NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Empat Puluh Delapan Jam

Titik merah di layar tablet Vito berdenyut pelan. Lantai lima puluh, Mahendra Tower. Ruang kerjanya sendiri.

Alyssa menatapnya lama. Di balik kaca buram, dengung ventilator Devan terdengar seperti napas yang dipinjam.

"Segel lantai lima puluh sekarang," katanya akhirnya. "Tidak ada yang masuk, tidak ada yang keluar. Bawa tim forensik, dan jangan sentuh apa pun sebelum difoto."

"Baik, Nona."

"Satu lagi." Alyssa menurunkan suaranya. "Ini tidak keluar dari kita berdua. Termasuk Aris."

Vito mengangkat alis tipis. "Beliau yang menyadari kartunya digandakan."

"Saya tahu. Saya tidak sedang menuduh. Saya hanya tidak mau salah langkah sebelum tahu siapa yang punya akses sebanyak itu." Ia menarik napas. "Kalau saya keliru, saya minta maaf kepadanya nanti."

Vito mengangguk dan bergegas pergi. Baru dua langkah ia menjauh, Aris muncul dari ujung koridor dengan tablet di tangan. Wajahnya lebih pucat dari yang bisa dijelaskan oleh kurang tidur.

"Nona, ada kabar yang tidak bisa menunggu."

***

"Dana wali amanat seratus juta dolar sudah aktif sejak tadi sore," ujar Aris setelah mereka masuk ke ruang tunggu kecil. "Tapi kita melewatkan satu klausul di akta 2006 yang ditandatangani Pak Rendra dan Kakek Broto."

Alyssa tidak duduk. "Klausul apa?"

"Konfirmasi hidup. Dalam empat puluh delapan jam setelah dana aktif, kedua ahli waris harus hadir dan mengonfirmasi langsung ke wali amanat. Pemindai retina, lalu satu kalimat lisan. Kalau salah satunya tidak bisa, dana dibekukan dan dikembalikan ke rekening penjamin."

"Kedua ahli waris." Suara Alyssa mendatar. "Saya dan Devan."

"Ya. Dan lima belas persennya, sesuai pasal alokasi, adalah dana abadi Panti Kasih Bunda."

Alyssa memejamkan mata sebentar. Panti itu, atap yang bocor, anak-anak yang makan dari tangan sumbangan. Dana abadinya akan menghapus semua itu selamanya.

"Berapa lama yang tersisa?"

"Dua puluh empat jam, sedikit lebih." Aris menunduk. "Dan wali amanatnya sudah tiba di rumah sakit. Orang Swedia bernama Gustaf Lindqvist. Dia datang dua belas jam lebih cepat dari jadwal."

"Terlalu cepat untuk kebetulan," gumam Alyssa.

"Saya pikir begitu juga."

***

Dokter Arman, kepala tim neurologi dan toksikologi, menunjukkan hasil EEG di layar monitor ruang konsultasi. Garis-garisnya melandai, nyaris datar.

"Nona Alyssa, kondisi Pak Devan adalah koma toksik tingkat tiga. Otaknya sedang dimatikan sementara oleh tubuhnya sendiri untuk mencegah kerusakan lebih luas."

"Kami tidak butuh pemulihan penuh, Dokter," sela Aris. "Hanya respons pupil, pemindaian retina, dan satu kalimat. Kurang dari lima menit."

Dokter Arman diam sejenak. "Secara teori ada protokol stimulan saraf dosis tinggi. Obat itu memicu lonjakan aktivitas otak mendadak. Tapi menyuntikkannya ke otak yang sedang membengkak adalah pertaruhan."

"Seberapa besar risikonya?" Alyssa menekan telapak tangan ke meja.

"Kira-kira lima puluh persen kemungkinan pendarahan otak atau henti jantung permanen. Beliau mungkin membuka mata beberapa menit. Lalu, setelah obatnya habis bereaksi, kerusakannya bisa tidak bisa diperbaiki lagi."

Alyssa tidak bergerak. Ruangan itu terasa menyempit.

Ia bisa menandatangani satu lembar persetujuan, dan Panti Kasih Bunda selamat. Atau ia bisa menolak, dan seorang laki-laki yang baru saja menahan racun dengan dadanya sendiri tetap hidup, entah sampai kapan.

"Apakah pemindai itu bisa dibohongi dengan rekaman lama Devan?" tanyanya, tanpa banyak harapan.

"Pemindai Lindqvist membaca aliran darah mikro di retina, suhu kulit, dan gelombang otak saat bicara," jawab Aris. "Rekaman terdeteksi seketika."

Alyssa menutup matanya.

"Saya tidak akan menyuntikkan itu."

Aris menatapnya. "Nona, kita bisa kehilangan..."

"Saya tahu apa yang bisa kita hilangkan." Alyssa membuka mata. Suaranya tenang, dan justru karena itu terdengar keras. "Panti akan saya bangun lagi dengan cara lain, lewat pengadilan, lewat yayasan, lewat tangan saya sendiri. Tapi saya tidak akan menukar nyawa seseorang demi satu tanda tangan."

Dokter Arman mengangguk perlahan, dan tampak lega.

***

Pukul lima pagi, ruang tunggu VIP lantai lima.

Gustaf Lindqvist berdiri dengan setelan abu-abu rapi, tinggi dan berambut pirang, dengan dua pendamping dan sebuah koper perak di tangan asistennya. Ia menyapa Alyssa dengan anggukan sopan yang tidak mencapai matanya.

"Nona Karen Alyssa Mahendra. Saya mewakili wali amanat sesuai akta dua ribu enam."

"Tuan Lindqvist." Alyssa menjawab dalam bahasa Inggris yang tenang. "Tuan Devan berada dalam perawatan intensif setelah serangan yang membahayakan nyawanya. Beliau tidak mungkin menjalani prosedur apa pun."

"Saya mengerti kondisi beliau. Namun akta tidak mengenal pengecualian medis." Ia memberi isyarat agar koper dibuka. "Kami memberi waktu dua puluh empat jam. Bila konfirmasi tidak terpenuhi, dana dibekukan dan dikembalikan."

"Anda datang dua belas jam lebih cepat dari jadwal," sela Aris.

"Kebetulan penerbangan saya lebih lancar," jawab Lindqvist datar. Matanya tidak berkedip.

Alyssa menatap pria itu sebentar. Tidak ada yang bisa ia buktikan, hanya perasaan bahwa seseorang memberi tahu Lindqvist kapan harus tiba.

"Saya akan menghubungi Anda sebelum tenggat," katanya.

Ia berbalik masuk ke ruang isolasi dan menutup pintu kaca rapat-rapat.

***

Hening. Hanya dengung ventilator dan bunyi monitor.

Alyssa duduk di kursi plastik di samping ranjang. Wajah Devan di balik masker pernapasan tampak seperti wajah orang yang sedang berjalan jauh sekali.

Ia meraih tangan kirinya, tangan dengan cincin perak itu, dan menggenggamnya.

"Kamu dengar orang itu?" bisiknya. "Dia datang membawa koper dan batas waktu, seperti semua orang yang pernah mengambil sesuatu dari kita."

Ia menunduk, menempelkan dahinya ke punggung tangan Devan.

"Dulu aku membencimu karena kamu tidak pernah mau mendengar. Setiap kali aku mencoba bicara di rumah itu, kamu memalingkan wajah. Kamu membiarkan ibumu menghina panti tempat aku tumbuh. Kamu percaya sandiwara Nadine."

Air matanya jatuh ke kulit tangan itu.

"Tapi malam ini kamu menahan racun itu untukku. Kamu membayar kesalahan yang bahkan tidak seluruhnya milikmu." Suaranya pecah. "Bangunlah, Devan. Jangan biarkan mereka menang."

Satu tetes air mata jatuh tepat di permukaan cincin di jari manis Devan.

Layar EEG berkedip. Garis hijaunya melonjak tajam.

Alyssa menegakkan tubuh.

Jari Devan bergerak. Hanya kedutan kecil, tapi nyata. Jemarinya meremas balik tangan Alyssa.

"Devan?"

Dada itu terangkat sendiri, melawan irama mesin. Monitor jantung melonjak dari lima puluh ke sembilan puluh, alarm kuning menyala.

Kelopak matanya bergetar. Pelan sekali, seperti membuka pintu yang terlalu lama terkunci, mata itu terbuka sedikit. Pupilnya yang besar mencari-cari, lalu berhenti pada wajah Alyssa.

Devan tidak bisa bicara. Selang di tenggorokannya menahan suaranya. Tapi bibirnya yang pucat bergerak di balik masker, membentuk satu kata.

Alyssa.

Air mata Alyssa jatuh tanpa suara. Ia mencondongkan tubuh. "Jangan paksakan. Aku di sini."

Bibir Devan bergerak lagi. Lebih lambat, lebih berat. Alyssa memperhatikannya seperti seseorang yang sedang membaca kitab suci.

*Bukan... Ibu.*

Alyssa membeku.

"Apa?"

Mata Devan terpejam setengah, tapi tangannya meremas lebih kuat. Satu kata lagi mulai terbentuk di bibirnya.

Czzz!

Ledakan sirkuit memecah udara dari luar. Seluruh lampu ruangan padam. Monitor di sisi ranjang mati seketika. Dalam gelap total, sirene darurat rumah sakit melolong ke seluruh lantai.

Listrik cadangan lantai lima dilumpuhkan.

Alyssa merunduk dan memeluk tangan Devan di dadanya. Dari balik pintu kaca terdengar derap langkah banyak orang, cepat, tanpa teriakan, tanpa ragu.

Pintu ruang isolasi bergeser paksa dari luar.

Dalam gelap, napas Alyssa tertahan. Satu hal hanya ia pikirkan: Devan baru saja mencoba mengatakan sesuatu, dan seseorang tidak ingin ia menyelesaikannya.

.....

.....

Bersambung.

1
falea sezi
uda end kah
Kriii: udahh end kakk🙏, belum ada ide untuk ngelanjutin🤭
total 2 replies
falea sezi
🤣biar mati aja nenek sihir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!