Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: DENGKI YANG MEMBAKAR
Keheningan malam di dalam mobil sedan yang melaju membelah kawasan Jalan Fatmawati terasa begitu tenteram. Di kursi belakang, Bima tertidur lelap dengan napas yang teratur. Ranti duduk di samping Farhan yang mengemudikan mobil menuju rumah Ranti, menggantikan sopir pribadi yang dimintai tolong untuk beristirahat.
Lampu-lampu jalanan Jakarta membiaskan pendar keemasan di wajah Ranti yang tenang. Ia memalingkan wajah ke arah Farhan yang fokus memegang kemudi.
"Farhan..." panggil Ranti pelan, memecah keheningan yang lembut di antara mereka.
Farhan melirik sesaat melalui kaca spion tengah sebelum menatap Ranti dengan ulas senyum tipis. "Ya, Ran?"
Ranti menghela napas pendek, kenangan getir masa lalu mendadak menyusup halus di benaknya. "Tadi Tante Rida sempat menanyakan keberadaan Ibuku secara lebih detail... Aku belum sempat menceritakan semuanya secara utuh di depan Tante Rida karena tidak mau merusak suasana bahagia malam ini."
Farhan memelankan laju kendaraannya, membiarkan mobil meluncur santai di lajur kiri. "Ibu memang sangat menyayangi Tante Kirana, Ran. Tapi kalau itu terlalu berat untuk diceritakan, kamu tidak perlu memaksakan diri."
"Tidak apa-apa, Farhan. Kamu dan Tante Rida berhak tahu," tutur Ranti dengan suara yang jernih namun sarat akan ketabahan. "Ibu... meninggal empat tahun lalu, tepat saat Bima baru lahir ke dunia."
Tangan Farhan di lingkar kemudi sempat mengencang sejenak. Ia meresapi kepedihan dalam kalimat Ranti.
"Hari itu seharusnya jadi hari paling bahagia dalam hidupku," lanjut Ranti, pandangannya menembus kaca depan yang dibasahi sisa gerimis. "Tapi komplikasi persalinan membuat kondisi Ibu menurun drastis. Ibu sempat menggenggam tanganku, melihat Bima untuk pertama dan terakhir kalinya, lalu berpulang. Di saat yang sama, Sony bahkan tidak ada di rumah sakit... Pria itu sedang sibuk dengan urusannya sendiri dan membiarkanku berjuang sendirian melepas kepergian Ibu."
Ranti tersenyum getir, mengusap sudut matanya yang mengembun. "Sejak hari itu, aku bersumpah pada diriku sendiri untuk menjadi wanita yang tidak boleh lemah. Aku harus membesarkan Bima dan menjaga perusahaan Ibu sendirian."
Farhan mendengarkan setiap patah kata Ranti dengan dada yang terasa sesak oleh rasa empati yang mendalam. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan yang teduh di bawah rindangnya pohon asam di kawasan Dharmawangsa, tak jauh dari gerbang rumah Ranti.
Farhan memutar tubuhnya menghadap Ranti. Pendar matanya dipenuhi kehangatan dan rasa hormat yang teramat tinggi.
"Ibumu adalah wanita yang luar biasa, Ranti," ucap Farhan dengan suara baritonnya yang tenang dan dalam. "Dan beliau pasti sangat bangga melihat betapa tangguhnya putri tunggalnya bertarung sendirian melewati badai sebesar itu."
Mata mereka beradu di remang interior mobil. Di balik kaca mata tipis yang dikenakannya, pendar cinta yang disimpan Farhan selama puluhan tahun berkilat begitu jujur.
Farhan belum pernah menikah hingga usianya menyentuh angka tiga puluh empat tahun. Bukan karena tidak ada wanita yang mendekatinya—sebagai seorang hakim muda berprestasi, berparas tampan, dan berasal dari keluarga terpandang, Farhan selalu menjadi sosok idaman. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, bayangan Ranti Anindita kecil dengan gaun putih dan tawa jernihnya tak pernah benar-benar tergantikan.
Kini, sosok idaman yang selama ini ia harapkan berada tepat di depan matanya. Ranti hadir kembali dalam hidupnya, bebas dari belenggu pria yang dulu menyakitinya. Harapan untuk membina masa depan bersama wanita yang dicintainya sejak dulu menyala begitu terang di dada Farhan.
Namun, Farhan memadamkan dorongan egonya. Sebagai seorang pria sejati yang bijaksana, Farhan sangat paham dan mengerti kondisi jiwa Ranti saat ini. Pernikahan lima tahun yang dipenuhi pengkhianatan, kekerasan verbal, dan manipulasi oleh Sony pasti menyisakan luka trauma yang amat dalam di hati Ranti.
Aku tidak boleh terburu-buru, batin Farhan dengan penuh kesabaran. Ranti butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya, menyembuhkan jiwanya, dan menata kembali hidupnya bersama Bima. Aku tidak akan membebaninya dengan perasaanku sekarang.
Farhan tersenyum hangat, menyembunyikan getar cintanya di balik ketenangan sikapnya.
"Terima kasih sudah mau berbagi cerita ini denganku, Ran," tutur Farhan lembut. "Mulai malam ini, jangan pernah merasa berjuang sendirian lagi. Ada aku dan Ibu yang akan selalu siap jadi tempatmu bersandar."
Ranti menatap Farhan dengan pendar haru. Rasa aman yang tak pernah ia dapatkan dari Sony kini melingkupi jiwanya. "Terima kasih banyak, Farhan... Kamu benar-benar pria yang sangat baik."
Sementara itu, di sebuah rumah kontrakan sempit di kawasan Kebayoran Lama, suasana berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.
BRAAKK!
Pintu kayu rumah kontrakan dihantam keras oleh pukulan tangan Sonya. Wanita itu melangkah masuk dengan napas memburu dan raut wajah yang merah padam oleh kemarahan dan rasa iri yang membakar jiwanya.
Ibu kandung Sony—yang sedang duduk lesu di sofa kumal meratapi nasib putranya yang mendekam di penjara—terlonjak kaget melihat kedatangan anak perempuannya.
"Sonya! Ada apa kamu pulang-pulang mengamuk begitu?!" tegur Ibunya dengan suara serak. "Mas-mu di penjara belum ada kejelasan, kamu malah buat keributan!"
"Ibu tahu tidak apa yang baru saja aku lihat?!" jerit Sonya histeris seraya melempar tas tangannya ke atas meja hingga tempat kosmetik di dalamnya berserakan.
Sonya berjalan bolak-balik di ruang tamu sempit itu dengan dada naik turun. Foto-foto di ponselnya kembali ia pandangi dengan tatapan benci yang meluap-luap.
"Ranti, Bu! Perempuan tidak tahu diri itu!" amuk Sonya dengan suara melengking. "Dia berlagak suci di depan media, bikin Mas Sony dipenjara dan dimiskinkan, tapi ternyata di belakang dia sudah bersenang-senang sama laki-laki lain!"
Ibunya terbelalak. "Maksudmu bagaimana, Sonya? Ranti punya laki-laki lain?"
"Iya! Aku ikuti dia tadi malam!" cercec Sonya seraya menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah ibunya. "Lihat ini! Dia datang ke rumah mewah, dibukakan pintu sama laki-laki yang menyidangkan kasus cerainya sendiri! Si Hakim Farhan itu! Bahkan ibunya hakim itu menyambut Ranti dan Bima seperti menantu sendiri!"
Ibunya memelototi foto di layar HP Sonya dengan tangan gemetar. "Hakim itu...? Jadi... Mas Sony tidak bohong waktu berteriak di pengadilan tadi siang?"
"Mas Sony benar seratus persen, Bu!" raung Sonya, rasa dengki meracuni seluruh pikirannya. "Ranti itu cuma memanfaatkan posisi Mas Sony yang khilaf buat membuang Mas Sony! Dia mau menguasai semua harta dan Bima untuk dinikmati bersama laki-laki baru itu!"
Sonya menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai, meremas rambutnya sendiri karena rasa tidak terima yang amat sangat. Yang membuat dada Sonya terasa paling menyesakkan dan terbakar bukan sekadar tuduhan perselingkuhan itu, melainkan kenyataan pahit yang tampak di depan matanya.
Laki-laki yang berdiri di samping Ranti malam ini—Farhan Arisya—memiliki paras yang jauh lebih tampan, gagah, dan berwibawa dibanding Sony. Lebih dari itu, Farhan adalah seorang hakim karir berpangkat, berpendidikan tinggi, dan memiliki masa depan yang teramat cerah serta dihormati oleh masyarakat. Bandingkan dengan Sony yang kini berstatus narapidana, tirus, dan hancur tanpa sisa.
Rasa iri hati Sonya yang kotor tidak sanggup menerima kenyataan bahwa Ranti mendapatkan pengganti yang jauh lebih sempurna dibanding kakaknya.
"Aku tidak terima, Bu! Aku tidak terima Ranti bahagia di atas penderitaan keluarga kita!" jerit Sonya seraya mengepalkan tangannya tajam. "Laki-laki itu... kenapa harus dia?! Dia lebih tampan dari Mas Sony, kerjanya terhormat, masa depannya cerah! Kenapa Ranti yang selalu mendapatkan yang terbaik, sementara kita harus tinggal di rumah sempit begini?!"
Ibunya menangis terisak, terpengaruh oleh provokasi dan rasa dengki anak perempuannya. "Terus kita harus bagaimana, Sonya? Mas-mu di penjara, rekening kita dibekukan... Kita tidak punya uang lagi."
Sonya menyunggingkan senyum licik yang mengerikan. Pikirannya yang licik mulai merangkai skenario jahat untuk menghancurkan kebahagiaan Ranti.
"Aku punya foto-foto ini, Bu," desis Sonya dengan pendar mata yang jahat dan liar. "Aku bakal sebarkan foto-foto ini ke media gosip dan akun-akun besar di internet! Aku bakal bikin narasi kalau Hakim Farhan dan Ranti main mata buat memenjarakan Mas Sony!"
Sonya menatap layar ponselnya dengan seringai yang penuh kebencian.
"Kita lihat saja, Ranti... Kamu pikir kamu bisa hidup tenang dan bahagia sama hakim tampanmu itu?" bisik Sonya tajam. "Aku akan hancurkan nama baikmu dan bikin pria itu kehilangan jabatannya! Kalau keluarga kita hancur, kamu juga harus ikut hancur!"
Di dalam rumah kontrakan yang suram itu, dengki dan kebusukan hati keluarga Sony kian membara, bersiap menenun badai baru yang siap menerjang. Namun di seberang sana, di balik keheningan malam Dharmawangsa, Ranti dan Bima telah menemukan perlindungan di balik keteguhan cinta dan kebenaran yang tak akan goyah oleh kejahatan apa pun.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.