Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Makan malam pertama Edgar dan Ivy
Setelah pulang dari kantor, Edgar langsung mengarahkan mobilnya menuju apartemen Ivy.
Sebelum berangkat, tentu saja ia sudah lebih dulu menghubungi Ivy dan memberitahukan bahwa dirinya akan datang. Alasannya sederhana, Ia ingin mengembalikan kotak bekal milik Ivy yang beberapa hari terakhir selalu ia bawa ke kantor.
Namun, ada alasan lain yang sebenarnya jauh lebih penting, Ia ingin mengajak Ivy makan malam.
Sepanjang perjalanan, Edgar tanpa sadar terus tersenyum. Tangannya sesekali mengetuk ringan kemudi, sementara pikirannya dipenuhi bayangan wajah Ivy.
Entah sejak kapan, melihat senyum wanita itu sudah cukup untuk membuat suasana hatinya membaik. Bahkan dirinya sendiri merasa sedikit aneh. Dulu, perjalanan pulang dari kantor selalu terasa membosankan. Ia hanya memikirkan pekerjaan, laporan, rapat, dan berbagai urusan perusahaan. Tetapi sekarang berbeda, ada seseorang yang membuatnya tidak sabar untuk pulang, ada seseorang yang membuatnya ingin mempercepat perjalanan hanya agar bisa segera bertemu dan orang itu adalah Ivy.
"Sepertinya aku benar-benar sudah berubah," gumam Edgar pelan sambil tersenyum.
Jika para karyawan di kantornya melihat keadaan Edgar sekarang, mungkin mereka tidak akan percaya.
Edgar Falcon yang terkenal dingin, tegas, dan hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi selain wajah serius, kini justru tersenyum sendirian di dalam mobil.
Lebih mengejutkan lagi, alasan di balik senyuman itu hanyalah seorang wanita. Tak lama kemudian, mobil Edgar berhenti di depan apartemen Ivy.
Edgar mengambil kotak bekal yang sudah ia letakkan di kursi sebelahnya, Ia menatap kotak itu sebentar sebelum terkekeh kecil.
"Padahal cuma mengembalikan kotak bekal."
Namun, jantungnya tetap berdebar seperti seseorang yang hendak menemui wanita yang sangat ia sukai. Edgar keluar dari mobil dan berjalan menuju lobi apartemen. Sesampainya di depan pintu apartemen Ivy, ia menarik napas panjang sebelum menekan bel.
Ting...
Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam.
Pintu terbuka.
Dan begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya, wajah Ivy langsung menunjukkan keterkejutan.
"Edgar?" Bisik Ivy.
Edgar tersenyum kikuk.
"Maaf datang tiba-tiba." Kata Edgar sambil menggaruk tengkuknya.
"Kamu bilang akan datang, jadi aku tidak merasa itu tiba-tiba." Kata Ivy.
Edgar mengangkat kotak bekal yang dibawanya, menunjukkannya pada Ivy.
"Aku datang untuk mengembalikan ini." Kata Edgar.
Mata Ivy langsung tertuju pada kotak bekalnya.
"Kamu masih menyimpannya?" Tanya Ivy terkejut.
"Tentu saja."
Edgar lalu menyerahkan kotak bekal itu pada Ivy.
"Terima kasih untuk bekal makan siangnya." Kata Edgar, dengan senyum yang mengembangkan di wajahnya.
Ivy menerima kotak tersebut sambil tersenyum kecil.
"Sama-sama."
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang. Edgar kemudian teringat tujuan keduanya datang ke tempat itu.
"Ada satu hal lagi."
Ivy mengerutkan keningnya, menatap Edgar bingung.
"Apa?"
Edgar memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berkata dengan nada santai.
"Ayo makan malam bersama?" Kata Edgar tanpa basa basi.
Ivy terdiam, menatap Edgar terkejut.
Entah mengapa, pertanyaan sederhana itu membuat pipinya terasa sedikit hangat.
"Makan malam?"
Edgar mengangguk.
"Ya."
"Kamu tidak sibuk?"
"Untuk malam ini, tidak."
Edgar tersenyum lembut.
"Dan kalaupun aku sibuk, aku bisa meluangkan waktu."
Ivy menatapnya beberapa saat, setelah semua hal buruk yang terjadi dalam hidupnya, ia tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang datang kepadanya hanya untuk mengajaknya makan malam.
Akhirnya Ivy tersenyum.
"Baiklah."
Senyum Edgar langsung semakin lebar.
"Kalau begitu, bersiaplah."
Ivy tertawa kecil.
"Kamu bahkan belum memberitahuku kita akan makan di mana."
Edgar menatapnya dengan tatapan hangat.
"Di mana pun kamu mau."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ivy merasa bahwa mungkin hidupnya tidak sepenuhnya kehilangan segalanya.
Mungkin, setelah semua rasa sakit yang ia lalui, masih ada seseorang yang bersedia memberinya sedikit kebahagiaan.
Ivy akhirnya masuk kembali ke dalam apartemen untuk mengganti pakaiannya.
Sementara itu, Edgar menunggunya di depan pintu.
Tidak sampai lima belas menit kemudian, Ivy keluar dengan pakaian sederhana. Ia mengenakan gaun berwarna lembut yang tidak terlalu mencolok, rambutnya dibiarkan tergerai di bahunya.
Begitu melihat Ivy, Edgar terdiam beberapa saat.
Ivy menyadarinya.
"Ada apa?"
Edgar segera menggeleng.
"Tidak ada."
Namun, sudut bibirnya terangkat.
"Kamu terlihat cantik."
Pipi Ivy langsung memerah.
"Jangan mengatakan sesuatu yang aneh."
"Aku hanya mengatakan kenyataan."
Edgar kemudian berjalan lebih dulu menuju lift, Ivy mengikuti di belakangnya dengan wajah sedikit malu. Sesampainya di lantai dasar, Edgar membuka pintu mobil untuk Ivy.
Ivy kembali terkejut.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah Ivy masuk, Edgar menutup pintu dan berjalan menuju sisi pengemudi.
Sepanjang perjalanan, suasananya terasa berbeda.
Tidak ada kecanggungan seperti sebelumnya, Edgar beberapa kali melirik Ivy dari sudut matanya.
Sementara Ivy menatap keluar jendela, menikmati pemandangan kota yang dipenuhi cahaya malam.
"Edgar."
"Hm?"
"Kenapa kamu mengajakku makan malam?"
Pertanyaan itu membuat Edgar diam sejenak, Ia kemudian tersenyum tipis.
"Karena aku ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Jawaban itu begitu sederhana, namun justru karena kesederhanaannya, jantung Ivy berdegup lebih cepat.
"Kamu bisa mengatakannya dengan lebih sederhana," gumam Ivy.
Edgar tertawa kecil.
"Baiklah."
Ia melirik Ivy sebentar.
"Aku merindukanmu."
Ivy langsung menoleh.
"Apa?"
Edgar tetap tenang mengemudikan mobil.
"Aku bilang aku merindukanmu."
Wajah Ivy semakin merah, pria ini benar-benar berbeda dari yang selama ini ia kenal. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup mewah. Begitu masuk, seorang pelayan langsung menyambut mereka. Edgar membawa Ivy ke sebuah meja yang letaknya agak jauh dari keramaian. Setelah mereka duduk, pelayan memberikan menu.
Ivy membukanya dan melihat berbagai makanan yang tersedia.
"Kamu mau makan apa?" tanya Edgar.
"Aku tidak tahu."
Edgar tersenyum.
"Kalau begitu biar aku yang memilih."
Ia memesan beberapa hidangan yang menurutnya sesuai dengan selera Ivy.
Ivy memperhatikannya.
"Kamu tahu aku suka makanan apa?"
Edgar berhenti sejenak.
"Sedikit."
"Sejak kapan?"
"Sejak aku mulai memperhatikanmu."
Ivy terdiam.
Kata-kata itu membuat dadanya terasa hangat, tidak lama kemudian, makanan mulai disajikan.
Mereka makan sambil berbicara tentang banyak hal, tentang pekerjaan Edgar, tentang masa lalu mereka juga tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, namun anehnya, Ivy menikmati semuanya.
Sudah lama ia tidak tertawa seperti malam ini, Edgar juga terus memperhatikannya. Setiap kali Ivy tertawa, tatapannya menjadi semakin lembut.
Tanpa disadari Ivy, pria yang duduk di hadapannya sudah tidak lagi melihatnya sebagai sekadar teman. Edgar sudah mulai menyukai Ivy dan mungkin perasaan itu sudah jauh lebih dalam daripada yang berani ia akui kepada dirinya sendiri.
Setelah selesai makan, Edgar menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Ivy."
"Hm?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanya saja."
Edgar menatap matanya.
"Apa saat ini kamu bahagia?"
Pertanyaan itu membuat senyum Ivy perlahan menghilang.
Ia menunduk.
"Bahagia?"
Edgar mengangguk, Ivy terdiam cukup lama, kemudian ia tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu."
Edgar tidak memaksanya menjawab, Ivy melanjutkan dengan suara pelan.
"Setelah Grizella pergi, rasanya sebagian dari diriku ikut hilang."
Tangannya menggenggam ujung gaunnya.
"Aku pernah berpikir, setelah kematian putriku aku mungkin tidak akan bisa tersenyum lagi."
Edgar menatapnya dalam diam, namun kali ini ia tidak mengatakan kata-kata kosong seperti semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya mengulurkan tangannya di atas meja, tangannya berhenti tepat di dekat tangan Ivy.
"Ivy."
Wanita itu mengangkat wajahnya.
"Kamu tidak harus melupakan masa lalu."
Edgar menatapnya lembut.
"Tapi kamu juga tidak harus menghukum dirimu sendiri karena sesuatu yang sudah terjadi."
Mata Ivy mulai berkaca-kaca, Edgar kemudian menggenggam tangannya dengan lembut.
"Kalau kamu belum bisa bahagia sekarang, tidak apa-apa."
"Tapi..."
Ia tersenyum kecil.
"Setidaknya, izinkan aku menemanimu sampai kamu bisa tersenyum lagi."
Ivy tidak menjawab, air mata perlahan jatuh dari sudut matanya. Namun kali ini bukan karena kesedihan.
Untuk pertama kalinya setelah kehilangan Grizella, ada seseorang yang tidak memintanya untuk melupakan putrinya. Seseorang yang tidak menyalahkannya, seseorang yang hanya berkata bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Edgar mengusap air mata di pipinya dengan lembut.
"Jangan menangis."
Ivy tertawa kecil di sela tangisnya.
"Kamu yang membuatku menangis."
Edgar ikut tersenyum.
"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan berusaha membuatmu lebih sering tersenyum."
Dan malam itu, tanpa mereka sadari, sesuatu yang baru mulai tumbuh di antara mereka.
Sesuatu yang mungkin suatu hari nanti akan mengubah kehidupan Ivy sepenuhnya.
Bersambung