NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: TERBANGUN DI RUMAH KACA

Aroma obat-obatan yang tajam dan antiseptik menyengat indra penciumannya sebelum mata itu benar-benar terbuka.

Sesil merasakan kekakuan luar biasa di seluruh persendiannya, seolah tubuhnya telah tertidur selama berabad-abad.

Di balik kelopak matanya yang terasa seberat timah, ada sensasi denyutan konstan di bagian belakang kepalanya—sebuah rasa sakit tumpul yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang lemah.

Saat ia akhirnya berhasil memaksa matanya terbuka, cahaya putih netral dari lampu fluoresens di langit-langit langsung menyapa, membuat matanya berair seketika. Sensasi silau itu memaksa Sesil mengedipkan mata berulang kali.

Ruangan itu terlalu tenang.

Tidak ada suara kendaraan lalu lalang, tidak ada hiruk-pikuk khas rumah sakit umum. Hanya ada bunyi bip teratur yang monoton dari monitor tanda vital di samping tempat tidurnya, serta hembusan pendingin udara yang membelai kulit lengannya yang terbuka.

Sesil mencoba menggerakkan jemarinya. Dingin. Kulitnya terasa lengket oleh keringat dingin. Ia mencoba mengingat-ingat. Di mana aku? Apa yang terjadi?

Namun, ketika ia mencoba menggali ingatannya, ia justru membentur tembok tebal berlubang hitam.

Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada wujud, tidak ada suara, tidak ada nama. Bahkan namanya sendiri terasa asing saat ia mencoba membatinnya.

Rasa panik yang murni dan tak terstruktur mulai menjalar dari dadanya, membuat grafik pada monitor tanda vital di sampingnya merambat naik dengan cepat. Bunyi bip yang tadinya tenang kini berubah menjadi ketukan cepat yang meresahkan.

"Ssshh... Tenang, Sayang. Jangan dipaksakan. Aku di sini."

Sebuah suara pria yang dalam, halus, dan sangat tenang memotong gelombang kepanikan tersebut.

Sesil menolehkan kepalanya secara perlahan—sebuah gerakan kecil yang langsung dihujani rasa nyeri berdenyut di sepanjang lehernya. Di sebelah kanan tempat tidur, duduk seorang pria jangkung dengan postur tubuh yang sangat tegap. Pria itu mengenakan kemeja charcoal yang tergulung hingga siku, menampilkan lengan bawah yang kukuh dan jam tangan berdesain elegan.

Pria itu memiliki wajah yang simetris sempurna—garis rahang yang tegas, hidung mancung yang lurus, serta sepasang mata gelap yang menatap Sesil dengan kedalaman emosi yang sulit diartikan. Rambut hitamnya tertata rapi, meski ada beberapa helai yang sedikit jatuh di dahinya, memberikan kesan seolah ia telah terjaga sepanjang malam demi menjaga tempat tidur tersebut.

Sebelum Sesil sempat berucap—atau setidaknya mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang terasa sekering padang pasir—pria itu merengkuh jemari kanan Sesil. Ia menggenggamnya hangat dengan kedua tangannya. Sentuhan itu mantap, protektif, dan memiliki beban emosional yang sangat berat.

"Al... den?" bisik Sesil ragu. Suaranya terdengar parau dan asing di telinganya sendiri.

Kata itu seperti terucap begitu saja dari refleks lidahnya, bukan dari memorinya.

Senyum tipis terpancar di bibir pria itu. Sebuah senyuman yang teramat hangat, seolah-olah kata yang baru saja keluar dari mulut Sesil adalah jawaban dari seluruh doa-doanya.

"Iya, ini aku, Alden," jawab pria itu lembut.

Ibu jarinya mengelus punggung tangan Sesil dengan usapan melingkar yang menenangkan. "Kamu ada di klinik swasta keluarga kita. Kamu aman sekarang, Sesil. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi."

"Sesil..." gumamnya lirik. "Nama... namaku Sesil?"

Mata pria bernama Alden itu berkilat sebentar oleh kilatan rasa iba yang teramat sangat, sebelum ia mendekatkan wajahnya dan mengecup dahi Sesil yang tertutup sebagian oleh balutan perban putih.

Aroma parfum maskulin bernuansa sandalwood dan hujan malam yang samar langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Sesil. Aroma yang anehnya terasa menenangkan, namun di saat yang sama mengirimkan getaran janggal di dasar perutnya.

"Nama panjangmu Sesil Archita," kata Alden, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah wanita itu. "Dan kamu adalah tunanganku. Orang yang paling aku cintai di dunia ini."

Sesil terdiam.

Kalimat itu melayang di udara, mencoba masuk ke dalam logikanya namun membentur ruang kosong di otaknya.

Tunangan?

Ia menatap pria di hadapannya. Secara visual, Alden adalah gambaran sempurna dari seorang pelindung. Tatapannya memancarkan kepedulian yang begitu murni, perhatiannya terasa intens tanpa celah. Namun, mengapa dadanya terasa begitu hampa? Mengapa tidak ada letupan kehangatan familiar yang seharusnya dirasakan seseorang saat melihat kekasih hatinya setelah terbangun dari ambang kematian?

"Apa... apa yang terjadi padaku?" tanya Sesil, matanya bergerak mengedari ruangan.

Ruang rawat ini luas, berlapis dinding kaca tebal di satu sisinya yang memperlihatkan taman dalam ruangan (inner courtyard) yang tertutup rapat. Pohon-pohon hias dan tanaman rindang tumbuh di balik kaca itu, terisolasi sempurna dari dunia luar. Terlihat indah, namun terasa seperti sebuah rumah kaca yang kedap suara.

Alden menarik napas panjang. Wajah tampannya sedikit mengeras, memancarkan penyesalan yang mendalam. Ia mengencangkan pegangan tangannya, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Sesil akan menghilang.

"Kamu mengalami kecelakaan tragis tiga hari yang lalu," terang Alden dengan nada suara yang terkontrol, namun menyimpan kepedihan yang dibuat sangat terasa. "Malam itu hujan deras. Kamu sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluargaku untuk membicarakan tanggal pernikahan kita. Di tengah jalan... sebuah mobil boks hilang kendali di gang sempit dan menghantam mobilmu."

Alden berhenti sejenak, mengusap lembut helai rambut Sesil yang keluar dari balutan perban.

"Saat aku sampai di lokasi, kamu sudah tergeletak di aspal basah. Benturan keras di kepalamu membuat pembekuan darah sementara yang menekan saraf memorimu. Dokter bilang, traumatik jaringan otak inilah yang menyebabkan kamu kehilangan ingatanmu. Tapi itu sementara, Sesil. Dokter berjanji ingatanmu akan kembali perlahan."

"Kecelakaan..." Sesil memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mencoba memvisualisasikan adegan tersebut.

Mobil.

Hujan deras.

Gang sempit.

DEG.

Tiba-tiba, sebuah kilas balik kilat menyengat saraf otaknya. Bukan gambar mobil boks, melainkan bayangan kilatan cahaya lampu yang sangat menyilaukan dari kejauhan, dentang besi bersahut-sahutan yang memekakkan telinga, serta rasa dingin dari tetesan air hujan yang menyiram wajahnya yang lebam.

Dan di balik kegelapan yang menelannya malam itu, ada sebuah bisikan...

Suara bisikan.

Sensasi itu membuat kepala Sesil mendadak dihantam rasa nyeri yang amat sangat. Ia meringis keras dan memegang kepalanya dengan tangan yang bebas, napasnya memburu.

"Agh!"

"Sesil! Jangan dipaksa!" Alden berdiri seketika.

Dengan sigap dan cekatan, ia merengkuh bahu Sesil, menyangganya agar tidak bergerak terlalu banyak. Kecepatan reaksi pria itu sungguh luar biasa, seolah ia telah mengantisipasi respons tubuh Sesil.

Alden menekan tombol panggil perawat di kepala tempat tidur, lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada Sesil. Tangannya mengelus pipi Sesil dengan kelembutan yang sangat terkontrol.

"Tenang, Sayang. Jangan mencoba mengingat apa pun secara paksa. Dokter sudah memperingatkan, pemaksaan memori hanya akan membuat otakmu bengkak dan memicu pendarahan berulang. Serahkan semuanya padaku. Biar aku yang menjadi ingatanmu untuk sementara waktu, ya?"

Bisikan Alden begitu hipnotis. Begitu menenangkan, sekaligus mengikat.

Sesil menatap mata hitam Alden yang ada hanya beberapa senti dari wajahnya. Di dalam manik mata pria itu, Sesil melihat pantulan dirinya sendiri—seorang wanita asing dengan wajah pucat, mata yang dipenuhi ketakutan, dan kepala yang terbungkus kain kasa.

Pintu kamar terbuka halus, dan seorang dokter paruh baya berselubung jas putih masuk bersama seorang perawat. Dokter itu tersenyum sopan ke arah Alden sebelum memeriksa peralatan medis di sekitar tempat tidur.

"Bagaimana keadaannya, Tuan Alden?" tanya dokter tersebut dengan nada bicara yang amat hormat.

"Dia baru saja terbangun dan mengalami disorientasi serta serangan nyeri saat berusaha mengingat," jawab Alden tanpa mengalihkan pandangannya dari Sesil.

Suaranya kini berubah—dingin, berwibawa, dan menuntut kepatuhan. "Tolong berikan dosis penenang ringan dan analgesik agar dia bisa beristirahat tanpa stres."

"Baik, Tuan. Cairan infus penstabil saraf sudah kami siapkan." Perawat dengan terampil menyuntikkan sebuah cairan bening dari tabung kecil ke dalam selang infus Sesil.

Sesil memperhatikan cairan bening itu mengalir perlahan menelusuri selang plastik transparan, lalu masuk ke dalam pembuluh darah di pergelangan tangannya. Hanya dalam hitungan detik, rasa dingin yang menjalar mulai menumpulkan rasa sakit di kepalanya. Bersamaan dengan hilangnya rasa sakit itu, kesadarannya pun mulai terkikis kembali. Kelopak matanya terasa amat sangat berat, seolah ditarik oleh gravitasi yang tak terlawan.

"Alden..." panggil Sesil, suaranya kini tertahan dan lambat.

Alden membungkuk, mendekatkan telinganya ke bibir Sesil. "Iya, Sayang? Aku di sini."

"Mengapa... kenapa terasa sangat gelap?"

Alden tersenyum—sebuah senyuman indah yang tidak pernah sampai ke matanya yang dingin.

Ia mengusap pipi Sesil untuk terakhir kalinya sebelum wanita itu benar-benar kehilangan kesadaran lagi.

"Karena luar sana berbahaya, Sesil," bisik Alden sangat pelan, memastikan hanya Sesil yang dapat mendengarnya di batas kesadarannya yang meredup. "Tapi di sini, di balik dinding kaca ini bersama aku... kamu akan selalu aman."

Saat pandangan Sesil sepenuhnya menggelap dan tubuhnya kembali terlelap dalam pengaruh obat penenang, Alden tetap berdiri di sana. Ia berdiri tegap di samping tempat tidur, memandangi sosok wanita yang terbaring tak berdaya itu dengan tatapan seorang kolektor yang baru saja mendapatkan kembali mahakarya terbaiknya.

Di luar jendela kamar rumah sakit yang terisolasi itu, hujan deras mulai turun membasahi kaca, membiaskan cahaya lampu kota menjadi bayangan-bayangan yang tak berbentuk. Namun di dalam ruangan tersebut, waktu seolah berhenti—menandakan dimulainya sebuah kehidupan baru bagi Sesil, sebuah kehidupan yang dirancang penuh ketelitian di atas fondasi kebohongan yang sempurna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!