Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Tawaran yang Mengubah Segalanya
Pagi itu, Alisha Amanda kembali datang ke toko roti dengan mata yang sedikit sembap. Semalam, ia hampir tidak bisa tidur karena terus memikirkan kondisi ibunya dan biaya operasi yang belum mampu ia bayar.
Meskipun begitu, ia tetap memaksakan dirinya untuk bangun pagi dan berangkat bekerja.
Baginya, menangis semalaman tidak akan membuat uang tiba-tiba muncul. Ia harus tetap bekerja, sekalipun hatinya sedang tidak tenang.
"Alisha!"
Suara Natasya membuatnya menoleh.
Sahabatnya itu berdiri di dekat meja kasir sambil membawa dua bungkus nasi. Begitu melihat Alisha, Natasya langsung menghampirinya.
"Kamu belum sarapan, kan?"
Alisha menggeleng pelan.
"Nanti saja."
"Nanti lagi!" Natasya meletakkan bungkusan nasi di atas meja. "Kamu itu manusia, bukan mesin. Kalau setiap hari cuma memikirkan pekerjaan dan ibumu, kapan kamu memikirkan kesehatanmu sendiri?"
Alisha tersenyum kecil.
"Aku tahu."
"Nggak, kamu nggak tahu. Kalau tahu, kamu pasti sudah makan dari tadi."
Natasya membuka salah satu bungkus nasi, kemudian mendorongnya ke arah Alisha.
"Makan. Aku nggak mau mendengar alasan apa pun."
Alisha akhirnya duduk dan mengambil sendok.
"Makasih, Tas."
Natasya duduk di hadapannya.
"Bagaimana keadaan Tante Ratih pagi ini?"
"Masih lemas. Aku sudah menyiapkan obatnya sebelum berangkat."
"Terus, soal operasi?"
Gerakan tangan Alisha terhenti.
"Belum ada perkembangan."
Natasya menghela napas.
"Aku semalam mencoba mencari informasi tentang bantuan biaya pengobatan. Ada beberapa program yang mungkin bisa kita tanyakan ke rumah sakit. Nanti kita coba cari tahu lebih lanjut, ya."
Alisha menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu sudah banyak membantuku, Tas."
"Memangnya kenapa? Kita sahabat, bukan orang asing."
"Tapi aku merasa selalu merepotkanmu."
Natasya langsung menggeleng.
"Jangan pernah berpikir begitu. Aku memang nggak bisa menyelesaikan semua masalahmu, tetapi setidaknya aku bisa menemanimu mencari jalan keluar."
Alisha terdiam.
Di tengah kehidupan yang terasa semakin berat, kehadiran Natasya adalah salah satu hal yang membuatnya masih mampu bertahan.
Ia tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan sahabatnya itu.
Namun, ia berjanji dalam hati bahwa suatu hari nanti, ketika kehidupannya sudah lebih baik, ia akan melakukan hal yang sama untuk Natasya.
---
Menjelang siang, toko roti mulai ramai.
Beberapa pegawai kantor datang untuk membeli sarapan terlambat, sementara pelanggan lain memesan roti untuk dibawa pulang.
Alisha sibuk melayani mereka ketika seorang pria berjas abu-abu memasuki toko.
Pria itu terlihat berusia sekitar tiga puluh tahun. Penampilannya rapi, dengan sebuah tas kerja hitam di tangan.
Ia berjalan menuju etalase dan memperhatikan beberapa jenis roti sebelum akhirnya menatap Alisha.
"Permisi, apakah Anda Alisha Amanda?"
Alisha mengerutkan kening.
"Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya.
"Nama saya Daniel. Saya bekerja sebagai sekretaris pribadi Pak Adrian Mahendra."
Alisha menerima kartu nama tersebut dengan bingung.
"Adrian Mahendra?"
"Iya."
Alisha mencoba mengingat nama itu, tetapi tidak menemukan siapa pun yang dikenalnya dengan nama tersebut.
"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Sepertinya belum. Namun, atasan saya ingin berbicara dengan Anda mengenai sebuah tawaran pekerjaan."
Tawaran pekerjaan?
Alisha langsung sedikit tertarik.
Saat ini, ia memang sedang membutuhkan penghasilan tambahan. Jika ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya setelah selesai bekerja di toko roti, mungkin ia bisa mengumpulkan uang lebih cepat.
"Pekerjaan seperti apa, Pak?"
"Untuk penjelasan lebih lengkap, saya ingin mengundang Anda bertemu langsung dengan beliau."
Daniel menyerahkan sebuah kartu kecil yang berisi alamat kantor dan nomor telepon.
"Apakah Anda bersedia datang besok pukul sepuluh pagi?"
Alisha memandangi kartu tersebut.
"Saya masih bekerja di sini. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja."
"Tentu. Anda bisa membicarakan jadwalnya dengan atasan Anda terlebih dahulu. Jika waktunya tidak sesuai, silakan hubungi nomor yang tertera."
Daniel mengangguk sopan sebelum berpamitan.
Alisha masih berdiri di tempatnya setelah pria itu pergi.
Natasya yang sejak tadi memperhatikan kejadian tersebut segera menghampirinya.
"Siapa dia?"
"Katanya sekretaris seseorang bernama Adrian Mahendra."
"Terus?"
"Dia menawarkan pekerjaan dan mengajakku bertemu besok."
Natasya mengambil kartu yang dipegang Alisha, lalu membaca tulisan di atasnya.
Matanya langsung membesar.
"Lis, kamu tahu siapa Adrian Mahendra?"
Alisha menggeleng.
Natasya menatapnya seolah tidak percaya.
"Dia CEO Mahendra Group! Perusahaan besar yang gedung kantornya ada di pusat kota itu!"
Alisha mengerutkan kening.
"CEO?"
"Iya! Kamu benar-benar nggak pernah membaca berita bisnis, ya?"
"Nggak. Aku lebih sering membaca informasi tentang pekerjaan dan kesehatan."
Natasya mengembalikan kartu itu.
"Perusahaan itu besar sekali. Aku pernah melihat beritanya. Katanya, CEO mereka masih muda, tetapi sangat dingin dan sulit diajak bicara."
Alisha hanya mengangguk kecil.
Ia tidak terlalu tertarik pada kehidupan orang kaya. Selama pria itu benar-benar menawarkan pekerjaan yang bisa membantunya mendapatkan uang, ia bersedia mendengarkan penjelasannya.
"Aku akan datang besok," katanya akhirnya.
Natasya menatapnya serius.
"Kamu yakin? Kita bahkan belum tahu pekerjaan apa yang ditawarkan."
"Itulah sebabnya aku harus bertemu dengannya."
"Kalau begitu, berhati-hatilah. Jangan menandatangani apa pun sebelum kamu memahami isinya."
Alisha tersenyum.
"Iya, Bu Natasya."
"Jangan mengejekku!"
Untuk pertama kalinya sejak pagi, Alisha tertawa kecil.
Namun, ia belum mengetahui bahwa pertemuan yang akan dihadirinya esok hari bukanlah wawancara kerja biasa.
Pertemuan itu akan membawanya menuju sebuah keputusan yang mampu mengubah seluruh kehidupannya.
---
Pukul sepuluh pagi keesokan harinya, Alisha berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di tengah kawasan bisnis kota.
Ia mengenakan blus putih sederhana, rok hitam selutut, dan sepatu datar yang biasa digunakannya untuk bekerja.
Rambutnya diikat rapi. Ia juga membawa sebuah tas kecil berisi dompet dan ponselnya.
Alisha mendongak, memandangi papan nama besar di depan gedung.
MAHENDRA GROUP.
Ia menarik napas panjang.
"Semoga ini benar-benar pekerjaan," gumamnya.
Setelah memastikan alamat pada kartu nama sesuai, ia memasuki gedung.
Bagian lobi terlihat sangat luas. Lantai marmernya mengilap, sementara beberapa orang berpakaian formal berjalan keluar masuk melalui pintu kaca.
Alisha mendadak merasa salah tempat.
Ia terbiasa dengan aroma roti yang baru dipanggang dan suara pelanggan yang memesan makanan. Di tempat ini, semuanya terlihat jauh berbeda.
Seorang petugas keamanan menghampirinya.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat pagi. Saya Alisha Amanda. Saya mendapat undangan untuk bertemu Pak Adrian Mahendra."
Petugas itu memeriksa daftar tamu, kemudian mengangguk.
"Silakan menuju lantai tiga puluh dua. Sekretaris beliau akan menjemput Anda."
Alisha mengucapkan terima kasih sebelum berjalan menuju lift.
Setiap lantai yang terlewati membuat jantungnya semakin berdebar.
Ia tidak tahu mengapa dirinya merasa gugup. Mungkin karena ini pertama kalinya ia memasuki kantor perusahaan sebesar itu.
Atau mungkin karena ia takut harapannya kembali berakhir dengan kekecewaan.
Ketika pintu lift terbuka, seorang pria yang dikenalnya dari kemarin sudah menunggu.
"Selamat pagi, Nona Alisha. Silakan ikuti saya."
Daniel membawanya melewati koridor panjang menuju sebuah ruangan dengan pintu kayu besar.
"Pak Adrian sudah menunggu di dalam."
Alisha mengangguk.
Daniel mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya.
"Pak, Nona Alisha sudah datang."
"Suruh masuk."
Suara laki-laki terdengar dari dalam ruangan.
Dingin. Tegas. Tanpa basa-basi.
Alisha melangkah masuk.
Ruangan itu luas dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung kota. Di belakang sebuah meja kerja berwarna hitam, seorang pria duduk sambil memeriksa dokumen.
Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tegas, rambut hitamnya tertata rapi, dan sorot matanya tampak tajam.
Ia mengangkat kepala.
Tatapan mereka bertemu.
"Silakan duduk."
Alisha menarik kursi di hadapan meja tersebut.
"Terima kasih, Pak."
Pria itu menutup dokumen yang sedang dibacanya.
"Saya Adrian Mahendra."
Alisha mengangguk sopan.
"Alisha Amanda."
"Saya sudah mengetahui nama Anda."
Alisha terdiam.
Adrian mengambil sebuah map dari laci meja, lalu meletakkannya di hadapan Alisha.
"Sebelum kita membicarakan lebih jauh, saya ingin memastikan satu hal. Apakah Anda sedang membutuhkan uang dalam jumlah besar?"
Pertanyaan itu membuat Alisha terkejut.
Ia menatap pria di hadapannya dengan bingung.
"Maaf, maksud Anda?"
"Saya sudah mengetahui bahwa ibu Anda sedang sakit dan membutuhkan operasi."
Wajah Alisha seketika berubah.
"Bagaimana Anda mengetahui tentang ibu saya?"
Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Saya meminta sekretaris saya mencari informasi yang diperlukan sebelum pertemuan ini."
Alisha merasakan ketidaknyamanan.
"Maaf, Pak, tetapi saya tidak mengerti mengapa urusan keluarga saya menjadi bagian dari pertemuan ini."
Adrian menatapnya tanpa perubahan ekspresi.
"Karena saya memiliki sebuah tawaran yang mungkin bisa membantu Anda."
Ia mendorong map tersebut sedikit lebih dekat.
Alisha membuka map itu perlahan.
Pada halaman pertama, terdapat beberapa lembar dokumen dengan judul yang membuatnya membeku.
PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.
Alisha membaca tulisan itu sekali lagi, memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat.
Pernikahan?
Ia mengangkat wajahnya dengan kebingungan yang semakin besar.
"Maaf, Pak. Ini apa?"
"Sebuah perjanjian pernikahan."
Alisha menatap Adrian seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
"Pernikahan?"
"Benar."
"Tapi saya datang ke sini karena sekretaris Anda mengatakan ada tawaran pekerjaan."
"Saya tidak pernah mengatakan bahwa pekerjaan itu adalah tawaran yang akan saya berikan."
Alisha terdiam, berusaha mencerna perkataan tersebut.
Adrian melanjutkan dengan nada datar.
"Saya membutuhkan seorang istri untuk mempertahankan posisi saya sebagai CEO Mahendra Group. Orang tua saya mengharuskan saya menikah sebelum rapat pemegang saham berikutnya. Jika saya menolak, dukungan keluarga terhadap posisi saya akan dipertimbangkan kembali."
Ia berhenti sejenak.
"Saya tidak berniat menikahi seseorang hanya untuk memenuhi keinginan orang tua saya. Karena itu, saya memilih pernikahan kontrak."
Alisha menatap dokumen di hadapannya.
"Kenapa saya?"
"Anda membutuhkan uang. Saya membutuhkan seorang istri. Kita bisa saling membantu."
Jawaban itu terdengar begitu sederhana, seolah yang sedang mereka bicarakan hanyalah kesepakatan bisnis biasa.
Namun, bagi Alisha, pernikahan bukan sesuatu yang bisa diputuskan dalam hitungan menit.
"Saya tidak mengenal Anda, Pak."
"Anda tidak perlu mengenal saya secara pribadi untuk memahami isi perjanjian ini."
"Dan Anda juga tidak mengenal saya."
"Itulah sebabnya kita membuat kontrak."
Alisha menggenggam ujung map tersebut.
"Berapa lama?"
"Satu tahun."
"Satu tahun?" ulang Alisha pelan.
"Setelah satu tahun, kita akan berpisah sesuai kesepakatan. Selama pernikahan berlangsung, Anda hanya perlu menjalankan kewajiban yang tercantum dalam kontrak dan menjaga citra pernikahan kita di hadapan keluarga serta publik."
Alisha menunduk, membaca beberapa baris yang tercetak di halaman pertama.
Kemudian, ia menemukan bagian yang menjelaskan bantuan finansial yang akan diterimanya.
Angka yang tercantum di sana membuat napasnya tertahan.
Jumlah itu cukup besar untuk membantu membayar operasi ibunya dan memenuhi kebutuhan pengobatan yang telah lama mereka khawatirkan.
Namun, ia segera menutup dokumen tersebut.
"Saya tidak bisa memutuskan sekarang."
Adrian mengangkat sebelah alis.
"Kenapa?"
"Karena ini pernikahan, bukan pekerjaan biasa. Saya harus memikirkan semuanya."
Untuk beberapa saat, ruangan itu hening.
Adrian tampak tidak menyangka perempuan di hadapannya akan menjawab seperti itu.
Ia mengira Alisha akan langsung menerima tawaran tersebut setelah mengetahui jumlah uang yang akan diperolehnya.
Namun, gadis itu justru meminta waktu untuk berpikir.
"Berapa lama waktu yang Anda butuhkan?" tanyanya.
"Saya tidak tahu."
"Nona Alisha, saya tidak memiliki banyak waktu. Saya membutuhkan keputusan sebelum rapat pemegang saham."
Alisha mengangkat wajah.
"Saya juga tidak memiliki banyak waktu, Pak. Ibu saya sedang sakit dan saya harus memikirkan masa depannya. Tetapi saya tidak ingin membuat keputusan besar hanya karena sedang ketakutan."
Tatapan Adrian berubah sedikit.
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, ia memperhatikan Alisha lebih saksama.
Perempuan itu terlihat sederhana. Pakaiannya tidak mahal, tasnya pun tampak sudah lama digunakan. Namun, ia berbicara dengan tenang dan tidak berusaha menyenangkan Adrian hanya karena pria itu kaya.
"Baik," jawab Adrian akhirnya. "Anda boleh membawa salinan perjanjian ini dan mempelajarinya."
Alisha terlihat sedikit lega.
"Terima kasih, Pak."
"Tetapi saya ingin jawaban Anda dalam tiga hari."
Alisha terdiam sejenak, lalu mengangguk.
"Saya mengerti."
Ia mengambil salinan dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam tas.
Sebelum pergi, Alisha menatap Adrian sekali lagi.
"Kalau saya menerima tawaran ini, saya ingin satu hal ditulis dengan jelas di dalam kontrak."
"Apa?"
"Uang yang disepakati harus tersedia sesuai waktu yang dibutuhkan untuk pengobatan ibu saya. Saya tidak ingin sudah menikah, tetapi kemudian tidak bisa membayar biaya rumah sakit."
Adrian memandangnya beberapa saat.
"Jika kesepakatan kita sudah ditandatangani, ketentuan pembayaran akan ditulis dengan jelas."
Alisha mengangguk.
"Kalau begitu, saya akan mempelajarinya terlebih dahulu."
Ia berdiri, membungkuk sopan, kemudian berjalan menuju pintu.
Namun, sebelum Alisha keluar, suara Adrian kembali terdengar.
"Nona Alisha."
Alisha menoleh.
"Ya, Pak?"
"Jangan menerima tawaran ini hanya karena Anda merasa tidak memiliki pilihan lain. Saya membutuhkan seseorang yang memahami kesepakatan yang dibuatnya."
Alisha menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Saya mengerti. Tetapi terkadang, seseorang harus mempertimbangkan hal-hal yang tidak pernah ingin dilakukannya ketika orang yang dicintainya sedang membutuhkan pertolongan."
Setelah mengatakan itu, Alisha keluar dari ruangan.
Adrian tidak langsung kembali bekerja.
Pandangannya tertuju pada pintu yang baru saja tertutup.
Ia tidak mengetahui banyak hal tentang perempuan itu. Namun, satu hal sudah jelas baginya.
Alisha Amanda bukan seseorang yang akan dengan mudah menyetujui apa pun hanya karena ditawari uang.
Dan entah mengapa, hal itu justru membuat Adrian semakin ingin mengetahui keputusan yang akan diambilnya.
---
Sementara itu, Alisha berjalan keluar dari gedung Mahendra Group dengan langkah pelan.
Di tangannya, terdapat sebuah map yang bisa mengubah hidupnya dalam waktu singkat.
Ponselnya bergetar.
Panggilan dari rumah sakit.
Alisha segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Selamat siang, Saudari Alisha. Kami ingin menginformasikan bahwa dokter menyarankan keluarga segera mendiskusikan jadwal penanganan lanjutan untuk Ibu Ratih. Silakan datang kembali untuk konsultasi."
Alisha memejamkan mata sebentar.
"Baik, Sus. Saya akan datang."
Panggilan berakhir.
Ia menatap map di tangannya.
Pernikahan kontrak.
Satu tahun bersama seorang pria yang bahkan tidak dikenalnya.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji untuk saling mencintai.
Hanya sebuah kesepakatan.
Alisha memandangi langit yang tertutup awan, lalu menggenggam map itu erat-erat.
Ia masih takut.
Ia masih ragu.
Namun, bayangan ibunya yang terbaring di ranjang rumah sakit terus memenuhi pikirannya.
Tiga hari.
Ia hanya memiliki waktu tiga hari untuk menentukan apakah dirinya sanggup memasuki kehidupan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Dan untuk pertama kalinya, Alisha menyadari bahwa mungkin saja jalan yang akan menyelamatkan ibunya justru membawanya menuju kehidupan yang paling sulit untuk dijalani.