NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Ketika Kesetiaan Mulai Goyah (Flash Back Denis dan Siska #1#)

Andai saja ia tidak goyah, mungkin ketenangan hati dan kejernihan pikiran akan membuatnya nyaman dalam menjalani rutinitas. Akhir tahun pun akan menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupnya.

Tetapi waktu tidak bisa diubah. Semuanya berjalan mengikuti kehendak alam. Ia hanya bisa menyesali perbuatannya yang begitu hina, hingga membuat dirinya tak jauh berbeda dari seorang bajingan.

Perjalanan dinas itu awalnya tidak pernah masuk dalam rencana pribadi Denis. Sebagai salah satu staf yang bertanggung jawab atas program CSR perusahaan, ia ditunjuk mengikuti pelatihan dan evaluasi program pemberdayaan masyarakat di sebuah hotel di Kota Bandung.

Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari dan diikuti oleh perwakilan dari beberapa unit kerja, termasuk Siska, karyawan baru yang belakangan semakin sering menjadi pusat perhatian di kantornya.

Bagi Denis, keberangkatan itu seharusnya menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Ia bisa mempelajari hal-hal baru, bertemu rekan dari unit lain, lalu pulang membawa hasil pelatihan untuk diterapkan di wilayah kerjanya.

Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan itu justru akan menjadi awal dari kehancuran hubungan yang selama ini dijalaninya bersama Mita.

Pagi itu, Denis berangkat dari Pontianak bersama beberapa rekan kerja. Siska duduk tidak jauh darinya. Perempuan itu mengenakan blus berwarna krem dengan celana bahan hitam. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi, membuat penampilannya terlihat sederhana sekaligus menarik perhatian.

Sejak kendaraan meninggalkan halaman kantor, Siska beberapa kali mengajaknya berbicara. Mulai dari materi pelatihan, pengalaman kerja, sampai hal-hal ringan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

“Mas Denis sudah berapa lama bekerja di BGA?” tanya Siska sambil menoleh.

“Sudah beberapa tahun.”

“Berarti sudah banyak pengalaman, ya. Pasti banyak yang bisa saya pelajari dari Mas.”

Denis tersenyum kecil. “Pengalaman itu bukan cuma soal berapa lama bekerja. Kadang-kadang, orang yang baru masuk justru punya sudut pandang yang lebih segar.”

Siska tertawa pelan. “Wah, kalau begitu saya harus sering-sering bertanya kepada Mas.”

“Boleh. Selama pertanyaannya masih berhubungan dengan pekerjaan.”

“Kalau pertanyaannya di luar pekerjaan?”

Denis menoleh. Ada sesuatu dalam nada suara Siska yang membuatnya terdiam sesaat.

“Ya, tergantung pertanyaannya.”

Siska tersenyum penuh arti sebelum kembali memandang jalanan.

Percakapan sederhana itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun, perhatian Siska perlahan menumbuhkan perasaan yang sulit dijelaskan oleh Denis. Ia menyukai cara perempuan itu mendengarkan, bagaimana Siska tertawa ketika ia melontarkan lelucon, dan bagaimana tatapannya seolah membuat Denis merasa menjadi seseorang yang istimewa.

Padahal, di Pontianak, ada seorang perempuan yang selama ini memberikan perhatian serupa kepadanya tanpa pernah menuntut apa pun.

Mita.

Nama itu melintas di benaknya ketika ia membuka ponsel. Sebuah pesan dari Mita telah menunggunya sejak sebelum keberangkatan.

“Hati-hati di perjalanan, ya, Mas. Jangan lupa makan dan istirahat. Semoga pelatihannya lancar.”

Denis membaca pesan itu cukup lama sebelum membalas.

“Iya, Ta. Terima kasih. Kamu juga jaga kesehatan.”

Setelah mengirimkan pesan tersebut, ia memasukkan ponselnya ke saku. Ia tidak tahu mengapa perhatian tulus dari Mita terasa begitu biasa, sementara percakapan singkat dengan Siska justru mampu membuatnya bersemangat.

Saat itu, Denis belum menyadari bahwa kebosanan yang ia rasakan bukanlah alasan untuk mengkhianati seseorang. Ia hanya sedang membiarkan dirinya terlena oleh sesuatu yang baru.

Pelatihan berlangsung sepanjang hari.

Denis dan Siska beberapa kali berada dalam kelompok diskusi yang sama. Mereka membahas strategi penyaluran bantuan masyarakat, menyusun rencana program, dan mempresentasikan hasil kerja kelompok di hadapan peserta lainnya.

Denis mengakui bahwa Siska cukup cerdas. Perempuan itu pandai menyampaikan pendapat, berani berargumen, dan memiliki kemampuan membuat orang lain memperhatikan keberadaannya.

Ketika presentasi kelompok mereka mendapat pujian dari narasumber, Siska menoleh kepada Denis dengan wajah berbinar.

“Kerja sama kita bagus, kan, Mas?”

Denis tertawa. “Karena semua anggota kelompok bekerja dengan baik.”

“Tapi ide terakhir itu dari Mas. Kalau saya yang menyampaikan sendiri, belum tentu hasilnya sebagus tadi.”

“Kamu juga bagus saat menjawab pertanyaan.”

Siska menatapnya sedikit lebih lama. “Mas selalu tahu cara membuat orang merasa dihargai.”

Denis tidak langsung menjawab. Pujian itu terasa menyenangkan. Ia menyukai bagaimana Siska menempatkannya sebagai seseorang yang bisa diandalkan. Ada kepuasan tersendiri ketika perempuan itu meminta pendapatnya, mencari keberadaannya, atau sengaja duduk di sebelahnya saat sesi diskusi.

Tanpa disadari, Denis mulai menantikan setiap kesempatan untuk berbicara dengannya.

Menjelang malam, pelatihan hari pertama selesai. Sebagian peserta memilih kembali ke kamar masing-masing, sementara beberapa lainnya berkumpul di restoran hotel untuk makan malam.

Denis sempat menghubungi Mita melalui telepon.

“Sudah makan?” tanya Mita dari seberang.

“Sebentar lagi. Ini masih di hotel.”

“Jangan terlalu malam. Mas tuh kalau sudah sibuk suka lupa waktu.”

“Iya, Bu Guru.”

Mita tertawa kecil. “Sudah, sana makan. Nanti kalau sudah senggang, kabari aku lagi.”

“Baik, Bu Guru.”

Sebelum mengakhiri panggilan, Mita sempat berkata, “Aku kangen.”

Kalimat itu membuat Denis terdiam sesaat.

“Aku juga,” jawabnya akhirnya.

Namun, setelah telepon terputus, pikirannya kembali tertuju kepada Siska yang baru saja mengirim pesan.

“Mas Denis, sudah makan? Saya bingung mau makan sendiri. Temani saya, ya?”

Denis memandangi layar ponselnya.

Ia tahu seharusnya ia menolak. Ia bisa saja mengatakan bahwa dirinya ingin beristirahat, atau mengajak peserta lain untuk makan bersama. Tidak ada alasan yang mengharuskannya menemui Siska berdua.

Namun, ia tetap membalas.

“Baik. Saya turun sebentar lagi.”

Dan dari keputusan kecil itulah, batas yang seharusnya ia jaga mulai bergeser.

Restoran hotel cukup ramai malam itu. Denis dan Siska memilih meja di sudut ruangan yang agak jauh dari kerumunan peserta pelatihan lainnya.

Pada awalnya, mereka berbicara tentang pekerjaan. Namun, percakapan perlahan bergeser ke hal-hal pribadi.

Siska bercerita tentang kehidupannya, tentang keinginannya untuk berkembang dalam karier, dan tentang betapa melelahkannya berusaha mendapatkan pengakuan di lingkungan kerja yang baru.

Denis mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Kadang-kadang saya merasa harus selalu terlihat kuat,” kata Siska sambil memainkan sendok di tangannya. “Kalau tidak, orang akan menganggap saya tidak mampu. Saya bekerja hanya karena Papi yang menjadi backing-an saya.”

“Semua orang pernah merasakan hal itu. Kamu tidak harus selalu membuktikan sesuatu kepada semua orang.”

Siska mengangkat wajah. “Kalau di depan Mas, saya merasa tidak perlu berpura-pura.”

Kalimat itu membuat suasana di antara mereka berubah.

Denis menyadari ada sesuatu yang seharusnya ia hentikan. Ia sudah memiliki Mita. Ia bukan laki-laki lajang yang bebas membangun kedekatan emosional dengan perempuan lain tanpa memikirkan akibatnya.

Namun, ia justru menikmati kepercayaan yang diberikan Siska.

“Mas Denis beruntung,” ujar Siska kemudian.

“Beruntung kenapa?”

“Punya seseorang yang menunggu Mas pulang.”

Denis terdiam.

Siska mengetahui bahwa Denis memiliki kekasih. Ia pernah melihat foto Mita di layar ponsel Denis dan mendengar beberapa rekan kerja menyebut nama perempuan itu.

“Tidak semua hubungan sesederhana yang terlihat,” jawab Denis akhirnya.

Siska tidak langsung menanggapi, “Mas bahagia?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi menghantam bagian dalam diri Denis yang selama ini berusaha ia abaikan.

Ia teringat Mita yang selalu menyambutnya dengan cerita-cerita kecil. Mita yang tidak pernah keberatan mendengarkan keluh kesahnya. Mita yang memberinya ketenangan bahkan ketika pekerjaan membuatnya kehilangan kesabaran.

Seharusnya ia menjawab bahwa dirinya bahagia. Namun, Denis justru berkata, “Kadang-kadang, saya merasa semuanya berjalan terlalu biasa, datar.”

Siska menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya, “Mungkin Mas hanya butuh seseorang yang bisa membuat Mas merasa bersemangat lagi.”

Denis tidak menjawab. Ia tahu kalimat itu berbahaya. Ia sedang mencari pembenaran untuk sesuatu yang sebenarnya tidak membutuhkan pembenaran.

Namun, alih-alih mengakhiri percakapan, ia membiarkan malam berjalan semakin jauh.

Hujan turun ketika mereka selesai makan malam. Air membasahi halaman hotel, sementara angin membawa udara dingin hingga ke lobi.

Denis dan Siska berdiri di dekat jendela kaca, menunggu hujan mereda.

“Sepertinya malam ini kita tidak bisa ke mana-mana,” kata Siska.

“Memang tidak ada rencana ke mana-mana, kan?”

Siska tersenyum. “Kalau ada yang mengajak, mungkin saya mau.”

Denis tertawa kecil, berusaha menganggapnya sebagai gurauan. Namun, keheningan yang menyusul terasa berbeda.

Mereka berbicara lagi. Kali ini, tidak banyak tentang pekerjaan. Siska menanyakan pandangan Denis mengenai pernikahan, kesetiaan, dan alasan seseorang bertahan dalam sebuah hubungan.

“Menurut Mas, apa yang membuat seseorang jatuh cinta?” tanya Siska.

“Banyak hal. Bisa karena kenyamanan, perhatian, atau karena merasa cocok.”

“Kalau seseorang sudah punya pasangan, apakah masih mungkin jatuh cinta kepada orang lain?”

Denis menoleh kepadanya, “Manusia bisa merasakan apa saja. Tapi tidak semua perasaan harus diikuti.”

Siska tersenyum tipis. “Berarti yang penting adalah pilihan, ya?”

“Ya. Pilihan dan tanggung jawab.”

Untuk sesaat, keduanya saling menatap.

Denis memahami maksud percakapan itu. Siska pun tidak lagi berusaha menyamarkan ketertarikannya. Namun, tak satu pun dari mereka memilih untuk mundur.

Ketika hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, Siska mengatakan bahwa ia masih enggan kembali ke kamarnya karena merasa jenuh sendirian.

“Mas, temani saya sebentar, ya?”

Denis sempat menawarkan agar mereka duduk di lobi sampai hujan reda. Namun, setelah beberapa saat, mereka memutuskan naik ke lantai tempat kamar-kamar peserta berada.

Di depan meja resepsionis, mereka mengetahui bahwa pengaturan kamar Siska bermasalah. Reservasi yang semula dikira sudah dikonfirmasi ternyata perlu diperiksa kembali oleh petugas.

Setelah berdiskusi dengan resepsionis, Siska mendapatkan pilihan kamar yang masih tersedia.

Denis sebenarnya bisa berpamitan saat itu juga. Ia bisa kembali ke kamarnya sendiri dan mengakhiri malam tanpa menimbulkan persoalan. Namun, ia memilih tetap menemani Siska.

Keputusan berikutnya datang dari mereka berdua. Setelah mempertimbangkan pilihan yang ditawarkan pihak hotel, mereka memutuskan memesan satu kamar dengan mencatat identitas sesuai prosedur.

Tidak ada keadaan darurat yang mengharuskan Denis mengambil keputusan itu. Tidak ada pula alasan yang membuatnya tidak bisa meminta kamar terpisah. Mereka hanya tidak ingin menghentikan kedekatan yang sejak awal mereka sadari berbahaya.

Ketika kartu akses kamar akhirnya berada di tangan mereka, Denis merasakan kegelisahan yang aneh. Ia masih memiliki kesempatan untuk mengubah keputusan itu. Ia bisa meminta kamar terpisah, kembali ke kamarnya sendiri, atau mengakhiri malam dengan mengatakan bahwa ia telah melakukan kesalahan.

Namun, ia tidak melakukannya.

Di hadapannya, pintu kamar hotel menunggu untuk dibuka. Denis memandangi kartu akses di tangannya. Ada sesuatu yang terasa berat di dadanya, seolah-olah sebuah peringatan sedang berusaha menembus pikirannya.

Ia teringat Mita. Wajah perempuan itu kembali hadir dalam ingatannya, lengkap dengan senyumnya yang selalu membuat Denis merasa pulang adalah hal yang menyenangkan. Ia juga teringat suara Mita beberapa jam lalu, ketika perempuan itu berkata rindu sebelum mengakhiri telepon.

Denis memejamkan mata sejenak. Seharusnya ia berhenti sampai di sini. Seharusnya ia kembali ke kamarnya sendiri. Namun, ketika Siska menoleh dan tersenyum kepadanya, Denis kembali mengabaikan suara hati yang memintanya mundur.

Kartu akses itu akhirnya menempel pada gagang pintu. Pintu terbuka.

Dan ketika Denis melangkah masuk, ia belum memahami bahwa satu keputusan malam itu akan mengubah segalanya. Termasuk kepercayaannya sendiri.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!