Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
Senyum dingin Wei Tian di balkon lantai tiga Paviliun Bela Diri bagaikan vonis yang dijatuhkan dari atas awan. Lempeng perunggu yang diputar di sela-sela jarinya memantulkan sinar matahari pagi, sementara ratusan pasang mata di alun-alun bawah menahan napas menunggu darah tumpah.
Pengawas disiplin yang berdiri di dekat papan batu hitam akhirnya bergerak. Pria paruh baya berjubah biru tua itu melangkah ke tengah tangga, menatap Qin Mu dan Zhao Kun secara bergantian dengan wajah tanpa ekspresi.
"Pasal keempat diaktifkan. Murid baru Qin Mu mengajukan Ujian Jalan Darah terhadap murid senior Zhao Kun," suara pengawas disiplin itu menggema datar di seluruh alun-alun.
Ia menghentakkan tongkat besinya ke lantai batu. Seketika, garis-garis ukiran di sembilan anak tangga teratas tepat di depan pintu Paviliun Bela Diri menyala dengan cahaya merah pudar, membentuk area kotak sempit yang lebarnya tak lebih dari tiga tombak.
"Dengarkan aturannya," lanjut sang pengawas. "Karena pihak yang menghalangi jalan adalah murid senior di ranah Qi Gathering, sedangkan penantang masih berada di ranah Penempaan Tubuh, maka Zhao Kun tidak diizinkan keluar dari batas sembilan anak tangga ini. Pertarungan berakhir jika Qin Mu berhasil menginjakkan kaki melewati ambang pintu paviliun, atau jika salah satu pihak terlempar keluar dari tangga! Jika murid senior kalah, lima puluh Poin Kontribusi dari lempengnya akan dipindahkan secara paksa kepada penantang!"
Para murid senior dari Faksi Wei di bawah tangga langsung bersorak sinis.
"Lima puluh poin? Hahaha! Bocah itu bahkan tidak akan punya kaki lagi untuk memakai poinnya!"
"Kakak Senior Zhao sudah berada di tahap Tengah Qi Gathering selama setengah tahun. Menahan bocah Penempaan Tubuh di tangga sempit itu semudah menginjak kecoak!"
Zhao Kun melangkah naik ke anak tangga kelima di tengah area merah tersebut. Ia mencabut pedang panjangnya dari sarung kulit hiu. Suara dering logam yang nyaring terdengar saat aliran Qi berwarna hijau pucat membungkus bilah pedangnya, menciptakan hembusan angin tajam yang memotong helai-helai daun yang beterbangan di udara.
"Kau pikir aturan tangga sempit ini menguntungkanmu, Bocah Desa?" Zhao Kun menyeringai kejam, mengarahkan ujung pedangnya lurus ke arah mata Qin Mu. "Kakak Senior Wei Tian sudah berpesan, selama kau tidak mati, aku bebas memotong apa pun dari tubuhmu. Majulah!"
Di kaki tangga, Han Lie mencengkeram gagang martilnya dengan cemas. "Qin Mu, hati-hati! Pedangnya sudah dilapisi Qi, jangan ditangkis secara lansung dengan tubuhmu!"
Qin Mu tidak menjawab. Matanya yang hitam dan tenang mengamati posisi berdiri Zhao Kun, panjang pedang lawan yang mencapai empat kaki, serta lebar tangga yang dihimpit oleh dua pilar batu naga di kanan dan kirinya.
Zhao Kun mengira aku mengajukan Ujian Jalan Darah karena nekat, batin Qin Mu dingin. Dia tidak sadar bahwa di ruang sesempit ini, pedang panjangnya kehilangan separuh ruang ayunannya.
"Mulai!" teriak pengawas disiplin.
Qin Mu tidak mencabut bilah kembarnya terlebih dahulu. Begitu aba-aba terdengar, kakinya menghentak lantai batu hingga retak, melontarkan tubuhnya melesat naik menaiki anak tangga dengan postur merunduk rendah bagaikan macan tutul yang menyergap dari balik semak!
"Mencari mati!"
Zhao Kun mendengus dan langsung mengayunkan pedangnya secara horizontal. Tebasan Angin Membelah Batu! Gelombang Qi hijau berdesing tajam, menyapu ruang tangga untuk memotong pinggang Qin Mu menjadi dua.
Namun tepat satu kedipan mata sebelum bilah pedang itu menyentuh tubuhnya, Qin Mu menghantamkan telapak kaki kirinya ke pilar batu naga di sisi kanan tangga!
Menggunakan pilar itu sebagai pijakan pantul, tubuh Qin Mu berputar di udara secara miring, melayang melewati atas sabetan pedang Zhao Kun hanya dengan jarak setebal sehelai rambut. Ujung jubah abu-abunya terpotong oleh Qi pedang, namun tubuhnya sudah menukik turun tepat ke ruang kosong di depan dada Zhao Kun!
Sring!
Di udara, barulah kedua tangan Qin Mu menyilang ke punggung bawahnya. Bilah Kembar Taring Hantu terhunus dengan kilatan hitam kemerahan yang haus darah.
Mata Zhao Kun membelalak kaget. Ia tidak menyangka bocah Penempaan Tubuh memiliki kelincahan sebuas binatang hutan. Karena pedang panjangnya terlanjur terayun ke samping dan membentur pilar batu hingga memercikkan bunga api, ia tidak sempat menarik senjatanya kembali untuk bertahan!
Dalam kepanikan, Zhao Kun memusatkan seluruh Qi tahap Tengah miliknya ke telapak tangan kirinya dan menghantamkannya lurus ke arah dada Qin Mu yang sedang melayang turun, sementara ia menarik paksa gagang pedangnya untuk melindungi leher.
Kesempatan.
Mata Qin Mu berkilat tajam. Alih-alih menarik tubuhnya untuk menghindari pukulan Qi tersebut, Qin Mu justru memutar Sutra Penempaan Tulang Kehampaan hingga batas maksimal. Ia sengaja memajukan lengan kirinya yang memegang bilah pertama sebagai tameng untuk menyambut tepisan gagang pedang dan pukulan Qi Zhao Kun!
TRANG! BUGH!
Gelombang Qi Zhao Kun meledak menghantam lengan bawah Qin Mu. Lengan baju Qin Mu hancur menjadi serpihan kain, dan kulit serta daging lengannya robek mengeluarkan darah segar.
Namun, senyum kemenangan yang baru saja akan terbit di wajah Zhao Kun langsung membeku menjadi kengerian.
Serangan Qi-nya memang merobek daging bocah itu, tetapi ketika menghantam tulang lengan bawah Qin Mu, rasanya seperti memukul sebatang besi bintang yang tak tergoyahkan! Tulang Qin Mu bahkan tidak retak sedikit pun!
"Tulang macam apa ini—?!"
Kalimat Zhao Kun terhenti di tenggorokan.
Mengorbankan luka daging di lengan kirinya, Qin Mu kini telah menempel rapat di dada Zhao Kun jarak nol di mana pedang panjang sama sekali tidak berguna!
"Giliranmu," bisik Qin Mu sedingin es.
Qin Mu tidak menggunakan sisi tajam bilah kanannya untuk menggorok leher Zhao Kun karena membunuh di depan pengawas disiplin akan membuatnya dieksekusi. Sebaliknya, Qin Mu membalikkan genggaman Bilah Taring Hantu di tangan kanannya, lalu menghantamkan pangkal gagang baja hitam itu tepat ke ulu hati Zhao Kun dengan seluruh kekuatan tahap Menengah Penempaan Tubuh!
BUAAAAGH!
Suara tulang dada yang retak terdengar jelas di tengah keheningan alun-alun.
Mata Zhao Kun melotot keluar, napas dan sirkulasi Qi di dalam Dantiannya buyar seketika. Darah segar menyembur dari mulutnya. Sebelum tubuh murid senior itu sempat jatuh berlutut di atas tangga, Qin Mu mengaitkan sisi lengkung bilah kirinya ke pergelangan kaki Zhao Kun dan menyentaknya ke atas sambil menendang dada pria itu sekuat tenaga!
"AAAARGH!"
Tubuh Zhao Kun melayang mundur dari anak tangga kelima, melewati batas cahaya merah, dan jatuh terbanting keras di atas batu alun-alun tepat di kaki sebelas rekannya sendiri! Pedang panjangnya terlepas dan berdenting nyaring di lantai.
Namun saat Zhao Kun terlempar tadi, tangan kanan Qin Mu yang secepat kilat telah menyambar sabuk pinggang pria itu, merobek Lempeng Identitas Murid milik Zhao Kun!
Qin Mu mendarat mantap di anak tangga kesembilan, tepat di ambang pintu Paviliun Bela Diri. Napasnya sedikit memburu, dan darah menetes dari luka di lengan kirinya ke atas lantai batu, namun punggungnya berdiri tegak lurus menatap ke bawah.
Seluruh Alun-alun Gerbang Luar sunyi senyap seperti kuburan.
Seratus murid baru dan puluhan murid senior menatap pemandangan itu dengan mulut terbuka lebar. Hanya dalam tiga tarikan napas, seorang murid baru di tahap Menengah Penempaan Tubuh baru saja menghancurkan pertahanan seorang senior tahap Tengah Qi Gathering dalam pertarungan jarak dekat yang begitu kejam dan terukur!
"Hahaha! Bagus! Itu baru saudaraku!" teriakan menggelegar Han Lie memecah kesunyian sambil menepuk pahanya sendiri dengan penuh kemenangan.
Pengawas disiplin di samping tangga tertegun sejenak sebelum akhirnya berdeham dan mengangkat tongkat besinya. "Zhao Kun keluar dari batas tangga! Qin Mu menang! Serahkan lempengnya untuk pemindahan poin!"
Qin Mu melemparkan lempeng Zhao Kun kepada pengawas disiplin beserta lempeng miliknya sendiri. Hanya dengan satu sapuan cahaya dari tongkat pengawas, angka di lempeng perunggu Qin Mu berubah dari nol menjadi 50 Poin Kontribusi, sebelum lempeng kosong milik Zhao Kun dilempar kembali ke atas dada pemiliknya yang sedang mengerang kesakitan di tanah.
Sebelum melangkah masuk ke dalam paviliun, Qin Mu mendongak ke arah balkon lantai tiga.
Di atas sana, senyum di wajah Wei Tian telah lenyap sepenuhnya. Jari-jari pemuda bangsawan itu mencengkeram pagar kayu balkon hingga kayu jati itu retak berderak. Tatapan mata Wei Tian yang semula hanya memandang Qin Mu sebagai mainan untuk memuaskan dendam adik sepupunya, kini berubah menjadi niat membunuh yang dingin dan serius.
Qin Mu membalas tatapan itu tanpa berkedip selama satu detik, lalu berbalik dan melangkah masuk melewati pintu raksasa Paviliun Bela Diri bersama Han Lie, meninggalkan sebelas murid senior Faksi Wei yang tak berani lagi menghalangi jalan.
Begitu melewati ambang pintu Paviliun Bela Diri, suara keriuhan dari alun-alun luar langsung teredam oleh formasi kedap suara.
Aroma tinta tua, kayu cendana, dan debu gulungan bambu yang telah mengendap selama ratusan tahun langsung menyambut indra penciuman Qin Mu. Lantai pertama paviliun ini sangat luas, ditopang oleh puluhan pilar kayu merah raksasa dan dipenuhi oleh ratusan rak tinggi yang menyimpan ribuan gulungan teknik dasar.
Di dekat pintu masuk, tepat di balik meja kayu rendah yang dipenuhi tumpukan buku catatan usang, duduk seorang tetua berambut dan berjanggut putih bersih yang panjangnya menyentuh perut.
Tetua itu mengenakan jubah abu-abu sederhana tanpa lencana pangkat. Kedua matanya tampak setengah terpejam seperti orang yang sedang mengantuk di depan anglo arang kecil, namun ketika Qin Mu melangkah mendekat untuk menyerahkan lempeng orientasinya, hidung tetua itu bergerak sedikit.
Tetua itu membuka sebelah matanya yang berwarna kelabu keruh. Pandangannya tidak jatuh ke wajah Qin Mu, melainkan langsung tertuju pada sepasang Bilah Kembar Taring Hantu yang masih digenggam Qin Mu dan belum sempat disarungkan.
Di ujung bilah hitam itu, tidak ada satu pun goresan atau retakan meski baru saja berbenturan langsung dengan pedang berlapis Qi milik Zhao Kun. Sebaliknya, di bawah cahaya lentera paviliun, tepian bilah yang terkena cipratan darah Qin Mu justru memancarkan pendar merah bintang yang sangat samar.
"Berhenti sebentar, Bocah," suara tetua penjaga paviliun itu terdengar serak dan lambat, seperti gesekan daun kering.
Qin Mu menghentikan langkahnya dan membungkuk hormat. "Tetua."
"Tunjukkan salah satu bilah itu padaku," ujar tetua itu sambil mengulurkan tangannya yang kurus dan dipenuhi bintik penuaan.
Qin Mu ragu sejenak, namun ia merasakan bahwa kakek tua di depannya ini memiliki kedalaman aura yang tak terukur bahkan terasa lebih tua dan tenang daripada Instruktur Yan. Dengan sopan, Qin Mu membalikkan gagang satu bilahnya dan menyerahkannya.
Tetua itu tidak menyentuh bilahnya, melainkan hanya mendekatkan bilah hitam itu ke atas anglo arang kecilnya. Saat hawa panas arang menyentuh logam tersebut, bintik-bintik cahaya keperakan yang sangat halus tiba-tiba berkedip di dalam struktur baja hitamnya.
"Baja hitam fana yang dilipat seratus delapan kali dengan tangan kosong... dan dicampur dengan bubuk Batu Bintang Jatuh pada saat penempaan terakhir," gumam tetua itu, matanya yang keruh sedikit menyipit karena kagum. "Siapa pun pandai besi yang menempa senjata ini, dia menggunakan metode kuno untuk menyembunyikan Embrio Roh Senjata di dalam besi fana."
Jantung Qin Mu berdegup kencang. Ia teringat pada sosok bungkuk bermata satu dari bengkel kumuh di Kota Linlang Han Tie, ayah Han Lie.
Han Lie yang berdiri di sebelah Qin Mu pun ikut terbelalak. "Tetua, senjata itu ditempa oleh ayahku! Apa maksudnya Embrio Roh Senjata?"
Tetua itu mengembalikan bilah tersebut kepada Qin Mu sambil mendengus pelan. "Artinya, sepasang bilah ini belum selesai. Saat ini levelnya memang hanya puncak senjata fana, tapi karena adanya serbuk Batu Bintang sebagai wadah di dalamnya, senjata ini adalah senjata yang bisa tumbuh bersama pemiliknya."
Tetua itu menatap Qin Mu dengan sorot mata penuh arti. "Jika di masa depan kau memiliki kekayaan yang cukup untuk membeli material langka seperti Darah Inti Beast Tingkat Tinggi, Besi Roh Langit, atau Kristal Elemen Murni kau bisa meleburkannya ke dalam bilah kembar ini tanpa perlu menghancurkan bentuk aslinya. Senjata ini tidak hanya akan naik tingkat menjadi Senjata Spiritual, tapi bahkan bisa membangkitkan Elemennya sendiri entah itu elemen Api, Petir, Angin, atau Bayangan sesuai dengan inti material yang kau berikan padanya!"
Napas Qin Mu sedikit memburu. Senjata yang bisa tumbuh dan memiliki elemen sendiri! Di dunia kultivasi, senjata spiritual berelemen adalah harta yang bahkan diperebutkan oleh para ahli Foundation Establishment dan Core Formation.
"Tapi jangan senang dulu," lanjut tetua itu dingin, menyiramkan air es ke atas antusiasme mereka. "Material untuk memberi makan Embrio Senjata harganya cukup untuk membuat bangkrut sebuah keluarga bangsawan kecil. Dengan lima puluh Poin Kontribusi yang baru kau rampas di luar tadi, kau bahkan tidak sanggup membeli sejumput debu materialnya."
Tetua itu menunjuk dengan dagunya ke arah lorong rak paling ujung di sudut barat daya paviliun yang gelap dan jarang dikunjungi murid.
"Kalau kau tidak ingin menyia-nyiakan mahakarya pandai besi itu, pergilah ke rak nomor sembilan belas di sudut barat daya. Di sela-sela gulungan rongsokan di sana, ada salinan tua berjudul Catatan Pemeliharaan Embrio Logam. Itu bukan teknik bertarung, jadi kau boleh membacanya dan menyalinnya di tempat tanpa memotong jatah satu gulungan teknik gratismu hari ini."
"Terima kasih atas petunjuknya, Tetua!" Qin Mu membungkuk dalam-dalam. Informasi ini jauh lebih berharga daripada puluhan Batu Roh.
"Pergilah. Kalian hanya punya waktu dua jam sebelum lonceng pergantian berbunyi," ucap tetua itu sambil kembali memejamkan matanya di depan anglo.
Han Lie segera berpisah menuju rak bagian tengah yang menyimpan teknik bela diri senjata berat dan martil, sementara Qin Mu melangkah cepat menyusuri lorong-lorong sempit menuju sudut barat daya.
Semakin jauh ia melangkah ke sudut barat daya, udara terasa semakin dingin dan pengap. Rak-rak di area ini berisi gulungan teknik cacat, catatan sejarah lokal yang tidak lengkap, serta manual-manual aneh yang ditinggalkan oleh para pendahulu akademi ratusan tahun silam. Tak ada satu pun murid baru lain yang mau membuang waktu di sudut berdebu ini.
Qin Mu berhenti di depan Rak Nomor Sembilan Belas.
Ia dengan cepat menemukan gulungan tipis Catatan Pemeliharaan Embrio Logam yang disebutkan sang tetua di baris ketiga. Dengan ingatan tajam yang telah terlatih saat menghafal gulungan alkimia Penatua Luo, Qin Mu membuka gulungan itu dan langsung membaca serta menghafal setiap metode peleburan darah beast dan batu elemen ke dalam bilah senjatanya.
Namun, tepat ketika ia selesai menghafal halaman terakhir dan hendak mengembalikan gulungan tersebut ke rak, dada kirinya mendadak terasa panas.
Deg! Deg!
Bukan hanya Cincin Giok Retak yang berdenyut, melainkan Pecahan Logam Hitam peninggalan ayahnya, Qin Long, kembali bergetar kuat di balik bajunya!
Mata Qin Mu menyipit tajam. Getaran kali ini tidak menunjuk jauh ke bawah tanah seperti semalam, melainkan mengarah sangat dekat hanya berjarak kurang dari tiga kaki dari tempatnya berdiri!
Qin Mu menurunkan pandangannya perlahan, menyapu rak nomor sembilan belas dari atas ke bawah, hingga akhirnya matanya berhenti tepat di bagian paling dasar rak kayu tersebut.
Di sana, kaki rak kayu yang sudah keropos dimakan usia tampak miring. Dan untuk mengganjal kaki rak yang miring itu agar tidak roboh, seseorang telah menyelipkan sebuah gulungan bundar berwarna abu-abu kehitaman yang tampak sudah membatu sepenuhnya!
Qin Mu berjongkok. Ia menarik keluar gulungan pengganjal kaki rak tersebut hingga rak itu sedikit berderit miring.
Gulungan itu sangat berat hampir seberat dua puluh kati meskipun ukurannya hanya sepanjang lengan bawah. Permukaannya tidak terbuat dari bambu atau kertas, melainkan dari semacam kulit binatang purba yang telah mengeras menjadi batu hitam legam dan disegel oleh karat merah yang menyatu rapat tanpa celah. Tidak ada judul, tidak ada satu aksara pun di bagian luarnya.
Namun saat telapak tangan kiri Qin Mu yang masih basah oleh sisa darahnya sendiri dari pertarungan melawan Zhao Kun tadi menyentuh permukaan gulungan membatu itu, Cincin Giok Retak di dadanya tiba-tiba melepaskan seuntai hawa dingin yang tak kasat mata, mengalir melewati lengannya dan menyentuh karat pada gulungan tersebut!
Krek...
Terdengar suara retakan mikroskopis yang begitu halus hingga hanya bisa didengar oleh Qin Mu sendiri.
Melalui celah retakan sebesar ujung jarum pada segel batu itu, seberkas aura kuno yang agung, liar, dan berada jauh di atas hukum dunia fana bocor selama sepersekian detik, langsung menusuk masuk ke dalam benak Qin Mu!
Dalam sekejap mata, pandangan Qin Mu seakan ditarik ke tengah kehampaan bintang yang gelap gulita. Ia melihat bayangan sesosok manusia raksasa yang berdiri di atas bangkai naga, melangkah menembus ruang dan waktu sambil menebaskan sepasang bilah cahaya yang membelah langit menjadi dua!
Di dalam benaknya, empat aksara kuno berwarna emas gelap bergema bagaikan suara guntur purba:
Langkah Bayangan Pemutus Langit — Tingkat Surgawi!
Qin Mu tersentak mundur setengah langkah, napasnya memburu hebat dengan keringat dingin membasahi punggungnya. Aura dari gulungan itu langsung tertutup rapat kembali begitu ia melepaskan aliran dari cincin gioknya, membuat benda di tangannya kembali tampak seperti sebongkah batu rongsokan biasa yang mati total.
Tingkat Surgawi...?!
Jantung Qin Mu berdebar kencang hampir melompat dari tenggorokannya. Dari penjelasan Gu Shanyin dulu, teknik di dunia ini dibagi menjadi tingkat Fana, Roh, Bumi, dan Langit sedangkan di atas semua itu, yang hanya ada dalam legenda para Immortal dan klan kuno dari Era Kelima, adalah Tingkat Surgawi!
Dengan wajah yang dipaksa tetap datar dan tenang, Qin Mu menyembunyikan luka di tangannya dan membawa gulungan batu pengganjal rak itu kembali ke meja depan tempat sang tetua penjaga paviliun duduk.
Ketika Qin Mu meletakkan gulungan batu hitam itu di atas meja untuk dicatat sebagai pilihan gratisnya, sang tetua membuka sebelah matanya dan mendengus geli.
"Kau sudah menghafal catatan pemeliharaan senjata itu, lalu dari ribuan teknik bela diri di lantai satu, kau malah memungut batu pengganjal rak ini?" tanya tetua itu sambil menggelengkan kepala.
"Benda ini terasa berat dan keras, Tetua," jawab Qin Mu dengan wajah polos seorang pemuda desa. "Saya pikir jika saya kehabisan tenaga saat bertarung, saya bisa menggunakannya untuk memukul kepala lawan, atau menjadikannya beban latihan."
Tetua itu terkekeh pelan, sama sekali tidak menaruh curiga.
"Tiga ratus tahun lalu, pendiri akademi kita memungut batu gulungan itu dari reruntuhan kuno di perbatasan," ujar tetua itu sambil mencap lempeng Qin Mu tanpa beban. "Selama tiga abad, puluhan tetua akademi dan ribuan murid jenius sudah mencoba membukanya. Dibakar dengan api alkimia tidak meleleh, ditebas pedang Core Formation tidak tergores, dan siapa pun yang nekat menyalurkan Qi ke dalamnya justru mengalami kerusakan meridian karena pantulan energinya. Pada akhirnya, semua orang sepakat itu hanyalah gulungan mati yang sudah membatu karena usia."
Tetua itu melemparkan kembali lempeng Qin Mu. "Bawa saja kalau kau mau menggunakannya sebagai bantal tidur atau batu pemberat. Itu bahkan tidak dihitung dalam inventaris berharga paviliun lagi."
Qin Mu membungkuk hormat, memasukkan gulungan batu Tingkat Surgawi itu ke dalam buntalan di punggungnya dengan detak jantung yang masih bergemuruh. Tak seorang pun di seluruh Akademi Kekaisaran tahu bahwa kunci untuk membuka segel batu kuno itu bukanlah Qi murni atau api alkimia melainkan darahnya yang bercampur dengan aura Era Kelima dari Cincin Giok Retak dan Pecahan Logam Hitam milik ayahnya!
Namun, tepat ketika Qin Mu dan Han Lie melangkah keluar dari pintu Paviliun Bela Diri menuju teras alun-alun, langkah mereka berdua mendadak terhenti.
Di kaki tangga paviliun, kerumunan murid sudah tidak lagi membicarakan kekalahan Zhao Kun.
Di tengah lapangan batu giok kelabu itu, kini berdiri seorang pemuda berpakaian murid elit Gerbang Dalam berwarna putih perak. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan perintah resmi bersegel merah darah dari Dewan Penatua Akademi.
Mata pemuda utusan Gerbang Dalam itu langsung mengunci sosok Qin Mu yang baru keluar dari pintu paviliun.
"Murid baru Qin Mu!" suara utusan itu menggema lantang ke seluruh penjuru alun-alun. "Atas pengajuan dari murid elit Wei Tian dan disetujui oleh Tetua Penegak Hukum karena adanya anomali kebocoran gas beracun di terowongan tambang... seluruh penghuni sepuluh gubuk teratas Lembah Murid Baru diwajibkan menjalankan Misi Pembersihan Gua Bawah Tanah besok pagi! Siapa yang menolak perintah wajib akademi akan langsung dikeluarkan dari Gerbang Luar!"
Di balkon lantai tiga di atas kepala Qin Mu, Wei Tian menatap ke bawah sambil tersenyum tipis penuh kemenangan.
Jika ia tidak bisa membunuh Qin Mu di alun-alun terang, maka ia akan menggunakan wewenang pamannya di Dewan Penegak Hukum untuk mengirim bocah itu langsung ke dalam kegelapan perut gunung tempat di mana "kecelakaan" kematian murid baru adalah hal yang paling lumrah terjadi!
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️