Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan dan Rasa Sakit
Menjelang pagi Edward mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Secara refleks, tangannya terulur ke samping ranjang untuk merengkuh tubuh Yoselin, sebuah kebiasaan yang tanpa ia sadari telah terbentuk selama dua tahun pernikahan mereka. Namun, jemarinya hanya menyapu sprei dingin yang kosong.
Edward berdecak, matanya terbuka sepenuhnya. "Ke mana dia?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Ia bangkit mendudukkan diri di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya yang kaku. "Yoselin!" panggil Edward cukup keras.
Tidak ada jawaban. Sunyi menyelimuti seluruh penjuru lantai dua. Dengan perasaan dongkol dan dada yang dipenuhi rasa jengkel akibat ketidakberadaan istrinya di pagi hari, Edward melangkah keluar kamar. Ia menuruni satu per satu anak tangga kayu dengan langkah lebar.
Langkahnya mendadak terhenti tepat di ujung tangga lantai satu. Edward terkejut. Di atas sofa panjang ruang tamu, tampak sosok Yoselin yang tertidur meringkuk dengan gaun semalam yang belum berganti.
"Yoselin," panggil Edward seraya melangkah mendekat.
Tetapi Yoselin sama sekali tidak bergerak atau menyahut.
Edward menghela napas panjang, menahan kekesalan yang mulai membumbung. Tanpa berpikir panjang, ia membungkuk dan langsung mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya. Yoselin terasa begitu ringan, jauh lebih ringan dari yang ia bayangkan. Pria itu membawanya naik kembali ke lantai dua menuju kamar utama.
"Kamu ini sangat merepotkan," keluhnya pelan saat membaringkan Yoselin perlahan di ranjang, lalu menarik selimut tebal untuk menutup tubuh istrinya.
Saat hendak membalikkan badan, pandangan Edward tertuju pada kelopak mata Yoselin. Mata itu membengkak parah, dengan sisa garis basah di sudut pipinya.
"Ada apa sebenarnya denganmu hari ini?" gumam Edward seraya mengeluh dalam hati.
Meski bingung, rasa kantuk dan kenyamanan yang biasa ia dapatkan membuat Edward ikut merebahkan tubuhnya kembali di samping Yoselin, lalu menarik wanita itu ke dalam dekapannya hingga ketiduran.
beberapa jam kemudian, Yoselin perlahan membuka matanya. Rasa hangat yang melingkupi tubuhnya seketika sirna digantikan oleh kepanikan saat menyadari dirinya berada di kamar, berada di dalam pelukan erat Edward.
"Lepaskan aku," pinta Yoselin pelan, mencoba mendorong dada bidang Edward untuk melepaskan diri.
Edward yang masih setengah tertidur justru makin mempererat lingkar tangannya di pinggang Yoselin. Ia mengusulkan wajahnya di perpotongan leher wanita itu.
"Lima menit lagi, Sayang... Aku terlalu merindukanmu, Angela..." rengek Edward manja, suaranya terdengar begitu serak dan penuh kehangatan.
Deg.
Bagaikan dihantam belati tak berwujud, rasa sakit luar biasa menghujam dada Yoselin saat mendengar nama itu terucap dari bibir suaminya. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.
"Kubilang lepaskan!" pekik Yoselin histeris, menyalurkan seluruh kekuatannya untuk mendorong tubuh Edward hingga terdorong ke belakang.
Edward tersentak kaget. Kantuknya hilang seketika saat mendapati Yoselin menatapnya dengan pandangan penuh luka. Pria itu mengerutkan kening, matanya menatap tajam.
"Sebenarnya ada apa denganmu?!" tanya Edward marah karena tidurnya diusik secara kasar.
Yoselin menghela nafas panjang sambil memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengendalikan gejolak amarah dan keheningan yang membakar dadanya. Ia tidak boleh hancur di depan pria ini. Matanya yang memerah dan tergenang air mata membuat Edward tertegun sejenak.
"Tidak ada," balas Yoselin pada akhirnya dengan suara bergetar. Ia memalingkan wajah.
"Aku sudah telat."
Tanpa menunggu balasan Edward, Yoselin bergegas melangkah menuju kamar mandi. Edward bergeming di atas ranjang, memandangi pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan perasaan asing, perasaan kehilangan yang tiba-tiba merayapi hatinya saat ditinggalkan begitu saja oleh Yoselin.
Di dalam kamar mandi, pertahanan Yoselin runtuh sepenuhnya. Di bawah gemercik air shower yang menyala, ia menangis histeris. Suaranya tertahan di dalam tenggorokan agar tidak terdengar sampai ke luar. Hatinya hancur berkeping-keping.
Setelah cukup lama membiarkan air mata meluapkan kepedihannya, Yoselin membasuh wajahnya dan berganti pakaian kerja langsung di dalam kamar mandi. Ia merapikan gaun kerjanya, memutuskan untuk berdandan di mobil nanti. Untuk saat ini, ia tidak sanggup menatap wajah Edward lebih lama lagi, atau pertahanannya akan runtuh kembali.
Yoselin keluar dari kamar mandi dengan langkah cepat. Pandangannya tak sengaja menangkap sosok Edward yang masih duduk di tepi ranjang, tengah tersenyum manis memandangi layar ponselnya. Sebuah senyuman hangat yang tidak pernah sekali pun Edward berikan kepadanya selama dua tahun ini. Yoselin tahu betul, senyuman itu pasti ditujukan untuk Angela.
"Aku pergi," pamit Yoselin singkat seraya mengambil alat-alat make-up di meja rias dan memasukkannya ke dalam tas.
Edward mendongak, matanya menatap Yoselin yang membelakanginya. "Pergi? Kamu tidak memintaku mengantarmu?" tanya Edward pada akhirnya, terheran dengan kebiasaan baru istrinya.
"Tidak perlu," sahut Yoselin tanpa menghentikan gerakannya.
"Mulai sekarang aku akan berangkat sendiri menggunakan mobilku. Tidak perlu pedulikan aku, semoga harimu bahagia bersamanya."
Kata-kata itu meluncur begitu tenang namun terasa begitu telak. Edward diam membeku di tempatnya. Kalimat terakhir Yoselin bagaikan hantaman keras yang menghentikan napasnya.
"Yos..." panggil Edward.
Belum sempat Edward menyelesaikan ucapannya, Yoselin sudah berbalik dan berjalan cepat keluar dari kamar, meninggalkan Edward yang berdiri mematung. Jantung Edward berdebar kencan keras secara tiba-tiba. Rasa panik yang tak beralasan menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.
"Apa Yoselin mengetahui sesuatu? Mengapa aku se-panik ini hanya karena ucapannya?" batin Edward kalut.
Ia bangkit dari ranjang dan bergegas berlari mengejar Yoselin ke lantai bawah. Namun sesampainya di teras, deru mesin mobil Yoselin sudah melaju cepat meninggalkan halaman rumah besar itu.
Sementara itu, di dalam mobil yang terparkir di area parkir kantor, Yoselin mencengkeram kemudi dengan erat. Ia menangis histeris, membiarkan tangisnya pecah tanpa ada yang melihat.
"Apa yang harus kulakukan? Sakit sekali..." isaknya pilu seraya memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak.
"Aku tidak kuat lagi..."
Tangan yang gemetar berusaha memegang cermin kecil dan mengaplikasikan foundation serta bedak untuk menyamarkan jejak air mata. Setelah bertarung dengan emosinya cukup lama, Yoselin menghentikan tangisnya karena lelah. Ia menarik napas panjang dan menatap pantulan dirinya di kaca spion tengah. Wajahnya pucat, mata bengkak, dan hidungnya memerah.
"Mari kita fokus kerja hari ini. Semangat, Yoselin," ucapnya lirih pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyum paksa.
Yoselin keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung kantor dengan mengukir senyuman manis andalannya, topeng yang biasa ia kenakan sebagai Ketua Divisi Pemasaran yang profesional dan ramah.
"Bu Yoselin, gawat!" pekik Melia, sekretaris divisinya, yang langsung menghampirinya dengan raut wajah panik saat melihat Yoselin keluar dari lift.
"Ada apa, Melia?" tanya Yoselin bingung, mencoba menetralkan nada suaranya.
"Perusahaan V. Corp baru saja mengabari jika produk yang kita tawarkan kepada mereka ada kendala besar, Bu. Mereka meminta ganti rugi! Melia sudah mencoba menghubungi Ibu sejak tadi pagi, tapi sepertinya ponsel Ibu mati," jelas Melia ketakutan.
Yoselin tertegun. Ia merogoh tasnya dan meraba ponsel yang sama sekali belum ia sentuh sejak semalam. Layarnya gelap gulita karena kehabisan baterai.
"Maafkan aku, Melia. Ponselku mati," sesal Yoselin tulus. Ia menahan pusing yang mulai menyerang kepalanya.
"Lalu bagaimana keputusannya?"
"Pak Daniel memerintahkan supaya Ibu sendiri yang turun tangan untuk menangani hal ini dan langsung datang ke kantor V. Corp sekarang juga," ucap Melia ragu-ragu, matanya yang jeli tak bisa menyembunyikan rasa khawatir saat menatap mata sang atasan yang tampak sangat bengkak.
Yoselin menghela nafas berat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa energinya yang terkuras habis sejak semalam. Meski hatinya sedang hancur lebur, ia tetap mengulas senyum manis yang lembut pada bawahannya itu.
"Terima kasih sudah memberitahuku, Melia. Aku akan segera ke sana," ucap Yoselin halus.
"Iya, Bu... Sama-sama. Ibu... Baik-baik saja?" tanya Melia pelan, terlihat sangat khawatir dengan kondisi fisik atasannya yang tampak begitu rapuh hari ini.
Bersambung...