Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — PELUNASAN DAN BAYANGAN
Napas dada saya masih memburu keras saat langkah kaki ini menginjak tanah pelataran rumah.
Aku segera mengunci selot kayu pintu dapur dengan jemari tangan yang dingin dan gemetar.
Di atas meja kayu dapur yang remang-remang, aku meletakkan buntalan kain mori putih itu.
Aroma bau pandan basah dan wangi bunga kantil busuk merebak pekat memenuhi ruangan sempit ini.
Perlahan-lahan aku melepaskan ikatan simpul tali kain mori yang kusam bernoda tanah tersebut.
Di dalam lipatan kain itu, menumpuk puluhan lembar uang kertas merah nominal seratus ribuan baru.
Aku meraba lembaran uang itu dengan telapak tanganku yang masih terasa gemetaran hebat.
Permukaan uang kertas itu terasa sangat dingin membekukan, seolah baru dikeluarkan dari dalam es.
“Jumlah uang ini benar-benar ada puluhan juta rupiah,” bisikku lirih di dalam kegelapan.
“Penunggu makam itu benar-benar memberikan modal uang tunai nyata,” tambahku berbisik.
Aku menghitung lembaran uang merah itu satu demi satu dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Empat puluh lembar uang seratus ribu rupiah kupisahkan khusus buat melunasi semua utang keluarga.
Sisanya kupalut kembali rapat-rapat menggunakan kain mori, lalu kusembunyikan di dalam celah dinding.
Fajar terbit menyingsing di ufuk timur, membawa pendar cahaya kuning keemasan yang hangat.
Aku duduk membisu di atas kursi kayu tengah, menunggu langkah kaki Ningsih keluar kamar tidur.
Ningsih berjalan keluar kamar sambil mengusap kedua matanya yang masih sembap karena kelelahan.
Ia terkejut setengah mati begitu melihatku sudah duduk rapi dengan dua lembar uang di meja.
“Mas... kamu tidak tidur lagi sepanjang malam tadi?” tanya Ningsih berbisik terkejut.
“Aku tidak bisa tidur, Ningsih, tapi lihatlah apa yang ada di atas meja ini,” jawabku lembut.
“Ada apa di atas meja itu, Mas?” tanya Ningsih penuh kecemasan.
“Lihat sendiri uang kertas di atas meja plastik itu, Ningsih,” jawabku tersenyum.
Ningsih mendekati meja kayu dengan langkah ragu-ragu dan kening yang berkerut dalam.
Tangannya yang kurus gemetar hebat saat berusaha menjangkau lembaran uang kertas di atas meja.
“Dari mana kamu bisa mendapatkan uang tunai sebanyak ini pagi-pagi begini, Mas?” tanya Ningsih.
“Ini uang pinjaman modal usaha dari kawan dekat Ujang yang kemarin kuceritakan, Ningsih,” jawabku berbohong.
“Apakah uang ini benar-benar halal dan aman buat kita pakai, Mas?” tanya Ningsih ragu.
“Tentu saja halal, Ningsih, ini uang pinjaman resmi yang nanti akan kucicil dari hasil toko,” kelitku.
“Kamu tidak sedang melakukan perbuatan nekad kan, Mas?” selidik Ningsih ragu.
“Jangan berpikiran buruk begitu, Ningsih, aku cuma meminjam modal dari orang berada,” jawabku menenangkan.
“Ambil seratus delapan puluh ribu rupiah ini buat bayar uang buku LKS Dedek sekarang,” pintaku.
“Sisanya dua puluh ribu rupiah kamu pakai buat beli beras dua kilo di warung depan,” tambahku.
Air mata keharuan mendadak menetes basah mengalir deras di atas pipi tirus Ningsih.
Ia merapatkan kedua telapak tangannya ke wajah, mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga.
“Alhamdulillah ya Allah... terima kasih banyak, Mas!” jerit Ningsih lirih sambil memelukku erat.
“Anak kita akhirnya bisa ikut ujian sekolah minggu depan tanpa rasa malu lagi,” sambungnya bahagia.
“Iya, Ningsih, sekarang kamu tidak usah menangis bingung lagi memikirkan uang LKS,” bujukku pelan.
Aku membalas pelukan istriku dengan perasaan campur aduk yang sangat menyiksa batin.
Aroma wangi bunga kantil tipis mendadak tercium lagi saat hidungku menyentuh pundak kemejanya.
“Kok uang kertas ini baunya agak aneh ya, Mas?” tanya Ningsih sambil mencium lembaran uang.
“Baunya seperti wangi bunga kamboja dan tanah basah di pekuburan,” lanjut Ningsih heran.
Jantungku mendadak berhenti berdetak sejenak mendengarkan ucapan teliti dari istriku sendiri.
“Itu cuma bau wangi minyak wangi milik kawan Ujang yang meminjamkan uang ini, Ningsih,” jawabku cepat.
“Orangnya memang suka memakai minyak wangi wangi bunga tradisional,” tambahku mencari alasan.
“Sudahlah, Ningsih, yang penting uang ini asli dan bisa menyelamatkan masa depan Dedek,” potongku menyela.
Ningsih mengangguk pelan menerima alasanku, lalu segera memasukkan uang itu ke dalam saku bajunya.
Ia bergegas masuk ke dalam kamar tidur buat membangunkan Dedek yang masih terlelap tenang.
“Bapak benar-benar sudah punya uang bayar LKS Dedek hari ini?” panggil Dedek melongok dari kamar.
“Iya, Nak, uang LKS-mu sudah ada di saku baju Ibu,” sahutku tersenyum lebar.
“Terima kasih banyak ya, Bapak! Dedek janji bakal belajar rajin buat ujian minggu depan!” seru Dedek gembira.
“Sama-sama, sayang, nanti pulang sekolah Bapak belikan es sirup kesukaanmu di warung,” janjiku menghibur.
Sore harinya pukul empat lebih tiga puluh menit, suasana desa mendadak berubah menjadi tegang.
Sebuah mobil bak terbuka berwarna hitam berhenti kasar di depan halaman rumah kami.
Brak!
Pak Leksa turun dari pintu mobil bak dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan.
Dua orang pria berbadan tegap berjaket kulit hitam mengikutinya persis dari arah belakang.
“Mana janji uang tiga juta rupiahmu sore ini, Surya?” gertak Pak Leksa dengan suara melengking.
“Jangan membuat kami membuang waktu berharga buat mengangkut sisa barang tokomu ini!” seru anak buahnya.
Ningsih berdiri gemetar ketakutan di balik pintu depan sambil memeluk tubuh Dedek erat-erat.
Aku berjalan keluar teras rumah dengan sangat tenang, membawa seamplop cokelat tebal di tangan.
“Selamat sore, Pak Leksa,” sapaku santun sambil menganggukkan kepala perlahan.
“Tidak usah banyak basa-basi lagi, Surya!” potong Pak Leksa garang sambil berkacak pinggang.
“Mana uang tunai tiga juta rupiah itu? Jangan bilang kamu mau minta tunda lagi!” ancamnya.
“Aku tidak akan minta tunda pembayaran lagi hari ini, Pak Leksa,” jawabku tenang.
Aku melangkah mendekati meja plastik di teras, lalu meletakkan amplop cokelat itu di atasnya.
Perlahan-lahan aku mengeluarkan tiga puluh lembar uang kertas merah nominal seratus ribu rupiah.
“Ini uang tiga juta rupiah utuh buat melunasi semua tunggakan toko saya, Pak Leksa,” kataku tegas.
Mata Pak Leksa terbelalak lebar seolah tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya.
Pak Leksa menyambar tumpukan uang kertas merah itu dengan gerak jemari yang terburu-buru.
“Dari mana kamu bisa mendapatkan uang tunai sebanyak ini dalam waktu sehari, Surya?” tanya Pak Leksa.
“Itu uang hasil usaha dan bantuan keluarga saya dari kota, Pak Leksa,” jawabku tenang.
“Tolong dihitung kembali jumlahnya sampai pas dan buatkan surat tanda lunasnya sekarang,” pintaku.
Pak Leksa menghitung lembaran uang kertas merah itu satu demi satu di bawah terik sore.
Ia mengangkat lembaran uang itu ke arah pendar cahaya matahari untuk mengecek keaslian kertasnya.
“Uang ini asli dan jumlahnya pas tiga juta rupiah,” kata Pak Leksa dengan nada keheranan.
“Tapi kenapa permukaan uang kertas ini terasa sangat dingin dan licin, Surya?” tanya Pak Leksa heran.
“Uang itu disimpan di dalam peti besi tua tempat usaha saudara saya di kota, Pak,” kelitku.
Pak Leksa menarik napas panjang, lalu merogoh pulpen dan nota pembayaran dari saku bajunya.
Dengan tangan yang agak bergetar, ia menuliskan tanda tangan dan tulisan lunas di atas kertas.
“Utang tokomu sekarang sudah lunas bersih, Surya,” kata Pak Leksa sambil memasukkan uang ke tas.
“Tapi ingat baik-baik, jangan pernah mencoba bermain-main dengan hal aneh di desa ini,” ancamnya.
“Aku cuma berdagang mencari rezeki halal buat makan anak istriku, Pak Leksa,” jawabku santai.
“Terima kasih atas kerja samanya selama ini, Pak Leksa,” sahutku pendek tanpa melayani ancamannya.
Pak Leksa dan kedua anak buahnya melangkah masuk kembali ke dalam mobil bak terbuka mereka.
Mesin mobil meraung keras saat kendaraan itu berbalik arah meninggalkan halaman rumah kami.
Ningsih berlari keluar teras sambil menangis bahagia begitu mobil Pak Leksa menghilang.
Ia mengambil nota tanda lunas dari tanganku, memeluk kertas lusuh itu dengan derai air mata.
“Toko kita selamat, Mas... rumah kita tidak jadi disita!” jerit Ningsih gembira.
“Iya, Ningsih, sekarang kamu bisa belanja beras, minyak, dan lauk enak buat makan malam,” ujarku.
“Beneran kita punya uang cukup buat beli lauk enak hari ini, Mas?” tanya Ningsih bermata kembang.
“Tentu saja cukup, Ningsih, belilah daging ayam sama sayur segar buat makan malam kita,” jawabku tersenyum.
Aku menyerahkan lima lembar uang seratus ribu rupiah lagi kepada Ningsih buat modal belanja.
Ningsih menerima uang itu dengan wajah berseri-seri, lalu bergegas pergi ke pasar desa.
Suara mesin motor Ujang yang berisik terdengar mendekati halaman rumah beberapa saat kemudian.
Ujang memarkir kendaraannya di bawah pohon mangga, lalu melangkah menuju teras dengan cepat.
“Bagaimana hasil ritualmu semalam di Makam Keramat Panjang, Mas?” tanya Ujang berbisik cepat.
“Apakah kamu bertemu langsung sama sosok penunggu makam keramat itu?” tambah Ujang penasaran.
Aku menganggukkan kepala pelan sambil memperlihatkan nota tanda lunas dari Pak Leksa.
“Pak Leksa baru saja pergi membawa uang tiga juta rupiah hasil pinjaman gaib itu, Jang,” jawabku.
“Berarti ritualmu berhasil sempurna dan kamu sudah dapat uang tunai banyak, Mas?” seru Ujang.
“Iya, Jang, penunggu makam itu memberikan uang tunai puluhan juta rupiah di dalam mori,” jawabku lirih.
Ujang bernapas lega mendengarkan penjelasanku, lalu duduk bersandar di bangku kayu teras.
Ia merogoh saku jaketnya, menyalakan sebatang rokok kretek hingga asapnya membumbung tinggi.
“Alhamdulillah kalau utangmu sudah lunas semuanya, Mas,” kata Ujang sambil mengepulkan asap.
“Tapi ingat pesan Simbah kemarin sore, jangan pernah sampai melanggar janji perjanjian!” tegas Ujang.
“Janji yang mana yang kamu maksudkan itu, Jang?” tanyaku memastikan kembali.
“Kamu wajib datang membersihkan makam itu setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon,” jelas Ujang.
“Dan uang pinjaman itu tidak boleh kamu gunakan buat hal-hal maksiat atau hura-hura,” tambahnya.
“Apakah ada konsekuensi berbahaya kalau aku terlambat membersihkan makam itu, Jang?” tanyaku cemas.
“Jangan sampai terlambat, Mas! Kalau kamu lalai, uang itu bisa berubah menjadi tanah merah!” bisik Ujang serius.
“Aku meminjam uang ini murni cuma buat melunasi utang dan memberi makan anak istri, Jang,” tegasku.
“Baguslah kalau begitu, jaga baik-baik kelakuanmu agar penunggu makam tidak murka,” pesan Ujang.
Ujang menghabiskan rokoknya dengan cepat, lalu berpamitan pulang karena hari mulai gelap.
Keheningan senja kembali menyelimuti halaman rumah kami saat matahari mulai tenggelam sempurna.
Malam harinya, suasana di dalam rumah panggung kami terasa hangat dan penuh sukacita.
Ningsih memasak nasi putih pulen, ikan goreng renyah, dan sayur bening yang sangat harum.
Dedek makan dengan sangat lahap, menambah nasi dua kali sambil tertawa riang gembira.
“Makanannya enak sekali ya, Bu!” puji Dedek sambil mengunyah daging ikan goreng.
“Ibu masak ayam goreng sama sayur segar kesukaanmu hari ini, Nak,” sahut Ningsih gembira.
“Makan yang banyak ya, Nak, besok Ibu buatkan bekal makanan enak lagi buat sekolah,” jawab Ningsih.
“Terima kasih ya, Ibu! Terima kasih juga buat Bapak!” seru Dedek tertawa gembira.
Aku memandangi kebahagiaan anak dan istriku dari tepi meja dengan senyuman hangat.
Perjanjian gaib dengan penunggu Makam Keramat Panjang kini resmi mengikat seumur hidupku.
Setelah Dedek dan Ningsih masuk ke kamar tidur buat beristirahat, aku duduk di dapur.
Aku mengeluarkan sisa uang kertas merah dari dalam celah dinding buat dihitung kembali.
Di bawah pendar redup lampu minyak tanah, pemandangan mengerikan mendadak terlihat jelas.
Pada permukaan lembaran uang kertas seratus ribu rupiah itu, terdapat bercak hitam pekat.
Bercak hitam itu berbentuk seperti sidik jari manusia yang ternoda oleh tanah kuburan basah.
Aku berusaha mengusap bercak hitam itu dengan kain lap, namun noda itu tidak bisa hilang.
“Kenapa ada bekas sidik jari berlumpur tanah di setiap lembaran uang ini?” bisikku kaget.
Krek...
Suara engsel kayu jendela dapur berderit pelan, terbuka sedikit ditiup oleh angin malam.
Bersamaan dengan munculnya deritan itu, aroma bau pandan basah dan wangi kantil merebak pekat.
Hawa dingin yang sangat membekukan menusuk tengkuk leherku dari arah belakang jendela.
Bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak, dan detak jantungku berdebar sangat kencang.
Di balik kegelapan jendela dapur, aku melihat dua titik pendar cahaya merah menyala tajam.
Titik cahaya merah itu menatapku lurus-lurus, seolah menagih janji setia yang telah terikat.
“Aku pasti akan datang membersihkan makammu setiap Selasa Kliwon, Mbah...” bisikku ketakutan.
Utang uang di dunia nyata memang telah lunas bersih tanpa sisa malam ini.
Tetapi utang gaib bagi jiwa dan ragaku di Makam Keramat Panjang baru saja dimulai.