kepada istrinya. Namun ketika melihat wajah Alessia yang tampak lelah, semua kata seakan menghilang.
“Alessia…”
Baru satu kata terucap.
Alessia langsung mengalihkan pandangan. Ia melewati Vellano begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Langkahnya terdengar semakin jauh di lorong mansion.
Vellano tetap berdiri di tempatnya. Tangannya mengepal, sementara dadanya terasa sesak.
“Alessia…”
Kali ini panggilannya jauh lebih lirih.
Namun perempuan itu tidak berhenti.
Vellano menundukkan kepala. Sepanjang hari ia telah berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia harus berbicara dengannya. Tetapi kini, ketika kesempatan itu datang, ia justru tidak mampu menghentikan Alessia.
Untuk pertama kalinya, mansion yang begitu besar terasa seperti tempat paling sepi di dunia.
Dan malam itu, jarak di antara mereka terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran semalam.
......................
Sesampainya di kamar, Alessia tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia langsung mengambil pakaian tidurnya, lalu masuk ke kamar mandi. Suara air yang mengalir terdengar dari balik pintu, sementara Vellano hanya berdiri diam di dekat jendela.
Beberapa menit kemudian, Alessia keluar dengan piyama tidurnya. Rambutnya masih sedikit basah. Tanpa menoleh kepada suaminya, ia berjalan menuju ranjang, menarik selimut, lalu berbaring membelakangi Vellano.
Vellano menatap punggung istrinya dengan tatapan penuh kesedihan.
“Alessia…” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia menghela napas panjang. Biasanya Alessia mungkin akan mengomel atau sekadar meliriknya. Namun malam ini, bahkan kemarahan pun tidak diberikan kepadanya.
Vellano akhirnya duduk di tepi ranjang. Jemarinya mengepal, menahan rasa sesak yang semakin memenuhi dada.
Melihat Alessia memilih diam seperti itu justru jauh lebih menyakitkan daripada jika istrinya memarahinya.
“Aku benar-benar sudah kehilanganmu, ya?” bisiknya lirih.
Alessia tetap diam, memejamkan mata.
Namun di balik kelopak matanya, ia sebenarnya masih terjaga.
...****************...
Tersiksa banget pasti Vellano di diemin istrinya.
Semoga badai cepat berlalu 🥹