Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Jamuan Malam dan Luka yang Tertinggal
Hari-hari menjelang jamuan makan malam resmi keluarga Giorgiana terasa seperti hitung mundur menuju eksekusi bagi Martha. Di permukaan, apartemen kecilnya tetap menjadi tempat peristirahatan yang hangat setiap kali Adnan datang membawa secangkir teh hangat dan ketenangan batin. Namun di luar gelembung perlindungan itu, dunia nyata terus mendesak dengan ribuan jarum ketakutan.
Ponsel Martha yang sempat dimatikan kini terpaksa harus dihidupkan kembali setelah puluhan pesan suara dari ibunya bernada ancaman dan kepanikan masuk. Puncaknya adalah sebuah panggilan langsung dari sang ayah, Lord Alistair, yang memberikan ultimatum mutlak: jika Martha tidak hadir di jamuan makan malam keluarga besar minggu depan dengan mengenakan gaun yang telah disiapkan dan menyambut Julian Vance sebagai tunangannya, maka seluruh fasilitas, hak waris, serta nama besar keluarga Giorgiana akan dicabut darinya secara permanen.
Martha terduduk di lantai ruang tamu apartemennya, memeluk kedua lututnya dengan tatapan kosong menerawang ke arah jendela yang basah oleh hujan es sisa musim dingin.
Adnan, yang baru saja keluar dari dapur membawa dua cangkir air hangat, mendapati wanita itu dalam keadaan rapuh. Pria berdarah Jawa itu melangkah pelan tanpa suara. Ia meletakkan cangkir di atas meja, lalu berlutut di hadapan Martha. Tangan kokoh Adnan terulur, perlahan menggenggam jemari Martha yang dingin dan bergetar hebat.
"Martha," panggil Adnan lembut. Suara baritonnya bagai jangkar yang menahan kapal agar tidak terseret arus badai. "Pandang saya."
Martha mendongak. Air mata membasahi pipinya, membuat matanya yang biru-kehijauan tampak sayu dan penuh keputusasaan.
"Mereka mengancam akan membuangku, Adnan," bisik Martha parau, suaranya pecah di tengah isak tangis. "Ayahku bersumpah akan menghapus namaku dari silsilah keluarga. Mereka bilang aku anak durhaka yang lebih memilih orang asing daripada masa depan keluarganya sendiri. Aku tidak takut kehilangan harta... tapi kehilangan ikatan keluarga setelah ibuku merawatku seumur hidup... rasanya seperti disayat hidup-hidup."
Adnan tidak memotong ucapannya. Ia mendengarkan setiap patah kata kepedihan itu dengan kesabaran luar biasa. Pria itu menggeser duduknya, merengkuh tubuh Martha ke dalam dekapan hangat dadanya, membiarkan wanita itu menangis sepuasnya di atas bahu kemeja linennya.
"Aja dadi wong sing gampang sirna amarga angin, Martha," bisik Adnan tepat di samping telinga wanita itu, melafalkan nasihat dalam bahasa Jawa dengan nada yang begitu menenangkan. "Wit sing kuat ora bakal rubuh mung amarga diserang badai sauntara. Ujian iki abot, tapi Gusti ora bakal maringi cobaan melebihi wates kekuatan hamba-Ne."
Martha menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kayu cendana dan wangi maskulin Adnan yang selalu berhasil memberinya sedikit ketenangan di tengah kekacauan dunia. "Bagaimana kalau kita tidak sanggup, Adnan? Perbedaan keyakinan kita... tuntutan keluargaku... perjodohan paksa itu... semuanya terasa seperti dinding beton yang mustahil kita hancurkan."
Adnan melepaskan pelukan mereka perlahan, lalu menangkup wajah Martha dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Ibu jarinya dengan telaten menghapus jejak air mata di pipi wanita itu. Tatapan mata hitam legam Adnan memancarkan keteguhan yang tidak pernah luntur.
"Kita tidak harus menghancurkan dinding itu sekaligus dalam satu hari, Martha," jawab Adnan tegas namun penuh kelembutan. "Kita jalani satu langkah demi satu langkah. Datanglah ke jamuan makan malam itu."
Martha terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Kau... kau menyuruhku pergi ke jamuan itu? Menemui Julian Vance dan keluargaku?"
"Ya," jawab Adnan mantap. "Karena bersembunyi tidak akan menyelesaikan apa pun. Hadapi mereka. Tunjukkan pada orang tua Anda bahwa Anda bukan lagi anak kecil yang bisa diatur di atas meja catur bisnis mereka. Datanglah sebagai Martha Giorgiana yang mandiri, teguh, dan tahu persis apa serta siapa yang ada di dalam hatinya."
Tiga hari kemudian, malam jamuan makan malam keluarga besar Giorgiana tiba.
Rumah besar di kawasan Kensington itu tampak berkilauan di bawah temaram lampu kristal raksasa yang menggantung di ruang utama. Puluhan tamu undangan dari kalangan aristokrasi London, kolektor seni, serta para petinggi korporasi tampak berkerumun di ruang dansa sambil menikmati alunan musik klasik dari gesekan biola langsung.
Martha melangkah menuruni anak tangga utama dengan gaun malam panjang berwarna emerald green berpotongan klasik yang melekat sempurna di tubuh jenjangnya. Rambut cokelat madunya ditata elegan ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian warisan keluarga—simbol formalitas yang dipaksakan oleh ibunya malam ini.
Di ujung tangga, Lady Eleanor menyambutnya dengan senyuman penuh kemenangan, sementara Lord Alistair berdiri di samping seorang pemuda berpenampilan necis dengan setelan jas tuksedo Savile Row yang rapi.
Pemuda itu adalah Julian Vance. Usianya sekitar awal tiga puluhan, berpostur tinggi, dengan rambut pirang tertata klimis dan senyuman menawan yang memancarkan kepercayaan diri tingkat tinggi khas pewaris takhta kekayaan multinasional.
"Martha, sayang. Kau tampak luar biasa malam ini," puji Lady Eleanor setengah berbisik saat Martha mendekat. "Julian sudah menunggu sejak tadi. Malam ini adalah malam perkenalan resmi kita semua."
Martha menelan ludah, berusaha keras menegakkan punggungnya agar terlihat tegar. Ia tersenyum tipis—senyuman sosial yang kosong tanpa jiwa. Saat Julian melangkah mendekat dan mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangannya dengan sopan ala bangsawan Inggris, Martha merasakan gelombang mual bergejolak di perutnya.
"Sebuah kehormatan bisa mendampingi wanita paling memukau di London malam ini, Martha," ucap Julian dengan suara bariton yang ramah, namun terdengar asing dan hampa di telinga Martha.
Sebelum Martha sempat merangkai kata balasan untuk melepaskan diri dari cengkeraman basa-basi itu, pintu utama ruang dansa tiba-tiba terbuka lebar. Suara dentingan gelas kristal dan obrolan para tamu di sekitarnya mendadak meredup seketika, teralihkan oleh sosok yang baru saja melangkah masuk menembus kerumunan.
Seluruh mata di ruangan megah itu spontan menoleh ke arah pintu.
Jantung Martha seolah berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Di sana, berdiri Adnan Bagas Setiawan.
Pria itu tidak mengenakan setelan tuksedo barat seperti para tamu undangan lainnya. Adnan mengenakan busana tradisional Jawa lengkap yang jauh lebih megah dari pertemuan pertama mereka di Ubud: blangkon batik klasik Solo bermotif sogan menutupi kepalanya, beskap hitam beludru halus berkerah tinggi yang melekat pas di tubuh atletisnya, kain jarik batik melilit pinggang dengan wiru sempurna, serta sebilah keris pusaka bersarung kayu nangka yang menyelip rapi di balik punggungnya.
Kehadiran Adnan di tengah-tengah kemewahan aristokrasi Eropa itu tampak bagaikan sebuah mahakarya budaya yang hidup—asing, kontras, namun memancarkan wibawa dan karisma luar biasa yang membuat siapa pun yang melihatnya langsung tertegun bisu.
Lord Alistair langsung memucat, kemarahannya tersulut seketika. Pria paruh baya itu meletakkan gelasnya dengan kasar di atas meja pelayan, lalu melangkah cepat menghampiri Adnan dengan mata menyalang penuh amarah.
"Berani sekali kau menginjakkan kaki di rumah ini lagi, pemuda asing!" bentak Alistair di hadapan puluhan tamu undangan yang mulai berbisik-bisik. "Penjaga! Usir dia sekarang juga!"
Dua orang petugas keamanan bertubuh besar langsung bergerak maju, bersiap mencengkeram lengan Adnan.
Namun Adnan tidak bergeming sedikit pun. Ia mengangkat tangan kanannya memberi isyarat tenang, membuat para penjaga itu tertahan beberapa sentimeter darinya. Tatapan mata hitam legam Adnan menatap lurus ke arah Alistair dengan ketenangan absolut, sebelum pandangannya beralih menembus kerumunan, mendarat tepat di sepasang mata biru-kehijauan Martha yang tengah menatapnya dengan air mata berlinang.
Dengan suara bariton yang tenang, jelas, dan berwibawa, Adnan membuka suara di hadapan seluruh elite London malam itu.
"Saya datang bukan untuk merusak jamuan Anda, Lord Giorgiana," ucap Adnan, suaranya menggema di seluruh ruang dansa yang mendadak sunyi senyap. "Tetapi saya datang sebagai seorang pria yang menepati janji: menjemput masa depan dan membawa pulang hati yang memang sejak awal bukan milik siapa pun di ruangan ini, melainkan milik saya."
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️