Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: RIAN MENJADI DRIVER OJOL
Pukul 06.30 pagi.
Kontrakan petak tiga kali empat meter di kawasan Tanjung Priok.
Bau got dan tumpukan sampah dari kali belakang menusuk hidung. Dindingnya lembap, cat ngelupas, atap seng bocor di tiga titik. Di atas lantai semen dingin, pecahan ponsel butut Rian masih berserakan.
Rian duduk di lantai dengan punggung nempel dinding, kedua tangannya penuh darah kering karena tinju tembok semalam. Matanya merah dan bengkak karena kurang tidur. Di depannya, laptop usang dengan layar retak masih nyala, menampilkan foto yang sama berulang-ulang.
Foto Alesha yang terlelap di dada Vion. Foto yang malam tadi disebar Vion dalam versi yang jauh lebih tajam dan profesional.
Versi yang lebih jelas itu nyayat hatinya jauh lebih dalam.
Dalam foto resolusi tinggi itu, Alesha tampak senyum dalam tidur, senyum yang tidak pernah Rian lihat selama tujuh tahun mereka bersama. Itu senyum puas, senyum rasa aman, senyum seorang wanita yang dicintai dengan tulus. Cincin berlian biru lima karat di jarinya berkilau menyilaukan sampai bikin mata Rian perih.
Disertai keterangan terbaru dari tim humas Vion:
MALAM PERTAMA NYONYA VION: TIDAK ADA LAGI MANTAN, YANG ADA HANYA MASA DEPAN.
Empat puluh ribu komentar memenuhi unggahan itu dalam satu jam. Semua warganet memuja Alesha dan Vion. Tidak ada satu pun yang kasih simpati untuk Rian.
Tok... tok... tok...
Pintu triplek kontrakan digedor keras dari luar.
"Rian! Uang sewa tiga bulan belum dibayar! Kalau hari ini tidak lunasi, angkat kaki dari sini!"
Suara ibu kos melengking galak. Rian bergeming tanpa jawab. Ia tidak punya uang sepeser pun. Bahkan buat sarapan pagi ini pun tidak mampu.
Setelah kekacauan di lobi Gedung Vion kemarin, semua rekeningnya dibekukan Alesha. Kartu kredit ditolak di semua tempat. Mobil mewahnya ditarik leasing. Apartemen mewahnya disita. Vantec, perusahaan yang patennya ia curi dari Alesha, kini sudah pindah tangan sepenuhnya jadi milik wanita itu. Ia benar-benar kehilangan segalanya.
Kecuali satu hal.
Jaket hijau driver ojek online yang tergantung di paku di dinding. Jaket yang baru saja ia pinjam dari teman seprofesi semalam demi dapat sedikit uang buat makan.
Rian menatap jaket itu dengan tatapan kosong. Dua minggu lalu, ia masih seorang CEO Vantec yang pakai jas Armani lima puluh juta dan jam Patek Philippe. Hari ini, ia harus pakai jaket seratus ribu yang masih bau keringat.
Dengan tangan gemetar, Rian meraih jaket itu dan memakainya.
Ia harus bertahan hidup.
Pukul 07.15 pagi, Rian sudah berdiri di pangkalan ojek dekat dermaga, bersama puluhan driver lain. Helm usang yang ia pakai kebesaran. Wajahnya yang dulu tampan dan terawat kini kusut, penuh jenggot lebat dan luka lecet.
"Rian, ada orderan nih! Antar ke Gedung Vion Tower! Tipnya gede!"
Teman sesama driver melempar ponsel ke arah Rian.
Rian melirik alamat tujuan di layar itu, dan seketika darahnya naik ke kepala.
Gedung Vion Tower. Lantai sembilan puluh sembilan. Penthouse. Tempat Alesha terlelap di dada Vion semalam.
"Aku... aku tidak mau ambil orderan itu," tolak Rian lirih.
"Kau gila ya? Orderan ke Vion Tower itu rezeki nomplok! Tipnya bisa dua ratus ribu! Bukannya kau butuh uang buat bayar kos?"
Rian mengepalkan tangan erat. Di antara gengsi yang tersisa dan lapar yang mendera, lapar akhirnya menang.
Ia naik motor bututnya lalu ngegas.
Tiga puluh menit berselang, Rian tiba di depan kemegahan Gedung Vion Tower. Gedung yang sama di mana kemarin ia diseret keluar kayak anjing oleh pengawal Vion, tempat ia lihat ayah Clarissa bersimpuh.
Security gedung menatapnya dengan jijik.
"Driver ojek? Tunggu di luar! Dilarang masuk area lobi!"
Rian terpaksa nunggu di bawah terik matahari yang membakar kulit. Keringat bercucuran membasahi kepala di balik helm usang. Jaket hijau yang ia pakai mulai basah.
Lima menit kemudian, lift eksekutif terbuka lebar. Dua sosok keluar dari lobi.
Alesha dan Vion.
Hari ini, Alesha pakai blazer putih dipadu rok pensil hitam, rambut diikat tinggi, kacamata hitam nangkring di kepala. Cincin berlian biru lima karat di jari manisnya mantulin cahaya matahari pagi. Ia tampak seperti ratu sejati, cantik, berkuasa, dan tak tersentuh.
Vion jalan di sisinya, merangkul pinggang wanita itu penuh kepemilikan, pakai jas hitam yang membalut tubuh sempurna dengan ekspresi dingin.
Mereka melangkah menuju mobil Rolls-Royce Phantom yang sudah siaga di depan pintu lobi.
Lalu, pandangan mereka menangkap sosok Rian.
Alesha berhenti. Ia lepas kacamata hitamnya pelan, lalu menatap Rian yang berdiri di bawah terik matahari pakai jaket ojek bau keringat, helm usang, dan motor jelek di sisinya.
Rian balas tatapan itu. Mata merahnya membelalak tajam.
"Alesha..." panggil Rian dengan suara parau.
Alesha bergeming. Ia scan Rian dari ujung rambut sampai kaki, persis seperti cara Gunawan Mahardika menatapnya dulu dengan remeh di Hotel Grand Mulia.
Kemudian, senyum terbit di bibir Alesha. Senyum paling dingin yang pernah dilihat Rian seumur hidupnya.
"Oh. Driver ojek saya sudah datang," ucap Alesha dengan suara sengaja dikeraskan biar terdengar jelas oleh semua security dan karyawan yang lalu lalang.
Vion tertawa kecil. Ia merogoh dompet mahalnya, tarik beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu kasih ke Alesha.
"Tip untuk drivernya, Ratuku. Kasih yang banyak. Kasihan, kayaknya belum sarapan."
Alesha terima uang itu dan melangkah mendekati Rian. Setiap ketukan hak tingginya berbunyi nyaring di atas aspal panas. Tuk. Tuk. Tuk.
Ia berhenti tepat satu meter di hadapan Rian. Pria itu bahkan bisa cium aroma parfum mahal Alesha yang dulu tidak pernah mampu ia belikan.
"Pesanan atas nama Alesha Vion, ya?" tanya Alesha dengan nada profesional manis, seperti interaksi pelanggan dan driver pada umumnya.
Rian mengepalkan tangan begitu kuat sampai kukunya nancap dan robek telapaknya yang berdarah. "Alesha... kamu... kamu sengaja..."
"Sengaja apa?" potong Alesha sambil senyum manis. "Sengaja pesan ojek? Tentu saja. Saya perlu diantar ke Vantec Tower. Perusahaan milik saya. Bukankah kamu driver ojek? Jadi, antarkan saya."
Ia selipkan lembaran uang lima ratus ribu ke dalam saku jaket Rian yang bau pakai ujung jarinya, seolah enggan sentuh langsung pakaian kumuh itu lebih lama.
"Tip untukmu. Beli makanan. Kamu terlihat sangat kurus. Dan..." Alesha mendekatkan wajah ke telinga Rian, berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar mantan suaminya itu. "...jangan lupa, paten yang dulu kamu curi dariku kini hasilkan satu miliar setiap hari untukku. Terima kasih banyak, Rian. Karena pencurianmu itu, aku bisa sekaya ini."
Kalimat itu menghantam mental Rian seperti palu godam.
Rian kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas aspal panas membara, helm usangnya terlepas, jaket hijaunya terkuak lebar. Ia menatap kepergian Alesha yang kembali ke sisi Vion dan masuk ke kabin Rolls-Royce Phantom ber-AC dingin.
Mobil mewah itu meluncur meninggalkan lobi, menebarkan kepulan asap tipis dan debu di hadapan Rian yang masih terduduk lemah di jalanan.
Di dalam mobil, Vion menatap Alesha dengan penuh kekaguman.
"Kamu benar-benar kejam, Ratuku. Aku menyukainya."
Alesha menatap cincin berlian biru di jarinya yang berkilau indah, lalu tersenyum dingin.
"Belum seberapa, Tuan Vion. Ini baru permulaan."
Di saat yang sama, di sebuah salon kecantikan murah di kawasan Blok M, Nyonya Listia, ibu kandung Rian, tengah terisak tertahan sambil menggenggam erat tas kulit usang di tangannya.
Ia baru saja lepas tas Hermes terakhirnya seharga lima juta kepada pemilik toko loak, niat kumpulkan dana buat bayar pengacara biar bisa bebaskan putranya dari jurang miskin.
Namun sang pengacara justru tertawa remeh.
"Ibu, utang anak Ibu bukan lima juta. Melainkan dua koma tiga triliun. Tas kumal ini bahkan tidak cukup buat bayar parkir di Gedung Vion Tower selama seminggu."
Nyonya Listia jatuh tersungkur di lantai salon, menangis histeris meratapi nasib.
Keluarga yang kemarin dengan congkak merendahkan Alesha sebagai wanita miskin kini hidup dalam kehancuran yang jauh lebih mengenaskan daripada pengemis di jalanan.