**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 perasaan sang duke
Erin menatap putranya dengan tajam, jemarinya masih mengetuk lengan kursi seolah sedang menghitung berapa lama lagi ia harus menunggu jawaban. Cahaya pagi dari jendela jatuh tepat di wajahnya, menyorot garis-garis halus di sudut mata yang selama ini selalu tersembunyi di balik senyum ramahnya. "Jelaskan padaku, Altres. Semuanya, tanpa ada yang kau sembunyikan. Apa sebenarnya isi perjanjian pernikahanmu dengan Veronica? Aku ibumu, dan aku berhak tahu kenapa menantuku harus menangis di kamarnya sendiri."
Altres menarik napas panjang, lalu bersandar dengan bahu yang terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. "Grand Duke Floyen yang memintaku, Bu. Beliau ingin aku menikah sebagai wakil manusia dalam aliansi antara naga dan manusia." Ia memalingkan wajah ke jendela, rahangnya mengeras, dan matanya menerawang pada kenangan lama yang belum pernah benar-benar ia lepaskan. "Awalnya aku menolak mentah-mentah. Aku membenci naga, Bu. Mereka yang merampas kebahagiaan Ibu, dan aku tidak sudi menyatukan hidupku dengan salah satu dari mereka."
"Lalu kenapa akhirnya kau setuju?" tanya Erin pelan, meski sorot matanya tidak melunak sedikit pun. "Kau bukan orang yang mudah dibujuk, apalagi soal naga."
"Karena Grand Duke mengingatkanku bahwa hanya aku yang bisa menghadapi Veronica." Altres mengepalkan tangan di atas meja, jemarinya memutih. "Dia naga merah, salah satu yang terkuat, dan hanya pemilik pedang Carax yang mampu menahannya kalau suatu hari ia lepas kendali. Jadi aku menerima tugas itu, sebagai suami sekaligus orang yang siap menghentikannya. Saat itu aku merasa itu satu-satunya cara melindungi kediaman ini, melindungi Ibu." Ia terdiam sejenak, lalu tertawa pendek tanpa humor. "Aku bahkan sempat yakin akan membunuhnya begitu ia membuat masalah. Aku membayangkan naga sombong yang merasa derajatnya jauh di atas manusia, yang akan menghina semua orang di kediaman ini."
Erin mengangkat alis, mendengarkan tanpa menyela, sementara Altres mengusap wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terdengar berat di ruangan yang sunyi itu. "Tapi aku tidak pernah menyangka Ibu akan menerimanya dengan begitu hangat. Aku juga tidak menyangka ia mau hidup seperti manusia, membantu para pelayan, makan bersama semua orang, bahkan membuat para kesatria berebut mengajaknya bicara. Kenyataannya, ia jauh lebih baik dalam berbaur daripada yang pernah kubayangkan."
"Aku tahu," sahut Erin sambil tersenyum tipis di sela matanya yang mulai hangat. "Aku melihatnya sendiri. Dia memanggil para pelayan dengan nama mereka, meminta maaf kalau menjatuhkan sesuatu, dan setiap sore duduk di dapur hanya untuk mendengarkan cerita Emma. Naga yang kau bayangkan itu tidak pernah ada, Altres." Suara Erin melembut ketika ia menggeleng pelan, dan matanya mulai berkaca-kaca saat ia menunduk menatap tangannya sendiri. "Sejak muda aku selalu ingin punya anak perempuan yang cantik, yang bisa kuajak memilih kain dan berkebun bersama. Tapi dewa memberiku tiga putra, dan dua di antaranya sudah lebih dulu berada di pelukan-Nya. Veronica adalah satu-satunya hal yang paling kunantikan dalam hidupku, Altres." Ia mengangkat wajah, menatap putranya lurus-lurus. "Kalau kau memang tidak ingin hidup bersamanya, lepaskan saja ikatan pernikahan itu. Biarkan dia bahagia dengan caranya sendiri, daripada hidup sebagai tawanan di rumah ini."
Altres terdiam cukup lama, seakan kata-kata ibunya menusuk tepat di tempat yang selama ini ia lindungi. "Aku tidak punya pilihan seperti itu." Ia menggeleng pelan, suaranya datar seperti orang yang sudah terlalu lama menghafal kewajibannya. "Aku harus mengemban tugas ini sebagai suaminya, sekaligus eksekutornya jika diperlukan."
Erin menggeleng dengan wajah kecewa, lalu menghela napas panjang seolah baru saja mendengar jawaban paling bodoh di dunia. "Kau benar-benar bodoh, Nak. Kau bicara soal tugas, soal pedang, soal eksekutor, tapi tidak sekali pun kau bicara soal perasaanmu sendiri. Baiklah, aku sendiri yang akan bicara dengan Grand Duke Floyen soal perjanjian itu. Aku akan membebaskan Veronica dari belenggu pernikahan ini."
"Jangan, Bu!" Altres refleks berdiri, kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi gesekan keras. "Aku tidak menginginkan itu. Jangan bicara pada Grand Duke, belum sekarang." Ia tampak terkejut oleh nada suaranya sendiri, lalu perlahan duduk kembali dan mengusap rambutnya dengan gelisah. "Aku sendiri tidak mengerti keadaan kami, terikat oleh perjanjian yang bahkan tidak kami pilih. Aku tidak menyangka naga yang begitu angkuh bisa berubah sedrastis itu. Dan aku juga tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba menjadi sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku bingung dengan diriku sendiri, bingung dengan hubungan kami, dan yang paling membingungkan adalah aku tidak ingin semua ini berakhir."
Ia menatap telapak tangannya, seolah jawaban yang ia cari tertulis di sana, lalu mengepalkannya perlahan seperti sedang menggenggam sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan. "Aku hanya manusia biasa, Bu. Umurku tidak akan pernah sepanjang umur seekor naga. Dan aku tidak berdaya dengan keinginanku sendiri untuk memilikinya. Tapi bagaimana kalau ia pergi setelah perang aliansi melawan naga iblis Karahan selesai?" Suaranya merendah. "Para naga kegelapan sudah mulai mencoba membangkitkan raja mereka. Ketika itu terjadi, perang besar tidak bisa dihindari, dan naga serta manusia harus bersatu. Tapi begitu semuanya berakhir, Veronica akan pergi dari hidup kami. Dan aku takut, Bu. Aku sudah terlalu sering menyaksikan kehilangan, dan aku takut tidak sanggup melepaskannya, lalu mengurungnya dengan kejam hanya karena obsesiku."
Erin tidak menjawab. Ia hanya menatap putranya dengan wajah murung, tangannya terlipat erat di pangkuan, sementara suara jam dinding di sudut ruangan terdengar semakin nyaring di tengah keheningan itu. Dalam hati ia berpikir bahwa mungkin pernikahan dua ras itu memang tidak seharusnya terjadi, sebab umur manusia terlalu singkat. Namun yang paling membuat dadanya perih adalah kenyataan bahwa putranya sebenarnya tidak menolak gadis itu. Ia justru menginginkannya, dengan caranya sendiri yang kaku dan menyakitkan, cara seorang pria yang terlalu terbiasa memegang pedang sampai lupa bagaimana caranya mengulurkan tangan yang kosong. Erin ingin memarahinya, ingin memeluknya, dan ingin mengguncang bahunya sekaligus, tetapi akhirnya ia hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan berkata lirih, "Kalau begitu, jangan hanya mengatakannya padaku, Nak. Orang yang paling perlu mendengarnya ada di kamarnya sekarang."
Erin memejamkan mata sejenak, menahan air mata yang hampir tumpah dari pelupuknya, lalu menggeleng pelan tanpa mengatakan apa pun, sebab ia tahu putranya belum sanggup mendengar nasihat lagi. Altres bangkit dari kursinya dan berdiri di depan jendela, memunggungi ibunya agar wajahnya tidak terbaca, sementara bayangannya memanjang di lantai kayu yang mengilap, tampak begitu sunyi dan sendirian di bawah cahaya pagi yang hangat. "Mungkin aku tidak akan pernah punya kesempatan memperbaiki hubunganku dengan Veronica," ujarnya akhirnya sambil menoleh dan tersenyum getir pada ibunya, dan untuk pertama kalinya sejak menjadi Duke, ia terlihat seperti anak laki-laki yang kehilangan arah. "Tapi aku akan melakukan apa saja asalkan ia bahagia, bahkan kalau itu berarti kami harus berpisah."
Tanpa mereka sadari, Emma yang hendak memberi tahu Erin tentang kedatangan tamu berdiri membeku di depan pintu yang tidak tertutup rapat. Nampan berisi teh untuk tamu di tangannya bergetar pelan hingga cangkir-cangkir porselen di atasnya berdenting lirih, dan ia menutup mulut dengan punggung tangannya agar tidak mengeluarkan suara. Semua kalimat Altres terdengar jelas di telinganya, setiap pengakuan yang tidak pernah ia sangka akan keluar dari mulut tuannya yang dingin itu, dan matanya mulai basah sebelum ia sempat berpikir apa pun. Selama ini ia ikut kesal melihat Duke yang tampak tidak peduli pada istrinya, padahal ternyata pria itu hanya terlalu pandai menyembunyikan hatinya di balik wajah dingin dan tumpukan pekerjaan. Ia sempat melirik sekali lagi ke celah pintu, melihat punggung sang Duke yang tampak begitu sendirian di depan jendela, kemudian mundur selangkah demi selangkah, lalu berbalik dan setengah berlari menyusuri lorong menuju kamar Veronica, dengan hati yang penuh keinginan untuk segera mengabarkan bahwa sang Duke ternyata mencintai istrinya.