NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:318.1k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Satu

Vania terdiam. Kalimat Azka barusan benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata.

“Jadi … kita pulang?” tanyanya sekali lagi, seolah berharap jawaban pria itu berubah.

Azka menatapnya datar dan menjawab singkat, “Ya.”

Vania masih berdiri di tempat. Azka mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, kemudian memasukkannya ke saku celana.

“Dan kamu segera siapkan baju kalau nggak mau ketinggalan pesawat!" seru Azka. Setelah mengatakan itu, Azka langsung berjalan melewati Vania.

“Azka!” panggil Vania.

Pria itu tidak berhenti. Vania buru-buru meraih gagang pintu, keluar dari kamar, lalu mengunci pintunya. Setelah itu ia berlari kecil mengejar Azka yang sudah berjalan menuju kamar Reatha.

“Azka, tunggu!” teriak Vania.

Azka tetap berjalan.

“Azka!” panggil Vania lagi.

Baru ketika sampai di depan kamar Reatha, pria itu berhenti. Tangannya bahkan sudah terangkat hendak mengetuk pintu.

Namun, sebelum buku jarinya menyentuh pintu, Vania lebih dulu menahan tangannya. Azka menoleh.

“Apa lagi?” tanya Azka.

Vania menarik napas panjang. “Oke. Aku minta maaf.”

Azka diam. Ia ingin mendengar ucapan wanita itu.

“Aku minta maaf karena tadi sempat emosi,” lanjut Vania. “Tapi itu semua juga karena kamu yang sudah berubah.”

Alis Azka terangkat. “Berubah?” tanyanya.

“Iya," jawab Vania dengan cemberut. Ia menatap Azka dengan mata berkaca-kaca. “Sejak menikah, kamu seperti nggak peduli lagi sama aku.”

Azka memandangi wajah Vania cukup lama. Entah kenapa, pagi itu kesabarannya benar-benar sudah habis. Biasanya ia selalu sabar menghadapi apapun tingkah kekasihnya.

“Kurang peduli apa lagi aku sama kamu?” tanya Azka. Suaranya mulai meninggi.

Vania terdiam.

“Malam pertama seharusnya aku bersama istriku, tapi aku habiskan denganmu.”

Wajah Vania langsung berubah.

“Pergi bulan madu seharusnya dilakukan suami istri, aku malah mengajak kamu," ucap Azka selanjutnya.

Azka semakin terbawa emosi. “Kurang apa lagi, Vania?!”

Suara teriakannya menggema di lorong. Di balik pintu kamar, Reatha yang sejak tadi sedang memasukkan beberapa pakaian kotor, ke dalam koper langsung berhenti.

Ia menoleh ke arah pintu. “Ada apa ya?” tanyanya pada diri sendiri.

Reatha berjalan perlahan. Suara Azka terdengar semakin jelas. Ia kemudian membuka pintu.

Reatha menemukan Azka dan Vania sedang berdiri tepat di depan kamarnya. Keduanya terlihat seperti pasangan yang sedang menjalani sidang perceraian, padahal mereka bahkan belum menikah.

Reatha berdiri di ambang pintu. Diam, menonton. Seperti sedang menonton layar tancap gratis. Azka menoleh dan langsung melihat ke arahnya.

Reatha hanya mengangkat alis. “Lanjutkan,” katanya santai. “Aku cuma penonton.”

“Raisa!” tegur Azka.

“Apa?” tanya Reatha.

“Jangan ikut campur," ucap Vania.

Reatha mengangguk. “Oke.”

Ia bahkan mundur setengah langkah. “Tapi kalau sudah selesai, kasih tahu. Aku mau masuk lagi.”

Azka mengusap wajahnya. Sementara Vania langsung menundukkan kepala.

“Aku ingin kamu yang duluan bicara,” ucap Vania pelan. "Kamu tidak seperti Azka ku yang dulu."

Ia tidak mau lagi berdebat keras di depan Reatha. Harga dirinya sudah cukup jatuh pagi ini. Jangan sampai sekalian menjadi tontonan gratis buat gadis itu.

Azka menatap Vania. “Aku masih Azka yang dulu," ucapnya.

“Kalau begitu kenapa kamu jadi berubah sikap?” tanya Vania.

“Karena terkadang perasaan seseorang bisa berubah karena sikap orang yang ada di depannya.”

Vania terdiam. Azka melanjutkan dengan nada lebih tenang.

“Coba kamu introspeksi diri. Siapa yang salah?” tanya Azka.

Vania menggigit bibir. Beberapa detik kemudian ia menjawab,

“Kalau memang kamu merasa aku yang salah .…” Vania menarik napas. “Ya sudah. Aku minta maaf.”

Azka mengangguk kecil. “Dasar pick me.”

Reatha yang sejak tadi diam langsung menutup mulutnya. Hampir saja ia tertawa.

Vania menatap Azka tidak percaya. “Kamu bilang apa?” tanyanya.

“Nggak ada.”

“Kamu bilang aku pick me!” seru Vania.

Azka sudah tidak ingin melanjutkan perdebatan. Ia justru berbalik menatap Reatha.

“Raisa," panggil Azka.

“Iya ... Kenapa?" tanya Reatha.

“Kita harus pulang sekarang juga. Kamu bisa siapkan bajumu?” tanya Azka dengan suara berubah lembut. Hal itu makin membuat Vania cemberut.

Reatha mengangguk. “Tentu saja bisa.”

Azka memperhatikan kaki Reatha yang masih dibalut perban. “Kakimu masih sakit?”

Reatha tersenyum. “Hanya luka kecil. Jangan takut.” Ia kemudian menatap perbannya sendiri. “Ini belum seberapa dibandingkan luka yang pernah aku alami.”

Azka terdiam. Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa cukup dalam. Namun Reatha tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bertanya. Ia langsung berbalik dan masuk ke kamar.

“Aku beres-beres dulu," ucap Reatha.

Azka hendak mengikuti. Namun baru satu langkah, tangan Vania kembali menahannya.

“Azka .…”

Pria itu menoleh.

“Aku minta maaf," ucap Vania.

Azka diam. Hal itu membuat Vania makin kesal.

“Apa masih belum cukup kata maafku?”

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun mereka berpacaran, Vania merasa dirinya yang harus mengejar.

Biasanya, jika mereka bertengkar, sekeras apa pun Vania marah, pada akhirnya Azka yang akan datang meminta maaf. Azka yang mengalah. Azka yang membujuk. Azka yang memeluknya.

Namun, sekarang semuanya berbeda. Vania bahkan merasa dirinya tidak lagi mengenali pria yang berdiri di hadapannya.

Azka menghela napas. “Sudahlah.” Ia melepaskan tangan Vania dari lengannya. “Kembali ke kamarmu. Siapkan baju segera.”

Vania tidak bergerak. “Azka .…”

“Apa lagi?” tanya Azka dengan suara sedikit kesal.

Vania menatap pria itu dengan wajah penuh harap. “Apakah kita akan tetap kembali?”

Azka menatapnya beberapa detik. Kemudian ia mengangguk. “Iya.”

Mata Vania sedikit berbinar. Namun sebelum sempat tersenyum, Azka sudah melepaskan genggamannya.

Pria itu berjalan meninggalkannya. Langkahnya membawa Azka kembali menuju kamarnya.

Vania hanya berdiri di tempat. Matanya mengikuti punggung Azka sampai pria itu menghilang di balik pintu.

Pintu kamar Azka kemudian tertutup. Vania masih berdiri di lorong. Entah kenapa, jawaban “iya” dari Azka tadi tidak membuat hatinya lega. Justru ada sesuatu yang terasa berbeda.

Sementara itu, di dalam kamar, Reatha sedang memasukkan pakaian terakhir ke dalam koper. Ia berhenti sejenak. Tadi ia mendengar semuanya.

Bahkan suara Azka yang berteriak. Reatha tersenyum kecil. “Pasangan aneh," ucapnya pada diri sendiri.

Ia kembali melipat pakaian. Namun tanpa sadar, pikirannya kembali pada satu kalimat Azka.

Malam pertama seharusnya aku bersama istriku, tapi aku habiskan denganmu.

Reatha menggeleng cepat. “Bukan urusanku. Aku juga tak menginginkan malam pertama," ucapnya. Ia memasukkan pakaian ke dalam koper.

Di luar kamar, Vania akhirnya menarik napas panjang. Ia harus kembali ke kamar. Harus mengemasi barang. Terpaksa ikut pulang.

Tapi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun bersama Azka, Vania merasakan sesuatu yang sangat menakutkan.

Bagaimana kalau kali ini, Azka benar-benar mulai berubah? Dan bagaimana kalau perubahan itu bukan karena orang lain Melainkan karena seseorang yang kini sah menjadi istrinya? Semua pertanyaan itu bermain di kepalanya.

Vania menoleh ke arah pintu kamar Reatha. Tatapannya berubah.

Sementara di dalam kamar, Reatha sama sekali tidak tahu bahwa kepulangannya bersama Azka hari itu mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit. Sesuatu yang bahkan belum mereka sadari.

1
Nurhartiningsih
wah...jangan sampai reatha jatuh cinta sama David.krn ternyata David blm selesai dg masa lalunya
Nurhartiningsih
dih nggak tahu malu banget sih..udah kebongkar kebohongannya kok msh nggak mau pergi
Nurhartiningsih
masuk jebakan sendiri 🤣🤣🤣
Nurhartiningsih
waduh...jangan sampai kamu masuk jebakan Raisa ya Azka
Nurhartiningsih
kena mental kan Raisa???
Nar Sih
harus nya kmu terima kenyataan vania ,klau azka ngk cinta dgn mu dri dulu
Nar Sih
kayak nya david cocok di jodohin dgn shifa aja mam☺️
Naufal Affiq
terlalu banyak alasan mu untuk bisa bersama azka Vania, manusia bisa berubah kapan saja,kalau dia berjumpa dan memahami keadaannya,kalau diri mu vania tanya uang yang kau pikir kan ,kau bisa belanja sesuka mu,tidak memikirkan pasangan mu.
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Nurhartiningsih
jahat banget
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Eka ELissa
kirain Shifa balik ambil glad isi air siram balik....Lhaa...ko tisyu....🤦🤦🤦astaga ini keong racun udh di bilangin jelas ko msih aj ngeyel klau Azka GK mau dgn dia lgi ...dsr matre modus 😡😡🤦🤦
Eka ELissa
David ma Shifa aja sama 2 jomblo kan....😀
Radya Arynda
ngak ada malu2 nya si vania,,,dia yang pelakor masih saja ngak punya malu....suka ungkit2
vania larasati
lanjut kak
Lusi Hariyani
vania&raisa dua wanita ular berbisa
ken darsihk
Ulat 🐛 keket harus nya malu lha wong Azka tidak memilih kamu , tapi kamu ngotot sampai melupakan harga diri 🤣🤣🤣
Nurhartiningsih
dih..amit amit...raisa..ingat!!jangan baper..jangan goyah.
Nurhartiningsih
nah kan..mvania mencintai uangmu Azka....jadi cowok kok bodoh
Sri Supriatin
yah sayang makanannya dah pesen banyak🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!